Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan

Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan
Pernikahan


__ADS_3

Reza dan Cilla berdiri di pelaminan dengan kedua orangtuanya masing-masing. Tamu-tamu mulai berdatangan memberikan selamat kepada kedua mempelai, saling memberi salam satu persatu. Reza dan Cilla mencoba bersikap biasa agar orang-orang yang datang menganggap pernikahan yang normal. Semuanya terlihat bahagia menikmati pesta namun berbeda dengan tokoh utama, mereka hanya diam duduk di pelaminan dengan hanya melihat-lihat tamu undangan tanpa berbicara sepatah katapun.


3 jam sudah pesta pernikahan yang membosankan mereka jalani, iya membosankan menurut pasangan pengantin baru ini. Mereka berdua masuk kedalam kamar hotel yang sudah di sediakan khusus untuk pasangan pengantin baru. Adrian duduk di sofa sementara Cilla duduk di depan meja rias dan mencoba membuka hiasan di rambutnya. Dengan susah payah akhirnya Cilla berhasil membuka semuanya, Reza hanya diam saja. Bukan karena tak ingin membantu namun Reza tak ingin Cilla berpikiran yang tidak-tidak. Terlihat Cilla mencoba membuka resleting di belakang punggungnya dengan susah payah. Reza yang melihat itu lalu menghampirinya dan menarik turun resleting hingga ke pinggang Cilla. Reza tertegun sejenak menatap punggung putih dan mulus tanpa ada noda sedikitpun.


" Terimakasih, maaf aku harus berganti pakaian dulu." ucap Cilla dingin lalu menuju kamar mandi, Reza hanya diam saja dan dia pun segera mengganti pakaiannya selama Cilla di dalam kamar mandi.


Setelah mandi Cilla langsung naik ke tempat tidur dan menarik selimutnya membelakangi Reza. Sementara Reza masih duduk di atas sofa, tak lama Reza berjalan menuju tempat tidur. Cilla yang mendengar langkah Reza mendekat sangat gugup, namun tak terasa ada yang naik ke atas tempat tidur. Beberapa saat Cilla melirik ke belakang dan melihat Reza yang berbaring di sofa dengan bantal di kepalanya. Ternyata Reza yang mendekat bukan karena ingin tidur satu tempat tidur, Reza hanya mengambil sebuah bantal untuknya berbaring di atas sofa.


Semuanya hening, namun mereka belum terlelap sama sekali. Reza mengingat hari-hari sebelumnya ia memutuskan untuk menikahi Cilla menggantikan Adrian.


*** Flashback


Terlihat Adrian duduk di kursi menghadap ke arah jendela membelakangi Reza yang tengah duduk di atas sofa tak jauh dari Adrian berada.


" Loe udah memutuskan untuk mengabulkan permintaan Abang, kan Za?"


" Abang gila yah! Kenapa Abang gak jujur aja sama Cilla? Kenapa aku yang harus menggantikan Abang untuk menikahinya?" ujar Reza dengan meninggikan suaranya.


" Loe tahu kan keadaan Abang bagaimana sekarang? Abang gak mau Cilla kecewa nantinya. Abang hanya ingin Cilla bahagia, Abang juga tak ingin mempermalukan keluarga Cilla untuk tak jadi menikah sementara undangan telah tersebar."


" Pernikahan Loe tinggal 5 hari lagi bang, waktu segitu masih cukup untuk loe berpikir logis. Jangan gila kayak gini. Aku bisa menggantikan loe jadi suaminya namun aku belum tentu bisa menggantikan loe dalam hatinya." Reza masih tak percaya dengan keputusan Abangnya.


" Abang sudah memutuskan yang terbaik untuk Cilla, jadi Loe harus menjadi suaminya. Loe harus menjaga dan melindungi Cilla, Abang tahu kalau loe masih sayang sama Cilla. Makanya Abang memutuskan memilih loe buat menggantikan Abang."


" Ok, gue terima... Namun ini bukan karena gue masih sayang sama Cilla, tapi gue lakuin ini karena permintaan loe, Bang. Gue janji akan lakukan apa yang loe suruh."


" Thanks, Za. Kalau bukan loe, siapa lagi yang bisa bahagiain Cilla." Adrian menepuk pundak Reza yang masih tak percaya dengan keputusannya.


*** Flashback End


Sesuai janji gue ke loe bang! Gue bakalan jaga Cilla dengan baik dan menyayanginya dengan tulus, walaupun gue gak mendapatkan hati Cilla lagi nantinya.' gumam Reza, pasrah dengan keputusannya menikahi Cilla walau Cinta dia bertepuk sebelah tangan.


Reza menatap Cilla yang memunggunginya, terlihat dari matanya rasa sayang yang tulus yang tetap ada walaupun waktu sudah berlalu cukup lama. Sementara Cilla hanya diam seolah tertidur namun Cilla masih tak percaya dengan semua ini, bukan Adrian orang yang dia cintai yang menjadi suaminya namun Reza, orang yang ia sukai di masa lalu. Selama ini perasaan Cilla sudah terhapus untuk Reza namun malam ini hatinya berdebar-debar tak karuan karena tengah satu ruangan dengan Reza. Apakah itu debaran Cinta? Ataukah debaran karena rasa khawatir berdua dengan seorang pria?


_______


Terdengar suara bell berbunyi, Cilla terbangun lebih dahulu, ia menatap jam di dinding menunjukkan pukul 10 siang. Dengan masih sangat mengantuk Cilla berjalan menuju ke arah pintu yang sebelumnya ia melihat terlebih dahulu siapa yang datang. Mata Cilla terbelalak ketika melihat Hardi berada di depan pintu kamar hotelnya, segera Cilla berlari ke arah Reza yang masih tertidur di atas sofa.


" Za... Za... bangun, cepat bangun." Cilla menggoyang-goyangkan badan Reza sampai Reza pun terbangun.


" Kenapa? Ada apa?" tanya Reza yang masih setengah sadar.


" Ayah.... Ada ayah di depan pintu kamar, cepat kamu bereskan bantal dan selimutnya, kalau tahu kita tidur terpisah pasti Ayah akan curiga pada kita." ujar Cilla, lalu Reza melemparkan bantal dan selimutnya dengan sembarang ke arah tempat tidur. Mereka berdua merapikan rambut serta baju mereka agar tak terlalu berantakan.


Mereka setengah berlari ke arah pintu namun kaki Cilla tiba-tiba tersandung, " Awww."


" Kamu gak apa-apa?" tanya Reza.


" Iya gak apa-apa, cuma sedikit sakit saja. Udah cepat buka pintunya saja." ucap Cilla yang masih menahan sakit di kakinya.


Cilla dan Reza berada di depan pintu lalu Cilla segera membuka pintunya.


" Ayah... Bunda... ada apa Ayah dan Bunda datang pagi-pagi?" Cilla tersenyum kikuk di hadapan kedua orangtuanya.


" Pagi om... Tante..." sapa Reza.

__ADS_1


" Sepertinya sekarang sudah siang bukan pagi lagi hehehe, nak Reza jangan memanggil kami dengan Om atau Tante, kalian kan sudah menikah." ucap Sarah.


" Sepertinya ada perang semalam! Sampai tempat tidur berantakan." ujar Hardi dengan nada datar namun mengena.


" Oh... itu... Kami... Anu... " ucap Adrian yang terbata-bata.


" Oh... Kami belum membereskannya, bahkan kami baru bangun setelah mendengar bell pintu berbunyi." ujar Cilla santai lalu Reza menyenggol Cilla memberi isyarat pada Cilla namun Cilla malah tak mengerti dengan maksud dari Reza.


Cilla dan Reza berjalan masuk kamar di ikuti oleh Sarah dan Hardi di belakangnya, Sarah dan Hardi memperhatikan Cilla yang berjalan dengan sedikit pincang di kakinya.


" Reza, jangan terlalu bersemangat dengan Cilla, santai saja tak perlu terlalu bernafsu. Kasihan kan Cilla sampai jalannya seperti itu." celetuk Hardi menyindir Reza.


" Ah itu... Ayah jangan berpikiran yang aneh-aneh, kakiku kesandung meja tadi pas bangun tidur."


" Iya, Om. Eh... Ayah. Orang kami tak melakukan apapun." tambah Reza.


" Apa?" Sarah sedikit terkejut dan Hardi hanya mesem-mesem dengan jawaban Reza.


" Beneran kalian gak ngapa-ngapain?" tanya Hardi.


" Ayah apaan sih? Jangan tanya yang aneh-aneh." Cilla merasa risih.


" Udah mas, itu kan urusan pribadi mereka, kita jangan ikut campur hehehe." ucap Sarah.


" Ayah sebenarnya datang ke kamar kalian mau ngasih ini." Hardi memberikan sebuah amplop kepada Cilla lalu Cilla membukanya dan terlihat 2 buah tiket pesawat menuju ke Jepang.


" Tiket ke Jepang? untuk apa?" ujar Cilla polos.


" Kalian ini kan pengantin baru, kalian harus menikmati waktu berdua kalian tanpa siapapun yang mengganggu kan! Makanya Ayah membelikan kalian tiket ke Jepang untuk bulan madu kalian berdua."


" Kalian ini, pengantin baru yah harus bulan madu. Jadwal keberangkatan pesawatnya siang ini, pakaian kalian sudah di kemas. Kalian tinggal naik mobil yang sudah Ayah siapkan untuk berangkat ke bandara. Dan satu lagi, panggil kami ayah dan bunda, karena sekarang kamu sudah jadi bagian keluarga kami."


" Yasudah, kalau begitu Bunda dan Ayah pulang dulu, have fun yah di sana. Semoga bisa dapat kabar baik." ujar Sarah.


Mereka pun akhirnya keluar dari kamar Cilla dan Reza.


' Apa maksud dari ayah dan bunda? Kenapa mereka memberiku tiket bulan madu? Mereka pun juga tahu jika aku dan Reza tak saling menyukai. Lantas apa yang harus aku lakukan nanti? Melihat Reza yang tenang-tenang saja malah membuatku khawatir, Apa Reza akan meminta haknya padaku?' batin Cilla. Cilla melirik sesekali ke arah Reza yang terlihat santai saja.


Sebenarnya dalam hati Reza pun bergelut dengan perasaannya, ' Sebenarnya bulan madu akan menyenangkan jika di lakukan pasangan menikah dan saling mencintai, namun posisi kami sekarang berbeda, kami menikah karena terpaksa. Tapi sejujurnya aku malah bahagia bisa menikah dengan Cilla karena rasa cintaku padanya tak pernah pudar, namun lain halnya dengan Cilla yang tak menyukaiku bahkan secuil pun. Apa yang harus aku lakukan? Tidur sekamar sekarang saja membuat jantungku berdebar, walaupun kami tak tidur seranjang.'


Cilla berjalan menuju kamar mandi dan Reza pun sama berjalan menuju kamar mandi lalu mereka pun saling bertabrakan tak sadar karena pikiran mereka.


" Eh... Kamu mau mandi?"


" Iya aku mau mandi, sudah hampir waktu makan siang, aku mau cepat-cepat soalnya udah laper banget."


" Yasudah, cowok selalu mengalah hehehe... Silahkan, Ladies first..." Ujar Reza.


" Ok ok, thanks." balas Cilla singkat dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah cukup lama waktu berlalu akhirnya mereka pun turun menuju Restoran yang berada di lantai bawah. Sebelum mereka memesan pun makanan sudah datang dan terhidang di atas meja di mana mereka duduk.


" Loh, kami belum pesan, kan?" tanya Cilla heran.


" Pak Hardi sudah memerintahkan kami untuk menyiapkan semuanya ketika nona Cilla sudah datang, selamat menikmati." Pramusaji pun meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


" Hebat banget ayah kamu, tinggal perintah langsung terlaksana, mana makanannya kelihatan enak lagi." ujar Reza yang terlihat salut dengan Hardi.


" Udah jangan banyak omong, makan aja." Ketus Cilla.


" Tenang aja, aku akan habiskan semuanya. hehee." Reza pun mulai menyantap makanannya dengan sangat lahap, Cilla yang melihatnya malah tak nyaman.


Selesai sarapan, mereka hanya menghabiskan waktu di kamar dengan kegiatan masing-masing. Reza yang sedang asik memainkan games di ponselnya, duduk bersandar di atas sofa sementara Cilla pun sedang asik Chating dengan teman-temannya hanya tersenyum-senyum sendiri. Tanpa Cilla sadari, sesekali Reza menatapnya dengan penuh rasa sayang, Reza memperhatikan setiap tingkah laku Cilla yang sedang asik dengan ponselnya, yang terkadang tersenyum, tertawa atau ekspresi kesal. Dimata Reza, tingkah Cilla sangat manis dan terkesan seperti anak gadis yang cantik.


' Gadis di depanku yang selama ini aku harapkan sekarang telah menjadi istriku dengan cara yang tak terduga, aku merasa sangat bahagia bisa menikahinya. Namun aku khawatir karena pernikahan ini tak di dasari dengan rasa cinta walaupun aku mencintainya tapi dia sepertinya tak memiliki perasaan yang sama. Akankah aku bisa membuatnya mencintaiku seperti aku mencintainya?' batin Reza.


____________


" Hayo cepat za! Jadi cowok kok lelet banget."


" Bentar kali Cil, aku mau ngambil jaket dulu."


" Ayo kita turun, keberangkatan pesawat kita tinggal sejam lagi, semoga kita tak terlambat."


Mereka pun berlari menuju lift, setelahnya mereka menuju ke arah mobil yang sudah terparkir di depan hotel. Setelah masuk kedalam mobil, mereka pun merasa lega dab terlihat nafas mereka yang cepat karena capek berlari. Mobil pun melaju menuju bandara, Reza melihat Cilla yang masih terengah-engah memberikan sebotol air.


" Minumlah, kamu pasti capek."


" Makasih Za." Cilla langsung meneguk sebotol air secara langsung, Reza hanya tersenyum. Lalu Reza melihat ada air yang menetes di samping bibir ranum Cilla. Reza segera menyekanya secara lembut, membuat Cilla terdiam sejenak.


" Apa-apaan sih kamu?" Cilla menepis tangan Reza ketika ia tersadar.


" Eh.. Sorry." ucap Reza canggung.


Cilla pun membalik tubuhnya menghadap kaca mobil membelakangi Reza, Cilla pun mencoba menutupi rasa canggungnya. ' Apaan sih tuh orang?'


_________


Di dalam pesawat, Reza dan Cilla duduk di kursi eksekutif, ini pertama kalinya untuk Reza yang biasanya menggunakan kursi ekonomi yang berdesakan dan sempit namun sekarang terasa luas dan nyaman. Ketika dia masih menikmati kenyamanannya terdengar suara Cilla yang menyuruhnya untuk tak mengganggunya karena Cilla mau tidur selama perjalanan.


Cilla menaikkan pembatas di kursinya dan menyelimuti dirinya dengan selimut yang tersedia menutupi sampai sebatas lehernya. Reza yang di sampingnya tak lagi mendengar suara dari sebelahnya.


' Apa dia sudah tidur?' Gumam Reza lalu mencoba berdiri melihat Cilla.


" Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" suara pramugari mengagetkan Reza.


" Ah. ... itu, tak apa-apa, saya hanya merasa pegal saja." jawab Reza sekenanya.


" Oh iya, silahkan duduk kembali dengan nyaman. Permisi." Pramugari pun meninggalkan Reza.


Reza yang merasa tak enak lalu kembali duduk, dia membaca buku yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, tak terasa dia pun terlelap dengan buku yang tergeletak di dadanya begitu saja. Entah berapa lama Reza tertidur, dia mendengar suara Cilla yang membangunkannya.


" Za, bangun. Kita mau mendarat, rapikan semuanya dan siapkan sabuk pengamannya." ucap Cilla.


Reza pun bangun dan membereskan barangnya ke tas kecil yang ia bawa termasuk buku yang tadi dia baca. Reza pun memasang sabuk pengaman sesuai dengan arahan dari pramugari, tak lama pesawat pun mendarat dengan sempurna di bandara jepang.


Semua orang pun turun, Cilla dan Reza pun keluar, ketika berjalan mereka melihat papan nama yang bertuliskan nama Cilla dan Reza yang di bawa seseorang. Karena memang Hardi sudah menyiapkan semuanya termasuk tour guide dan supir pribadi untuk bulan madu putrinya. Cilla dan Reza segera mengikuti orang tersebut, mereka berkomunikasi dengan bahasa Indonesia karena memang tour guide tersebut sudah fasih sekali berbahasa Indonesia walaupun dia orang Jepang asli.


Bersambung....


Bagaimana dengan episode 1, jika seru bisa langsung mendukung Author dengan cara memberi Vote, Hadiah, Like, dan Komen.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2