
Sudah seminggu King menjalani profesi barunya, sebagai office boy. Tapi pria itu belum melakukan perubahan besar, yakni menjalankan semua tugas seorang office boy. King hanya akan mau mengantar kopi ke ruangan Arsen dan membeli keperluan ATK. Selebihnya dia hanya bermain dengan game yang baru-baru ini ia gemari.
"Mau kemana sep?" panggil King. Hanya Asep yang cukup berani bergaul dengan King, yang lain mundur teratur karena sungkan, lebih tepatnya takut terkena masalah.
Asep menghentikan langkahnya. "Mau ke minimarket bos, beli titipan." jawab Asep. Untuk menambah cuan, Asep mempunyai pekerjaan sripilan. Dengan memanfaatkan tenaganya untuk membantu para karyawan yang membutuhkannya. Lumayan dapat ongkos jalan. Namun ia lakukan jika pekerjaan utamanya sudah selesai.
"Titipan apa?"
Asep mengeluarkan kertas berisi catatan apa saja yang harus di beli. "Mbak Megi nitip beli pembalut yang ada sayapnya. Mas Juna nitip beliin Sampoerna mild dua bungkus. Mbak Silvi nitip Mie ayam kota tanpa bakso. Mbak Nuri nitip seblak level sepuluh dan.... "
"Stop! gak usah di baca semua kali Sep."
"Kan tadi bos tanya.."
"Ck! gue ikut lah.. bete gue di sini gak ngapa ngapain!"
"Ayok! tapi pake motor perginya.. gak pake mobil mewah kayak punya bos."
"Ya gue tau!"
Asep membeli pesanan makanan, sedangkan King pergi ke minimarket. King mengendari motor untuk ke minimarket karena lumayan jauh dari pusat jajanan tempat Asep membeli Seblak dan kawan-kawan. Mereka bagi tugas agar mempersingkat waktu.
Tanpa malu, King memilih pembalut bersayap dan beberapa snack, sesuai dengan catatan. "Sialan!" umpatnya kesal ketika memegang sebungkus roti kebutuhan wanita!
Setelah semua barang ia dapatkan, King segera ke meja kasir untuk membayar belanjaan. Si kasir memberikan kembalian dua puluh lima ribu lima ratus, dan dengan entengnya King menolak kembalian itu. Padahal, uang yang menurut King sedikit itu adalah uang yang di tunggu-tunggu oleh Asep, lumayan buat makan siang dan jajan.
"Buat mbak saja." tolak King.
Dengan senyum yang merekah si kasir mengucapkan terimakasih. Wajah tampan, dermawan pula.. si kasir melirik genit pada King. Tapi sayang pria itu begitu cuek dengan sekitar. King masih menganggap wanita paling cantik itu adalah Camelia, cinta pertamanya. Belum ada yang bisa menggantikan posisi Camelia di hatinya. Meski rasa benci pada wanita itu masih mendalam. Benci dan cinta beda tipis bukan?
King hendak melajukan motornya, namun tiba-tiba seorang pria berpakaian amburadul mendatanginya, memegangi bagian belakang motornya.
"Kenapa bang?" tanya King sedikit kesal.
"Parkir parkir.. gak gratis." jawab si pria itu.
"Ck! tadi pas dateng elu gak ada. Giliran mau pergi aja nongol! kaya jaelangkung aja lu bang!" sewot King.
"Parkir dua rebu!" mengabaikan ocehan King.
__ADS_1
King mendengus, lalu merogoh kantung celananya. Kosong! tidak ada seperak pun di kantungnya. Uang nya sudah habis. "Gak ada bang! lewat dulu ya."
"Ganteng ganteng gak ada duit! jangan bohong lu!"
"Enak aja, duit gue banyak! tapi gak di bawa." King tak terima di hina tidak memiliki uang, tapi kenyataannya memang benar.
"Kalo banyak duit, kenapa dua rebu aja gak punya!" si pria tukang parkir pun mulai kesal. Bisa saja dia membiarkan King pergi tanpa memperpanjang lagi. Tapi kelakuan King begitu senga, membuat pria itu kesal.
"Gue bayar perkiraannya, semenit lima ratus ribu! itung aja gue markir disini berapa menit."
Si tukang parkir cukup terkejut, awalnya ia tak percaya dengan omongan King yang memakai seragam OB, tapi wajah bersih dan tampannya membuat pria itu mengangguk saja. "Sepuluh menit."
"Nih.. lu ntar pergi ke gedung itu tu.." King m nunjuk gedung perusahaan milik Arsen. "Lu minta duit itu ke cowok yang namanya Arsen. Pasti di kasih." Tidak lupa King dan si tukang parkir foto bersama untuk di tunjukkan pada Arsen.
"Oke." jawab si tukang parkir. Di tipu juga tidak merugikannya, kalau benar ya alhamdulillah.. pikirnya.
***
Sore hari King pulang bersama daddy nya. Pria itu mendengus kesal tatkala melihat mobil kesayangannya memasuki rumah dan berhenti di pelataran, tepat di sampingnya.
"Daddy tega!" ucap King kesal.
Arsen tersenyum sinis. "Gak enak kan rasanya? mobil kesayangan di ambil alih, apalagi di jual?" sindirnya.
Arsen menggeleng gelengkan kepalanya. "Cari uang yang banyak, biar bisa beli yang lebih bagus. Pake uang sendiri!" ucap Arsen.
"Baru pulang juga dad?" tanya Cilya ketika keluar dari mobil. Wanita yang terlihat cupu di mata King itu ternyata jago mengendarai mobil sport. King tak menyangka.
"Iya, ayo masuk." ucap Arsen
"Iya dad." saat Cilya ingin melangkah mengikuti ayah mertuanya, King menarik lengan Cilya.
"Gue mau ngomong sama elu!" ucap King.
"Mau ngomong apa?"
King menghela. "Lu balas dendam ama gue?" meski terdengar ambigu. Tapi Cilya cepat tangkap apa yang di maksudkan oleh suaminya.
Cilya menggeleng. "Gak, siapa yang balas dendam."
__ADS_1
"Jangan muna deh lu!"
"Key.. aku gak balas dendam kok." ucapnya jujur. Memang Cilya masih sakit hati atas tindakan pelecehan King terhadapnya. Namun Cilya berusaha melupakannya, apalagi King sudah mau bertanggungjawab.
"Yaudah bagi duit! lu di kasih kan ama daddy?"
Cilya mengeluarkan kartu yang si berikan oleh daddy Arsen. "Ini."
"Uang cash aja!" bisa ketahuan kalau dirinya memakai fasilitas yang diperuntukkan untuk Cilya.
"Gak ada uang cash." di dompetnya tidak ada uang cash, hanya ada beberapa pecahan rupiah.
"Yaudah ayo ambil ke ATM!" King merebut kunci mobil Cilya. Mereka berdua pergi ke ATM terdekat. Rasanya senang sekali mengendari mobil kesayangannya.
"Jaga dia baik-baik ya Cil." ucap King.
"Aku merawatnya."
"Hem."
"Key.. memangnya untuk apa uang nya?" tanya Cilya penasaran.
"Mau nongkrong di cafe, udah lama gue gak kumpul-kumpul ama temen." ucap King.
Cilya mengerutkan keningnya, "Memang gak cukup uang mu? nongkrong di cafe paling habis ratusan ribu." ucap Cilya.
"Ck! gue nongkrong nya beda Cil, bukan lagi di starbuceek!" dengusnya. "Gue nongkrong di H*ard Rock cafe.. gue kan Sultan!" ucapnya menyebut salah satu cafe elite yang berada di mall Pacific Place. Cilya mendesis nyaris tak terdengar.
Berhenti di ATM center lumayan jauh dari perumahan. King menunggu Cilya yang sedang mengantri.
"King.." panggil seseorang. "Beneran kan kamu King?"
King menoleh, mengerutkan keningnya seraya mengingat ingat siapa wanita cantik berpakaian modis di depannya.
"King? aku Jelita! teman mu! ingat?" pekiknya kegirangan, bertemu dengan teman masa kecilnya ketika di taman kanak-kanak.
"Jelita?"
"Iya."
__ADS_1
"Kemana rambut hitam pekat mu?" tanya King. Dulu pria itu suka sekali dengan teman kecilnya, karena memiliki rambut hitam legam nan lurus seperti iklan shampoo di layar televisi. Sekarang wanita yang berdiri di hadapannya memiliki rambut blonde. Sangat berubah!
Bersambung...