
"Kita ke sini?" tanya King yang terkejut jika tujuan mereka adalah gedung Haidar Productions. Benzema hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan King. "Kenapa tidak bilang dari tadi." keluhnya. Jika tau akan datang ke tempat istrinya bekerja, King akan berpenampilan semaksimal mungkin. Pria itu ingin terlihat keren di mata Cilya. Meyakinkan Cilya bahwa niatnya berubah lebih baik memang sungguh-sungguh, bukan omongan belaka.
"Kamu gak tanya!" jawaban yang sangat menyebalkan keluar dari mulut si pria datar.
"Ck!" kesalnya.
"Jangan berdecak, itu tidak sopan! aku lebih tua dari mu Key!" ketua Benzema.
"Iya.. iya.. sorry!"
Senyumnya makin melebar ketika memasuki lobby perusahaan, bertemu dengan Cilya membuatnya senang sekaligus berdebar. Tidak lupa merapikan pakaiannya, menyisir rambut dengan jemarinya, bercermin pada dinding lift yang dapat memantulkan bayangannya. 'Udah keren!' batinnya memuji kesempurnaan wajah rupawannya.
"Konyol!" satu kata yang keluar dari mulut Benzema, mencibir tingkah laku sepupunya. Seperti kehilangan akal sehat hanya karena seorang wanita.
Benzema seperti itu karena dirinya belum pernah merasakan getaran cinta jika berdekatan dengan lawan jenis.
"Aku penasaran kak, apa kak Benz gak pernah berdebar-debar kalo deket ama cewek?" celetuk King, pria itu tahu jika Benzema sedang mencibir tingkah lakunya.
Benzema memicingkan sebelah alisnya. "Maksuimu?" tanyanya yang memang tidak mengerti.
King menghela. "Gini.." King menjeda, mencari kalimat yang pas agar Benzema cepat tanggap. Benzema pintar segala hal, kecuali mengenai wanita. King tau itu. "Kalo kak Benz deket sama Gita, apa kak Benz deg degan, emmm... ada rasa aneh?"
"Pertanyaan mu aneh! mana mungkin aku takut dengan Gita!" seru Benzema. King hanya bisa berdecak dalam hati, sedangkan Gita yang berdiri di belakang kedua pria itu hanya diam menyimak. Penasaran juga apa kelanjutan percakapan mereka.
"Bukan rasa takut kak!" sepertinya King harus bersabar. "Tapi rasa aneh, bikin kak Benz diam gak berkutik, bergetar kayak tersengat listrik, terus pikiran kakak terpusat sama cewek itu." jelas King, berharap jika Benzema mengerti apa yang dia maksud. "Bukan Gita deh.. cewek lain gitu. Gak ada?" lanjutnya.
Benzema diam sejenak, memikirkannya. "Rasa aneh, seperti tersengat listrik, memikirkannya terus.." dalam hari Benzema mengingat-ingat apakah dirinya pernah merasakannya? tapi sepertinya pernah. "Damn!" pria itu mengingatnya, peristiwa ketika seorang gadis dengan seenak jidatnya mengecup bibirnya di depan umum. Hal itu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak selama dua malam.
"Pernah kak?" ucap King membuyarkan lamunannya.
Benzema menghela lalu berbalik menatap King. Pria itu sangat pintar menguasai diri. "Kalau mulutmu gak bisa diam, lebih baik pergi saja!" ucapnya memilih mengalihkan pembicaraan. King membuatnya mengingat kembali pada gadis bar bar itu. Sungguh menjengkelkan!
"Oke!" jawabnya santai.
King mengikuti Benzema dan Gita masuk ke dalam ruangan meeting. Senyumnya melebar ketika melihat Cilya sudah duduk manis di antara deretan kursi yang tersedia, lalu memberikan kecupan jarak jauh pada sang istri. Tidak perduli dengan tatapan heran semua mata yang melihatnya.
Cilya melotot melihat kekonyolan King. "Kenapa Key bisa ikut?"
"Kamu datang Key.." sapa Mikha pada keponakannya.
__ADS_1
"Iya aunty." jawab King santai.
Meeting pun dimulai. King memperhatikan istrinya yang melakukan presentasi, menjelaskan karya rancangannya untuk persiapan show di Dubai.
King semakin kagum pada Cilya. Dia menatapnya sampai tak berkedip, sesekali menggoda Cilya dengan terus memonyongkan bibir, seolah ingin menciumnya.
Pletak
"Aduh.." desisnya.
Mikha menjitak kening King yang terus menggoda Cilya. "Diam Key! Cilya jadi gak konsen." wanita itu menggelengkan kepalanya, sedari tadi terus melihat King menggoda Cilya. Sungguh konyol!
"Hehe.. iya aunty ku yang paling cantik, ratunya tekstil seantero Bogor." balas King seraya menggoda aunty nya.
"Fokus Key!" tegur Benzema yang merasa jengah.
"Oke!" mulutnya gampang sekali berkata oke, tapi nyatanya... begitulah King.
***
"Cil, kapan kamu berangkat ke Dubai?" tanya King. Keberangkatan Cilya ke Dubai rupanya di percepat. Cukup lama Cilya akan di sana. King menjadi galau, mereka akan berjauhan. Dan Cilya akan berdekatan dengan Benzema, juga pria-pria yang berprofesi sebagai model. "Tiga cowok yang tadi ikut juga?"
Cilya mengangguk. "Iya, mereka kan model yang ikut serta. Kenapa?" wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi, lalu bersiap untuk merias diri, mereka akan pergi makan malam di rumah Bastian. "Aku berangkat satu minggu lagi."
Cilya terkekeh. "Mana mungkin, mereka itu belok. cewek cantik manapun gak bakal bikin mereka tertarik." kata Cilya mengatakan yang sebenarnya.
King terkejut. "Yakin? semuanya belok?"
"Gak sih, cuma satu yang belok. Tapi tenang aja aku gak bakal aneh-aneh. Ada Nanda dan kak Benz di sana. Mana berani aku macam-macam." berfikir untuk memiliki affair dengan pria lain pun tidak, King berlebihan.
King hanya diam saja, rasanya menjengkelkan Cilya akan pergi dalam waktu yang lama. King sempat ingin ikut, tapi tidak diperbolehkan oleh Arsen karena King sebentar lagi akan di utus pergi ke Kalimantan. Memulai menjalankan proyek itu.
"Kamu gak siap siap? kita mau makan malam bersama Key, di rumah aunty Clara." ucap Cilya tapi King tidak menanggapinya. Wanita itu menghela nafasnya, kemudian beranjak mendekat ke arah suaminya yang tengah duduk di sofa.
"Key.." Cilya duduk di samping Key. Mengelus pipi King dengan lembut. "Aku pergi cuma sebentar."
"Itu lama Cil, bukan sebentar. Kita akan berpisah cukup lama. Aku harus pergi ke Kalimantan bulan depan." kata King.
"Kalimantan deket, masih berada di negara yang sama. Aku bisa menyusul mu."
__ADS_1
King menoleh, "Beneran kamu ntar nyusul?" Cilya mengangguk. Hal itu membuat senyum King melebar. "Aku bakal tunggu kami nyusulin aku."
"Iya, sekarang lebih baik kamu siap siap gih."
"No! masih lama, ini baru jam berapa." King membawa Cilya ke dalam pengakuannya. "Kita mesra mesraan dulu. Kasih aku vitamin dulu."
Cilya mengerutkan keningnya. "Vitamin apa?"
"SCN." jawabnya cepat.
"Apa itu? baru dengar?"
"Susu Cap Nona." bisik Key terdengar begitu erotis di telinga Cilya.
"Key! kamu messum!"
"Mesumm itu enak Cil." dan detik selanjutnya, Cilya tidak bisa bersuara, King sudah membungkam mulut Cilya dengan sebuah ciuman.
Ciuman lembut yang berubah semakin panas saat Cilya ikut membalasnya. Tangan King tak tinggal diam, merayap kedalam, melepaskan handuk kimono.
"Key.." Cilya mendessah saat King menguasai kedua dadanya. Menyessap dan memainkan tonjolan kecil dengan begitu liar.
Rasanya begitu nikmati! tanpa kesulitan, Key melucuti kain yang menempel di tubuh Cilya menyisakan kain segitiga di bawah sana.
Tubuh Cilya yang hampir polos membuat api gairrah King semakin bertambah. "Key, stop!"
"Kenapa? tanggung Cil." ucap King, lalu kembali lagi menyessap bukit Cilya.
"Aku harus siap siap. Kita lanjutkan kapan kapan." kata Cilya dengan santai.
"Ya ampun Cil, kamu cuma ngeledek aku?" sungutnya kesal. Si mercusuar sudah berdiri tegak, tapi kegiatan harus terhenti. "Kita lanjut ya, bentar doang. aku udah gak tahan nih." bujuknya. Kjng tanpa malu menunjukkan sesuatu yang sudah mengembang di balik celananya.
"Waktunya gak akan cukup Key! apalagi itu yang pertama." kata Cilya sembari beranjak dari pangkuan King.
"Pertama? bukannya yang kedua?" King membatin.
"Kita lanjut nanti aja ya." Cilya mencoba membujuk.
King menghela pasrah. "Yaudah deh.. tapi janji ya gak bakal nolak nanti!"
__ADS_1
"Hemm.." Cilya hanya bergumam. Cilya merutuki dirinya sendiri yang terbuai oleh sentuhan King. Melupakan janjinya sendiri, jika ia ingin di sentuh kalau King sudah menjadi pria yang sukses. "Bahaya kalo aku deket dia terus."
Bersambung...