
Cilya menghentikan langkahnya ketika melihat King sedang berbicara dengan kaka tirinya, Jelita. Ingin mendekat, tapi teringat dengan ucapan King yang mengatakan jika status pernikahannya tidak boleh di ketahui oleh teman-temannya.
"Apa kak Jelita temannya Key? apa kak Jelita juga tau, pernikahan aku dan Key?" Cilya membatin.
Cilya melanjutkan langkahnya, tapi ke arah yang berbeda, tidak menghampiri King. Cilya memilih menunggu King di warung angkringan, tidak terlalu jauh dari mobilnya terparkir.
Lima belas menit Cilya menunggu King yang terlihat sangat akrab berbicara dengan Jelita. "Kenapa mereka sangat akrab?"
"Ayo pulang!" seru King membuyarkan lamunan Cilya.
"Iya." Cilya mengitari pandangan sekitar, Jelita tak terlihat lagi. "Sudah pergi ternyata."
"Key.. kamu mengenal kak Jelita?" tanya Cilya. King mengangguk, membenarkannya. "Kenal darimana?"
"Teman sekolah gue dulu."
"Oh.." Cilya memberikan sejumlah uang yang baru saja ia tarik dari mesin ATM kepada suaminya. Dan King menerimanya dengan suka hati.
"Gue bakal balikin ntar." ucapnya. Entah kapan waktunya, yang penting mengurangi sedikit rasa gengsinya.
***
"Cil, siapin baju gue dong." ucap King sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. King menyukai cara Cilya memadupadankan pakaiannya. Style nya sungguh sangat pas seperti apa yang dia mau.
"Iya." Cilya pun menurut.
Malam ini King akan bertemu dengan kawan lamanya, termasuk Jelita yang dengan sendirinya ingin ikut bergabung.
Seusai menyiapkan pakaian untuk suaminya, Cilya juga mengambil pakaian ganti untuknya. Wanita itu akan membersihkan diri di kamar sebelah, menunggu King selesai akan terlalu lama, tubuhnya sudah terasa lengket.
Hari-hari Cilya mulai di sibukkan dengan kegiatan yang baru kemarin ia tekuni kembali. Hobinya membuat rancangan busana sudah di mulai. Apalagi mama Karin (pemimpin HP-kakak dari Adrian) sangat mendukung bakatnya itu.
Untuk memperdalam bakatnya dan memperluas wawasannya tentang dunia tata busana, Karin meminta Cilya untuk mengambil kelas khusus di negri tetangga, Singapore. Menggali lebih dalam potensi yang ia miliki butuh circle yang bertaraf internasional supaya bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Mengingat pagelaran acara itu akan diselenggarakan di Dubai.
Cilya masih memikirkannya. Menerima kelas khusus itu berarti akan meninggalkan King dan keluarga barunya selama tiga bulan. Cilya harus membicarakan nya lebih dulu dengan suami dan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Key.. ada yang mau aku bicarakan." ucap Cilya ketika King sudah rapih dengan pakaiannya. Dia pun sama, sudah lebih segar dari sebelumnya.
"Mau ngomong apa?" ucap King sembari membenahi penampilannya agar terlihat keren.
"Aku mau minta ijin Key.. kalau ***-" belum selesai bicara, King lebih dulu menjawabnya.
"Gue ijinin. apapun yang lu mau, gak usah minta ijin gue segala. Lu bebas nglakuin apa aja." acuh tak acuh, begitulah sikap King terhadap Cilya.
"Baiklah." Cilya hanya ingin menjadi istri yang selalu meminta ijin pada sang suami jika ingin melakukan sesuatu, apalagi berpergian jauh de waktu yang cukup lama.
"Bilang mom and dad ya, gue pergi bentar. Gak ikut makan malem bareng."
"Iya."
"Pinjem mobil Cil, tapi jangan bilang-bilang ya."
"Iya Key."
Sebelum makan malam, Cilya menemui Arsen dan Lisa untuk menyampaikan niatnya.
"Mommy juga. Apapun yang membuat mu lebih maju, mommy dukung." bukan hanya Arsen, Lisa pun mendukung menantunya untuk memperdalam bakatnya.
"Terimakasih dad, mom." bekal restu dari kedua mertuanya, Cilya akan menerima tawaran itu. Dan esok hari dia akan meminta restu pada ayahnya, sekalian berkunjung.
***
"Hai bro!" pria berwajah pribumi tapi rupawan itu menyapa kedatangan King. "Apa kabar? lama gak nongol." kata Kevin, teman lama King sewaktu duduk di bangku SMP.
"Gue baru balik ni." akunya. Padahal sangat malu jika mengatakan yang sebenarnya. Di usir dari rumah dan sekitarnya beralih profesi menjadi OB di perusahaan daddynya. Sangat memalukan! King tidak mau terlihat rendah di mata teman lamanya itu. Hanya Ali satu-satunya teman yang bisa ia percayai dan menerima apapun keadaannya.
"Betah amat di Jerman. Bebas ya, ngapain aja." ucap Kevin menebak King betah tinggal di negri orang lain karena bisa hidup dengan kebebasan, terutama tentang pergaulan bebas.
King menyengir. "Ya.. gitu deh.." Ali sudah kembali ke Jogja membuat King mencari teman baru, suasana baru.
Dua pria itu mengobrol dengan asik. Topik perjalanan hidup dan pencapaian kesuksesan yang banyak mereka bicarakan. Tentu Kevin lah yang sangat bersemangat menceritakan pengalaman hidupnya. Kini dia sudah meraih pekerjaan yang membanggakan. Sebagai direktur utama di salah satu bank swasta terkenal negri ini.
__ADS_1
Sedangkan King hanya bisa bercerita dengan sebuah karangan bebas. Karena memang belum mempunyai pengalaman yang menakjubkan, selain di tipu habis-habisan oleh sang mantan kekasih. Menyedihkan!
Tapi itulah King, tidak mau kalah pamor! gengsinya terlalu tinggi. Bagai pribahasa mengatakan, tong kosong nyaring bunyinya. Ckckck..
"Hai..aku telat ya.." Jelita datang dengan senyum merekah di bibirnya.
"Gak juga." ucap King. Lalu mengenalkan Jelita pada Kevin. King tertegun, beru menyadari jika rambut Jelita sudah berubah warnanya. Menjadi hitam pekat. Namun terlihat tidak alami.
"Bagus kan?" kata Jelita yang melihat King memperhatikan rambutnya. Wanita itu sengaja merubah warna rambutnya menjadi warna hitam, seperti yang King sukai. Datang ke salon sore itu juga agar malamnya bisa langsung menunjukkan nya pada King.
King hanya mengangguk. "Ini lebih bagus."
"Terimakasih."
Tidak lama mereka mengobrol, Kevin pamit lebih dulu. Pria itu sudah beristri jadi tidak bisa berlama-lama. Harus segera pulang sebelum jam gua belas malam.
Tersisa King dan Jelita.
"Key.." panggil Jelita. Sebelumnya King mengatakan kalau lebih suka di panggil Key bukan King. "Aku senang kamu masih mengingat ku."
"Bagaimana aku lupa dengan wajah cantik mu." ucapnya.
Jelita merasa tersanjung mendengar pujian keluar dari mulut King. "Terimakasih."
"Tapi lebih cantik dulu daripada sekarang. Dulu asli, sekarang..." King mengedikkan bahunya, tidak mau melanjutkan ucapannya. Pria itu berbicara apa adanya seperti yang ia lihat sekarang.
Senyuman Jelita menyurut, sedikit kecewa. "Ini hanya perawatan Key.. semua masih asli." kilahnya. Padahal bibir dan dagunya sudah di permak agar mempunyai bentuk yang sempurna.
"Oh.." King mengangguk saja. Tidak perduli benar atau tidak ucapan Jelita, yang penting masih terlihat cantik. Sedap di pandang. Daripada sang istri, wajahnya di penuhi dengan banyak jerawat. Bahkan akhir-akhir ini wajah Cilya sering terlihat memerah. Mungkin dalam masa pemulihan sehabis perawatan.
"Minggu depan ada waktu? kita jalan yuk." ajak Jelita. Dulu wanita itu sangat jutek sekali dengan King. Hingga dewasa, Jelita baru menyadari jika teman masa taman kanak-kanaknya adalah putra dari keluarga Haidar. Salah satu keluarga konglomerat di negri ini. Jelita tak menyiakan kesempatan saat tadi sore bertemu dengan King.
"Akan aku pikiran." jawab King tak memberi kepastian.
"Oke. Aku tunggu kabar dari mu." dan dengan alasan itu pula, Jelita meminta mereka saling bertukar nomor telepon agar mudah menghubungi.
__ADS_1
Bersambung...