
"Cil, udah dong jangan takut lagi ama gue.." keluh King yang melihat Cilya masih enggan berdekatan dengannya. "Gue kan udah minta maaf dan tanggungjawab pula. Malem itu kan gue lagi mabok, Cilya. Udah ya, jangan takut lagi. Gue gak bakal gituin lu lagi kok, janji!"
"Malem itu kamu menyakiti ku Key.. kamu seperti ibl--" ucapannya belum selesai, King lebih dulu menyelanya.
"Stop Cil, gak usah di terusin!" kesal King. Pria itu juga tak mau membayangkan kembali kejadian malam itu. "Udah ya, kita damai."
Cilya menunduk, sakit hati atas perlakuan King tidak mudah ia lupakan.
"Cil! mau damai gak nih? kita kan bakal jadi teman hidup." desak King sedikit memaksa agar Cilya mau memaafkan dan bersikap seperti biasanya.
Cilya hanya mengangguk, menyetujui keinginan King. "Tapi, aku masih ingin bekerja."
"Gak masalah. Kerja kerja aja. Lu bakal jadi bini gue yang bebas ngapain aja. Gue gak bakal ngelarang elu ini itu. Baik kan gue?" King membebaskan Cilya untuk melakukan apapun yang ia sukai.
"Iya Key, terimakasih."
"Dan elu juga gak boleh ngatur-ngatur gue, oke?"
"Iya." obrolan singkat sepasang pengantin baru itu terjadi ketika mereka dalam perjalanan pulang. King dan Cilya akan tinggal di rumah keluarga Haidar.
Awalnya King ingin tinggal di apartemen, tapi tidak di perbolehkan oleh Arsen dan Lisa. Karena takut, King akan memperlakukan Cilya dengan buruk.
"Ciee... udah halal nih." tiba-tiba Ali menghampiri mereka berdua ketika sampai di pelataran rumah. "Bisa langsung mantap-mantap nih." ucap Ali sembari menaik turunkan kedua alisnya, disertai kerlingan mata menggoda.
"Ck! gak selera!" jawab King ketus.
"Alaaahhh.. kalo udah nyicipin pasti ketagihan!" seru Ali.
"Bacott banget si lu!" King meninju bahu Ali. Kesal dengan candaan yang membuatnya badmood. Menghabiskan malam bersama Cilya? bercinta dengan Cilya? big no!
"Soksok-an nolak." Ali mencibir. "Dari pada bersolo karir mending manfaatin ladang yang ada."
"Li.. bisa diem gak si lu! sono pulang, rese banget!"
"Yaelah.. gitu amat, ampe ngusir gue."
"Bacott lu tuh gak bisa mingkem!"
__ADS_1
"Ya kan gue cuma kasih saran doang, kasih masukan gitu.. biar lu ada pencerahan. Gue kan lebih berpengalaman."
"Bodo amat!" ucapnya kesal, lalu berjalan cepat meninggalkan Ali untuk menyusul Cilya yang sudah di tarik lebih dulu oleh Soraya. Entah apa yang akan di lakukan adiknya itu pada Cilya.
"Ra, lu mau apain bini gue?" seru King.
"Ceilehh.. bini katanya." Ali yang masih di belakang King mencibir mendengar sahabatnya itu mengakui jika Cilya adalah istrinya.
"Bacott lu!"
"Bentar kak, aku ada perlu sama kak Cilya, sama mommy juga." ucap Soraya yang ingin membawa Cilya pergi menemui mommy Lisa.
"Oh.."
"Ntar aku balikin kak Cilya ke kamar kakak."
Soraya pergi membawa Cilya menemui mommy Lisa. King dan Ali duduk bersantai di sofa dekat taman belakang. Kedua pria yang tak lagi lajang itu menyenderkan punggung yang terasa pegal, di temani dua cangkir americano yang di sajikan oleh pelayan.
Hening. Pikiran keduanya melalang buana entah kemana.
King mengesah gelisah, rasanya malu sekali jika memperkenalkan Cilya sebagai istrinya di khalayak umum. Pasti akan di tertawakan!
"Mikirin apa bro?" tanya Ali, tatapannya masih tertuju pada langit yang sudah menggelap.
King mendengus. "Nyesel gue."
"Ck! gak boleh nyesel! udah takdir Key."
"Lu ngomong takdir mulu dari tadi!" malas sekali mendengar Ali yang mengatakan semua yang menimpa dirinya adalah takdir dari Yang Maha Kuasa. "Gak ada yang lain apa!"
"Abis mau bilang apa lagi? ya emang beneran takdirlah! kayak gue dulu ama Novita."
Mendengar nama Novita, King penasaran bagaimana Ali bisa mempersunting Novita? di jadikan istrinya pula! "Lu kenalan dimana emang? kok bisa milih dia yang lebih tua dari lu. Mata lu merem ya pas lagi milih?"
"Gue dikenalin ama temen gue. Nongkrong bareng." jawab Ali "Sama sekali gak ada niatan buat jalanin hubungan serius. Tapi ya gitu deh.." ucap Ali begitu ambigu.
"Gitu deh gimana? ngomong yang jelas! emang gue cenayang yang bisa nebak isi hati lu!"
__ADS_1
"Bisalah Key, masa lu gak paham juga!"
"Ck! gak jelas! gue males mikir!" pikirannya sedang kacau, Sulit menerima kenyataan bahwa Cilya sudah menjadi istrinya.
Ali mendengus. "Lagian lu mikirin Cilya mulu sih!"
"Iya, gue mikirin dia. Mikirin gimana caranya biar temen-temen gue gak pada tau kalo si Cili itu bini gue!" sembur King.
"Kacau lu! bini sendiri mau di umpetin!
"Gak usah bahas gue deh, tambah mumet ni pala."
"Yaudah lu dengerin gue aja. Siapa tau lu terinspirasi dari pengalaman gue. Dan bisa menerima takdir dengan ikhlas." Ali membenarkan posisi duduknya untuk bersiap menceritakan awal pertemuannya dengan istrinya.
Menyeruput americano yang sudah dingin. Lalu menghadap ke temannya. "Gini.. pas udah di kenalin ama temen, gue ama Novita makin deket tuh.. kita klop banget kalo ngobrol, sering jalan bareng. pokoknya tiap weekend hangout bareng deh.."
"Terus?" King mulai kepo. Rasanya tak menyangka Ali akan terpikat oleh wanita ganjen itu.
"Kita deket, eh kebablasan.. jadi keterusan deh.." jawab Ali.
King mengerutkan keningnya. "Lu pasti di rayu kan?"
Ali mengangguk, membenarkan jika Novita yang lebih dulu merayunya. "Gue penasaran.. awalnya sih cuma coba-coba.. lah kok enak.. ehhh jadi kebablasan, keterusan deh.. hehe.."
"Bangsattt lu!"
"Beneran Key.. gue pas itu candu banget! rasanya pengin mulu." akunya. Ali yang waktu itu masih polos, di suguhkan dengan kenikmatan oleh Novita menjadi ketergantungan. Hingga Ali memutuskan untuk menikahi Novita karena tidak mau terus-terusan berbuat dosa. "Gue yakin sih.. lu bakal ketagihan kalo udah ngrasain Cilya.. bakal nambah terus."
"Oh.. pantesan Ali mau tuh ama si janda!" King membatin. "Dih.. ko jadi gue?"
"Ck! jangan muna deh.. lu pasti butuh itu kan? minta aja ama bini lu. Udah halal kok."
"Ngaco lu!" King tidak berminat untuk menyentuh Cilya. Sudah cukup malam itu. King tak mau mengulanginya lagi ataupun mengingatnya. "Lu makin ngawur! gue gak bakal on ama Cilya kalo lagi sadar. Gue cabut.. capek mau tidur."
"Gue catet ya omongan lu! jangan sampai lu nyesel dan ampe ketagihan besok-besok!"
"Bacott!"
__ADS_1