King Haidar

King Haidar
Kembali mengejar impian


__ADS_3

King dengan malas mengikuti langkah daddy nya masuk ke dalam perusahaan. Tidak pernah terbayang sedikitpun olehnya menjadi pegawai di perusahaan milik daddy nya, menempati posisi paling rendah.


Arsen mengumumkan pada seluruh karyawan agar tidak memperlakukan King dengan istimewa. Mereka bisa memberikan tugas pada King sesuai profesinya. Tanpa memandang King adalah anak dari pemilik perusahaan.


Tapi semua itu tentu tidak berlaku di lapangan, nyatanya tidak ada karyawan satu pun yang berani memberikan tugas pada office boy baru. Apalagi wajah tampannya sangat kontras dari semua pekerja. Mana berani menyuruh pria tampan!


Dasar anak bebal! Hukuman dari ayahnya sama sekali tidak membuat King jera. Pria itu kekeh ingin bekerja di posisi yang seharusnya dan ia inginkan.


Di pantry, King menghabiskan waktu dengan memainkan game, tanpa perduli teman kerjanya yang sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Ada yang sibuk membuat kopi, mengangkat galon dan mengganti yang sudah kosong, menyapu, mengepel, membersihkan toilet dan masih banyak lain tugas yang biasanya di lakukan oleh OB.


Dan hari itu juga, pantry menjadi lebih ramai, para gadis berseliweran keluar masuk hanya ingin melihat pria tampan putra atasnya, pura-pura mengambil sesuatu di sana. Berusaha menarik perhatian pada sang putra mahkota yang saat ini dalam masa pengasingan.


"Sep!" seru King memanggil rekan kerjanya yang bernama Asep. Baru sehari, King sudah merasa klop dengan karyawan bernama Asep itu. Mungkin karena pria itu mudah di kendalikan olehnya. "Pijitin gue sep. Ntar gue kasih tips kalo duit gue udah balik!" ujarnya. Entah uang darimana yang akan kembali padanya, menabung pun tidak. Yang pasti King sedang membicarakan uang milik orang tuanya.


"Siap bos." dengan senang hati si Asep menuruti perintah si anak pemilik perusahaan tersebut. Umur mereka hanya terpaut dua tahun, King lebih tua dari Asep.


King merebahkan tubuhnya si kursi panjang. "Punggung gue sep, pegel banget!" padahal tidak melakukan pekerjaan apapun.


"Oke bos!" Asep memulai memijat punggung King.


"Enak sep, pijitan lu mantap!" serunya. "Ntar kalo gue gantiin si Arsen itu, gue jadiin lu asisten, mau gak?" ucapnya jumawa. Mulutnya tak punya sopan santun menyebut nama daddy nya tanpa embel-embel. Mungkin King masih kesal pada Daddy nya.


"Mau lah bos." jawab Asep semangat. "Pasti gajinya gede kan? saya mana nolak bos."


"Gaji jangan di tanya, udah pasti bikin mata lu melek." sudah pasti gaji seorang asisten pemimpin perusahaan lebih besar, dari pada gaji OB yang hanya mengikuti UMR di Jakarta.


"Emang berapa bos? bisa buat nyicil rumah gak?" rupanya Asep terbuai dengan iming-iming pria bermulut pedas itu. Maklum, selama ini hanya hidup pas-pasan, bahkan kekurangan. Hidup ngontrak di rumah petakan membuat nya berkeinginan memiliki rumah sendiri.


"Emm.." King berfikir sejenak, mana tahu dia tentang cicil mencicil rumah.

__ADS_1


"Gitu aja kok gak bisa jawab! gimana mau jadi pemimpin!" celetuk Arsen. Ternyata Arsen menyidak pekerjaan anaknya. Sudah ia duga, King tidak menjalankan tugasnya dengan benar. "Rumah S3 cicilan perbulannya bisa 3jutaan. Beda lagi kalo di pinggiran, bisa di bawah 2 jutaan."


Arsen menghela nafasnya kasar. "Daddy sudah bilang, kamu harus belajar dari nol sebelum menjadi pemimpin. Dua tahun belakangan, perusahaan kita sudah merambat ke bidang property. Pertanyaan sekecil itu pun kamu gak bisa jawab!" Arsen hanya menggelengkan kepalanya. "Otak mu jangan buat mikirin yang enak-enak aja! Belajarlah Key.. sudah waktunya berubah lebih dewasa dan tanggung jawab."


"Mana otak pintar mu yang lulus dengan nilai terbaik? teori perlu, tapi pengalaman juga lebih penting Key!"


King hanya diam mencerna ucapan daddy nya. Sedangkan Asep dibuat kaku, tak tau harus berbuat apa, sangking groginya berhadapan langsung dengan pemilik perusahaan.


"Buatkan daddy kopi!" titahnya, lalu pergi meninggalkan King.


"Rumah S3 itu apa?" tanya King.


"Rumah sangat sederhana sekali bos." jawab Asep.


"Oh.. " King mengangguk mengerti. "Bikinin kopi Sep." baru saja dapat wejenang, tapi tidak di dengarkan.


"Siap bos."


Sore hari King sudah pulang ke rumah bersama daddy nya. Harinya sungguh melelahkan, padahal tidak melakukan pekerjaan yang berat, hanya mengantarkan kopi di ruang meeting.


Masuk ke dalam kamar, King melihat meja rias baru di kamarnya, dan terdapat sederet skincare di atasnya. Cilya keluar dari kamar mandi, wanita itu sudah membersihkan diri sepulang dari klinik kecantikan.


"Cie.. skincare udah banyak nih.." King mencibir melihat wajah Cilya yang kemerahan, mungkin efek dari perawatan tadi di klinik. "Lagi berusaha jadi cantik nih?" Cilya menunduk malu.


"Udah jelek mah jelek aja Cil."


Cilya mendengus kesal mendengar ejekan suaminya. "Gak apa jelek, yang penting bersih."


King hendak berlalu ke kamar mandi, tapi langkah nya terhenti ketika netranya melihat seonggok kunci yang ia kenal tergeletak di atas meja rias. "Lu pake mobil gue Cil?" melotot tak percaya. Dia yang punya saja tidak di ijinkan memakai mobil Lamborghini kesayangannya, tapi kenapa Cilya mendapatkan kunci itu. "Lu tadi pake ya? siapa yang kasih kuncinya?"

__ADS_1


"Itu.. kata daddy, mobil kamu buat gantiin mobil aku yang kamu jual." jawabnya.


"Whatt!!!" pria itu terkejut. "Gak bisalah Cil! mobil butut masa di ganti sama mobil sebagus itu." kesalnya.


Cilya mengedikkan kedua bahunya. "Gak tau, tanya daddy aja deh." jawabnya, lalu berlari kecil untuk menghindari amukan King.


"Ciliiiaaaaaaaa!" teriaknya kesal. Mana berani dia melayangkan protes pada daddy nya. Kejadian tadi siang saja sudah membuat daddy nya marah. Akan semakin bertambah hukumannya jika ia membantah.


Di ruang keluarga, Arsen dan Lisa sedang berbincang. Cilya menghampiri mereka karena Arsen memanggilnya.


"Cilya, boleh daddy bertanya?" kata Arsen ketika menantunya sudah duduk di samping istrinya.


Cilya mengangguk. "Iya dad."


"Daddy dengar kamu itu lulusan tata busana? desainer? Kamu juga sempat membuatkan gaun untuk Sora?" tanya Arsen.


Cilya mengangguk. Dulu, ia sempat menjual hasil karyanya pada teman dekat termasuk Soraya dan Arletta, tapi tidak berlangsung lama. Cita-cita nya terkubur setelah kehadiran dua anggota baru di keluarganya. Padahal Cilya berencana ingin membuka butik.


"Boleh daddy minta beberapa sketsa hasil karya mu?" ucap Arsen. "Kita ada proyek baru. Haidar Production membutuhkan seorang desainer. Sekitar enam atau delapan bulan lagi akan ada show di Dubai. Rencananya HP akan menyajikan potensi baru. Bukan sekedar merekrut model dan artis baru. Kamu bisa mengikuti acara itu, tunjukkan pada dunia jika karya mu layak untuk di perjual belikan di pasar internasional." jelas Arsen. Sangat sayang kalau bakat yang di miliki Cilya teredam begitu saja.


"Kalau berminat, kirim karya mu ke HP. Atau bisa minta di temani mommy pergi kesana."


"Baik dad." kesempatan tidak akan Cilya lewatkan.


"Semoga berhasil. Jangan khawatir, di sana kamu akan di bantu Benzema. Kamu kenal kan? kakak sepupunya Key?"


"Iya dad, Cilya mengenal kak Benz. Terimakasih dad."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2