
"Pagi istriku yang paling cantik." sapa King pada Cilya. Satu tangannya dengan jail menepuk bokkong Cilya, lalu sedikit meremmasnya. Satu kecupan pun mendarat di pipi Cilya. Sambutan selamat pagi yang cukup absurd.
"Key!" Cilya menegur tingkah King yang tak tahu malu. Padahal di sana ada daddy dan mommy nya.
Arsen hanya menggelengkan kepalanya, Sedangkan Lisa hanya bisa mengulumm senyum. Sepertinya King sudah menerima Cilya sebagai istrinya. Dan rumah tangga mereka berjalan dengan semestinya.
"Cie.. cie.. mentang-mentang kak Cilya udah cantik jadi bucin!" Soraya mencibir.
"Brisik bocil!" jitakan mendarat di kening Soraya, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
"Dad.." Soraya mengadu begitu manja pada daddy nya. "Sakit.." bibirnya sudah mengerucut hingga lima senti.
"Key..." Arsen menegur King.
"Iya.. iya.. sini kakak cium biar gak sakit lagi." King sudah bersiap menyodorkan bibirnya, ingin mencium kening Soraya.
"No!" Soraya memalingkan wajahnya, tidak mau di cium. "Aku bukan anak kecil lagi kak, stop!"
"Yaudah aku cium yang ini aja." pipi Cilya menjadi sasaran King.
"Key! malu." tegur Cilya.
"Kalo gitu kita ke kamar aja yuk, biar gak malu." wajah Cilya semakin memerah mendengarnya. King benar-benar tak tau malu!
Arsen dan Lisa hanya bisa tersenyum melihat pemandangan di pagi hari yang terasa ramai penuh keharmonisan.
"Pokoknya, aku kalo punya suami gak mau kayak kakak!" jail, mesum, dan posesif, Soraya tidak mengharapkan suami yang seperti itu. "Gak mau bule juga!" tambahnya.
"Kenapa?" tanya Lisa.
"Maunya lokal, Asia lebih tepatnya." kata Soraya. Gadis itu sudah menentukan tipe suami idamannya Kalau perlu mirip seperti idolanya, oppa oppa dari negri Gingseng.
"Yang penting sayang sama kamu, mommy do'a kan yang terbaik untuk mu" ucap Lisa.
"Ini tugasnya daddy, cari suami buat aku, seperti yang aku mau. Ya kan dad?" jika hubungan nya dengan Digta tidak di restui. Soraya sepenuhnya menyerahkan urusan itu pada daddy nya.
"Iya sayang." Arsen menyanggupi.
__ADS_1
"Yang pasti jangan duda ya dad, dan harus penyayang, sama seperti daddy yang menyayangi mommy. Gak pernah bikin mommy nangis." ucap. Soraya panjang lebar. Arsen harus menemukan pria yang Soraya inginkan.
Lisa melirik suaminya yang menjadi tegang, lalu tersenyum kecut. Putrinya itu hanya tahu jika Arsen sangat baik dan penyayang. Super hero bagi Soraya. Tidak tahu kekelaman di masalalu.
"Dad?" tanya Soraya karena Arsen hanya diam tak menjawab. Arsen menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Denger tuh dad, cari yang bukan duda, terus penyayang, bukan pemain wanita. Pokoknya yang lurus lurus aja." ucapan Lisa terdengar menyindir. Arsen menikahi Lisa secara resmi dengan statusnya yang sudah menduda kala itu, meski Lisa wanita pertama yang ia nikahi (secara siri).
"Kamu nyindir aku?" bisiknya, agar anak dan menantunya tidak mendengar.
"Situ kesindir?" Lisa membalikkan pertanyaan.
Arsen menghela. "Wanita memang aneh. Katanya udah maafin, lupain.. ehh.. masih aja di ungkit." gerutunya dalam hati.
"Iya sayang, daddy akan carikan yang terbaik untuk mu." kata Arsen.
"Oke dad."
"O iya.. nanti malam kita di undang makan malam di rumah Clara." Lisa mengatakan perihal undangan makan malam di rumah sahabat sekaligus kakak iparnya itu. "Kalian juga ikut ya." Lisa akan mengajak King dan Cilya.
"Aku langsung ke rumah Aunty ya mom, jadi aku nunggu mommy di sana." kata Soraya. Lebih baik dirinya langsung pulang ke rumah aunty nya, di sana ia bisa bermain dengan putri Arletta.
"Iya." ucap Lisa mengijinkan.
"Aku sama Cilya gak usah ikut ya mom." rasanya tidak rela menunjukkan Cilya pada saudara laki-lakinya. Undangan makan malam dari Kenzo waktu itu, King sengaja tidak datang. Karena takut jika Cilya tertarik pada salah satu dari mereka.
"Harus ikut Key. Gak enak kalo Cilya gak ikut. Dia kan belum bersilaturahmi secara resmi di rumah Clara dan Bastian." kata Lisa.
"Tapi.."
"Ck! takut kalah saing?" seperti biasa, Arsen bisa menebak kegelisahan putranya.
"Gak kok!" elaknya.
"Makanya kerja keras biar jadi orang yang hebat." ucap Arsen terdengar sebuah nada ejekan. Tapi sebenarnya, pria itu hanya ingin menyemangati King agar lebih maju. Bersaing dengan cara yang sehat.
"Udah.. udah.." Lisa menengahi. "Semuanya harus dateng. Gak ada penolakan."
__ADS_1
"Iya mom."
***
"Cil, bisa ganti baju gak? jangan pake yang itu." King memperhatikan pakaian yang Cilya kenakkan. Cilya terlihat sangat cantik dan anggun. King takut, jika pria lain akan mengagumi Cilya.
"Kenapa emang?" Cilya memperhatikan pakaiannya. Tidak ada yang salah, terbuka pun tidak. Dress yang ia kenakkan panjangnya di bawah lutut.
"Kamu makin cantik. Bisa gak sih pake baju kayak dulu aja. Terus pake kacamatanya. Masih ada kan?" sekarang King lebih memilih jika kecantikan Cilya di sembunyikan. Hanya dia yang boleh menikmatinya. "Aku gak suka kamu kayak gini!"
"Kamu aneh!" kesal Cilya. Berpenampilan jelek di hina, berpakaian kekinian di marahi. Sebenarnya apasih maunya pria itu?
"Aku pikir-pikir, lebih suka kamu yang dulu." ucap King.
Cilya terdiam, memikirkan ucapan King. "Pekerjaan menuntut ku harus begini Key." menjadi seorang desainer, Cilya harus memperlihatkan penampilan yang mencerminkan seorang desainer. Tidak mungkin berpakaian asal seperti dulu lagi.
"Gak bisa ya?"
Cilya tersenyum, lalu mengelus pipi suaminya dengan lembut. "Aku pakai kacamata tebalnya aja ya? kalau baju, aku memang harus begini, sekalian promo desain ku." kata Cilya. Wanita itu pun merogoh tasnya, mencari kacamatanya, melepaskan softlens.
"Kalau aku banyak duit, berarti kamu mau di rumah aja? kerjanya nungguin aku pulang? mau kan?"
Cilya mengangguk. "Aku akan menuruti semua perintah suami ku. Jadilah pria yang mandiri, dan menjadi suami yang baik." kata Cilya. Wanita itu tentu saja mau menuruti semua apa kata suami, jika King menjadi pria yang bertanggung jawab. Bisa memberikan nafkah lahir maupun batin, dengan kerja keras tanpa mengandalkan harta orang tuanya.
Wajah King berbinar. "Oke, mulai sekarang aku akan giat kerja buat kamu." pria itu bertambah semangat untuk menata hidupnya agar lebih baik.
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi King. "Aku berangkat ya.." Cilya berpamitan pada King sebelum masuk ke dalam mobil untuk bekerja.
Hati pria itu semakin berbunga-bunga, kecupan di pagi hari membuat moodbooster bagi King.
Cilya menggelengkan kepalanya, melihat King tersenyum senyum seperti orang bodoh lewat kaca spion. "Semoga niat kamu gak cuma omong kosong doang Key." gumam Cilya.
Cilya berharap jika ucapan King yang ingin berubah bukan hanya bualan belaka. Maklum, King susah di tebak kemauannya.
Bersambung...
__ADS_1