King Haidar

King Haidar
Lari pagi


__ADS_3

King memilih mengalah pada Cilya. Laki-laki itu tidur di luar. "Apes banget gue!" gerutunya kesal. Pria itu mengusap wajahnya kasar, merasa kehilangan dengan sosok Cilya yang dulu. King lebih suka sikap Cilya yang penurut. Tidak membangkang seperti ini.


King pergi ke dapur untuk mencari minuman dingin untuk meredam otaknya yang terasa panas. Untung saja si mercusuar sudah tertidur kembali, mungkin karena sudah terbiasa berpensiun jadi lebih mudah di kendalikan.


Satu kaleng minuman bersoda ia tenggak. Kemudian membuang kalengnya ke tong sampah. King terlonjak kaget ketika membalikkan badan mendapati Jelita sudah ada di sana.


"Ya ampun! ngagetin aja!" pekik King sembari mengelus dadanya.


Jelita tertegun melihat tubuh atas King tanpa pakaian. Menampilkan tubuh atletisnya, sungguh menggiurkan bagi Jelita. Pria itu tak sempat memakai kaosnya ketika Cilya mengusirnya dari kamar. Hanya sempat memakai celana panjangnya saja.


King memicingkan sebelah alisnya, menyadari jika Jelita terpesona oleh tubuhnya yang kekar. Pria seperti King yang mempunyai kadar kenarsisan di level tinggi, cukup tahu arti tatapan itu.


"Kenapa melamun!" seru King bersikap biasa saja.


"Eh.." Jelita gelagapan. "Kamu ngapain di sini?" untuk mengalihkan kegugupannya, Jelita menanyakan hal konyol. Jelas-jelas King ke dapur untuk mengambil minum.


King menggelengkan kepalanya. "Ambil minum." jawabnya. Tidak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi, King melangkah pergi meninggalkan Jelita.


"Key.." Jelita tidak mau menyiakan kesempatan. "Apa Cilya mengusir mu?" tanya Jelita. Sama-sama tadi Jelita mendengar keributan di kamar Cilya.


"Iya." King mengangguk dengan santai.


"Kurang ajar sekali dia, beraninya ngusir kamu Key! gak sopan." berusaha menyulut api kemarahan agr bertambah besar.


"Heem.. emang!" King ikut membenarkan.


Semakin lebarlah senyuman di bibir Jelita. "Iya Key, kamu kasih pelajaran aja kalo gitu." sarannya.


"Emang harus." ucap King.


"Mau aku bantu kasih hukuman sama Cilya?" dengan senang hati Jelita menawarkan diri membantu, apalagi memberi pelajaran pada Cilya, Jelita sangat suka.


King menggeleng. "Gak bisa!"


"Kenapa? kamu gak perlu susah payah ngeluarin tenaga Key, biar aku aja yang ngasih hukuman nya."


King mengerutkan keningnya. Berfikir, kenapa Jelita semangat sekali ingin memberikan pelajaran untuk Cilya? Padahal pelajaran yang pria itu maksud bukan seperti apa yang Jelita bayangkan.


"Kamu gak bisa bantu lah Jel. Ini urusan suami-istri." kata King.

__ADS_1


"Apa emangnya?"


King terkekeh. "Biasa, hukuman yang mengenakkan dan sangat nikmat." Jelita terdiam, berusaha mencerna ucapan King. "Tiga ronde dalam semalam. Itu hukuman setimpal, iya gak? Cilya pasti tepar ngelayanin aku."


Detik itu juga, Jelita membeku di tempat. Ternyata mereka tidak sepemikiran. Jelita pikir, King akan memberi hukuman sungguhan, seperti membully atau menjailinya. "Itu sih bukan hukuman!" geram Jelita. Semakin iri lah wanita itu. Membayangkan jika dirinya yang menggantikan Cilya, berbagi peluh dengan King.


Walaupun Jelita merubah warna rambutnya menjadi hitam legam seperti dulu, sama sekali tidak berpengaruh pada King. Ketertarikan pada masa kecil tidak sama lagi untuk saat ini.


King pergi meninggalkan Jelita yang masih terdiam. Pria itu memilih tidur di sofa dekat pintu kamar Cilya.


***


Pagi pagi sekali, Cilya sudah bersiap untuk berlari pagi di sekitar komplek. Tentu saja King tidak mau ketinggalan. Saat ini King memeiliki hobi baru, mengekori kemanapun istrinya pergi.


"Kamu jadi rajin Cil, lari pagi gini?" tanya King.


"Iya, ini juga penting untuk kesehatan ku." jawab Cilya sembari berlari kecil.


"Setuju Cil, biar body kamu juga tambah oke." ucap King sembari mengedipkan sebelah matanya. Justru itu sangat menguntungkan bagi King, jika Cilya memiliki tubuh yang perfectionist.


"Cih." Cilya mencibir, tahu apa yang ada di pikiran King. Pasti hal yang berbau mesum.


Cilya dan King menoleh bersamaan dengan sumber suara.


"Ck!" King berdecak kesal melihat ketiga pria yang sangat ia kenal. Rupanya King lupa jika rumah Cilya berdekatan dengan rumah aunty Clara.


"Kak Benz." ucap Cilya. King semakin mendengus kesal.


Ketiga pria itu semakin mendekat. Benzema, Kenzo dan Langit. Ketiga pria yang memiliki karismanya sendiri.


"Kalian ngapain? gak usah gabung! sendiri sendiri aja!" sembur King yang tak suka kehadiran mereka. Apalagi melihat wajah Cilya berbinar melihat ketiga pria tampan. "Aku juga ganteng Cil, suami mu!" bisik King penuh peringatan.


"Tapi kamu cuma OB! mereka pria keren dan mapan. CEO, Produser, sama dokter yang bentar lagi terjun di dunia balap motor." kata Cilya, suaranya di buat sirih mungkin.


King melotot. "Sejak kapan kamu matre Cil?"


"Sejak otak ku pintar." Cilya tersenyum tanpa dosa.


"Ini jalan umum Key, terserah kita." kata Kenzo. "Ternyata bini lu tetangga kami Key. Pinter milih juga." ucap Kenzo tak lupa berkedip genit pada Cilya.

__ADS_1


"Jaga mata lu Kenz!" rasanya panas sekali melihat Kenzo menggoda istrinya.


Kenzo terkekeh. "Posesif!"


King segera mendekati Cilya, merangkul lengannya. "Udah sana! kalian duluan!" usir King.


"Lu gak mau ngenalin secara resmi bini lu Key?" kata Langit. Pria itu bukan ancaman bagi King, karena Langit sudah memiliki istri dan satu anak. Tidak mungkin berniat menggoda Cilya nya.


"Kalian udah kenal, gak usah kenalan lagi." King.


"Oke." Langit mengangguk setuju. "Yaudah gue lanjut duluan." Langit.


"Cilya cantik.. aku resmi mengundang mu makan malam nanti di rumah. Mami dan Arlet pasti senang kamu datang." si perayu ulung Kenzo harus King waspadai. Satu tahun yang lalu dihianati oleh kekasihnya membuat Kenzo yang pendiam menjadi pintar bersilat lidah pada wanita.


"Kenz!" seru King tal terima.


Kenzo tergelak kembali." Ya ampun, bucin ni ye.." setelah mengatakan itu Kenzo melanjutkan lari paginya. "Aku tunggu nanti malam Cilyaaaa.." teriaknya.


"Apa proyek untuk di Dubai sudah siap?" tanya Benzema.


"Kami sedang menyiapkannya kak, semoga rancangan ku sesuai dan tidak mengecewakan." kata Cilya.


King mendengus kesal. Benzema, pria bermuka datar, nyaris tanpa ekspresi, tapi pesonanya tidak di ragukan. Dan pria ini paling berbahaya. Cilya bisa saja tertarik pada Benzema, apalagi istrinya itu sudah mata duitan. Benzema tak kalah tampan darinya, pintar, sukses pula, King tidak ada apa apanya bagi Benzema. King merasa ciut jika berhadapan dengan Benzema.


"Baiklah, sampai bertemu nanti malam." kata Benzema sembari berlalu.


"Kamu ada kerjasama sama Benz?" tanya King dan Cilya hanya mengangguk. "Kamu suka sama dia?"


Cilya terkekeh. "Perempuan mana yang gak suka sama Benz, udah cakep, pintar, pengusaha sukses lagi. Nanda juga tertarik sama dia." King panas mendengarnya.


"Ck! harus Benzema ya? yang kamu kagumi?" Rasanya tak sanggup jika harus bersaing dengan Benzema.


Cilya mengabaikan ucapan King, memilih melanjutkan lari paginya.


"Cil, cari saingan buat aku yang kayak Asep kek," keluh King. Jika pria saingannya seperti Asep, sudah pasti King pemenangnya.


"Cil.. Cil.. awas ya kalo kamu lirik lirik Benz.. aku kutuk jadi istr----" ucapannya terhenti ketika Cilya membalikkan badan dengan kedua tangan yang sudah berkacak pinggang.


"Apa?" tantang Cilya. "Mau ngutuk aku apa? hem?" kedua mata Cilya melotot lebar. King menggeleng dengan cepat. Tidak berani meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2