
Cilya gelisah, King sama sekali tidak menghubunginya dan tidak bisa di hubungi. Kecemasan melanda wanita itu, takut jika sang suami kembali kepelukan mantan kekasihnya. Apalagi Cilya tahu betul, dulu King sangat menggilai wanita yang bernama Camelia.
"Key.. kamu gak lupain kau kan?" gumamnya. hatinya terus berkecamuk memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi, King akan meninggalkannya demi Camelia, cinta pertama suaminya.
"Cilya, sayang.. ada apa? kenapa keliatan gelisah?" tanya ayah Radit. Saat ini Cilya sedang menginap di rumah ayahnya.
"Udah lima hari, Key gak kasih kabar yah." untuk melegakan hatinya, Cilya mengatakan yang sebenarnya, kekhawatiran yang tengah ia rasakan saat ini.
Radit mengelus kepala putrinya. "Mungkin Key lagi sibuk, sabar.. tunggu aja, pasti Key segera mengabarimu." Radit menenangkan hati putrinya, menyuruhnya untuk tetap bersabar.
"Iya yah.." Cilya akan sabar menunggu kabar dari suaminya.
"Ayah kesini mau kasih tau, di luar ada Nanda." kata ayah Radit.
"Oh.. aku yang nyuruh dia kesini yah. Udah dateng ya.." Cilya bergegas keluar kamar untuk menemui asistennya. Ayah Radit pun kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Maaf lama menunggu." kata Cilya yang sudah menemui gadis itu di ruang tamu.
"Aku baru aja sampe kak, belum lama kok."
"Yaudah kita bahas bekerja di halaman samping aja." kemudian Cilya mengajak Nanda untuk membahas pekerjaan di sana.
Cilya tidak berkonsentrasi dengan apa yang sedang Nanda bicarakan, wanita itu selalu memperhatikan ponselnya setiap menit, mengharapkan pesan dari suaminya.
"Kak, kakak dengerin gak sih yang aku jelasin?" tanya Nanda.
"Ehh.. apa Nan?"
Nanda menghela nafas. "Kayaknya kakak perlu istirahat deh.. kita bahas ini lain kali aja. Kak Cilya lagi mikirin apa sih?"
Cilya menggeleng, enggan memberitahu apa yang sedang ia pikiran. "Kita bahas besok lagi aja. Sepertinya aku memang harus istirahat."
"Oke, aku pulang deh kalo gitu." Nanda segera membereskan beberapa berkas yang tergeletak di meja.
"Sorry ya Nda.. udah ngrepotin kamu."
"Gak papa kak. Santai aja.. kalo besok masih ingin istirahat, bilang ya kak.."
"Iya Nda.."
Sore itu, Cilya pulang ke rumah mertuanya. Tidak enak berlama-lama tinggal di rumah ayah Radit. Saat masuk ke dalam rumah, Cilya dikejutkan dengan adanya pertemuan dua keluarga besar. Rupanya keluarga pihak laki-laki yang akan di jodohkan dengan Soraya datang bertamu.
__ADS_1
"Sora, apa itu calon suami kamu?" tanya Cilya dengan berbisik. Wanita itu sudah membersihkan diri dan berpakaian rapih, lalu ikut bergabung dengan mereka.
Soraya mendengus. Terlihat sangat kesal dan tidak menikmati pertemuan ini. "Iya." jawabnya jutek.
"Lumayan ganteng Ra." Cilya berkata jujur.
"Tapi item!" sembur Soraya.
"Bukan item Ra, tapi sawo matang.. malah lebih hot Ra." kata Cilya. Kenapa Soraya tidak tertarik dengan calon suaminya, padahal wajahnya tampan, tubuhnya pun di penuhi otot-otot seksii.
Soraya menaikan sebelah alisnya, "Sejak kapan kak Cilya jadi mesum gini." heran saja, biasanya Cilya lebih pendiam.
Cilya terkekeh. "Kakak kamu yang ajarin aku messum Ra."
"Ish.." desisnya. "Kak, gimana caranya gagalin perjodohan ini?" Soraya masih berniat ingin menggagalkan perjodohan itu.
"Jangan Ra, keliatannya dia cowok baik-baik."
"Kak Cilya sama aja!" tidak ada satupun yang mendukungnya untuk menggagalkan perjodohan itu.
"Heh! kalian jangan bisik-bisik gitu! gak enak di liatnya." tegur Lisa pada anak perempuannya dan sang menantu.
Seusai makan malam, Cilya kembali ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Soraya. Sedangkan calon suami Sora dan keluarganya malam ini akan menginap di rumah itu. Awalnya mereka menolak, memilih untuk menginap di hotel saja. Tapi Arsen dan Lisa bersikeras meminta mereka untuk menginap di rumahnya.
Di dalam kamar, Cilya masih memikirkan suaminya. Ingin sekali bertanya pada ayah mertuanya, tapi tidak enak mengganggu istirahat mereka.
Dipandangi ponsel yang tak kunjung berbunyi. "Key.. ada apa sebenarnya?"
Diam-diam tengah malam, Soraya mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh calon suaminya. Gadis itu ingin membujuk sekali lagi, agar calon suaminya mau di ajak kerja sama, menggagalkan perjodohan mereka.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada ketus. Tidak suka waktu istirahatnya di ganggu. Terlebih orang yang mengganggunya adalah gadis manja yang menyebalkan. Sialnya, gadis itu adalah calon istrinya.
"Aku mau ngomong sama kamu!" nada bicara Soraya tak kalah jutek.
"Ngomong apa lagi?"
"Batalin perjodohan ini! aku gak sudi nikah ama kamu!" serunya.
Terdengar helaan nafas kasar dari pria itu. "Kamu pikir aku mau dijodohin ama kamu! gak!" serunya.
"Yaudah bagus! makanya kamu batalin semuanya!"
__ADS_1
Pria itu menggeleng. "Gak bisa! meski kepaksa, aku harus nikahin kamu!" ucapnya. Kemudian pria itu menutup pintu kamar, tidak peduli dengan Soraya yang menatapnya dengan kebencian.
"Dasar!!!"
***
Tidur Cilya terasa terusik, wanita itu mengerjapkan kedua matanya. Sesuatu yang basah dan kenyal membasahi di kulitnya.
"Key!" Cilya terkejut, suaminya ada di depan matanya. "Kamu udah pulang?" Cilya merabba wajah suaminya, tak percaya dengan kehadiran suaminya.
King mengangguk. "Hem."
"Aku kangen.." segera memeluk suaminya begitu erat. "Kenapa gak pernah hubungin aku?"
"Yang penting aku sekarang udah pulang." kata King. Pria itu membalas pelukan istrinya. "Aku kangen Cil.." ucapnya sembari menelusuri leher istrinya, memberikan kecupan basah di sana.
"Aku juga." balas Cilya.
"Main yuk?" ajaknya. Sudah pasti King mengajak bermain yang sangat mengenakkan. Cilya mengangguk malu-malu, rasa kantuknya hilang begitu saja setelah mendapatkan sentuhan yang memabukkan dari suaminya.
"Tunggu dulu!" cegah Cilya.
"Apa lagi?" King tak sabar.
"Apa yang terjadi di sana?"
"Besok aja aku ceritain. Sekarang kita olahraga malem dulu. Udah lama nih.." King melepaskan pakaian Cilya dengan terburu-buru, sangat tidak sabaran!
"Ish! dasar!"
"Cil, kamu tambah seksii.. aku suka."
"Gombal!"
"Beneran! sumpah!"
Cilya tersipu malu, senang sekali mendengar pujian dari suaminya.
"Tiga kali ya Cil, semakin seksii jadi pengin terus."
Dan terjadilah yang seharusnya terjadi...
__ADS_1