King Haidar

King Haidar
Pasrah


__ADS_3

Rasanya enggan sekali bekerja. King ingin menghabiskan waktu bersama istrinya.


"Key.. kenapa belum siap-siap? ini udah siang loh." Cilya mengingatkan suaminya untuk pergi ke kantor.


"Aku pengin libur aja deh. Di rumah nemenin kamu aja." kata King. Pria itu masih berbaring di sofa panjang, dekat televisi. Meluruskan kakinya yang terasa pegal-pegal.


Cilya panik, bisa gawat kalau King di rumah seharian! King akan memakannya berulang kali. "Key.. gak boleh males-malesan lagi. Katanya pengen ceper-cepet punya baby? harus giat kerjanya."


"Kamu mau punya baby? gak mau di tunda?" tanya King. Semalam dan pagi tadi, di sela kegiatan bercinta, King mengatakan jika ingin segera mempunyai anak dari Cilya.


"Sedikasihnya aja. Gak buru-buru dan gak nunda juga." kata Cilya.


"Harus lebih giat bikinnya biar cepat sukses kalo gitu." King bergerak mengganti posisi menjadi duduk bersandar. "Sini.." King melambaikan satu tangan, menyuruh istrinya mendekat.


"Apa?" Cilya mulai waspada.


King menepuk pahanya. "Cepetan sini?"


"Mau apa?"


"Bikin lagi, biar baby-nya cepet jadi." kata King seraya menarik turunkan kedua alisnya. Seolah tak mengenal lelah, pria itu masih saja ingin melanjutkan kegiatan bercintanya, melupakan jika kedua kalinya masih terasa pegal.


"Ish.. katanya masih pegel-pegel?"


"Iya masih, sekarang giliran kamu yang iya-iyain aku. Aku terima beres."

__ADS_1


"Mana bisa gitu?"


"Bisa, sini aku ajarin."


"Gak ah, aku masih capek. Nanti aja." tolaknya. Tubuhnya masih terasa remuk, ingin beristirahat. Alih-alih membujuk King agar pergi bekerja mencari uang yang banyak untuk masa depan keluarga kecilnya kelak, pria itu malah membalikkan kesempatan, meminta bercinta kembali.


"Yah.. padahal punya ku udah setengah tegang ini. Yaudah gak begituan tapi di elus-elus aja biar tidur. Sini.." King tak menyerah.


"Ya ampun Key! aku malu dengernya. Jangan bahas itu lagi. Cepetan siap-siap, kayaknya udah di jemput tuh." kata Cilya. Suara bel berbunyi. Sepertinya supir yang bertugas mengantar jemput King sudah tiba.


Dengan berat hati, King meninggalkan Cilya untuk bekerja. Pria itu masih belum bisa leluasa meninggalkan pekerjaannya. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk berlibur dengan Cilya, walaupun harus bekerja extra.


Cilya bisa bernafas lega setelah kepergian suaminya, wanita itu bisa beristirahat dengan damai, melanjutkan tidurnya yang semalam terganggu oleh singa buas nan kelaparan.


"Ya ampun, pinggang ku sakit." keluh wanita itu sembari mengelus-elus pinggangnya. "Aku harus segera tidur sebelum mendapatkan guncangan susulan."


***


"Kenapa gak kamu aja yang bilang sendiri. Kamu itu anaknya, pasti di turutin." jawabnya santai.


"Ish.. gak bisa! kamu aja yang nolak!" Soraya begitu sebal melihat wajah pria itu. Kenapa pria itu dengan mudah menerima perjodohan itu? padahal mereka tidak saling kenal.


Arsen mengatakan akan membatalkan perjodohan mereka, jika pria itu sendiri yang menolak untuk menikah dengan nya. Soraya harus bisa membuat pria itu menolak keinginan daddy-nya.


"Aku gak sudi punya suami kayak kamu! ish.. tiap hari luluran pake oli bekas." gerutunya.

__ADS_1


"Emangnya aku sudi nikah sama kamu? gadis manja, sok kaya! cerewet! pasti menyusahkan!" balasnya.


"Kamu bilang apa?"


"Aku bilang kenyataan."


"Oh My God!!!!! pokoknya gak mau tau! kamu harus bilang ke daddy ku, tolak perjodohan kita!" seru Soraya. Gadis itu kemudian pergi dari hadapan pria yang akan di jodohkan dengan nya.


"Ck!" decakan sebal dari pria itu. Kedua matanya mengikuti kepergian Soraya yang melangkah menuju mobil mewahnya. Kakinya yang terlihat putih mulus itu hanya di balut oleh rok mini yang meriap-riap kesana kemari seiring langkah gadis itu. Jangan lupakan rambut blonde yang akan semakin menyala jika terkena sinar matahari. Memang cantik, bahkan nyaris seperti boneka Barbie yang hidup, begitu sangat cantik. Tapi Soraya bukan wanita yang akan menjadi istri idamannya. Ia lebih suka gadis yang sederhana, lemah lembut dan mandiri.


***


Karena kelelahan, Cilya tidur hingga siang. Bahkan wanita itu lupa untuk mengisi perutnya. Sampai ia merasa terganggu oleh pergerakan nakal di tubuhnya.


"Key!!" pekik Cilya yang mendapati suaminya tengah menjadi bayi besar, lengkap dengan stellan jasnya yang masih ia kenakan.


Dengan konyolnya, King hanya menyengir menunjukkan gigi ratanya. "Aku aus." pria itu menyempatkan diri untuk pulang ke apartemen di jam istirahat. Begitu bersemangat untuk pulang menemui istrinya.


"Ya ampun Key!" Cilya mendorong tubuh suaminya yang kembali asik dengan kegiatan messumnya. "Jangan begini."


"Sebentar, gak bakal lama." kata King.


Cilya terdiam, membiarkan suaminya menyessap habis dadanya yang sudah terasa perih. Wanita itu memejamkan matanya, menikmati nya.


"Cil," King berhenti lalu menatap lekat wajah istrinya yang telah sayu. "Aku gak tahan, pengin lagi. Sebentar ya?" tanpa menunggu jawaban dari istrinya, King melucuti pakaiannya sendiri. Bersiap kembali mengarungi samudra cinta yang membara.

__ADS_1


"Key.." pasrah, hanya itu yang bisa Cilya lakukan. Suaminya begitu menggebu menggaulinyaa kembali siang itu.


satu part lagi nanti malem ya


__ADS_2