King Haidar

King Haidar
Meminta restu


__ADS_3

King tidak bisa meliburkan diri terlalu lama, pria itu harus segera datang ke perusahaan, pekerjaannya sudah sangat menumpuk.


Untuk pertama kalinya, King membawa Cilya-sang istri ke perusahaan yang sekarang ia pimpinan. Memamerkan pada wanitanya, bahwa ia sekarang sudah benar-benar menjadi CEO sungguhan, meski perusahaan masih terbilang belum terlalu bersinar seperti perusahaan pusat yang dipimpin oleh Arsen.


Dan untuk pertama kalinya juga, King memperkenalkan Cilya sebagai istrinya. Pernikahan King dan Cilya sama sekali belum terekspos ke publik, hanya kerabat dekat yang mengetahuinya.


"Kayaknya kita harus nyebar undangan, ngrayain pesta pernikahan kita." kata King. Pria itu baru menyadari jika mereka tidak mempunyai foto pernikahan satu pun. "Sekarang aku pasti keliatan ganteng, dan kamu cantik kalo kita berdiri di atas pelaminan." masih ingat, acara ijab qobul yang dulu mereka lakukan, penampilan King maupun Cilya sangat tidak mendukung. Pengantin pria dengan wajah yang babak belur serta wajah Cilya yang sama sekali tidak tersentuh oleh make up, hanya menampilkan jerawat yang bertebaran menghiasinya.


"Iya, aku juga pengin pakai gaun kayak princess." Cilya nampak setuju dengan usulan suaminya.


"Dan aku pangerannya." kecupan sekilas mendarat di bibir Cilya. "


"Key, ini di kantor!" tegur Cilya saat tangan King mulai merajalela.


King terkekeh. "Lupa.. aku harus beresin kerjaan dulu." King mengurai pelukannya. Dan pria itu melangkah menuju kursi kebesarannya.


Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk. King mempersilahkan untuk masuk.


"Ini Sir, berkas yang Anda butuhkan." Meta datang membawa berkas yang King butuhkan. Kedua mata Meta melirik Cilya yang sedang duduk di sofa, asik memainkan ponsel. Mendengar atasannya sudah memiliki istri, Meta sedikit kecewa, selama ini Meta mengharapkan bisa memliki hubungan lebih dengan atasannya yang berwajah rupawan itu.


"Hem.." King hanya bergumam.


"Setelah makan siang, Sir ada meeting di luar kantor." kata Meta mengingatkan.


"Oke."


"Key.. aku ingin coffee latte. Aku ke cafe sebrang dulu ya. Kamu mau aku beliin kopi juga gak?" rasanya bosan jika harus menunggu suaminya bekerja. Sembari menunggu King, Cilya ingin menyelesaikan rancangannya.


"Biar Meta saja yang membelinya." kata King. "Meta, belikan minuman untuk istriku."


"Baik Sir."


"Key.. aku bisa sendiri."


King menggeleng. "Biarin Meta aja yang beliin, Cilya love. Kamu temenin aku aja." terdengar manis sekali, King sangat menyayangi istrinya. Padahal setau Meta, King adalah atasan yang sangat galak.


Pekerjaan King memang sangat banyak, terlalu menumpuk. Hingga Cilya kelelahan menunggunya. Wanita itu tertidur di sofa dengan bolpoin yang masih terselip di antara jarinya, maklum waktu tidurnya semalam sangat kurang.

__ADS_1


Tidak tega meninggalkan Cilya untuk meeting di luar, King meminta meeting itu dilaksanakan di kantornya saja.


"Sir, ada tamu yang ingin menemui anda." kata Meta memberitahu tamu yang datang, sesuai laporan dari resepsionis. Meeting mereka telah usai beberapa menit yang lalu.


"Siapa?"


"Teman anda, namanya Ali."


"Ck!" decaknya sebal. Kenapa di jam kerja temannya itu malah datang. "Ngapain si bahlul kesini!"


"Gimana Sir, anda akan menemuinya?"


"Iya, suruh ke ruangan ku." kata King. Langkahnya terhenti, di ruangannya ada Cilya, bisa gawat kalau Ali bertemu dengan istrinya. "Biar aku saja yang menemuinya." King bergegas menemui Ali di lobby. "Meta! siapkan makan siang untuk istri ku." serunya seraya berlalu masuk ke dalam lift.


Kedatangan King membuat senyum Ali semakin lebar. Pria itu sudah bosan menunggu King terlalu lama, sampai melewatkan makan siangnya.


"Ngapain lu kesini?" sembur King. Bukannya di sambut dengan baik, justru sebaliknya, King menunjukkan rasa tidak suka akan kedatangan Ali.


"Ketemu ama lu lah." jawabnya santai. Sudah biasa dengan sikap King yang sangat menyebalkan.


"Gue lagi kerja! nanti aja." King menggiring Ali untuk keluar dari perusahaannya.


"Lu dateng gak ada kepentingan! gue sibuk!"


Ali mencibir. "Justru itu gue dateng, ini penting banget bagi gue."


"Apa?"


"Sora mau di jodohin? sama siapa? lu setuju Key?" tanya Ali. Pria itu baru saja mendapatkan kabar jika Soraya-adik perempuan sahabatnya telah di jodohkan dengan laki-laki yang entah siapa.


King mengerutkan alisnya. Heran, kenapa Ali bisa tahu tentang adiknya. "Kepo lu!"


"Serius gue nanya! beneran apa gak, Sora di jodohin?"


"Apa urusannya sama elu!" King tidak peka dengan tingkah sahabatnya yang menandakan jika pria itu mempunyai rasa pada adik perempuannya.


"Gagalin Key! gue gak setuju!" seru Ali.

__ADS_1


"Lu mau setuju apa gak, gak ngaruh!" ucap King. "Emang kenapa lu kagak setuju? kenal deket juga gak lu!"


Ali menghela, "Gue demen ama adek lu. Gue yang mau nikahin dia. Gue udah Sultan nih, jadi masuk kriteria jadi mantu keluarga lu kan?" dengan percaya dirinya, Ali mengungkapkan keinginannya. Ingin mempersunting Soraya.


King mendelik. "Muke gila lu ye! lu demen ama adek gue!" King tak percaya, sejak kapan Ali menyukai Soraya?


Ali menyengir, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi elu setuju kan, gue jadi ipar lu. Kita kan bes pren!"


King menggelang-gelengkan kepalanya, "Gak.. gak.. gak.. Gue number wahid yang gak bakal restuin elu! "


"Tega bener lu!"


"Gila aja, adek gue nikah ama duda sangeean kayak lu! bahlaul lagi!"


"Dih, lu lebih maniak dari gue!"


"Gak! pokoknya gue gak setuju. Lu jadi temen gue aja udah bikin gue nek. Apalagi jadi ipar? big no!"


"Sialan lu!" Ali menimpuk bahu King dengan pukulan yang lumayan sakit.


"Lu cari yang lain aja deh.. jangan adek gue.." King meringis, mengusap bahunya.


Ali menyeringai. "Yaudah.. ku tunggu jandanya Cilya.." kata Ali.


"Brengsekkk lu!"


"Gue kasih 5% saham bokap gue. Tapi lu gagalin perjodohan Sora."


"No!" sogokan Ali tak mempan bagi King.


"10%"


"No!"


"Yaudah deh.. gue balik aja ke Jakarta." Ali pun pergi. Melambaikan tangan pada King, sebagai tanda perpisahan.


"Yaudah sono balik."

__ADS_1


"Tunggu kabar dari gue ya.. bentar lagi lu dapet ponakan dari gue!" Ali berteriak agar King mendengarnya.


"Brengsekkk! jangan macem-macem lu!" balas King berteriak.


__ADS_2