
"Mom.. apa kabar?" Cilya pulang ke rumah di sambut oleh ibu mertuanya. Wanita itu tiba di rumah saat siang hari. Hanya ada Lisa dan Soraya yang berada di rumah. Arsen dan King sudah pasti sedang berada di perusahaan untuk bekerja.
Dengan senang hati Lisa menyambut pelukan hangat sang menantu. "Mommy baik. Kamu semakin cantik nak." kata Lisa, memuji penampilan Cilya yang terlihat sangat berbeda. Jauh lebih baik dari sebelumnya. "Gimana kabar mu? apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Lisa sembari mengurai pelukannya.
"Aku lebih baik mom. Dan semuanya berjalan dengan lancar, sesuai harapan kami." kata Cilya. Pihak Haidar Productions sangat puas dengan perkembangan Cilya. Wanita itu bisa di andalan untuk menciptakan karya yang berbeda dan luar biasa. Berharap akan mengharumkan rumah produksinya kelak, sukses mengikuti show yang akan di selenggarakan di Dubai.
"Syukurlah.. mommy ikut senang." kata Lisa. "Ayo masuk dulu.." Lisa mengajak menantunya masuk ke dalam rumah.
"Kak Cilya?" seru Soraya, masih ragu dengan apa yang ia lihat sekarang. "Ini kak Cilya kan?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan. Bahkan Soraya berjalan tergesa untuk mendekat. "Kakak.."
Cilya tersenyum dan mengangguk. "Iya, ini aku.. Cilya.." ucapnya.
Soraya menutup mulutnya yang menganga. Walaupun dari awal sudah mengetahui jika kakak iparnya itu memang cantik, tapi tidak menyangka kakak iparnya itu terlihat sangat begitu cantik, jauh dari bayangannya. "Ya ampun kak.. cantik banget.."
"Kalian semua cantik. Putri mommy cantik-cantik." kata Lisa.
"Iya mom, tapi gak nyangka aja, kak Cilya berubah drastis. Aku kan jadi pangling mom." kata Soraya.
"Ini memang kemauan ku. Dan sedikit tuntunan dari profesi baru ku." Cilya mengatakan yang sebenarnya. Selain dia ingin berubah lebih baik, wanita itu pun di tuntut agar berpenampilan menarik. "Gak mungkin kan, jualan baju tapi pakai baju kurung kekinian.." ucap Cilya sembari terkekeh.
"Iya kak, bener juga." Soraya membenarkan. "Eh... kita ngobrol dulu yuk kak. Ceritain pengalaman kakak di sana." Soraya sudah mengapit lengan Cilya, hendak mengajaknya ke kamar untuk bergosip.
"Sora, kakak mu itu capek, perlu istirahat. Besok aja ngobrolnya." ucap Lisa seakan tahu jika menantunya kelelahan dalam perjalanan. "Cilya.. kamu ke kamar dulu gih.. istirahat, pasti kamu capek kan?" Lisa menyuruh Cilya masuk ke kamar agar tidak di ganggu oleh Soraya.
Soraya mencebik. "Mommy gak asik ah.."
"Masih banyak waktu, Sora."
"Iya, besok aku janji akan menemanimu seharian." ucap Cilya akhirnya. "Aku lelah, pengin rebahan."
"Tuh kan.."
"Iya deh mom." Soraya pun menurut, membiarkan kakak iparnya masuk ke kamar untuk beristirahat.
Cilya membuka pintu kamar, kemudian masuk ke dalam. Dilihatnya kamar yang masih sama seperti dulu, saat ia pergi dari rumah ini. Perabotan masih ada pada tempatnya. Hanya sprei dan hordeng yang berbeda.
Cilya menatap sofa, tempat yang biasa ia gunakan untuk tidur selama di kamar itu. "Kenapa aku bodoh sekali." ucapnya menyesali, kenapa dulu ia begitu menurut di perlakuan tidak adil oleh suaminya.
__ADS_1
Tatapan Cilya beralih ke ranjang yang luas. Tidak ada lagi keraguan untuk berbaring di sana. "Aku ngantuk." gumamnya sebelum dirinya benar-benar tertidur karena kelelahan.
Hingga sore hari Cilya baru terbangun. Tubuhnya terasa lebih nyaman. "Aku harus mandi biar lebih segar." gumamnya.
Sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Cilya memanggil pelayan untuk membantunya merapihkan barang bawaannya.
"Iya non. Ada yang perlu bibik bantu?" wanita paruh baya itu pun terkejut sekaligus terkesima melihat penampilan Cilya saat ini. "Non Cilya semakin cantik." mulutnya tak bisa diam menahan apa yang ingin ia ucapkan.
Cilya tersenyum. "Terimakasih bik." balasnya. "Oiya bik, aku minta tolong.. rapihkan pakaian ku yang ada di koper ke lemari. Tas dan sepatu tolong susun rapih di walk in closet." kata Cilya memberi arahan.
"Baik non, kalo gak muat gimana non?" ucap wanita itu ketika melihat barang bawaan Cilya sangat banyak.
"Singkirkan yang lain. Masukin barang-barang Key ke dalam kardus." ucap Cilya. Toh.. barang-barang milik King kurang up-to-date. Sudah ketinggalan jaman, perlu di pensiunkan.
"Tapi.."
"Gak apa bik, nanti aku yang bilang langsung ke Key." ucap Cilya.
"Baik non."
"Terimakasih bik, minta bantuan sama yang lain ya bik biar gak capek." setelah mengatakan itu, Cilya masuk ke dalam kamar mandi. Wanita itu harus berendam agar tubuhnya semakin segar.
Perlengkapan milik King tergusur, berpindah tempat di laci paling bawah. Hanya satu deodoran dan satu parfume yang ikut bertengger di sana. Porsi yang tidak adil!
Cilya memilih salah satu dress rumahan untuk ia kenakan. Kemudian ia mulai duduk di kursi meja rias untuk memanjakan wajahnya dengan beberapa skincare.
Ditengah kesibukannya mengelus-elus wajah. Pintu kamar terbuka.
Deg.
Ternyata King yang membuka pintu itu. Pergerakan Cilya terhenti, menatap pria yang lama tak jumpa di dalam cermin.
Pintu tertutup kembali, pria itu pergi hanya meninggalkan suara decakannya, seperti kesal saat melihatnya. "Dia gak berubah." ternyata sikap King masih sama seperti dulu. Tetap mengabaikannya, pikir Cilya.
***
"Mommm..." teriak King yang merasa kesal. Lelah habis pulang kerja, ingin segera beristirahat dan membersihkan diri. Tapi Mendapatkan sosok aneh di kamarnya. "Mommm!" teriaknya lagi.
__ADS_1
"Apasih teriak-triak." Lisa menghampiri anaknya. "Pulang kerja bukannya bersih-bersih dulu malah bikin gaduh." kata Lisa.
"Mom, daddy jadi ngusir aku?" King sangat khawatir, Arsen menghukumnya dan akan kembali mengusirnya dari rumah ini.
"Kamu ngomong apa sih." Lisa tidak mengerti maksud ucapan King.
"Mommy setuju, kalo daddy ngusir aku dari rumah ini lagi? please mom, aku gak mau pergi."
"Siapa yang mau ngusir kamu Key, emang kamu bikin masalah lagi?" tanya Lisa yang sudah melebarkan kedua matanya. "Kamu bikin ulah apalagi Key!" bentak Lisa penuh amarah.
"Gak kok."
"Terus ngapain panik diusir?"
"Terus yang di kamar aku itu siapa?" tanya King. Pria itu pikir, Arsen telah menyabotase kamar miliknya, menyerahkan pada orang lain. Lalu mengusirnya pergi dari rumah. Selama ini King masib tetap membantah perintah Arsen. Bekerja sesuka hatinya tanpa menaati peraturan yang ada,
Lisa tersenyum. "Itu Cilya Key.. baru pulang tadi siang."
King terkejut. "Si Cili?" tanyanya. Lisa mengangguk.
"Beneran mom?"
"Iya sayang.."
Dengan cepat King membalikkan tubuhnya, berniat untuk kembali ke kamar untuk bertemu dengan Cilya.
Tapi langkahnya terhenti tatkala melihat sosok yang ingin ia temui berjalan menuruni anak tangga. Begitu mempesona di mata pria itu. Kedua matanya di buka selebar mungkin agar meyakinkan dirinya sendiri jika yang ada di hadapannya itu Cilya, istrinya.
Istri yang dulu selalu memakai kacamata tebal, serta pakaian yang serba over size. Kini semuanya sudah berbeda. Begitu cantik seperti bidadari dengan gaun rumahan berwarna putih tulang. Rambutnya tergerai indah, menambah kecantikannya.
"Tutup mulut mu Key.. ileran itu." kata Lisa meledek.
King terkesiap. "Itu Cili mom?"
"Iya, siapa lagi!"
"Cilya.. istri ku.." ucapnya begitu penuh kagum. Berbangga diri menyebut Cilya adalah istrinya. Padahal dulu paling anti mengakui Cilya itu istrinya.
__ADS_1
Bersambung...