
"Cil, maafin aku ya. Jangan dengerin omongan Ali." di ranjang King membujuk istrinya agar tidak marah dengan kesalahpahaman tadi. King memeluk Cilya yang tidur memunggunginya. "Maafin aku ya." tidak lupa memberikan kecupan kecil di pundak Cilya.
Namun Cilya hanya diam, meski perempuan itu belum tidur.
"Cil." panggilnya lagi, Cilya mengabaikannya. King semakin erat memeluk sang istri. Diabaikan sedari ia masuk kamar membuatnya gundah. Perasaan bersalah muncul, ia pikir Cilya tidak akan semarih ini dan mendiaminya. "Cil, ngomong dong jangan diem aja." katanya.
Cilya menghela, lalu membalikkan badan untuk menghadap suaminya. Wajah mereka saling bertemu, bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
King tersenyum, Cilya mulai merespon, mau menatapnya kembali. "Istri ku, aku minta maaf ya.." King mengelus pipi Cilya dengan lembut. "Jangan ngambek lagi. Aku gak bakal duain kamu."
"Tapi dulu kamu berniat duain aku kan?" seru Cilya. Manik matanya menatap lekat wajah tampan suaminya.
"Itu kan dulu, pas aku belum sadar kalo istri ku secantik ini." ucapnya.
"Jadi kalo aku gak cantik, kamu mau duain aku? jahat!" ketus Cilya.
King diam sejenak, apa benar jika Cilya tidak berpenampilan menarik ia tidak akan berpaling ke wanita lain. "Tapi sekarang aku lebih suka kamu yang dulu."
Cilya mengerutkan keningnya. "Biar aku gampang kamu bodohi?" semburnya.
"Serba salah gue." pria itu mulai kebingungan. "Bukan gitu. Aku gak mau kamu jadi perhatian banyak cowok. Cuma aku yang boleh liat kamu cantik." katanya.
"Kenapa?" tanya Cilya. Wanita itu berharap jika King mengatakan sesuatu yang membuat hatinya bahagia. Cinta, satu kata itu yang Cilya tunggu terucap dari bibirnya.
"Karena kamu istri ku, milik ku." jawab King.
Cilya mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah, tidak lagi fokus memandang wajah suaminya. Terlalu kecewa. "Mungkin aku yang terlalu berharap."
"Cil, kenapa diam?" King semakin mempererat pelukannya, mengikis jarak.
"Aku ngantuk." Cilya kembali membelikan tubuhnya, memunggungi sang suami.
Helaan nafas kasar terdengar. King tidak mengerti dengan sikap Cilya yang berbeda. "Yasudah ayo kita tidur." memeluknya erat.
__ADS_1
***
Keberangkatan Cilya ke Dubai di percepat dua hari. Cilya sangat antusias dengan show pertamanya, berharap akan berhasil dan tidak mengecewakan banyak pihak. Jika show ini sukses, maka bisa mempermudah karirnya dimasa depan.
Sebelumnya Cilya sudah berpamitan pada sang ayah. Kondisi ayah Radit semakin membaik, Cilya tidak khawatir jika harus berjauhan dalam waktu yang cukup lama. Ternyata memberikan sedikit ancaman pada ibu tirinya-Sarah lumayan ampuh. Wanita yang kini menjadi istri ayahnya pasrah dan menuruti perintah dari Cilya, yang mengancam akan memblokir semua akses kartu ajaib yang di berikan oleh Radit. Karena sepenuhnya harta milik Radit sudah berpindah alih atas nama Cilya.
Semua anggota keluarga dengan suka cita melepas kepergian Cilya untuk meraih kesuksesan. Kecuali suaminya, yang berat di tinggal oleh Cilya.
"Cil, bisa gak? gak usah pergi." kata King memohon.
"Aku harus pergi Key." jawabnya dengan wajah datar. Tidak ada senyum manis yang selalu terbit di wajah Cilya untuk King. Semenjak hari itu, Cilya bersikap acuh dan dingin pada King.
"Key, jangan kaya anak kecil! kamu juga harus mempersiapkan keberangkatan mu ke Kalimantan." kata Arsen.
"Iya Key, nanti Cilya pulang langsung nyusul kamu kesana." Lisa ikut bersuara. "Iya kan sayang?" Lisa beralih bertanya pada Cilya.
Cilya mengangguk dengan tersenyum tipis. Wanita itu tidak yakin kalau akan menyusul King nantinya. Untuk apa menyusul? meskipun King suaminya, tapi tidak ada cinta untuknya di hati pria itu. Mungkin saja nama Camelia masih tersemat di hatinya, pikir Cilya.
"Janji ya, ntar nyusul." tanya King meminta jawaban dan sebuah janji pada Cilya. Janji yang harus ditepati Karena King akan menantikan kedatangan Cilya.
Dengan berat hati, King membiarkan Cilya pergi. Pria itu ingin mengantar sampai ke Bandara, tapi sudah ada rombongan rekan kerja Cilya yang sudah menjemputnya. Lagipula King harus mengikuti meeting pagi ini.
***
"Lu keliatan galau amat!" jam istirahat, Ali bertandang ke perusahaan milik ayah King, bermaksud mengajak makan siang di restoran terdekat. Ali masih stay di Jakarta. Belum tau sampai kapan. Mungkin sampai hatinya moveon dari mantan istri. Sementara cafe yang ia kelola, ada orang kepercayaannya yang mengurus, masih memiliki ikatan saudara dengan Ali.
"Ck! jangan mulai rese deh!" seru King. Makanan yang ia pesan masih utuh, tergeletak di atas meja. Pria itu tidak memiliki nafsu untuk makan.
"Udah bucin lu ama Cilya?" Ali tau jika istri sahabatnya sudah pergi jauh. King sempat menceritakannya.
King mengedikkan kedua bahunya ia sendiri tidak tahu perasaan apa yang ia miliki untuk Cilya. Hanya saja jika berjauhan dengan Cilya ia merasa gelisah dan tak tenang. Ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya.
Awalnya Ali sempat heran sekaligus kagum dengan perubahan penampilan Cilya. Pria itu tak menyangka selama ini Cilya menutupi kecantikannya. Bagai berlian yang tersembunyi di dalam lumpur. Cilya cantik, pantas saja sahabatnya itu menjilat ludahnya sendiri. Masih teringat jelas, dulu King selalu meremehkan dan mengolok-olok penampilan Cilya. bahkan sampai bersumpah tidak akan pernah tertarik pada Cilya. Namun nyatanya sekarang King terlihat sangat menginginkan Cilya.
__ADS_1
"Udahlah gak usah galau, ntar juga balik lagi kan?" kata Ali.
"Tapi lama!"
"Yaudah susul aja lah."
"Aku gak punya uang sebanyak itu." uangnya tidak akan cukup untuk melakukan perjalanan ke Dubai, belum untuk biaya hidup selama di sana. King masih bersahabat dengan kemiskinan.
"Pake duit dari penghasilan cafe." kata Ali. Selain berkunjung untuk menghilangkan rasa penatnya sang mantan istri, Ali datang untuk memberikan penghasilan bersih dari cafe. Meski tidak banyak, tapi cafe tidak mengalami kerugian.
"Gak bakal cukup!"
"Minta ke bokap lu, kalau gak pinjam ke saudara lu kan bisa." saran Ali.
Wajah King berbinar. "Bagus juga ide lu!" berkat saran dari Ali. King mendapatkan ide bagus, menyusul Cilya tanpa harus memikirkan biaya perjalanan dan pengeluaran untuk bertahan hidup selama beberapa hari di Dubai.
"Ide yang mana?"
"Gue tau, gimana cara dapetin duit buat nyusul Cilya ke Dubai."
"Apa?"
Jelas saja King akan meminta bantuan pada aunty Clara. Aunty-nya itu memiliki jet pribadi. Dan Benzema juga akan pergi ke Dubai, menyusul Cilya. Bukankah itu kesempatan yang bagus? King tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
King tersenyum lebar. "Li, lu mau cari Muhammad Baharuddin kan?" katanya.
Ali terkejut mendengar nama sang ayahnya di sebut. "Maksud lu?"
"Siapa tau bokap lu tajir melintir di sana. Lu datengin, minta jatah warisan biar jadi anak sultan!" seru King. Dia tahu jika selama ini Ali ingin mencari keberadaan ayah kandungnya. Karena keterbatasan dana, Ali belum bisa bertandang ke negri Arab Saudi.
"Tapi.." Ali ragu.
"Tenang, gak usah mikirin duit. Kita punya sumber duitnya."
__ADS_1
"Oke!" Ali bersemangat.
Bersambung...