King Haidar

King Haidar
Kencan pertama.


__ADS_3

"Key.. katanya mau cerita waktu kamu di Jerman." Cilya menuntut penjelasan King yang berjanji akan menceritakan apa yang terjadi selama di Jerman, hingga tidak bisa dihubungi.


"Emm.. sebenernya gak penting juga sih. Aku cuma menarik balik surat kuasa yang sempat aku tandan tangani. Untung pengacara yang bantuin aku bisa ngurus cepet." jawab King.


"Terus kenapa sampe gak bisa dihubungi, hilang kontak."


"Sengaja aku matiin hapenya, gak kontakan sama orang lain. Soalnya dia terus gangguin aku." untuk menghindari Camelia-sang mantan yang terus mencoba menghubunginya, King memilih menonaktifkan ponselnya, entah darimana Camelia bisa tahu akses untuk menghubunginya.


"Oh.. tapi kamu gak boong kan, kan kepincut ama mantan kamu, gak ketemu berduaan ama dia." Cilya ingin memastikan kembali, suaminya itu tidak melakukan hal macam-macam selama di Jerman.


"Ya ampun Cil, gak percaya banget. Sumpah! aku gak macem-macem, ketemu aja gak!" King berkata jujur, dia tidak pernah menemui Camelia. Pria itu di bantu oleh kuasa hukumnya untuk menyelesaikan semua permasalahan. "Kamu cemburu Cil?" King mendekat lalu menciumi gemas wajah istrinya. "Aku suka kalo kamu cemburu."


"Ish.. aku gak cemburu tuh."


"Iya.. deh iya.. gak cemburu." King melonggarkan pelukannya. "Yaudah kita sarapan dulu yuk, abis itu lanjut lagi."


"Lanjut apa?"


"Lanjutin ngurung kamu di kamar lah seharian."


"Ish.. gak mau, hari ini kamu temenin aku ke mall ya, ada yang mau aku beli." kata Cilya. King nampak berpikir terlebih dahulu. Ia sangat tidak menyukai menemani wanita menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, sangat membuang-buang waktu!


"Tapi aku.. "


"Pokoknya kamu harus temenin aku, kalo gak mau, ntar malem gak aku kasih jatah!" sepertinya ancaman yang cukup berhasil.


"Oke." Mana mau malam-malam syahdunya terlewati begitu saja.


Cilya dan King ikut bergabung bersama kedua orang tuanya, Soraya pun turut hadir di meja makan.

__ADS_1


"Key.. bagaimana persiapan acara resepsi pernikahan kalian?" tanya Lisa. Wanita paruh baya itu ingin sekali membantu dan terjun langsung ke lokasi, tapi Arsen tidak pernah mengijinkannya pergi sendiri.


"Semuanya hampir selesai mom." jawab Cilya.


"Kalau butuh bantuan mommy, jangan segan bilangnya. Mommy pasti bantuin."


"Iya mom, terimakasih."


"Sora, kamu juga jangan lupa kasih tau tunangan mu. Mereka sekeluarga harus datang di acara nanti." kata Lisa.


"Iya mom." rasanya Soraya tidak rela menerima kenyataan bahwa diri sudah bertunangan dengan laki-laki itu.


Mereka semua melanjutkan sarapan paginya. Setelah itu, Arsen mengajak King untuk berbicara mengenai masalah pekerjaan di ruang kerja.


"Sora, kenapa mukanya cemberut gitu?" tanya Cilya.


"Kakak kayak gak tau aja." jawabnya. Semenjak gadis itu resmi bertunangan dengan pria pilihan daddy-nya, Soraya tidak seceria sebelumnya. Gadis itu meratapi kehidupannya kelak, ketika sudah menjadi istri seorang pria sederhana.


Soraya terdiam mendengarkan Cilya. Benar juga apa yang di katakan kakak iparnya itu. "Tapi... " Soraya menghela nafasnya dalam. "Kita liat nanti saja." tidak mau membahas tunangannya yang menyebalkan itu, Soraya memilih pergi. "Sora masuk ke kamar dulu ya kak." pamitnya.


"Iya."


***


"Cil, aku mending tunggu kami di cafe aja ya." Cilya dan King kini sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. King enggak menemani Cilya untuk berbelanja. Menemani wanita belanja sangatlah membosankan, karena pasti akan sangat lama.


"Kamu harus ikut Key.. aku mau di temenin kamu." Cilya memaksa suaminya agar selalu ikut kemana pun ia pergi. "Cuma sebentar doang, gak lama."


"Iya deh.." mau tidak mau, King menurut.

__ADS_1


Cilya mulai masuk ke gerai sepatu dan tas ternama. "Key.. beliin aku tas baru ya." kata Cilya yang sudah tidak segan lagi meminta pada sang suami.


"Iya. Beli aja." King yang sudah memiliki uang berlimpah tentu tidak keberatan membelikan apapun untuk istrinya. Setelah puas, Cilya ingin pergi ke toko perhiasan.


"Cil, gak mau beli itu?" kata King sembari menunjuk sebuah toko khusus wanita.


"Gak! pakean dallem ku masih banyak."


"Beli lingerie Cil, buat nyenengin aku. Beli yang banyak buat stok. Biar tiap malem aku bikin kamu merem melek." bisiknya penuh rayuan.


Cilya tersipu malu, tanpa banyak kata, wanita itu masuk ke toko tersebut. Memilih banyak pakaian dinas untuk menyenangkan hati suaminya. King sangat antusias memulihkannya, sama sekali tidak malu di lihat oleh pengujung lainnya.


"Beli daster juga Cil, yang banyak."


"Buat apa?"


"Buat kamu pake lah di rumah. Biar semriwing, terus gampang." kata King dengan seringai messumnya.


Setelah acara resepsi pernikahan mereka, Cilya akan ikut bersama King menetap di Kalimantan. Cilya rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani sang suami.


"Ish.. dasar!!" walaupun cemberut, wanita itu tetap memenuhi keinginan suaminya, membeli beberapa daster dengan motif batik beranega ragam.


"Mau beli apa lagi? uang ku masih banyak nih.." ucapnya begitu sombong.


"Aku capek, kita makan dulu yuk." ajaknya.


Sebuah restoran Korea menjadi pilihan sepasang suami istri itu untuk makan siang.


Untuk pertama kalinya, King merasa senang menemani wanita berkeliling di pusat perbelanjaan. Apalagi wanita itu adalah istri tercintanya, sebuah pahala jika membahagiakan pasangannya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." ucapnya tiba-tiba pada wanita yang sedari tadi ia genggam tangannya.


"Aku juga mencintaimu Key.." layaknya pasangan yang sedang hangat-hangatnya, mereka serasa berkencan untuk pertama kalinya.


__ADS_2