King Haidar

King Haidar
Kalah telak


__ADS_3

King tersenyum lebar ketika Cilya melangkah semakin dekat ke arahnya. Senyuman menawan sengaja ia pamerkan untuk menyambut kepulangan istrinya. Menunjukkan bahwa ia sangat senang dan terbuka lebar untuk menerima kembali Cilya.


"Cil.." kaki King sudah maju selangkah saat Cilya ada di depannya. Dekat sekali, hatinya bersorak ria karena Cilya masih peduli dengan nya. Berharap Cilya akan mengulurkan tangan, meminta punggung tangannya untuk dicium dengan takzim, selayaknya istri yang menghormati suaminya. Apalagi saat Cilya membalas senyumannya, begitu merekah. Bertambah senanglah hati pria itu.


Namun sayang, semua harapan King sirna, ketika Cilya berjalan melewatinya begitu saja. Tidak menyapa, bahkan melirik pun tidak. Hanya wewangian raspberry yang menyeruak di indra penciumannya.


"Dad, apa kabar?" Cilya lebih memilih menyapa ayah mertuanya. Rupanya Arsen ada di sana untuk menghampiri istrinya.


"Sudah pulang?" tanya Arsen. Cilya mengangguk. Belum juga melanjutkan pembicaraan, King sudah menyela.


"Cil.." panggil King tapi Cilya mengabaikannya, seolah tidak mendengar.


"Dad, mom, malam ini boleh Cilya minta ijin untuk menginap di rumah ayah?" rindu dan khawatir dengan keadaan ayah Radit membuat Cilya ingin menginap di sana malam ini.


"Loh.. kok nginep di sana sih, kamu kan baru pulang Cil." protes King tak mengijinkan istrinya menginap di rumah ayah Radit. "Kamu kan baru pulang Cil, masa pergi lagi." bahkan tidak ada kata Lu gue lagi yang keluar dari mulut King, entah sadar atau tidak pria itu. Mulutnya tiba-tiba saja berubah manis.


"Cilya pamit ama siapa, yang gak ngijinin siapa!" seru Arsen. "Nyeselkan sekarang!" Arsen mencibir pada putranya. Istrinya sudah cantik baru peduli, padahal kemarin-kemarin King terus mengumpati Cilya karena tidak menghubunginya.


Sepertinya King lupa ingatan, dirinya sendiri yang telah memblokir nomor ponsel Cilya. Lalu bagaimana bisa Cilya menghubungi King? rasanya malas kalau menghubungi King lewat orang lain. Cilya akan malu jika King ternyata menolaknya.


"Bolehkan dad, mom?" tanya Cilya. Lagi-lagi wanita itu mengabaikan King.


"Boleh sayang." Lisa mengijinkannya.


"Sampaikan salam dari kami." kata Arsen yang ikut memberi ijin pada Cilya.


Setelah itu, Arsen dan Lisa pergi kembali ke kamar mereka. Memberikan waktu pada King dan Cilya untuk saling berbicara.


"Cil.." ucap King untuk memulai pembicaraan.


Cilya memalingkan muka, kemudian melangkah kembali untuk menuju ke kamar. Cilya akan bersiap-siap. Sore ini juga dia akan pergi, Cilya rindu kebersamaan dengan ayahnya. Melewati makan malam bersama serta memberitahu tentang rencananya ke depan. Cilya akan menceritakan prestasinya saat menempuh pendidikan non formal di Singapura, pasti ayah Radit akan bangga padanya.


Geram di abaikan Cilya, King menarik pergelangan tangan istrinya. "Cil, kamu nyuekin aku? akun ini suami kamu. Kenapa gak say Hello? mencium tangan juga gak!" serunya.

__ADS_1


Cilya menghela. "Hai.." ucapnya menuruti kemauan King, tidak lupa mencium punggung tangan King seperti yang pria itu inginkan. "Udah kan?" ucapnya santai.


Wanita itu kembali melanjutkan langkah, tak lupa mengibaskan rambutnya hingga menerpa wajah King. Kedua matanya terpejam ketika helaian rambut Cilya menampar wajahnya.


"Belagu banget sih! tapi cantik." King hanya membatin. Entah mengapa mulutnya seolah terkunci. Hanya bisa mengumpat dalam hati.


King segera menyusul Cilya di dalam kamar. Pria itu terkejut dengan keadaan karmanya yang terlihat berbeda. Barang-barang milik Cilya memenuhi karmanya. "Ya ampun, ini kamar apa toko Aksesoris?" King melirik walk in closet yang transparan. "Toko tas ama sepatu udah pindah di kamar gue! ." King geleng-geleng kepala. Kamarnya sudah terlihat seperti kamar adiknya.


"Cil, kamu beneran mau nginep di rumah ayah?" tanya King. Pria itu mendekat. Cilya sedang merapikan keperluannya yang akan ia bawa ke rumah ayah Radit.


"Iya" jawabnya datar.


"Kamu kok diemin aku? marah sama aku?"


"Gak tuh." Biasanya King yang akan berbicara seperti itu, sekarang giliran Cilya. "Gimana rasanya di cuekin Key?"


"Cil, kamu udah cantik kok jadi gini sama aku?" King mengekori kemanapun Cilya melangkah. Ke kamar mandi untuk mengambil sebagian alat mandi, mengambil beberapa stell pakaiannya, King setia mengekori Cilya.


"Aku diem kalo kamu gak jadi nginep." ucap King memberi pilihan. "Besok aja nginepnya ya?"


Cilya menghentikan kegiatannya. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Besok ama sekarang apa bedanya? aku udah pengin ketemu ayah. Jadi kamu jangan halangin aku."


"Bedalah Cil, besok ya besok, sekarang ya sekarang." kekeh King. "Kamu harus nurut apa kata suami."


"Gak mau!"


"Yaelah Cil, masa baru pulang, baru ketemu, kamu pergi lagi. Gak kangen gitu ama aku." ucap King dengan percaya diri, apalagi kedua alisnya di naik turunkan untuk menggoda Cilya.


Cilya hanya mencebik melihat tingkah suaminya.


"Cil, ngaku aja. Kamu kangen kan sama aku?" pria itu memaksa Cilya untuk membenarkan ucapannya.


"Pede abis kamu ya!"

__ADS_1


King mendekat, tangannya meraih pinggang Cilya ke dalam dekapannya. "Gue putusin, mulai sekarang kamu partner hidup plus partner ranjang aku. Gimana, mau kan?" bagai tak punya malu, King mengatakan itu tanpa beban. Seolah lupa jika dulu dia tidak menginginkan Cilya.


Cilya melotot. "Ogah!" mendorong tubuh King agar menjauh.


King terkesiap. "Cil!"


Cilya mendongak, menatap tajam pada King. "Bukannya dulu kamu pernah bilang, kalau aku pantesnya buat jadi partner hidup kamu, bukan partner ranjang!" jari telunjuk Cilya menunjuk-nunjuk dada King dengan penuh tekanan, memberi peringatan. "Terus kenapa sekarang kamu pengin aku jadi partner ranjang mu? apa stok tante shinzui mu sudah habis?" Cilya ingat jelas, King lebih memilih tante shinzui daripada dirinya. Sungguh menyakitkan jika mengingatnya.


King terdiam, mencari-cari alasan agar tidak terlihat bodoh dan malu di depan Cilya. "Aku gak inget. Emang aku ngomong gitu?" King mengelak.


"Ck! capek ngomong sama kamu." tidak ada gunanya berdebat dengan King yang selalu menganggapnya paling benar.


"Makanya jangan banyak omong, mending langsung praktek yuk? gue ajarin biar lu mahir." rayunya, berharap Cilya akan luluh. Dan mau melakukan kegiatan malam panas dengannya. Melihat kecantikan Cilya membuat si mercusuar ingin bersirine sepanjang malam.


"Jadi kamu udah ahli? latihan sama siapa? hem?" ucapannya bak boomerang. "Aku semakin ilfeel sama kamu!"


"Bercanda Cil, bercanda."


"Udahlah bodo amat. Aku gak peduli sama kamu."


Hatinya sedikit ngilu mendengar Cilya tak mau lagi memperdulikannya. "Itukan masalalu Cil. Kamu cemburu Cil?"


"Dih.. Cemburu? gak tuh. Aku bisa ya dapet yang lebih dari kamu. Banyak CEO di luar sana udah pada ngantri, lebih oke daripada kamu." Cilya mulai berani mengejek, tapi anehnya King sama sekali tidak berkutik. Mulut pedasnya hilang entah kemana saat di hadapan Cilya.


"Gak ada yang lebih keren dari aku. Aku juga calon CEO!" tak terima di bandingkan dengan pria lain.


"Baru calon Key." kata Cilya mengingatkan. "Kamu masih jadi OB kan? masa desainer pasangannya OB sih, gak level!"


King kalah telak.


Sekarang Cilya membalikkan keadaan, menghina King. Berharap dengan hinaannya, King akan berkeinginan untuk lebih maju.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2