King Haidar

King Haidar
Wejangan


__ADS_3

Wajah Cilya terlihat masam, wanita itu sangat kesal karena King mengajaknya pulang ke apartemen, padahal ia masih menikmati indahnya pantai. Belum puas bermain-main di sana.


"Besok aku ajak lagi ke pantai. Jangan cemberut gitu." King merayu agar istrinya tersenyum kembali.


"Tapi aku belum mau pulang! aku bosen di apartemen mulu." keluh Cilya.


"Yaudah, kita nongkrong di cafe aja ya.." bujuknya. King harus menjauhkan Cilya dari Ali. Tidak mau mempertemukan sahabat laknutnya itu dengan sang istri tercinta. Bisa-bisa Ali menyulut sumbu yang kapan saja bisa memercikan api.


"Yaudah." Cilya setuju. "Cafe itu aja, masih bisa liat pantai." ucapnya sembari menunjuk ke sebuah cafe di pinggir jalan. King membelokkan mobilnya ke sebuah cafe, lokasinya tidak jauh dari pantai. Pria itu berharap, Ali tidak memunculkan batang hidungnya di tempat itu juga.


"Key.. aku dengar dari mommy, Sora mau nikah? di jodohin, emang bener?" sebelum menyusul King ke Kalimantan, Cilya mendengar berita itu, adik iparnya akan di jodohkan dengan pria pilihan Arsen.


"Iya." King percaya dengan laki-laki pilihan daddy nya, pasti laki-laki yang memang tepat untuk Soraya. Meski ia sedikit ragu dengan adik perempuannya, pasalnya kehidupan calon suaminya berbanding balik dengan Soraya.


Apa Soraya bisa hidup sederhana? sesuai kehidupan calon suaminya?


"Aku khawatir Sora gak bisa..."


"Pilihan daddy pasti yang terbaik." kata King. Mana mungkin Arsen akan membuat anak perempuan kesayangannya hidup menderita, semua pasti sudah dipikirkan dengan matang.


"Iya.. semoga."


Hari semakin gelap, King dan Cilya segera pulang. Cilya membersihkan tubuhnya lebih dulu.


"Loh.. kok udah mandi duluan sih.." King kesal, niat hati ingin mandi bersama dengan Cilya gagal sudah. "Aku kan cuma angkat telpon bentar." dengusnya kesal.


"Nungguin kamu lama, aku udah gerah." Cilya sudah rapih dengan piyama panjangnya.


"Cil, ganti bajunya. jangan pake yang itu." melihat pakaian istrinya yang tertutup matanya terasa sakit. "Kalo perlu gak usah pake baju, gak guna juga ntar aku telanjjangin." ucapnya.


"Gak mau! malam ini libur dulu ya, aku beneran capek banget." Cilya merebahkan diri di atas ranjang, bersiap untuk tidur.


"Yah Cil, gak bisa gitu dong! kita kan lagi ada misi khusus. Misi bikin cucu buat daddy, nanti daddy marah loh kalo kita lama ngasih cucunya." pria itu pintar sekali membuat alasan, membawa-bawa nama daddy sebagai jurus jitu.


Cilya mencibir, "Itu pasti akal-akalan kamu aja kan?"


"Gak percaya!"


" Udah sana mandi!"


"Tapi jangan tidur dulu ya Cil, seenggaknya satu ronde aja deh.."

__ADS_1


"Iya.. iya.. mandi dulu gih."


King cepat-cepat menyelesaikan mandinya, tidak mau melewati malam ini tanpa dessahan sepanjang malam. Hanya sepuluh menit, pria itu mandi secepat kilat, yang penting keringat sudah diguyur oleh air.


"Cil.. Cilya love!" King mengguncang bahu istrinya. Keluar dari kamar mandi, King mendapati Cilya sudah tertidur pulas. "Huftt..." hembusan nafas kasar terdengar. Cilya terlalu nyenyak untuk dibangunkan.


Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering nyaring. Ternyata panggilan dari Ali, yang meminta untuk bertemu di luar. Malam belum terlalu larut, King akan menemui sahabatnya sebentar.


Cafe di seberang apartemen King menjadi tempat pilihan dua pria itu bertemu. King datang, Ali sudah menunggunya di sana.


"Tumben, lu mau gue ajak ketemu di luar, gue pikir lu lagi mantap-mantapan ama bini lu!" kata Ali.


"Harusnya, tapi Cilya tidur. Kayaknya kecapean. Ngaso lah malam ini. Eh.. tapi ntar juga gue bangunin malem-malem." King akan membiarkan istrinya beristirahat sejenak, tengah malam nanti, ia akan membangunkan Cilya.


"Maruk banget lu! tiap hari di gempur!"


"Dih.. kenapa lu yang sewot! bini-bini gue, mau ngapain aja juga terserah gue." serunya. "Ntar gue kirimin audio paling hot deh.. khusus buat lu!"


"Njirr! lu mau bales dendam ama gue?"


"So pasti!"


"Tega lu! gak ada lawan mainnya ini, bingung gue!"


"Yaudah ntar tinggal matiin aja hape gue.. beres!!!"


"Sial!" King menendang kursi yang diduduki Ali, bodohnya King, ingin membalas perbuatan Ali tapi mengatakannya lebih dulu. Sudah pasti Ali akan mengantisipasinya.


"Oiya, cafe masih jalan, belum bangkrut. Tapi untungnya gak banyak." Ali mengatakan penghasilan cafe milik King yang di serahkan padanya dulu.


"Terusin aja, selama gak rugi mah." menutup cafe sama saja menghilangkan pekerjaan bagi karyawannya. Soal keuntungan, King tidak lagi mengutamakannya.


"Oke!" Ali menurut.


"Eh.. udah jadi Sultan? terus lu gak ada kerjaan gitu? cuma nikmatin duit warisan?" tanya King yang masih penasaran dengan kisa Ali yang tiba-tiba menjadi seorang Sultan.


Ali mengangguk, mengiyakan. "Gue tinggal ongkang ongkang kaki aja, duit udah ngalir. Ada abang gue yang kerja cari duit!" ucapnya jumawa.


"Apa nama perusahaan bokap lu?" King yang sedang memegang ponsel, bersiap untuk berselancar, mencari berita tentang perusahaan milik ayah kandung Ali.


"Saudi ARAMCOO kalo gak salah." jawab Ali.

__ADS_1


King mengangguk, lalu mulai membaca seksama tulisan yang ada di layar ponselnya. "Bahlul banget si lu!" kali ini bukan sebuah kursi yang pria itu tendang, melainkan kaki sahabatnya. "Ini perusahaan gede! bokap lu Sultan di atas Sultan! begokkk!"


"Emang! bokap gue tajir melintir! bininya aja ada dua!" serunya. "Adek gue ada empat.. beuhhh cakep cakep! kalo bukan adek, udah gue embat tuh jadi cemceman!" ayah Ali memiliki empat anak perempuan. Dari istri-istrinya. "Rumahnya aja lebih gede dari rumah lu Key! gila banget kan bokap gue tajir banget!"


King menonyor kening Ali. "Dasar bahlul! udah tau elu anak cowok satu-satunya kenapa lu malah pulang! bukannya siap-siap mewarisi perusahaan bokap lu!"


"Udah ada si Tareq, abang gue. Gue disini tinggal terima bersihnya aja. Gak mau capek!"


"Tapi dia cuma anak tiri bahlul! lu mau kalo bokap lu koit, semuanya jatoh ke tangan si Tohir itu?" ucapnya menggebu-gebu.


"Tareq Key! Tareq! bukan Tohir."


"Iya itu.. maksud gue."


"Terus gue harus gimana? bisa langsung bangkrut kalo gue jadi direktur-nya! sehari langsung turun tuh saham." Ali tak percaya diri jika ia ikut bergabung dengan perusahaan ayah kandungnya, apalagi menjadi CEO menggantikan posisi Muhammad Baharuddin? Ali angkat tangan, tidak mungkin juga ia menang bersaing dengan Muhammad Tareq, kaka tirinya yang sudah mahir di dunia bisnis.


"Makanya jadi orang jangan bahlul! di suruh sekolah malah nongkrong ke warnet! IPK lu aja pas-pasan!"


Ali mencibir. "Cih.. bisa ya ngomong gitu sekarang? dulu kan gue minggat ke warnet ama elu!"


"Hehe.. iya juga sih.."


"Dasar!"


"Gini aja, elu mending rayu tuh si muka datar! lu kerja sambil belajar tuh ama dia tentang bisnis." King memberi solusi. "Lima tahun udah bisa, lu cabut deh.. terus ambil alih perusahaan bokap lu! jangan mau di kibulin! suruh nyante dapet duit, tapi semuanya dia yang ngendaliin!"


"Muka datar? siapa?"


"Siapa lagi? Benzema lah!"


"Oh.. gimana caranya? emang dia mau ngajarin gue?"


King mengedikkan bahunya. "Usaha lah biar dia mau!"


"Yaudah lu calo-in gue.. ntar lu kecipratan deh Dinar gue."


"Blagu lu!"


"Lu mau kemana? tunggu dulu, belum selesai nih wejangan lu."


"Bodo! gue mau cari jamu campur telor ayam kampung dua! siap-siap buka WA dari gue!"

__ADS_1


"Kamprettt lu!"


__ADS_2