King Haidar

King Haidar
Akan merebut


__ADS_3

Pagi hari wajah King terlihat begitu masam. Apalagi saat menatap Cilya, sorot matanya begitu tajam. Kejadian memalukan semalam membuat pria itu menambah tingkat kebenciannya pada sang istri. Sudah setengah mati menghilangkan rasa malu untuk meminta haknya pada sang istri, tapi berujung penolakan.


Cilya hanya tertunduk, tidak mau menatap King. Wanita itu tahu jika King sedang mengintimidasi nya dengan sebuah tatapan. Dia harus lebih kuat untuk menghadapi sikap King yang semena-mena padanya. Rasa sakit hati yang King torehan sedikit membuat Cilya tergugah hatinya agar lebih berani membentengi dirinya dari tindakan King yang semena-mena.


"Ck!" King berdecak kesal melewati Cilya begitu saja. Pria itu pun membanting pintu kamar dengan kencang membuat Cilya terkejut dan mengelus dadanya.


Tidak mau memperdulikan sikap King, Cilya lebih memilih mengemasi pakaiannya yang di perlukan selama tinggal di Singapura. Sore nanti ia akan berangkat ke negri sebrang.


Tiba-tiba saja pintu kamar kembali terbuka. Nyatanya King yang belum puas meluapkan kekesalannya pada Cilya, datang kembali menghampiri Cilya dengan dada yang bergemuruh. "Oke, fine! lu gak mau jadi partner ranjang gue. Gue bakal cari yang lain! kalo perlu cari bini ke dua, buat jadi partner gue!" serunya penuh dengan ancaman. Pasalnya tadi pagi, King melihat Cilya menunaikan ibadah sholat subuh. Semakin marah pria itu, menyadari sudah di tipu oleh istrinya.


Kedua tangan Cilya mengepal, kesal dengan perlakuan King padanya. "Silahkan saja mencari perempuan lain! aku gak peduli! tapi ceraikan aku dulu sebelum menikahi wanita lain!" seru Cilya. "Jelek-jelek gini aku gak mau di madu!" teriak Cilya. Habis sudah kesabaran wanita itu.


Kesedihan yang semalam ia dapatkan belum juga sembuh, tapi King menoreh luka lagi. Bagaimana bisa pria itu dengan gampangnya berucap akan menikahi wanita lain! hanya untuk di jadikan partner ranjangnya!


Jika saja King meminta dengan baik-baik, Cilya pasti akan memberikannya, mengabdikan diri pada sang suami. Tapi apa pantas? suami seperti King menjadi panutannya?


King terkejut. Tidak menyangka Cilya akan berbicara seperti itu padanya. Padahal King hanya menggertaknya saja, tidak benar-benar ingin menikah lagi. "Oke!" tidak mau terlihat menciut, King berucap asal. Kemudian King pergi meninggalkan Cilya. Tidak mau memperpanjang masalah lagi. Bukan akhir seperti ini yang King harapkan.


"Si Cili udah mulai berani nih." gumamnya seraya berjalan menuruni anak tangga. Pria itu memilih berangkat ke kantor lebih dulu, sampai melupakan sarapan paginya. Sengaja menghindar, agar tidak bertatap muka dengan Cilya.


***


Siangnya Cilya pergi ke rumah ayahnya, untuk memberitahu rencananya yang akan terjun kembali ke dunia tata busana, sekaligus berpamitan. Wanita itu ingin sekali melupakan masalahnya dengan King. Ucapan King masih terngiang-ngiang di kepalanya. Rupanya Cilya masih memikirkan ucapan King yang ingin menduakannya, Cilya menganggapnya serius.


"Kenapa harus begini? apa Key akan menikah lagi?" susah payah berusaha menghilangkan pikiran itu namun tak berhasil. Hingga sampai di pelataran rumah masa kecilnya, Cilya berusaha tenaga. "Lupakan sejenak." gumamnya.


Kedatangan Cilya di sabut hangat oleh ayah Radit. Tapi tidak dengan ibu tiri dan kakak tirinya. Kedua wajah wanita itu terlihat masam.


"Putri ayah.." Radit memeluk putrinya begitu hangat. Di belakang sana Sarah dan Jelita mencibir tak suka.

__ADS_1


"Ayah sudah sehat?" tanya Cilya khawatir dengan kondisi kesehatan ayahnya.


"Ayah sudah sehat nak, mama Sarah merawat ayah dengan baik." jawab Radit.


Cilya ragu dengan ucapan ayahnya. Ibu tirinya merawat dengan baik? apa tidak salah dengar? bahkan sewaktu Cilya melangsungkan pernikahan dengan King di rumah ini, Sarah dan Jelita sedang berlibur, padahal ayah Radit belum lama keluar dari rumah sakit dan masih perlu di perhatikan kondisi kesehatannya.


"Semoga yang ayah ucapkan itu benar, tante Sarah merawat ayah dengan baik, bukan suster!" ucap Cilya tenang tapi penuh sindiran.


Radit mengelus kepala putrinya. "Mari masuk nak, sudah makan siang belum?" tanya Radit.


Cilya menggeleng. "Kita makan siang bersama ya yah."


"Iya. Ayo." ajak Radit.


"Cilya ke kamar dulu yah, ada yang mau Cilya ambil." ucap Cilya.


Tiba-tiba Jelita menghadang langkah Cilya yang hendak masuk ke dalam kamarnya. "Ada apa kak?"


"Pake pelet apa lu? seorang Key mau nikahin lu, si cewek upik abu!" seru Jelita. Wanita itu begitu shock mendengar Cilya sudah menikah dengan King. Tidak percaya, King akan tertarik dengan perempuan seperti Cilya.


Ayah Radit memang tidak menceritakan secara detail tentang sebab pernikahan Cilya dan King di langsungkan.


"Kakak tau, aku nikah sama Key?" tanya Cilya.


"Di tanya, balik nanya lagi!"


Cilya menghela nafasnya. "Kak, memang kenapa kalo aku nikah sama Key? aku sama sekali gak mian pelet peletan seperti tuduhan kakak." jawab Cilya.


Jelita mencebik. "Pasti ada sesuatu kan yang kalian sembunyiin!" terka Jelita. Cilya menggelengkan kepalanya. "Buktinya kemarin Key cerita banyak ke aku. Kalau dia gak bahagia nikah sama kamu! dia malah masih godain aku tuh." dustanya. Padahal King tidak mengatakan itu semua.

__ADS_1


Cilya terdiam. Sedikit termakan omongan Jelita. Apalagi tadi pagi King mengatakan akan menikahi wanita lain. "Apa Key mau nikahin kak Jelita?" hatinya terasa di remas-remas.


Seringai licik terbit dari wajah Jelita. "Gua gak peduli kalo Key itu laki lu. Gue bakal rebut dia dari lu." bisiknya.


"Apa kak Jelita gak puas udah rebut ayah dari ku? merebut semua milik ku?" ucap Cilya begitu marah, tapi wajahnya terlihat sangat tenang. "Kenapa suami ku juga ingin kakak rebut?"


Jelita maju selangkah mendekat. "Karena lu gak pantes dapetin suami kaya Key. Gue yang pantes menyandang istri dari seorang keturunan Haidar."


Plakkk


Cilya menampar Jelita. Keberaniannya tiba-tiba muncul, dan memang Cilya sedang membendung kemarahan nya sejak tadi, jadi ia luapkan. Kali ini Jelita benar-benar keterlaluan. "Menjijikkan!" seru Cilya.


"Lu berani nampar gue? hah!" Jelita hendak menampar balik, tapi Cilya dengan cepat menghindar.


"Seharusnya dari dulu aku berani, kakak sudah sangat keterlaluan!"


Jelita tersenyum sinis. "Lu berani nentang gue? gue bakal rebut Key dari lu."


"Silahkan saja rebut dia dari ku! kalau kakak bisa!" ucap Cilya. Tak apa jika Jelita berhasil merebut suaminya. "Tapi kembalikan ayah ku! dan kalian bisa pergi dari rumah ini!" serunya.


Jelita mendelik tak percaya, Cilya sudah mulai berani menentangnya. Biasanya Cilya akan mudah patuh padanya. Dengan kesal, Jelita menghentakkan sebelah kakinya lalu pergi meninggalkan Cilya.


Inhale


Exhale


"Semua orang menyakiti ku!" gumamnya. Cilya mulai menyadari jika bukan dirinya sendiri, tidak ada orang lain yang akan membantu mengatasi semua masalah yang menimpanya. "Sepertinya aku harus lebih egois."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2