King Haidar

King Haidar
Menyusul suami


__ADS_3

Seharian ini, Cilya terus tersenyum, mengingat ungkapan cinta dari suaminya. Wanita itu teramat bahagia mendengar pengakuan yang selama ini ia tunggu-tunggu. Bahkan pagi itu, saat King mengatakan cinta di waktu perpisahan mereka, Cilya membeku sekian lama, hingga tak menyadari suaminya semakin pergi menjauh. Jika saja waktu bisa berhenti sejenak, Cilya pasti akan membalasnya. Mengatakan perasaan yang sebenarnya.


Lamunan Cilya lenyap ketika suara dering ponselnya berbunyi nyaring. Senyumannya semakin lebar mendapati nama suaminya tertera di layar ponsel.


"Hallo Cilya love.. lagi apa?" sapanya ketika Cilya menerima panggilan. Hati Cilya semakin berbunga-bunga mendengar panggilan baru dari suaminya. Kalau saja King bisa melihat, kedua pipi Cilya sudah bersemu merah. "Kok diem?" kata King yang tidak mendengar suara Cilya.


"Iya.." satu kata yang keluar dari mulut Cilya, terasa berat karena jantungnya berdebar hebat. Ini baru lewat panggilan telepon, bagaimana bila bertemu langsung? Cilya tidak bisa membayangkannya.


"Kamu lagi apa? gak sibuk kan?" tanya King. Pria itu menyempatkan waktu di tengah kesibukannya untuk berbicara dengan Cilya walau hanya lewat panggilan jarak jauh.


"Aku sedang makan siang. Kamu sendiri sudah makan siang?" Cilya balik bertanya, sebenarnya wanita itu bingung harus mulai bicara darimana, dia terlalu gugup.


"Aku sebentar lagi. Emm.. maaf ya, aku belum bisa pulang. Pekerjaan sama sekali gak bisa ditinggal. Nanti kalo ada hari kosong, aku akan pulang. Kangen banget ama kamu." King mengatakan yang sebenarnya. Pria itu belum bisa pulang karena pekerjaannya yang menumpuk.


Tidak tahukah pria itu? jika ungkapan rindu yang menurutnya biasa saja meluluhlantakkan hati wanita yang sekarang sedang mendengar suaranya di sebrang sana.


"Iya, gak papa Key. Aku ngerti kok, kamu sibuk." kata Cilya yang memaklumi jika sekarang kegiatan King sangatlah padat.


Belum sempat menimpali ucapan Cilya. Terdengar suara Meta yang memanggilnya untuk mengingatkan bahwa makan siang udah di siapkan.


Cilya yang mendengar suara wanita di sebrang sana menjadi was-was. "Siapa itu Key?" tanya Cilya.


"Oh.. itu, Meta.. sekertaris ku." jawab King.


"Masih muda apa sudah tua?" Cilya kembali bertanya, penasaran dengan Meta.


"Emmm.. kayaknya lebih muda dari kamu."


"Ishh.." Cilya mendesis, setelah itu tanpa banyak kata, langsung mengakhiri sambungan telepon itu secara sepihak.


"Ada apa kak?" tanya Nanda yang baru saja masuk ke ruangan Cilya. Atasannya terlihat kesal.

__ADS_1


"Gak ada apa apa." Cilya enggan memberitahu urusan rumah tangganya, walaupun hanya sepele.


"Nanda, kapan aku bisa ambil cuti?" tidak ada salahnya mengambil cuti setelah bekerja keras selama berbulan-bulan menyiapkan show di Dubai yang berujung kesuksesan.


"Sebenarnya, hari ini cuti juga gak masalah si kak. seminggu ini kakak masih bisa santai. Minggu depan baru kakak fokus lagi." jawab Nanda.


"Yasudah, aku mau ambil cuti selama seminggu." Cilya akan memanfaatkan cuti untuk menyusul suaminya.


"Kakak mau kemana emang?"


"Di larangan kepo!"


"Iyadeh... selamat berlibur kak."


Sebelum berangkat ke Kalimantan. Cilya lebih dulu mengunjungi ayahnya.


"Masih inget pulang kamu!" kedatangannya di sambut oleh wajah masam Jelita yang masih iri padanya. Tidak berhasil merayu King membuatnya kesal. Padahal Jelita merasa lebih segala-galanya dari pada Cilya.


Cilya mengabaikan Jelita. Meladeninya hanya akan membuang tenaganya saja. "Aku mau ketemu ayah, gak ada urusan sama kakak."


"Tolong jaga ayah ku dengan baik. Jangan mengabaikannya lagi." sebelum pergi, Cilya berbicara pada Sarah untuk memperlakukan ayahnya dengan baik.


"Dia suami ku, sudah pasti aku merawatnya." kata Sarah.


Cilya mengangguk. "Semoga tante tidak khilaf lagi, meninggalkan ayah ku hanya untuk bersenang-senang dengan teman sosialita tante."


Sarah hanya mendengus kesal mendengar ucapan Cilya.


***


Setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam. Cilya sampai di kota tempat suaminya tinggal saat ini. Berkat alamat yang di berikan oleh daddy Arsen. Cilya dengan mudah sampai di apartemen milik suaminya.

__ADS_1


Cilya masuk ke dalam apartemen, mengitari penjuru ruangan yang terlihat sangat maskulin. Warna abu dan hitam sangat dominan di apartemen itu. Aroma parfume yang biasa King gunakan mulai tercium ketika Cilya membuka kamar utama.


"Lebih baik aku mandi dulu." untuk memberikan kejutan pada sang suami. Cilya meletakkan barang-barangnya di kamar sebelah.


Gaun merah maroon bertali spaghetti Cilya ambil dari dalam kopernya. Gaun yang King berikan untuknya, yang di beli dari gaji pertama King waktu bekerja di Jogja sebagai pemandu wisata. Cilya akan memakainya sekarang, untuk menyambut kepulangan King.


Tidak lupa Cilya berias, agar penampilannya semakin memukau dimata suaminya. Berharap King akan terkesima sekaligus terkejut melihat kedatangannya.


Hatinya berdebar-debar ketika waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Sebentar lagi pasti King akan pulang. Cilya semakin gugup di buatnya. "Tenang Cilya.. tenang."


Sedangkan pria yang di tunggu-tunggu kedatangannya kini tengah sibuk membereskan pekerjaannya yang belum juga rampung.


"Sir, ini sudah malam. Apa tidak ingin pulang?" tanya Meta.


King melihat jam yang melingkar di lengannya. "Ya ampun, udah malem aja." sangking sibuknya, King lupa waktu. "Kamu boleh pulang duluan."


"Emm.. saya tunggu Sir saja." enggan pulang lebih dulu, menurutnya kurang etis jika haru pulang lebih cepat dari atasannya.


"Yasudah tunggu sebentar. Suruh sopir untuk menunggu di lobby." perintahnya.


"Baik sir."


Seperti biasa, Meta akan ikut pulang bersama King. "Apa dulu, kamu sering pulang bareng dengan atasan mu?" King pun merasa heran, Meta mengatakan jika dulu atasannya memperbolehkannya ikut pulang bersama, satu mobil.


"Iya Sir, karena angkutan umum di sini tidak ada yang melewati rumah saya. Jadi Pak Dino selalu mengijinkan saya untuk pulang bersama. Beliau orang yang baik." kata Meta


"Maksud lu, gue gak baik gitu?" King pernah menolak untuk mengantar Meta, apalagi satu mobil dengannya. Pria itu risih berdekatan dengan Meta. Wanita yang baru ia kenal.


"Oh.. sepertinya harus di adakan mobil antar jemput karyawan yang punya problem sama seperti mu." tiba-tiba muncul ide cemerlang di kepalanya. Selain untuk menghindari Meta, ia juga dapat memberikan kenyamanan karyawannya.


King bersiul seiring melangkah menuju apartemennya. Ada rasa yang membuncah datang dengan sendirinya. Pekerjaan hari ini sungguh memuaskan. Dua investor datang dengan sendirinya untuk menanam saham di perusahaannya. "Hari ini emang keberuntungan gue!" dan perkebunan kelapa sawit yang baru akan ia mulai berjalan sesuai rencananya.

__ADS_1


"Gue udah jadi Sultan beneran, Cilya love pasti bangga ama gue.. gue bukan parasit lagi!" King tertawa saat mengatakan itu. Berbicara sendiri di depan dinding lift, seperti orang tidak waras.


"Jackpot apalagi nih.. rasanya ada yang belum kesampean!"


__ADS_2