King Haidar

King Haidar
Kasbon


__ADS_3

...Maaf Author baru bisa up. Kemarin2 lagi gak enak badan. 🙏🙏🙏...


***


Malam itu King memutuskan untuk ikut menginap di rumah ayah Radit. King tidak mau berpisah dengan istri cantiknya yang baru saja kembali dari Singapore.


"Metamorfosismu luar biasa ya Cil." kata King yang tak hentinya menatap Cilya yang sedang mengemudi. King duduk di samping bangku kemudi agar leluasa memandangi wajah baru istrinya. Wajah yang dulu di penuhi dengan jerawat kini terlihat sangat licin, bahkan nyamuk yang hinggap pun bisa tergelincir.


Cilya hanya mencebikkan bibirnya. "Tutup mulut mu Key!" seru Cilya.


"Jangan manyun gitu Cil, pengin aku samber nih." gemas sekali melihat bibir Cilya yang mengerucut. "Boleh cium gak sih? gemes aku tuh." ingin sekali menikmati bibir mungil Cilya yang diolesi lipgloss beraroma strawberry, sepertinya.


Cilya melirik sinis pada King. "Mana mulut pedas mu yang berlevel seratus Key?" sikap King jauh berbeda dari sebelumya. Dulu King tak pernah berbicara semanis itu. Semua yang keluar dari mulut King akan menyakiti hatinya. Bahkan sampai saat ini masih teringat jelas.


"Ck!" pria itu hanya bisa berdecak. "Aku ngomong apa, kamu jawabnya apa!" malu diingatkan.


Tiba di rumah ayah Radit. King berjalan mengekori Cilya. Untuk pertama kalinya, King akan menginap di rumah orang tuanya.


Ayah Radit yang sudah tahu kedatangan Cilya dan King menyambut kedatangan mereka. Sarah dan Jelita juga ada di sana. Kedua wanita itu mendelik tak percaya dengan perubahan Cilya yang menjadi sangat cantik.


Jelita geram, karena merasa tersaingi. Ingin memberi peringkat pada Cilya, tapi situasi tidak memungkinkan. Ada ayah Radit di antara mereka.


"Sialan!" Jelita benci melihat perubahan Cilya.


"Sayang, kamu sudah pulang? ayah merindukanmu." pria paruh baya itu memeluk putri tercintanya. "Bagaimana kabarmu nak?"


Cilya membalas pelukan ayahnya. "Aku baik yah." lalu mengurai pelukan. "Bagaimana kabar ayah? apa tante Sarah merawat ayah dengan baik?" ucapan yang begitu menyindir ibu tirinya.


Sarah membeliak, tak menyangka Cilya mulia berani menyindirnya. "Tentu saja mama merawat ayah mu dengan baik." sanggah Sarah.


Cilya tersenyum tipis. "Baguslah, memang itu tugas tante." ucapnya.


Tangan Sarah mengepal di bawah sana. Anak tirinya semakin berani padanya.


"Ayah apa kabar." King mulai bersuara. Mengalami Radit dengan takzim, lalu beralih pada Sarah.


"Key.." wajah Jelita berbinar melihat King.


Alis King berkerut. "Jelita? kenapa ada disini?" tanya King perasaan.


"Dia kakak tiri ku Key." jawab Cilya.


"Oh." sebenarnya dalam hati, King terkejut mengetahui kebenarannya.


Jelita menelan kekecewaan karena King terus mengabaikannya. Kedua mata King selalu tertuju pada Cilya.

__ADS_1


Ketika makan malam berlangsung pun, King tak henti tersenyum-senyum sendiri sembari memandangi Cilya. Entah apa yang pria itu pikirkan.


"Key.. apa ada yang lucu?" tanya Cilya.


King menggeleng. "Aku gemes liat kamu. Kok jadi cantik imut imut gini ya?" ucapnya sembari mencubit kecil kedua pipi Cilya.


"Sakit Key!" Cilya menyingkirkan tangan King, mengelus pipinya.


"Ekhemm.." ayah Radit berdehem, seolah memberitahu bahwa masih ada orang di sana. "Kita lanjutkan makannya." dalam hati kecilnya merasa bahagia melihat putrinya sangat di cintai oleh suaminya.


"Maaf ayah." terlalu asik memandangi wajah Cilya membuat King lupa jika mereka masih berada di meja makan.


Jelita semakin geram, King dan Cilya terlihat sangat romantis di matanya. Hati wanita itu bersumpah ingin merebut kebahagiaan Cilya. "Key gak pantas buat Cilya!"


Seusai makan malam, ayah Radit mengajak King untuk berbincang sebentar. King hanya mendengar saja, terkadang menjawabnya jika ayah Radit bertanya.


Kedua matanya terus saja melirik ke atas, tepatnya dimana letak pintu kamar Cilya. Tidak sabar untuk masuk ke dalam dan tidur bersama istri cantiknya.


Ucapan ayah Radit bagai angin lalu. Tak sepenuhnya di dengar, King hanya mengangguk-anggukan kepala sebagai respon. Padahal pikirannya sudah di penuhi dengan Cilya, Cilya dan Cilya.


Jika yang di hadapannya saat ini bukan ayah mertuanya. King sudah pasti melenggang tanpa permisi meninggalkan pria paruh baya itu yang sedang bercerita masalah bisnisnya,


Ayah Radit mengulum senyum, ketika menyadari tatapan sang menantu tertuju lantai atas. "Sudah malam istirahat lah." pernah muda, jadi mengerti jika jiwa pria yang menikahi putrinya tengah berkobar.


"Iya ayah!" tanpa menolak ataupun basa basi, King beranjak, lalu berlari menuju kamar Cilya. Radit hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ceklek... pintu kamar terbuka. King melangkah masuk. Kemudian menutup pintu dengan rapat, tidak lupa memutar kuncinya.


King tersenyum lebar mendapati Cilya sudah berganti pakaian tidur. "Udah siap?" tanyanya dengan wajah berbinar.


"Heh?" Cilya tak mengerti.


"Aku mandi dulu deh biar wangi." ucap King. Bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Padahal sebelum pergi, King sudah mandi, masih bersih dan segar, aroma parfume pun masih tercium segar.


Cilya di buat bingung dengan tingkah King. Tak mau ambil pusing, Cilya lebih baik mengistirahatkan diri, tubuhnya masih terasa lelah.


Lima belas menit kemudian King keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono berwarna merah muda yang kekecilan di tubuhnya, milik Cilya.


"Cil.." panggil King seraya melompat naik ke atas ranjang.


Cilya yang belum sepenuhnya tidur, membeliak. "Key! apa sih bikin kaget aja." kesal Cilya.


"Abisnya kamu malah tidur!" King membuka handuk kimono yang terasa sempit, menyisakan celana boxernya saja.


"Eh mau apa?" Cilya terkejut sekaligus malu melihat King hanya memakai boxer.

__ADS_1


"Kan kita mau mulai jadi partner ranjang Cil." membayangkan adegan yang mengenakkan saja sudah membuat si mercusuar sudah memberontak. Rasanya sudah lama sekali tidak di gunakan.


Cilya mendorong dada King yang mulai mendekat, menghimpitnya. "Gak! awas minggir!"


"Yaelah Cil, coba dulu yuk.. pasti enak. Kamu bakal ketagihan." ucapnya penuh rayuan.


Cilya menggeleng. "Gak mau!"


melihat penolakan Cilya membuat King semakin gemas. King segera mengunci kedua tangan Cilya, sedangkan kedua kakinya sudah mengunci bagian bawah.


King menghujani kecupan di kedua pipi Cilya dengan gemas.


"Key!" Cilya memberontak. "Key! kamu jangan seenaknya cium cium aku." Cilya tak terima, King dengan mudah menyentuhnya. Cilya harus bisa menolak King sebelum misinya tercapai.


"Kenapa emang? kamu istri aku, jadi sah sah aja kan?"


"Kasih nafkah lahir dulu baru boleh nyentuh aku." kata Cilya.


"Iya, bentar lagi aku gajian. Ntar duitnya aku kasih semua ke kamu." ucapnya lalu King kembali menciumi pipi Cilya.


"Gak Key! satu ciuman sepuluh juta!" seru Cilya agar Key berhenti menciumnya.


King menghentikan pergerakannya. "Maksud kamu, ciuman pipi ngasih 10 juta?"


Cilya mengangguk dengan cepat. "Satu kecupan 10 juta!"


"Oke!" King setuju. "Kalau ciuman bibir berapa?"


Cilya mendelik. Bingung harus menjawab apa. Wanita itu berpikir keras agar King tidak menyentuhnya. "Emm.. 100 juta." ucapnya asal. Mana mungkin King mempunyai uang sebanyak itu saat ini.


"Oke.." jawabnya menyanggupi.


"Emang kamu punya?" tanya Cilya.


King menyeringai. "Kasbon dulu, ntar kalo udah jadi CEO aku bayar!"


"Gak ma---" ucapan Cilya tenggelam. King sudah melummat lembut bibirnya. Menyesaap penuh nikmat bibir yang sedari tadi menggodanya. Cilya melemah, tidak memberontak lagi.


Cekalan King berlahan melemah, pria itu begitu terlena hingga memberikan kesempatan pada Cilya untuk memberontak.


"Key! dasar *****boy!" Cilya mendorong sekuat tenaga suaminya.


"Aduh.." King terjungkal ke lantai.


"Tidur di luar!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2