
King sudah mengusir sahabat laknutnya. Cilya masih saja mendiaminya, bujuk rayuan telah ia lakukan hingga mulutnya berbusa, tapi istrinya tetap diam.
"Cilya love.. Cilya sayang.. jangan dengerin omongannya si bahlul." King masih berusaha membujuk istrinya. "Yang bilang kan si bahlul, aku gak bilang apa apa. Jangan ngambek dong."
Cilya masih duduk bersandar di sofa. Tidak memperdulikan ocehan King yang berusaha mendapatkan maaf darinya.
Terdengar helaan nafas panjang dari King, pria itu terlihat frustasi dengan sikap Cilya yang acuh padanya. "Cil.." menggerser tubuhnya agar lebih dekat, lalu berbisik. "Aku gak inget lagi rasa masalalu, cuma sama kamu aku ingetnya."
"Kamu manis, legit, menggigit, tembem lagi!" astaga! bisa-bisanya King berbicara seperti itu. Menggelikan! kecupan kecil ia hadiahkan di ceruk istrinya, berusaha menggoda sang istri agar terhanyut oleh sentuhannya.
Pria itu tak perduli, apapun akan ia lakukan agar istrinya tidak lagi mendiaminya. Bisa gawat! misi memberikan cucu untuk kedua orang tuanya akan tertunda.
"Kue lapis kali ah!" celetuk Ali yang tiba-tiba muncul kembali. Pria itu tidak sengaja mendengar ucapan King saat merayu istrinya.
King mendelik. "Bangsattt lu!" King melempari bantal sofa tepat di kepala sahabatnya.
"Tenang bro!" Ali mengangkat kedua tangannya. "Gue cuma mau ambil hape, ketinggalan." buru-buru Ali mengambil ponselnya dan bergegas pergi. Ali harus menghindar, sebentar lagi perang Dunia ke tiga akan datang. "Kencangkan ikat pinggang! awas hati-hati, takut di cincang!" seru Ali sebelum benar-benar keluar dari apartemen. Sepertinya Ali senang sekali melihat sahabatnya terkena masalah dengan istrinya.
"Si bahlul emang rada gila! kamu jangan percaya omongan dia. Dia itu stress, karena gak kawin-kawin." King lebih mendekat, menghimpit tubuh istrinya. Tangannya sudah mulai naik, ingin menggoda istrinya. Menjelajahi kulit seputih dan selembut kapas milik istrinya.
"Ish.." Cilya mendessis, bergeser menjauh. "Minggir sana!" usirnya, sembari menampik tangan King.
"Please jangan ngambek.."
"Kamu tidur di luar!" seru Cilya sembari beranjak dari duduknya, wanita itu masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya rapat-rapat.
"Ali bahlullll!!!!" teriak King meluapkan kekesalannya pada sahabatnya.
__ADS_1
Terpaksa King harus tidak terpisah dengan istrinya malam ini. Untung masih ada satu kamar lagi yang bisa ia tempati, jadi tidak perlu tidur di sofa.
King tidak bisa tidur malam ini, entah apa yang sedang pria itu pikiran. Untuk menghilangkan rasa suntuknya, ia bermain game. Ketika sedang asik bermain game di ponselnya, terdengar suara pintu kamar terbuka. King yang sedang fokus dengan permainannya terpaksa mengalihkan pandangannya.
Susah payah King menelan salivanya, jakunnya naik turun, nafasnya tercekat. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, pria itu mengusap-usap kedua matanya, memastikan tidak salah lihat. Ponselnya ia abaikan.
"Cil.." lirihnya.
Cilya melangkah maju, mendekati suaminya. Berjalan berlenggak-lenggok seraya memamerkan lekukan tubuhnya yang terlihat transparan. Karena hanya kain tipis yang melekat di tubuhnya. Kedua buah dadanya seakan tumpah dari tumpuannya, meronta ingin keluar.
Layaknya seorang wanita penghibur, Cilya berusaha memikat penuh rayuan erotis, menggerakkan tubuhnya begitu sensuall.
Cilya duduk di pangkuan King. Pria itu seakan terbius dengan pesona Cilya hingga diam, tak bersuara.
"Aku akan tunjukkan, betapa hebatnya aku memberikan mu kepuasan." bisiknya.
Hanya mendengar bisikan saja sudah membuat seluruh tubuh King meremang, mercusuaranya perlahan-lahan bangkit, berdiri bak menara Pisa. Bersiap keluar dari sarangnya.
"Let's get started!" Cilya menunduk, memberikan kepuasan di bawah sana, hingga terdengar lenguhhan dan errangan King, yang begitu menikmati permainannya.
Di rasa sudah cukup, Cilya kembali menggapai bibir suaminya, melummatmya begitu liar. Wanita itu sedikit sudah mahir.
Tentu saja King sangat menyambut permainan Cilya dengan suka cita. Tidak menyangka, Cilya bisa seliar itu saat bercinta. Darimana dia belajar? batin King bertanya-tanya. King tidak mau banyak berfikir! dia harus menikmati momen langka ini.
"Gimana Key, aku lebih hot kan?" kata Cilya disela kegiatannya. Wanita itu tengah menari-nari di atas tubuh suaminya. Memimpin permainan. Rupanya Cilya tidak mau kalah. Dan tidak terima di bandingkan dengan mantan suaminya. Ia harus lebih segalanya dari sang mantan.
"Udah aku bilang, kamu yang paling nikmat!" kata King. "Lebih cepet Cil!" seru King.
__ADS_1
"Siap suami ku."
***
Kedatangan King dan Cilya sudah di sambut oleh Arsen. Pria yang tidak lagi muda itu tengah menantikan kedatangan putranya.
"Dad."
"Ikut ke ruang kerja!" kata Arsen. Tak membiarkan putranya beristirahat lebih dulu setelah melakukan perjalanan cukup jauh dan melelahkan.
"Ada apa mom?" tanya Cilya pada Lisa. King tidak mengatakan apa apa padanya. Tapi di lihat dari raut wajah ayah mertuanya, seperti ada sesuatu yang sangat penting.
Lisa menggeleng. "Biar itu menjadi urusan daddy dan Key, lebih baik kamu istirahat dulu."
"Iya, mom." Cilya menurut.
"Kak Cilya.." panggil Soraya ketika melihat Cilya hendak masuk ke dalam kamar.
"Hai Sora." sapa Cilya. "Kenapa mata mu bengkak? abis nangis?"
Bibir Soraya mengerucut, wajahnya masam. "Aku beneran dijodohin kak, aku gak mau! tapi daddy gak mau batalin." Soraya merajuk, memeluk kakak iparnya.
"Kenapa gak mau?" Cilya mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar. Ia akan menemani Soraya lebih dulu.
"Dia bukan tipe ku!" katanya.
Cilya mengelus punggung Soraya, menenangkan gadis itu yang masih terisak. "Daddy pasti pilihin yang terbaik buat kamu."
__ADS_1
"Tapi aku gak suka! pertunangan bentar lagi. Please kak, bantuin aku buat batalin semuanya." Soraya bingung harus minta bantuan pada siapa lagi untuk membatalkan pertunangannya. Daddy dan mommy nya sangat mendukung pertunangannya dengan laki-laki itu. King juga sepertinya setuju dengan pilihan Arsen. Laki-laki pilihan daddy-nya pasti bukan pria yang sembarangan.
"Kakak gak bisa berbuat banyak, hanya bisa do'ain yang terbaik buat kamu." tidak mungkin Cilya menentang keputusan yang telah ayah mertuanya putuskan. Cilya tidak berhak ikut campur mengenai masa depan Soraya. Ia percaya, ayah mertuanya pasti memilihkan laki-laki baik untuk pendamping hidup Soraya.