King Haidar

King Haidar
Kepergian Cilya


__ADS_3

"Ayah, nanti sore Cilya berangkat ke Singapore. Cilya akan mengikuti kelas khusus desainer." Cilya berpamitan pada ayah Radit seusai makan siang. "Mulai saat ini, Cilya mau mewujudkan impian Cilya. Apa ayah mengijinkan?" tanya Cilya.


Radit tersenyum bangga. "Tentu ayah mengijinkannya nak, justru ayah bangga padamu." Radit mengelus kepala putrinya. "Berapa lama kamu di sana?"


"Tiga bulan yah." jawab Cilya.


Radit mengangguk. "Apa suami mu mengijinkan? gak keberatan di tinggal kamu selama itu?" putrinya harus mengantongi ijin dari sang suami, bukan hanya dirinya.


Cilya tertunduk. "Bahkan dia gak perduli." tidak ingin membuat ayahnya cemas dan tahu jika pernikahannya tidak berjalan dengan semestinya, Cilya terpaksa berbohong. "Key sudah mengijinkan yah, dia sangat mendukung keputusan ku."


"Apa kamu bahagia, menikah dengan nya?" tanya Radit.


"Iya yah. Dia sangat baik pada ku." jawaban Cilya membuat hati Radit lega, merasa sudah tepat melepaskan Cilya pada menantunya.


"Hati-hati, jaga diri dengan baik. Ayah pasti akan merindukanmu." mereka pun berpelukan, saling menyalurkan rasa sayang antara ayah dan putrinya.


***


Siang hari menjelang jam istirahat, seperti biasa King akan ikut Asep keluar gedung untuk membeli pesanan karyawan. Membantu Asep mencari recehan untuk menyambung hidup.


"Sep ini ada apaan? kok rame banget." tanya King. Suasana jalanan terlihat ramai, tidak seperti kemarin-kemarin.


Asep celingukan. "Gak tau bos." jawabnya. "Kayaknya ada tawuran tuh bos." seru Asep ketika melihat beberapa remaja yang memakai seragam putih abu-abu berlarian dengan menggenggam senjata tajam. Orang orang sekitar, pengguna jalan berusaha menyingkir dari gerombolan anak remaja itu.


"Masih jaman ya tawuran?"


"Yah.. namanya juga anak muda. Jiwanya masih membara. Senggol dikit bacok."


Kedua mata King menyipit, memperhatikan dengan saksama dua remaja yang memakai hoodie berwarna hitam. Wajahnya sangat familiar.


Kedatangan polisi membuat para gerombolan remaja itu terpecah. Berlari, sembunyi dari kejaran polisi.


"Sep, tunggu Sep." King menepuk bahu Asep. Pria itu berlari mengikuti dua pria yang ia kenal. Asep pun mengikuti kemana King pergi.


"Woi!" seru King yang mengejutkan kedua remaja yang sedang berjongkok, bersembunyi di balik gerobak lusuh tanpa si penjual.


"Kak!" seru keduanya bersamaan.


"Wah.. jadi gini yah.. di suruh sekolah malah tawuran!" ucap King, seperti dirinya manusia paling bijak saja. Padahal dia juga tak kalah bobroknya di jaman sekolah dulu.


"Hehehe sorry kak. Jangan bilangin mama yak." ucap Galang.

__ADS_1


"Iya kak jangan bilangin yak." Gilang pun ikut bersuara, saudara kembar Galang. Memohon agar perilaku mereka tidak di adukan pada kedua orang tuanya, Mikha dan Jonathan.


King tak habis pikir, bagaimana bisa Galang dan Gilang ikut tawuran dengan siswa yang berbeda sekolahan. Setau King, mereka berdua menuntut ilmu di sekolahan yang elit. Jadi tidak mungkin siswa di sekolahan bergengsi terlibat tawuran.


"Siapa yang ngajak kalian?" tanya King yang sudah bisa menebak jika Galang dan Gilang hanya ikut ikutan saja. Salah memilih teman lebih tepatnya.


"Gak ada yang ngajak kak. Kita ikut sendiri.. hehe.." jawab Gilang.


"Siapa bos? bos kenal mereka?" tanya Asep. King mengangguk.


"Ya udah ayo pulang!"


"Kak.. kita bawa mobil sendiri." saut Galang.


"Yaudah tapi pulang, jangan kelayapan!"


"Oke kak." jawab Gilang dan Galang secara bersamaan.


King dan Asep kembali ke tempat tujuannya. Kali ini King hanya akan mengekori Asep. Pikirannya kini sedang kacau, lagi-lagi bayangan wajah Cilya memenuhi otaknya. Cilya yang penurut kini telah berani.


King teringat ucapan Cilya yang mengatakan kata 'cerai'. Pria itu sama sekali tidak mempunyai niatan untuk menceraikan Cilya. Entahlah.. dia memang belum berfikir terlalu jauh mengenai pernikahannya akan seperti apa kelanjutannya. "Apa gue keterlaluan?" gumamnya.


***


"Hati-hati di sana nak, jaga kesehatan." ucap Lisa yang mengantar Cilya sampai teras rumah. Dua koper besar telah di masukan ke dalam bagasi mobil oleh Parman, supir pribadi keluarga itu.


"Iya mom, mommy juga harus jaga kesehatan." balas Cilya.


"Apa kamu udah pamitan sama Key?" tanya Lisa.


Cilya mengangguk. "Udah mom, tapi sepertinya Ket gak perduli pada ku." jujur Cilya.


Lisa menatap menantunya dengan sendu. "Maafin anak mommy ya nak, semoga kepergian kamu membuat Key sadar. Kamu terlalu berharga untuk di abaikan." Lisa memberikan semangat pada menantunya agar tak berkecil hati dengan perlakuan King.


Cilya mengangguk setuju. "Iya mom, dan terimakasih udah menganggap Cilya seperti anak mommy sendiri." Cilya akui, jika Arsen dan Lisa memperlakukannya dengan baik, seperti anak kandungnya sendiri.


"Kamu menantu mommy, sudah kewajiban mommy menyayangi mu." ucap Lisa sembari mengelus kepala Cilya dengan lembut. "Kembali lah dengan sinar yang lebih terang. Mommy yakin putra mommy akan menyesal kalau tahu istrinya itu sangat cantik."


Cilya tersenyum malu. "Aku biasa saja mom. Lebih cantik mommy."


Lisa terkekeh. "Jangan memuji mommy. Kecantikan mommy hanya ada di mata daddy. Kalau Aunty Clara dengar, dia akan memarahi mu."

__ADS_1


Cilya ikut tertawa. "Iya.. mommy benar."


"Selamat jalan.."


"Sampaikan juga pada daddy, aku pamit. Maaf gak bisa menemuinya di kantor."


Lisa mengangguk mengerti. "Nanti mommy sampaikan."


Perlahan mobil yang di tumpangi Cilya menghilang di balik pintu gerbang. Kepergian Cilya membuat anggota keluarga rumah itu berkurang satu. Lisa berharap Cilya bisa meraih cita-citanya yang sempat tertunda.


"Aku pergi Key.." ucapnya dalam hati. Terbit sebuah senyuman kecut di wajah Cilya. Mana mungkin suaminya itu akan kehilangan dirinya. Yang ada malah sebaliknya, King bahagia karena kepergiannya, istri yang tidak pernah diharapkan.


***


"Key.. sesibuk apa pekerjaan mu? sampai gak sempat mengantar Cilya?" Lisa sedikit meninggikan suaranya.


"Mommy ngomong apa sih." King terkejut, ketika ia baru masuk ke dalam rumah, Lisa sudah memarahinya.


"Key, apa seburuk itu Cilya dimata mu? dia gadis yang baik Key.. jangan sakiti dia. Nanti kamu akan menyesal Key!" ucapan Lisa semakin membuat King bingung.


"Iya, nanti Key minta maaf." ucap King. King pikir, Lisa sudah mengetahui jika dirinya telah berbicara kasar pada Cilya. "Dasar tukang ngadu!" gerutunya dalam hati.


"Terlambat. Dia sudah pergi!"


"Kemana? pulang ke rumah ayahnya? nanti Key susul." tanya King. "Bisa gawat kalau Cilya ampe ngadu, kalo gue mau poligami! aduh padahal gue cuma bercanda."


"Si Cili baper banget sih."


"Bukan ke rumah ayahnya. Tapi udah berangkat ke Singapore!"


King terkejut. "Serius mom?" Lisa mengangguk. "Mau ngapain?" tanyanya. Tuduhan nya sirna sudah.


"Emang kamu gak tau? bukannya Cilya udah pamitan sama kamu." ucap Lisa.


Seketika King teringat jika Cilya pernah meminta ijin padanya. Tapi King tidak mau mendengarkan, dan menyetujuinya tanpa tau apa kemauan Cilya.


Lisa mencibir melihat keterkejutan King, ada rasa sesal di wajah putranya. "Tiga bulan loh. Cilya pergi."


Tanpa banyak kata King bergegas pergi, berniat untuk menyusul Cilya ke Bandara. Berharap masih bisa menemui dan berbicara padanya.


"Ya ampun Cil, ngambek sampai kabur ke Singapura segala!" sampai detik itu King tidak tahu rencana Cilya pergi ke Singapura untuk menambah ilmu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2