King Haidar

King Haidar
Pergi ke Jerman


__ADS_3

King keluar dari ruang kerja Arsen dengan wajah yang murung. Pria itu berjalan lesu ke kamarnya, menemui Cilya.


"Ada apa? apa yang daddy bicarakan pada mu?" Cilya langsung bertanya ketika suaminya itu masuk ke dalam kamar. "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya penasaran. Wajah suaminya tidak ceria lagi setelah berbicara empat mata dengan Arsen.


King menghela nafasnya dalam. "Aku harus ke Jerman." katanya.


Cilya mengerutkan keningnya, bukannya King tidak mau lagi pergi ke negara itu? lalu kenapa tiba-tiba suaminya ingin pergi ke sana?


"Secepatnya aku harus pergi ke Jerman."


"Apa ada hubungannya dengan wanita itu?" terkanya. King mengangguk. "Apa yang terjadi?" Cilya penasaran masalah apa lagi yang bersangkutan dengan mantan kekasih suaminya.


"Dia membuat ulah lagi. Aku harus menyelesaikannya sendiri." King memeluk Cilya, mengecup keningnya dengan sayang. "Apa kamu mau ikut?"


Cilya menggeleng. "Pekerjaan ku masih banyak. Kamu pergi aja, selesaikan masalah mu. Tapi jangan sampai kamu kepincut lagi ama mantan."


King terkekeh. "Kamu cemburu?"


"Gak!"


"Bilang aja kamu mulai cemburu kan? tenang Cil, aku gak akan berpaling dari kamu." King mulai menggiring tubuh Cilya ke ranjang. "Cinta ku udah mentok di kamu." tak lupa mengecupi berulang kali bibir Cilya.


"Key.." Cilya mulai waspada, King mengajaknya naik ke atas ranjang. "Mau apa?"


"Mau lagi kayak semalem."


"Ishh.. aku capek. Gak mau!" belum juga beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh. King ingin mengajaknya bercinta lagi.


"Sebentar doang, gak lama." bujuknya. Belum sempat Cilya menjawab, King sudah melucuti pakaiannya. Mempermainkan tubuh Cilya sesuka hati.


"Ya ampun Key!" seru Cilya yang melihat suaminya menggebu-gebu saat menyentuhnya. Mereka kembali bercinta, untuk pertama kalinya, King dan Cilya memadu kasih di kamar yang dulu terasa sunyi bagi mereka berdua.


***


King sudah ke Jerman, Cilya memilih tidak ikut dengan suaminya. Cilya percaya jika suaminya tidak akan lagi terpesona dengan sang mantan. Wanita itu sibuk dengan perayaan pesta pernikahannya yang akan di selenggarakan sebulan lagi.

__ADS_1


"Kak, kak Cilya gak takut? kak Key di ambil si Camelia?" Sora ikut membantu kakak iparnya mempersiapkan acara tersebut. Mereka kini tengah berada di sebuah hotel bintang lima. Rencananya, Cilya akan mem-booking ballroom hotel tersebut untuk perayaan pesta pernikahannya.


Cilya menggeleng. "Aku tau suamiku. Dia gak gampang tergoda dengan wanita." Cilya sangat mempercayai King.


"Tapi ini mantannya kak," Soraya ragu, kakaknya akan jatuh kembali dengan pesona Camelia, mengingat dulu King sangat tergila-gila dengan wanita itu.


Cilya tersenyum tipis. "Itu dulu, sekarang beda. Wanita itu udah gak steril. Mana mungkin kakak mu mau!"


Soraya menyengir. "Iya juga ya."


Cilya kembali berdiskusi dengan pihak hotel serta pengurus catering. Bosan menunggu kakak iparnya, Soraya berpamitan untuk pergi ke cafe terdekat, membeli minuman. Tidak di sangka, gadis itu berpapasan dengan pria yang sangat ia kenali. Pria itu baru saja keluar dari lift bersama dengan seorang wanita berpakaian seksii.


"Digta!" ucap Soraya.


Digta segera melepaskan rangkulannya pada wanita yang semalam sudah menemaninya. "Sora!"


"Cih! ternyata benar apa kata daddy! kamu bukan pria baik-baik!" kata Soraya. Dia bukan wanita bodoh yang tidak paham dengan situasi saat ini. Mendapati Digta di hotel dengan seorang wanita, apalagi yang mereka lakukan? pasti mereka telah menghabiskan semalaman untuk bercinta di hotel tersebut.


"Sora, ini gak seperti yang kamu pikirkan." Digta buru-buru membela diri.


"Sora, dengerin dulu.." Digta berusaha membujuk Soraya. Pria itu takut akan kehilangan tambang emasnya jika berpisah dengan Soraya.


"Stop! jangan deketin aku lagi! aku jijik!" Soraya pergi berlalu meninggalkan Digta.


"Digta sialan!" umpatnya kesal. Pasalnya wanita yang bersama Digta sangat Soraya kenal, wanita itu salah satu musuhnya. "Sepertinya, pilihan daddy lebih baik dari Digta.. tapi aku gak mau miskin." batinnya mulai bimbang dengan semuanya.


"Kamu kenapa?" Cilya yang sudah menyelesaikan urusannya segera menghampiri Soraya di cafe. "Tadi katanya mau balik lagi, malah betah di sini."


"Aku lihat Digta kak, di hotel sama cewek lain." ucap Soraya.


"Digta?" Cilya mencoba mengingat ingat siapa pemilik nama itu. "Emm.. pacar kamu?"


"Iya."


"Cowok pilihan daddy memang tepat buat kamu. Lupain dia, dan coba menerima laki-laki pilihan Daddy."

__ADS_1


Cilya menghela, "Mau gak mau.." pasrah, hanya itu yang bisa Soraya lakukan.


***


Seharian ini King belum juga memberikan kabar, biasanya suaminya akan memberi pesan atau melakukan panggilan setiap menitnya.


"Key.. kenapa gak bisa di hubungi?" batinnya cemas memikirkan suaminya.


Cilya berbaring di atas ranjang, menatap ponselnya, menunggu kabar dari sang suami. Hingga wanita itu tertidur karena kelelahan.


Di kamar lain, Lisa memberanikan diri bertanya pada suaminya. "Sebenarnya ada apa? kenapa tiba-tiba Key pergi ke Jerman?" tanya Lisa. Wanita itu masih saja senang bermanja dengan suaminya. bersandar di dada sang suami, serta memeluknya erat.


"Key memang harus nyelesain masalahnya sendiri. Wanita itu sudah berani mengusik perusahaan. Key harus bertanggungjawab." kata Arsen.


Bukannya Arsen tidak bisa mengatasi permasalahan yang di sebabkan oleh Camelia. Arsen ingin King sendiri yang mengatasinya, karena semua berawal dari kecerobohan King.


Camelia menuntut 10% saham yang ada di Jerman. Wanita itu seolah tidak jera, tidak takut akan di jebloskan lagi ke dalam penjara.


"Loh kok bisa? bukannya semua masalah udah selesai?" Lisa pun heran, kenapa Camelia kembali berulah, bukannya waktu itu Benzema berhasil mengatasi Camelia.


"Itu karena kebodohan putra mu!" sungut Arsen. Putranya itu tidak sadar, dulu pernah menandatangani surat pengalihan saham sebesar 10% untuk Camelia. Padahal jelas-jelas perusahaan itu belum sepenuhnya milik King. Masih atas nama Arsen sebagai pemiliknya. "Kelewat bucin jadi bodoh!"


"Heh, dia juga anakmu!" Lisa beringsut, menatap tajam suaminya.


"Eh?" Arsen lupa, jika ia sedang berbicara dengan istrinya.


"Key kayak gitu itu nurunin sifat kamu! buang-buang duit demi selangka*ngan." Lisa belum lupa, dulu Arsen selalu memberikan apapun pada teman kencannya. Lisa yang kesal, ingin beranjak pergi.


"Aduh.. jangan bahas itu lagi." Arsen mencegah istrinya pergi.


"Kamu nyebelin!" rasanya sesak kembali jika mengingat kesedihan masalalu. "Kamu ---" Lisa tidak sempat melanjutkan ucapannya. Arsen lebih dulu membungkam dengan ciuman.


"Daripada teriak marah-marah, mending teriak karena keenakan." seringainya. Pria itu meski tidak lagi muda, masih pandai memangkas kemarahan Lisa dengan sentuhan mautnya.


"Arsen!!!!"

__ADS_1


__ADS_2