King Haidar

King Haidar
Mr. perfect


__ADS_3

Arsen dan King duduk bersebelahan di bangku penumpang dengan sopir yang bernama Parman mengemudikan mobilnya. Ketiganya kini menuju perusahaan tempat mereka mengais rejeki.


Arsen disibukkan dengan membaca laporan melalui emailnya. Sedang King sibuk dengan pemikirannya sendiri. Melamun, menatap ke arah jalanan.


"Masih mau main-main? gak fokus dengan tugas kerjaan mu?" suara Arsen membuyarkan lamunan King. Pria itu menoleh ke daddynya yang sudah semakin matang, namun masih terlihat gagah.


King mengedikkan bahunya. "Bukan bidang ku." jawabnya santai. King masih belum bekerja dengan benar, melakukan tugas OB sebagaimana mestinya.


"Harus menghargai pekerjaan mu lebih dulu, apapun profesinya." ujar Arsen menasihati. "Gimana menjalankan tugas sebagai CEO? sedangkan kamu jadi OB pun tak becus bekerja." seru Arsen.


Arsen menghela, menasihati putranya berulang kali tetap tidak mempan. Dimarahi, di hukum King tetap tidak jera. "Daddy sudah tua. Ada saatnya kamu memegang kendali perusahaan keluarga. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa daddy andalkan? tidak mungkin menyerahkan pada Benzema, dia sudah terlalu sibuk." ujar Arsen.


King diam termenung. "Nanti aku akan berusaha kerja kalo sudah menggantikan daddy." ucapnya.


Arsen menggeleng. "Kamu gak akan bisa, kalo belum mempunyai pengalaman dan memahami dunia bisnis."


"Aku--" ucapan King terhenti.


"Bukan hanya latar belakang pendidikan Key!" seru Arsen menyela. King tidak bisa hanya mengandalkan latar belakang pendidikannya. Pengalaman bisnis menjadi modal utama. Banyak di luar sana yang hanya tamatan SD tapi sukses menjalankan bisnisnya. Sedangkan King selama hidupnya tidak pernah berkecimpung di dunia bisnis. Pria itu hanya bisa menghamburkan uang tanpa susah payah mencarinya.


"Dua bulan saja, bekerja sebagai OB dengan benar. Daddy akan menyerahkan satu proyek lumayan besar untuk mu." ucap Arsen.


"Akan aku pikirkan." jawab King yang sepertinya tidak tertarik dengan tawaran Arsen. "Pasti proyek di hutan itu. " gerutunya.


Arsen hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah putranya itu.


***


Walaupun enggan menerima proyek dari daddy nya. King sudah tergugah hatinya untuk bekerja dengan baik sebagai OB. Dia akan meminta proyek lain, setelah dua bulan ke depan.


"Tumben bos, rajin amat." kata Asep yang melihat King sudah memegang setumpukkan kertas untuk di fotocopy.


King menoleh sebentar, lalu kembali fokus menekan tombol di mesin fotocopy. "Gue bentar lagi bakal jadi CEO! jadi harus rajin." jawabnya.


Mendengar itu, Asep bersemangat lebih mendekat." Beneran bos?" seperti mendapatkan kabar gembira. Asep sangat berharap dengan janji yang pernah King ucapkan. "Bentar lagi saya jadi asistennya bos dong."


"Ck! gampang lah bisa diatur!"


"Asik.." binar-binar terlihat di wajah Asep. Sepertinya mimpi mendapatkan gaji besar untuk membeli rumah akan segera terwujud. Beruntung dia bisa mengenal putra pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Bos, hape bos dari tadi bunyi tuh.. di pantry." kata Asep yang mendengar ponsel milik King berdering.

__ADS_1


King terkejut dan secepat kilat pergi meninggalkan pekerjaannya. "Sep, gantiin Sep!" seru King.


"Hem, katanya mau rajin kerja." Asep mencibir. Baru saja mengatakan akan lebih rajin bekerja, tugasnya kembali lagi di limpahkan pada Asep. Seperti hari-hari sebelumnya. Demi menjadi asisten CEO, Asep rela mengambil alih pekerjaan King selama ini.


King menghela nafasnya, kecewa karena yang menghubunginya bukan orang yang ia harapkan. "Ck!" decaknya sebal. "Oke! gue delete sekalian nomor lu!" tidak mendapat balasan dari Cilya membuat King marah dan nekad untuk menghapus serta memblokir nomor Cilya di ponselnya.


Sudah sebulan penuh King bekerja sebagai OB. Hari ini ia mendapatkan gaji pertamanya. Walau tidak sebanyak yang King harapkan.


"Sep, ntar malem ikut gue ya." seru King.


"Kemana?"


"Gue traktir!" ucapnya. Gaji pertamanya akan ia habiskan bersama Asep di tempat tongkrongannya.


"Siap bos, di traktir mana nolak sih bos." ucap Asep senang.


Sepulang kerja, Asep ikut bersama King ke rumahnya. Nanti malam mereka akan hangout bersama. Asep terkagum-kagum melihat rumah mewah King yang seperti istana.


"Bos, ini rumah apa istana?" Asep yang notabene orang kampung, tidak pernah menginjakkan kakinya ke rumah mewah seperti ini begitu takjub. Ke Jakarta pun hanya untuk mengadu nasib, tinggal di kontrakan tiga petak. "Sepatu di lepas apa gimana nih bos." kata Asep ragu ketika akan masuk ke dalam rumah. Lantai marmer yang sangat mengkilap, sayang untuk di pijak oleh sepatu bututnya.


"Pake ajalah.." jawab King santai.


"Tapi nanti kotor." Asep masih ragu.


"Kak.. udah pulang.." sambut adik perempuan King.


"Subhanallah... bidadari.." Asep terkesima melihat gadis cantik dengan kulit mulus seputih salju. Gaunnya periap-riap mengikuti pergerakan sang empunya. Rambut panjang berwarna blonde menambah kecantikannya. Sungguh sangat cantik di mata pria biasa seperti Asep.


King mengangguk. "Mau kemana?" tanyanya pada sang adik.


"Ke rumah Aunty Clara kak.."


"Oh.." Soraya berpamitan pada King. Gadis itu melewati Asep begitu saja. Tidak bertanya siapa pria itu.


"Bos, cakep banget! kayak barbie." ucap Asep.


"Masa sih? biasa aja.."


"Itu adiknya bos?"


"Iya"

__ADS_1


Sebelum makan malam King dan Asep sudah bersiap pergi. "Makasih ya bos." ucap Asep. King telah meminjamkan pakaiannya pada Asep.


"Iya, biar lu gak norak nongkrong di tempat tongkrongan gue." kata King.


"Ini mahal ya bos. Bisa di jual lagi gak?" sebelumnya King mengatakan jika pakaian yang di pinjamkan tidak usah di kembalikan. Dasar otak Asep yang selalu di penuhi dengan uang. Asep ingin menjual pakaian itu, lumayan. Dipakai pun sayang kalau harganya ternyata mahal.


King berhenti sejenak, lalu berbalik menghadap Asep. "Outfit lu, bisa sekitar seratus juta." dari kaos, jaket, celana serta daalamannya, sepatu, jam tangan yang di kenalan Asep hampir senilai seratus juta.


Asep melotot. "Se-seratus juta? yang bener bos? ucapnya gagap. Hanya untuk pakaian saja menghabiskan ratusan juta?


King mengangguk. "Itu baju lama gue.. udah gak muat. Lu pake aja."


Asep menggeleng. "Daripada di pake, mending di jual bos. Kayaknya aku gak cocok pake pakaian mahal. Sayang makenya."


King menoyor kening Asep. "Dikasih malah mau di jual!"


"Hehe.. kan sayang bos. Pakaian mahal-mahal tapi kerjaan cuma jadi OB."


"Lu nyindir gue?"


"Ehh.. gak bos. Lagi ngomongin diri sendiri." jawab Asep. "Bos kan asli Sultan."


***


Sedangkan di tempat yang berbeda, Cilya tengah makan malam bersama dengan pria yang baru saja datang dari Meksiko pagi tadi.


"Kakak apa kabar?" tanya Cilya pada pria itu.


"Aku baik. Kamu sendiri?"


"Aku juga baik." jawab Cilya.


"Kamu terlihat berbeda. Lebih cantik dari sebelumnya." pria itu mengagumi kecantikan Cilya. "Mana kacamata mu?"


Cilya terkekeh. "Sudah pensiun. Aku ingin terlihat lebih baik dari sebelumnya. Agar bisa membangun image seorang designer pada diriku. Akan sangat lucu jika perancangan busana berpenampilan buruk."


"Benar juga. Semoga sukses untuk meraih impianmu."


"Terimakasih.."


"Dan semoga kamu tidak akan mengecewakan show kita nanti di Dubai. Aku tidak mau di kecewakan."

__ADS_1


"Yes, Mr. perfect."


Bersambung...


__ADS_2