
"Ya ampun Meta!!!!" teriak King. Pria itu kesal dengan sekertaris nya. Meta tidak sengaja menumpahkan kopi dan terkena berkas penting yang ada di meja kerja King.
"Maaf Sir, saya gak sengaja." Meta ketakutan, King terlihat sangat menyeramkan jika sedang marah.
"Mata mu itu di taro mana? bisa-bisanya naruh kopi aja gak bener!" semburnya.
"Maaf.." lirih Meta. Matanya sudah mengembun, sekali kedip saja, air matanya akan mengalir.
"Key.. jangan marah-marah. Meta gak sengaja." Cilya menghampiri suaminya, mengelus dada King agar lebih tenang. "Meta, kembali ke ruangan mu." Cilya menyarankan Meta untuk segera pergi dari ruangan suaminya, tidak mau King meluapkan kekesalannya lagi.
"Huffftt..." King membuang nafasnya kasar, mengontrol amarahnya.
"Sabar Key.." Cilya menenangkan kembali. "Ada apa? apa ada masalah?" tanya Cilya. Kemungkinan besar, King tengah memikirkan sesuatu dan membuat suasana hatinya buruk.
King menggeleng. "Gak, aku hanya lelah." bohongnya. Tidak lama setelah kepergian Ali, King mendapatkan panggilan dari daddy nya. Arsen menyuruhnya segera pulang bersama Cilya.
Dari gelagat Arsen, sepertinya terjadi masalah besar. Apalagi daddy-nya itu baru saja pulang dari Jerman. Apa semua ini ada kaitannya dengan masalalunya? King sangat mencemaskannya. Dia tidak mau kehilangan Cilya hanya karena masalalu dirinya.
"Cil, besok kita pulang ke Jakarta." kata King tiba-tiba. Meski pekerjaan sangat menumpuk, King harus segera pulang seperti keinginan daddy-nya.
Cilya mengerutkan keningnya. "Pulang?" ulangannya dan King mengangguk. "Kenapa mendadak? bukannya pekerjaan kamu masih banyak?"
"Kita harus pulang, daddy menyuruh kita pulang." ucapnya.
"Baiklah, nanti aku bersiap."
"Cil.."
"Ya?"
King memeluk erat tubuh istrinya. "Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi." ucapan tulus dari hati. King sudah menjatuhkan hatinya untuk sang istri. Meski bukan cinta pertamanya.
Cilya membalas pelukan suaminya, lalu mengelus lembut punggung King. "Iya, aku juga mencintaimu Key.."
"Aku selesein kerjaan dulu, abis itu kita pulang." King mengurai pelukan, lalu kembali berkutat pada pekerjaannya.
Sedangkan Cilya kembali mencoretkan tintanya di atas kertas, merancang gaun pengantin untuk dirinya sendiri. Semenjak King mengatakan ingin membuat pesta perayaan pernikahan mereka, Cilya bersemangat untuk mewujudkan pesta itu seperti impiannya.
***
__ADS_1
"Cil, kita makan malem di luar aja ya.." King ingin mengajak istrinya makan malam romantis di restoran mewah.
"Oke!" Cilya setuju. "Tapi aku beresin ini dulu." wanita itu tengah mengemasi sebagian pakaian, karena besok pagi mereka akan pulang ke Jakarta.
"Baju ku gak usah di kemas Cil, di rumah masih ada banyak." kata King.
"Iya."
"Aku buatin jus mau ya?" King ingin membuatkan minuman segar untuk istrinya, semenjak ia menyadari perasaannya untuk Cilya, pria itu semakin sayang dan perhatian pada Cilya. Tidak ada lagi King yang bermulut pedas, King yang sesuka hati mempermainkan Cilya. Sekarang, King sangat perhatian dan bermulut manis jika di depan Cilya, wanita yang berhasil mengisi hatinya, menggeserkan sebuah nama yang sedari kecil tersemat di sana.
"Iya, terimakasih."
Di tengah kesibukan King dan Cilya, suara bel apartemen berbunyi, menandakan ada seorang tamu yang datang berkunjung.
Cilya menghentikan kegiatannya, lalu menuju pintu untuk membukanya.
"Siapa Cil?" teriak King dari dapur.
"Helo epribadiii.. sultan Arab datang untuk bertamu." suara Ali terdengar nyaring ketika Cilya berhasil membuka pintu. "Hai.. Cilya cantik.." kata Ali sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Ali?" gumma Cilya.
Ali datang membawa beberapa box yang berisi makanan, pria itu berniat untuk makan malam bersama dengan sahabatnya.
"Ngapain lu kesini?" seru King. Ia pun terkejut melihat Ali ada di apartemennya. "Katanya lu mau balik ke Jakarta?"
King mendekat ke istrinya, lalu berbisik. "Ganti bajunya Cil." saat ini Cilya memakai piyama tidur yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, King tidak mau sahabat bahlulnya itu menikmati keindahan tubuh istrinya. Cilya menurut, lalu masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
Ali mencibir. "Posesif nie ye.."
"Mata lu ntar jelalatan!" kata King. "Ngapain kesini? ganggu aja."
Ali menunjukkan box yang ia bawa. "Gue mau makan malem bareng kalian."
King mendengus, rencana untuk makan malam romantis dengan Cilya alamat gagal karena kedatangan Ali "Ck!"
Tanpa memperdulikan King yang kesal akan kedatangannya, Ali segera meletakkan dan menyiapkan makanannya. "Gue harus bae baekin si kamprett, biar restu berjalan mulus.." ada niat terselubung di balik keramahtamahan Ali.
King duduk di kursi meja makan, mendekati Ali. "Bacott lu di jaga ya, jangan ampe kelepasan ngomong yang enggak enggak di depan Cilya!" King mewanti-wanit agar Ali tidak kelepasan bicara buruk tentangnya.
__ADS_1
"Siap kakak ipar!"
"Cuih.. gak sudi gue!"
"Demi kakak ipar, aku bakalan mengunci rapat mulutku." Ali berbicara semanis mungkin di depan King.
"Geli gue dengernya! lu masih waras kan?"
"Masih sehat! sangat sehat! dan harus sehat karena bentar lagi aku bakal bersanding dengan gadis cantik di pelaminan." rupanya Ali sangat berharap menjadi laki-laki pendamping Soraya.
"Ya ampun! lu kesambet apa sih!" seru King. "Sora gak bakal tertarik ama lu! dia gak suka bule, apalagi bewokan kayak elu!" semburnya. Mengingatkan jika Ali tidak termasuk dalam kriteria laki-laki idaman Soraya.
"Belum di coba." jawabnya santai, pria itu percaya diri sekali jika Soraya akan menerimanya.
"Cari yang lain! banyak gadis perawan yang bakal terima elu, tapi jangan Sora!"
"Tapi aku maunya sama Sora." King menjitak kepala Ali. "Aduhhh" Ali mengusap kepalanya.
"Inget dong lu udah duda! mana mau Sora sama elu! gue sih gak yakin."
"Tapi aku.."
"Ck! aku, aku! geli gue dengernya! sok iyeh banget lu!" celetuk King. Mendengar Ali berbicara tidak seperti biasanya membuatnya muak.
"Iya, tapi gue duda terasa bujangan. Gak keliatan gue duda tuh."
"Sadar li, sadar! udah duda ya tetep duda! udah beruntung kalo ada gadis perawan yang mau ama elu! jangan nyari yang muluk-muluk dah.."
"Harus dapet yang perawan lah.."
"Duda ya pasangannya janda baru pas! bujangan ya dapetnya ama perawan! sama kayak gue." King menepuk dadanya, merasa bangga dengan apa yang telah ia dapatkan. Bisa mempersunting Cilya untuk di jadikan istrinya.
"Dih.. lu mah bujang bukan, duda bukan! Yakin masih bujang pas nikah ama Cilya. Perasaan lu udah pinter skidipapap, mahir malah!" celetuk Ali.
King mendelik. "Bacott lu!"
"Gimana Key.. goyangan siapa yang paling hot si Onta apa si Cilya??" tanya Ali penasaran. "Pasti hot goyangan yang jam terbangnya udah banyak. Iya kan?" tebaknya.
"Ehemmm.." Cilya berdehem. Kedua laki-laki itu menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Mampus gue!"