
"Nona Cilya, aku Nanda.. yang di tugaskan menemani anda selama di Singapura." gadis bernama Nanda itu sengaja di urus oleh petinggi Haidar Production untuk menemani Cilya, sebagai asisten pribadi menantu keluarga Haidar.
Cilya tersenyum dan menyambut tangan Nanda. "Aku Cilya, senang bertemu dengan mu." meski penampilan Nanda yang notabene sebagai asisten lebih fashionable, Cilya sama sekali tidak berkecil hati.
Keberangkatan mereka mengalami Delay selama satu jam. Nanda dan Cilya menunggu sembari berbincang untuk saling mengenal.
Dari perbincangan itu, Nanda bisa menyimpulkan. Penampilan Cilya yang sederhana, jauh dari kata menarik bukan berarti Cilya buta pengetahuan tentang fashion yang saat ini sedang ngetrend.
"Ternyata nona sangat tahu banyak mengenai trend masa kini. Aku pikir..." Nanda tidak bisa melanjutkan kalimatnya takut menyinggung perasaan Cilya.
Cilya tersenyum ramah. "Jangan melihat dari luarnya saja." ucap Cilya dan Nanda mengerti. "O iya.. jangan memanggilku nona dan berbicara formal pada ku. Aku risih mendengarnya."
"Baik kak." Nanda yang lebih muda dia tahun dari Cilya memutuskan untuk memanggil Cilya dengan sebutan kakak. Gadis itu hanya tamatan SMA, tapi menguasai bahasa Inggris. Jadi sangat tepat untuk membantu mengurus keperluan Cilya ketika berada di Singapura.
"Itu lebih baik."
"Kayaknya masih lama kak, apa kita bisa makan dulu?" tanya Nanda. Sebenarnya dia malu untuk mengajak atasan barunya makan terlebih dahulu. Tapi perutnya sedari tadi sangat lapar karena siang tadi dia tidak sempat makan. "Hehe.. maaf kak."
"Kamu lapar?" tanya Cilya. Nanda mengangguk dengan cepat. "Ya sudah ayo kita makan dulu." Cilya melihat jam yang melingkar di lengannya. "Mungkin masih setengah j lagi. Masih ada waktu."
"Maaf ya kak, baru pertama bekerja aku udah gak sopan." ucap Nanda tak enak hati.
"Gak papa.. aku suka kalau kamu jujur. Kedepannya kita akan bersama, jadi jangan sungkan mengatakannya padaku." jawab Cilya memaklumi. "Karena kedepannya aku akan sangat merepotkan mu, membantu pekerjaan ku."
Nanda mengangguk. "Siap kak." rasanya senang sekali mendapatkan atasan seperti Cilya. Tidak pemarah dan tidak meremehkan dirinya yang hanya seorang bawahan.
"Kamu berapa bersaudara? tinggal dimana?" tanya Cilya untuk mengetahui kehidupan Nanda. Melihat semangat gadis itu membuat Cilya ingin tahu latar belakang kehidupannya.
"Aku punya dua adik yang masih SD sama SMP, ayah ku hanya buruh pabrik, sedangkan ibu ku hanya di rumah mengurus adik-adik ku." kata Nanda.
Dari situ Cilya tahu, kenapa Nanda yang pintar tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ternyata masalah perekonomian. "Kamu harus giat bekerja dan membanggakan kedua orang tua mu."
"Iya kak. Aku ingin menyekolahkan adik-adik ku."
"Aku mendukung mu." Cilya memberi semangat untuk Nanda.
"Terimakasih kak."
***
"Shittt!!!" umpat seorang pria yang kesal karena jalanan di padati dengan kendaraan, hingga membuat mobil yang ia kendarai susah bergerak. Padahal jarak yang di tempuh untuk sampai ketujuan sedikit lagi.
Sepanjang perjalanan, King memikirkan Cilya. Kesalahan serta penindasan pada istrinya terputar ulang di memori otaknya. "Apa gue keterlaluan?" gumamnya.
Pria itu tidak merasa jika semua ucapan yang pernah keluar dari mulutnya, sangat menyakitkan bagi hati Cilya. King merasa bersalah hanya karena telah memanfaatkan Cilya dari awal pertemuan mereka, dan melecehkannya.
King memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, sampai petugas bandara meneriakinya agar memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia, tapi King tak peduli. Dia ingin segera menemukan Cilya.
"Tolong parkiran!" King melempar kunci mobilnya pada petugas yang tengah mengejarnya. "Ini darurat!" seru King sambil berlalu menuju tempat keberangkatan tujuan Luar Negeri, Singapore. Tidak peduli jika mobilnya bisa saja raib di tangan orang yang salah.
__ADS_1
Kepalanya tak henti menengok ke segala arah mencari sosok istrinya. Kedua matanya di buka selebar mungkin agar melihat keberadaan Cilya.
Sepuluh menit King berjalan mondar mandir, menghiraukan tatapan orang lain yang menatap dirinya dengan aneh. King tidak peduli!
"Cili.." lirihnya ketika pandangannya melihat seorang perempuan memakai sweater kedodoran serta rok plisket berbentuk payung. Tidak lupa kacamata tebalnya bertengger di hidungnya.
Tanpa menunggu lama, King segera berlari ke arah Cilya berada. "Cilyaaaaaa..." teriak King. Suaranya menarik perhatian ke arahnya.
"Cil.. Ciliyaaaaa..."
Cilya terpaku mendengar namanya di panggil. Suaranya sangat ia kenali. "Key.." Cilya membalikkan tubuhnya. Benar saja, King berlari ke arahnya dengan nafas yang memburu karena kelelahan.
"Key.." ucap Cilya.
King mengatur nafasnya lebih dulu ketika sudah berada di hadapan Cilya. "Cil.." suaranya terdengar terbata.
"Kenapa Key?"
"Lu mau kemana?" tanya King. Nafasnya sudah mulai teratur.
Nanda yang tidak mengerti situasi saat ini, memilih diam. Tidak mau ikut campur.
"Aku mau pergi." jawab Cilya datar.
"Kenapa gak bilang?"
"Aku udah bilang, tapi kamu gak peduli." Cilya ingat ketika mau berpamitan, King tidak mau mendengarkannya sampai selesai.
"Bukannya kamu senang kalo aku pergi?" ucap Cilya.
"Tuh kan lu ngambek ama gue." terkanya. "Sorry Cil, gue cuma bercanda! sumpah! gak mau nikah lagi, gue boong Cil!" seru King bersemangat. Berusaha meyakinkan Cilya kalau ucapannya waktu itu hanyalah gurauan.
"Bukan seperti itu.. aku memang harus pergi Key." memang Cilya sakit hati dengan ucapan King yang ingin mendua, tapi bukan alasan itu yang membuatnya pergi.
"Ya ampun Cil, jangan baper napa." King mengusap wajahnya dengan kasar. "Sejak kapan lu jadi baperan Cil? perasaan dulu lu gak kaya gitu, gak gampang marah." kata King.
"Sabar juga ada batasnya Key.." Cilya menatap King dengan sendu. Terlalu sakit jika mengingat setiap ucapan yang keluar dari mulut King.
"Iya Sorry.." King mengalah, demi bisa membawa Cilya pulang.
Cilya menggeleng. "Sekarang kamu bilang Sorry tapi besok kamu ngehina aku lagi." kedua mata Cilya sudah mulai berkaca-kaca.
"Yah.. yah.. Cil, kok nangis sih." King di buat panik melihat Cilya menangis.
"Kamu jahat Key!" tangis Cilya pecah. Wanita itu memukuli dada bidang suaminya. "Mulut kamu jahat! aku gak kuat lagi!"
King terenyuh mendengar tangisan Cilya. "Cil.." King mendekap tubuh Cilya yang bergetar karena tangisannya semakin jadi. "Jangan nangis Cil." ucap King menenangkan.
Cilya memberontak dari pelukan King. "Kenapa kamu peduli! harusnya kamu senang aku pergi! kamu bisa cari perempuan lain."
__ADS_1
"Cil, gue tuh cuma bercanda.. gue gak bakal cari cewek lain. Apalagi poligami! bisa mati di gantung gue sama si Arsen." seru King. "Gue maunya elu jadi temen hidup gue.. partner Cil, partner hidup gue!" serunya.
"Tapi aku gak mau seumur hidup dengerin mulut mu yang pedas! serasa hidup sama dosen killer.."
King mendelik. "Kok lu ngomong gitu?" tidak sadar diri juga jika mulutnya itu sangat berbisa.
"Kamu masih gak sadar juga? kamu selalu nyakitin aku Key!" Cilya tak hentinya menangis. Perdebatan mereka menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Ssttt..." King kembali membawa Cilya kedalam pelukannya. "Udah jangan nangis lagi." tangannya mengelus elus punggung Cilya agar cepat tenang. "Malu di liatin orang. Aku janji gak bakal nyakitin kamu lagi."
Lama dalam dekapan sang suami, tangisan Cilya semakin menyurut. "Kita pulang yuk?" ajak King, suaranya di buat selembut mungkin, merayu Cilya agar mau ikut pulang bersamanya.
King mengurai pelukannya. Kemudian menghapus air mata yang membekas di kedua pipi Cilya. "Kita kan partner, jadi harus terus bersama." Cilya terharu dengan perlakuan lembut King. Baru kali ini Cilya merasakannya.
"Yah... walo cuma partner hidup, bukan partner ranjang." King terkekeh. "Kayaknya gue harus stok tante shinzui seumur hidup!" ucapnya tanpa beban.
Baru saja di buat melayang dengan perlakuan lembut suaminya, kini ucapan King membuat perasaan Cilya terjun bebas ke dasar lautan paling dalam.
Cilya memukul dada King. "Jahat!" serunya. Ucapan King sama saja menandakan kalau dirinya tidak pantas, tidak di inginkan dan tidak menarik bagi sang suami.
"Loh.. kok ngambek!" King heran, bukannya tadi Cilya sempat lulu? tapi kenapa marah lagi? "Ya ampun.. cewek emang susah di tebak!"
"Aku harus pergi Key.."
"Loh.. bukannya tadi mau ikut pulang? kok jadi berangkat?"
Cilya menggeleng. "Aku harus pergi.. gak bisa di tunda."
"Kita partner hidup kan Cil, gak jadi pergi kan Cil?"
Cilya menggeleng. "Aku harus pergi."
King menatap sendu Cilya, wanita itu benar-benar akan pergi meninggalkan nya. "Berapa lama? kapan pulangnya?"
"Tiga bulan."
"Terus gue gimana kalo gak ada elu?" pria itu sudah terbiasa dengan kehadiran Cilya. Apapun kebutuhannya, Cilya yang menyiapkan.
"Kamu sudah dewasa, harus mandiri."
King menunduk pasrah, sepertinya Cilya memang berniat pergi. "Tapi kita tetep partner hidup kan Cil?" tanya King.
"Akan aku pertimbangan setelah pulang." jawab Cilya.
"Maksudnya?" King tak mengerti.
Cilya tak menjawab, wanita itu berpamitan lalu segera pergi meninggalkan King. Bahkan, Cilya tak menengok ke belakang untuk melihat King.
Ada rasa sesak ketika Cilya mengabaikannya. "Ck!" kesal King menendang udara.
__ADS_1
Bersambung...