King Haidar

King Haidar
Rayuan


__ADS_3

Aktifitas King kembali seperti biasanya, bekerja di perusahaan menjadi OB. Berbulan-bulan menjadi Office Boy, King sama sekali tidak pernah memegang gagang sapu ataupun kain pel.


"Bos, kapan jadi CEO nya? emak di kampung udah nanyain kapan beli rumah." kata Asep yang masih mengharapkan akan menjadi asisten seorang CEO. Asep terlanjur berjanji akan memboyong ibunya ke kota dan membelikan rumah. Tapi sampai saat ini King masih saja bekerja menjadi OB. "Bos gak PHP-in saya kan?"


"Ck! sabar Sep, orang sabar di sayang Tuhan." kata King.


"Masih lama apa bos, hukumannya?" tanya Asep.


King hanya mengedikkan bahunya, bingung juga harus menjawab apa. Sementara dirinya pun tak tahu berapa lama lagi Arsen akan menghukumnya.


"Bos, gak bosen apa nguprek di mari, gak pengin kerja pegang laptop biar keren." kata Asep.


King menjitak kepala Asep. "Gue udah keren dari sananya, gak usah pegang laptop buat jadi keren." semburnya.


Asep mengelus bekas jitakan itu. "Hehe.. biar tambah keren maksudnya bos."


King mendengus, lalu pergi meninggalkan Asep. Di setiap langkahnya, pria itu termenung. Memikirkan jika selama ini dirinya hanya berpangku tangan, tidak serius untuk menjadi seorang yang berguna, orang yang bisa membanggakan kedua orang tuanya. "Apa gue terima aja ya, proyek dari Daddy?" hatinya bergelut, menimbang-nimbang untuk menerima tawaran dari Arsen.


"Kalo gue pergi, ntar jauhan ama si Cili." hatinya bimbang, tak rela meninggalkan istri cantiknya. "Tapi kalo gue gak punya duit, gue gak bisa mantap-mantap ama si Cili. Dia kan udah matre!" gerutunya mengingat sifat Cilya sudah berubah, menjadi wanita matre yang selalu menanyakan uang. Padahal dulu Cilya tidak seperti itu, malah terlalu nurut padanya.


Terdengar suara ketukan heels yang bertemu dengan lantai marmer, nyaring sekali. Sehingga membuyarkan lamunan King.


"Cili.." dilihatnya Cilya sedang berjalan memasuki perusahaan, melangkah dengan anggunnya. Senyumannya memudar tatkala melihat Cilya tidak berjalan sendiri. Ada beberapa pria dan wanita yang ada di samping Cilya. "Cil!" panggilnya, lalu berlari mendekat.


"Kamu ngapain di sini? mau ketemu aku?" tanya King begitu percaya diri.


"Dih.. pede!" jawab Cilya. "Aku mau ketemu ama daddy Arsen, ada perlu."


"Terus mereka siapa?"


"Mereka model yang akan ikut show di Dubai. Acaranya di percepat. Dan Aunty Mikha menyuruhku untuk datang ke sini. Meminta tanda tangan dan meeting sebentar, kami perlu arahan dari beliau." jelas Cilya.


"Oh.." jawabnya lesu. Ia pikir, Cilya datang untuk menemuinya.


Cilya melihat wajah King tak bersemangat, mengelus pelan pipi King. "Semangat! aku bisa lebih maju. Pasti kamu juga bisa." tak lupa memberikan senyuman termanisnya.

__ADS_1


Mendapatkan perlakuan manis dari Cilya membuat King tersenyum lebar kembali. "Aku semangat empat lima Cil."


Cilya tersenyum kembali, lalu satu langkah mendekat dan berbisik. "Tunjukkan keberhasilan mu, maka aku akan menyambut mu di kamar dengan gaun merah yang pernah kamu berikan." sebuah kerlingan mata mengakhiri kalimat itu. Cilya pergi meninggalkan King yang masih terpaku, hanya mendengarkan bisikan saja sudah membuat jantung King berdebar lebih kencang.


"Aku tunggu Cil." teriak King bersemangat. "Sejak kapan dia pintar menggoda." satu tangan memegang dadanya, merasakan detakan yang tidak biasa.


***


"Dad, aku mau terima tawaran daddy." saat pulang, King langsung mengutarakan niatnya.


Arsen menaikan sebelah alisnya. "Kenapa tiba-tiba? ada angin apa?" sedikit curiga dengan tingkah putranya itu.


"Ck! nerima salah, nolak salah." dengusnya. Daddy nya itu selalu saja bisa membaca pikirannya.


Arsen tersenyum tipis. "Ada motif apa kamu? daddy gak mau kamu asal-asalan nerima proyek itu. Tapi malah merugikan perusahaan." kata Arsen memperingati.


King mengangguk "Aku janji gak bakal bikin kacau."


"Oke. Daddy akan urus. Tapi sebelumnya kamu harus di training dulu."


"Iya."


"Dad, gak ada yang lain apa. Masa sama Benzema, apalagi uncle Bastian." mendengar nama uncle Bastian sudah membuatnya bergidik ngeri. Tidak bisa di bayangkan jika dirinya satu ruangan dengan uncle nya itu, yang super duper membosankan. Dijamin, hari-harinya akan kelabu.


Arsen terkekeh. "Apa mau ikut daddy ke Jerman?" tanya Arsen.


King menggeleng cepat. "Gak!" tolaknya. Tidak sudi lagi menginjakkan kaki di negara yang penuh dengan kenangan pahit.


"I want to meet Camelia, dad! I love her, dad! Please..!" Arsen mencibir, menirukan gaya bicara King waktu itu, ketika merengek ingin pindah ke Jerman. Masih teringat jelas ketika King kabur dari pesantren dan lebih memilih melanjutkan studinya di Jerman, demi bersama gadis yang bernama Camelia.


"Stop it Dad!" dengusnya kesal. Mendengar nama Camelia membuat hatinya sakit lagi, teringat akan pengkhianatan itu. Sedangkan Arsen tergelak melihat wajah putranya yang masam.


***


Wajah yang sedari tadi di Teluk, terlihat kembali bersemangat ketika melihat istrinya sudah pulang ke rumah. Berada di kamarnya.

__ADS_1


"Cil, tadi benerkan? kamu gak bohong kan?" tanya King mengenai ucapan Cilya saat di bertemu di perusahaan.


Cilya mengangguk. "Iya, asal kamu mau berubah jadi lebih baik. Jadi pria sukses."


"Aku udah bilang ke daddy, aku nerima tawarannya." King menjelaskan tawaran dari Arsen untuknya.


"Bagus dong, itu bisa menjadi awal kamu meraih kesuksesan. Buktikan pada semua orang bahwa kamu seorang Haidar, bukan pria parasit dan pemalas." Cilya menyemangati King.


"Parasit? Oh jadi selama ini kamu nganggep aku parasit?" King mulai kesal. Ternyata diam-diam Cilya menyebutnya seorang parasit.


Cilya terkekeh. "Iya, kamu kan dulu numpang sama aku, Gak inget?" tanya Cilya. "Kalo bukan parasit, terus apa?"


King menghela. "Tapi kan aku ganti Cil pake mobil kesayangan ku." King mencari pembelaan.


"Tapi mobil punya kamu, daddy yang beliin kan? bukan uang kamu."


"Iya.. iya.. ntar aku ganti, itung aja dehh.. catet aja catet!" ucapnya remeh. Jika sudah berhasil, King bisa membayar hutang hutangnya pada Cilya bahkan memberikan lebih.


"Oke!"


"Cil, kalo aku nerima proyek itu, berarti kita jauhan dong." King menyeringai. Kemudian mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Langkahnya pun semakin mendekati Cilya.


"Jadi, kamu pake gaun merahnya sekarang aja ya, keburu aku pergi terus ketemunya lama lagi. Biar aku tambah semangat gitu kalo udah di cas sama kamu." ada saja rayuan yang keluar dari mulutnya. Rasanya benar-benar tidak sabar untuk menggagahi Cilya.


"Key.. jangan mulai deh.." Cilya memutar bola matanya jengah. "Akan lebih spesial kalo kita melakukannya sama-sama ingin." jelas Cilya.


"Kamu nolak aku?"


Cilya menggeleng. "Bukan nolak Key, tapi di pendding dulu."


"Yakin?" King semakin dekat. "Badan ku oke loh.." pria itu memamerkan otot lengannya. "Berotot lagi." tidak kenal lelah untuk merayu Cilya agar bersedia memadu kasih dengan nya. Semakin cepat lebih baik!


Cilya menggeleng cepat. "Nanti aja!" lalu menundukkan pandangan agar tidak terpikat oleh tubuh suaminya.


"Punya ku hampir 14 cm loh Cil, mantap kan.." bisik King tepat di telinga Cilya. Berharap wanita itu akan tergiur.

__ADS_1


"Key!!!" Cilya malu sendiri mendengar ucapan King yang begitu absurd. "Memalukan!" Cilya bergegas pergi, telinganya terasa panas jika mendengarkan celotehan King lebih lanjut.


Bersambung...


__ADS_2