
Reza sampai rumah pada pukul 22.00 WIB, rumah terlihat sudah sepi mungkin semuanya sudah tidur, Reza menuju kamarnya dan perlahan membuka pintu agar tak menganggu Cilla yang tidur namun ketika masuk Reza melihat Cilla masih terjaga dan sekarang malah menatapnya tajam. Reza berjalan biasa lalu meletakkan ranselnya di samping meja dan membuka jaket hitamnya lalu duduk di sofa.
" Akhirnya kamu pulang? Kenapa kamu gak ngasih kabar? Kenapa kamu tak balas pesan aku?" Tanya Cilla yang terlihat kesal.
" Gak apa-apa, yang penting aku pulang kan sekarang!" jawab Reza datar.
" Tapi kenapa kamu tak memberitahuku?" Cilla masih kesal.
" Apa pedulimu? Memangnya kamu mengkhawatirkan aku?" balas Reza yang malah balik bertanya.
" Bukan begitu, kamu kan suamiku walau hanya di surat nikah."
" Oh... Jadi kamu menganggap aku suami hanya sebatas surat nikah? Kamu tahu ayahmu menyerahkanmu padaku dalam prosesi ijab qobul dan aku yang bertanggung jawab setelah janji itu di ucapkan. Aku masih menganggap jika pernikahan itu prosesi yang sakral bukan untuk main-main. Sudahlah aku capek, aku mau mandi dan tidur, maaf juga tak memberitahumu atau mengabarimu, lain kali aku tak akan begitu." Ujar Reza yang meninggikan nada suaranya lalu kembali merendahkan nada suaranya.
Cilla hanya bisa diam dengan ucapan Reza, tak ada lagi kata-kata dari mulutnya yang bisa keluar. Mungkin perkataan Reza ada benarnya namun ia masih sulit untuk menerima pernikahan ini dengan Reza. Cilla menghela nafas lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut.
__________
Seminggu berlalu setelah kejadian itu hubungan Cilla dan Reza semakin dingin, jarang untuk berbicara hanya sesekali mereka bicara jika benar-benar perlu. Melihat itu orangtua Cilla merasa harus melakukan rencana yang pernah mereka bahas waktu dulu, saat makan malam adalah waktu yang tepat untuk mereka berdua berbicara pada Reza dan Cilla.
Reza selalu pulang terlambat entah memang karena sibuk atau mencoba menghindar dari Cilla. Namun hari ini, Hardi dan Sarah memintanya untuk datang tepat waktu untuk makan malam bersama, mau tak mau keduanya pun menuruti perkataan kedua orangtuanya. Semuanya sudah berkumpul kecuali Arka dan Arsa yang sedang melakukan camping bersama pihak sekolahnya. Asisten rumah tangga menyiapkan semua hidangan untuk makan malam, semuanya telah tertata rapi dan hidangannya terlihat sangat lezat. Namun apa yang terlihat, Cilla dan Reza tak menikmati hidangan mereka, hanya makan sedikit-sedikit seakan mereka malas untuk memakan makanannya.
" Kalian kenapa?" tanya Sarah setelah memperhatikan keduanya.
" Oh! gak apa-apa Bunda." balas Cilla.
" Di makan dong makanannya, padahal ini makanan kesukaan kalian berdua, ada ayam crispy pedas manis, cumi balado, sayur capcay dan beberapa yang biasa kalian makan kan, ayo yang banyak makannya jangan malas-malasan." ujar Sarah menyodorkan lauk ke arah keduanya.
Mereka hanya mengambil sedikit sedikit saja dan kembali makan dengan pelan dan hanya saling diam tanpa ada suara dari keduanya.
" Oh iya, Ayah mau tanya, apa kalian ada rencana memiliki anak?"
Uhuk... Uhuk... Uhuk... Cilla yang sedang minum langsung terbatuk-batuk sementara Reza yang terkejut langsung menghentikan makannya.
" Maksud Ayah, kalian kan sudah hampir 4 bulan menikah tapi belum ada tanda-tanda kalau Cilla hamil, apa... Kalian berencana menunda memiliki anak?"
" Ah... i..itu... Begini... Ayah... Sepertinya kami... belum berpikir untuk memiliki anak, kami ingin mengejar karir masing-masing." jawab Reza sedikit ragu dan terbata-bata.
" Iya, aku juga masih muda jadi aku ingin menikmati masa mudaku dulu." balas Cilla kembali minum air karena tenggorokannya masih tidak nyaman.
' Bagaimana akan hamil, tidur ada pisah!' batin Cilla.
" Sebenarnya kami ingin sekali menimang cucu, mumpung kami belum terlalu tua jadi bisa menikmati waktu lebih lama dan dapat bermain dengan mereka nantinya." ujar Sarah dengan antusias.
" Ayah dan bunda masih muda, jadi masih bisa sabar kan. Kami masih ingin menikmati pernikahan kami." balas Cilla mencari alasan.
" Iya, Bunda.... Kami belum memikirkannya sama sekali." tambah Reza setelah sedikit di senggol Cilla.
" Yasudah, semoga kalian tak menunda terlalu lama, Ayah juga berharap secepatnya mendapatkan penerus dari kalian agar keturunan ayah tidak putus." jelas Hardi.
__ADS_1
" Tapi kan masih ada Arka dan Arsa, pasti tak akan putus." balas Cilla blak-blakan.
" Iya, memang benar. Tapi mereka masih kecil, masih lama untuk menikah apalagi untuk memiliki anak. Tapi kalian kan tinggal merencanakan saja bisa terlaksana." tambah Hardi.
" Iya, kalau kami udah siap, pasti kami akan memiliki anak." ujar Cilla, Reza hanya diam saja.
' Aku gak tahu sampai kapan tapi apa mungkin kami akan memiliki anak? Sementara aku masih enggan melakukan sesuatu selayaknya pasangan suami istri yang sesungguhnya.' batin Cilla.
Mereka pun kembali ke kamar masing-masing setelah makan siang usai. Cilla duduk di sofa begitupun Reza namun duduk mereka berjauhan.
" Ngapain sih Ayah dan Bunda ingin kita cepat punya anak? Padahal kita kan masih muda." ucap Cilla sedikit jengkel.
" Memang kenapa? Apa salahnya memiliki anak saat kita masih muda? malah bagus kan kalau nanti anak kita besar dan kita masih sehat bugar." balas Reza yang tak menolak keinginan mertuanya.
" Kamu tahu kan kalau punya anak harus melakukan itu! Aku belum siap, apalagi aku baru pertama kali, pasti......" ujar Cilla lalu berhenti tak melanjutkan perkataannya.
" Yah memangnya aku pernah? Aku juga baru pertama kali tahu."
" Ah masa?" ejek Cilla.
" Yeh... emangnya kamu pikir aku cowok apaan?" ujar Reza sedikit jengkel.
" Ogah ah, buat aku jatuh cinta sama kamu sebelum itu terjadi." tantang Cilla.
" Ok lihat saja nanti, aku akan membuat kamu bertekuk lutut padaku." ujar Reza dengan percaya diri.
" Cih... sombong, selama luka hatiku belum sembuh tak akan ada yang bisa membuatku jatuh cinta." ucap Cilla.
' Optimis banget itu orang, hati memang bisa berubah namun butuh waktu yang cukup lama untuk itu terjadi.' batin Cilla.
_________
Sahabat Cilla meminta untuk saling bertemu, karena sudah cukup lama mereka tidak bertemu semenjak lulus kuliah. Sekalian pertemuan dengan teman SMA lainnya yang sekelas dengan mereka, bisa dikatakan reuni kecil-kecilan. Cilla sangat setuju karena memang ingin tahu kabar mereka setelah sekian lama tak bertemu. Termasuk Reza juga satu kelas dengan Cilla saat SMA sehingga dia pun ikut acara tersebut.
Acara di langsungkan pada sore hari di sebuah cafe yang cukup terkenal untuk tongkrongan anak muda, yang datang tak begitu banyak mungkin hanya sekitar 15 orang saja karena sebagian sudah hilang kontak atau pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri. Cilla datang dengan mobilnya bersama Dona dan Citra yang telah di jemput sebelumnya, sementara Reza datang menggunakan motor bersama kedua temannya yang masing-masing mengendarai motornya.
Reza dan Cilla sampai hampir bersamaan sehingga mereka dan sahabatnya masuk secara bersamaan. Teman-temannya yang sampai terlebih dahulu sedikit tercengang dengan penampilan menonjol Cilla dan Reza seakan mereka adalah tokoh utama di pesta ini. Cilla yang berpakaian casual namun terlihat mewah dengan kaos putih bermerk, celana jeans berwarna hitam di tambah sepatu kets berwarna putih membuatnya terlihat cantik terutama di tunjang dengan proporsi tubuh yang ideal membuatnya terlihat sempurna. Sementara Reza yang mengenakan kaos berwarna cerah dipadukan dengan jaket denim berwarna hitam dan celana jeans berwarna hitam di tambah sepatu kets berwarna cerah membuatnya terlihat tampan bak supermodel.
" Ok, karena semuanya sudah datang, ayo kita mulai acara reuniannya, di awali dengan makan-makan terus nanti ada acara games dan karaoke bersama. Mari kita ucapkan terima kasih kepada Cilla yang telah mempersiapkan cafe ini hanya untuk kita tanpa orang lain agar pesta kita tak ada gangguan. Terimakasih Cilla." ujar salah satu temannya yang berperan sebagai MC.
" Hei, kamu menyewa semua cafe ini?" bisik Reza pada Cilla.
" Iya, bagus kan biar kita gak keganggu?"
" Iya, tapi...... Yasudahlah terserah kamu." ucap Reza yang terlihat kesal.
Semuanya terlihat bahagia dengan acara tersebut seakan mereka menjadi dekat kembali, mereka pun saling bercerita tentang kehidupan masing-masing mulai dari pekerjaan bahkan percintaan. Di antara semua yang datang tak ada satu pun yang sudah menikah kecuali Amel yang memang sudah menikah dan sekarang sedang hamil jadi dia tak bisa hadir. Sementara pernikahan Cilla dan Reza tak ada seorangpun yang tahu kecuali kedua sahabat Cilla yaitu Citra dan Dona.
Ketika Reza mulai menyanyi semua orang bersorak, suara reza yang merdu di padukan dengan lagu yang pas membuat semua orang terlena hingga mendengarkan dengan saksama. Setelah itu semua orang mendorong Cilla untuk bernyanyi, Cilla yang tak mau karena memang tak bisa bernyanyi terus saja di paksa sehingga mau tak mau Cilla pun maju ke depan dan musik pun di putar. Memanglah benar jika Cilla tak bisa bernyanyi semua yang ia nyanyikan keluar dari nada, mendengar itu Reza kembali berdiri dan ikut bernyanyi bersama Cilla. Lagu yang di putar adalah lagu tentang pasangan kekasih yang saling jatuh cinta, Reza sangat menghayati lagunya sampai dia terus mendekati Cilla. Semua orang bersorak dengan keromantisan Reza pada Cilla sementara Cilla hanya diam dengan wajah yang merona. Semuanya berteriak untuk mereka pacaran, " Kalian sangat serasi, kalian cocok jadi pasangan, Pacaran ... pacaran... pacaran... pacaran... pacaran." Mendengar itu Reza merasa geli sendiri, mereka tak tahu saja jika dirinya dan Cilla bukan hanya pacaran bahkan mereka sudah menikah. Dona dan Citra pun hanya cengengesan, Cilla memberi isyarat agar Dona dan Citra diam saja (tutup mulut) agar pernikahannya tak diketahui yang lainnya.
__ADS_1
Cilla kembali duduk bersama kedua sahabatnya setelah lagunya habis, begitu pun Reza kembali bergabung dengan yang lainnya.
" Cil, gue lihat wajah loe merah gitu, padahal kalian sudah nikah 4 bulan, kayak orang yang baru kasmaran." bisik Dona.
" Masa sih? wajah aku merah, ah ngaco loe." Cilla memegang pipinya dengan kedua telapak tangannya.
" Kayaknya loe udah mulai punya rasa nih sama Reza." goda Citra.
" Gak, gak juga kali, gue cuma kepanasan di deketin tuh orang." ucap Cilla ngeles.
" Udah, terima saja Reza, toh dia sudah jadi suami loe." ujar Dona.
" Tumben loe ngomongnya bener! Bukan gue gak suka sama Reza tapi perlakuan Adrian ke gue, bikin gue sakit hati. Gue masih gak bisa membuka hati gue buat siapapun." jelas Cilla.
" Udah 4 bulan loh kalian udah ngapain aja?" ujar Citra cengengesan.
" Gue, gak ngapa-ngapain." balas Cilla santai.
" Beneran? Duh sayang banget yah. Tubuh dan wajah kayak Reza itu langka dan susah di dapat, kalau aku sih mana tahan." ujar Dona yang sok centil.
" Gak, gue biasa aja, walaupun sekamar juga tapi gue juga gak memungkiri kalau Reza ganteng."
" Tuh kan... Udah jalani pernikahan kalian dengan sungguh-sungguh dan cepat bikin keponakan buat kita." ujar Citra semangat.
" Ntar kita juga kan dapat ponakan dari Amel." Cilla mencoba menghindar.
" Yah si Amel yah si Amel, kan Loe beda lagi." tambah Dona.
" Gak tahu ah, lihat aja nanti." ucap Cilla ngeles.
Terlihat seorang teman wanita menghampiri Reza, ia duduk sangat dekat dengan Reza dan mengajak Reza berbincang, sesekali wanita itu mencoba menyentuh-nyentuh tubuh Reza dan Reza pun hanya diam saja, padahal dalam hatinya dia merasa risih namun Reza tak menunjukannya agar tak menyakiti hati teman wanita itu. Citra dan Dona yang melihatnya sangat tak suka dengan perlakuan wanita itu, lalu mereka melihat Cilla yang terlihat biasa saja sambil meminum sekaleng soda di tangannya dan sesekali mengambil cemilan dan memakannya.
' Tuh cewek kenapa sih dekat-dekat terus sama Reza? Tak tahu aja istrinya lihatin. Si Reza juga sih kenapa diam saja di gerayangin kayak gitu.' geram Cilla dalam hatinya.
" Loe beneran gak cemburu?" tanya Dona yang melihat Cilla tak peduli.
" Gak, biasa saja." balas Cilla datar.
" Beneran loe yah, suami sendiri digituin sama cewek lain, loe diam doang." ucap Citra yang tak habis pikir dengan sikap Cilla.
" Yah, terus gue harus ngapain? Nampar tuh cewek, menjambak itu cewek atau marahin tuh cewek? kalian kan tahu kalau yang lainnya tak tahu kalau aku sama Reza udah nikah, emangnya kalian mau nyebarin pernikahan kami?" ujar Cilla terkesan cuek saja.
" Terserah loe aja deh." Dona sudah tak ingin lagi berbicara tentang Cilla dan Reza, ia kembali memakan cemilan dan meminum sekaleng sodanya.
Acara usai pada pukul 22.00 WIB, mereka pun pulang. Seperti sebelumnya Reza pulang naik motor sementara Cilla mengendarai mobilnya, Citra dan Dona tak ikut di mobil Cilla karena mereka akan pergi dulu ke suatu tempat, sebenarnya Cilla juga ingin ikut namun ia tak bisa jika ayahnya tahu pasti dia di marahi lagi seperti dulu. Pernikahan memang sedikit mengekangnya tak bisa bebas seperti dulu namun semuanya tak bisa berubah, sekarang ia harus menjalaninya. Walaupun dia tak menginginkan pernikahan ini, ia juga tak menginginkan perceraian. Cilla dan kedua temannya berpisah saat keduanya telah mendapatkan taxi dan Cilla pun melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah, Reza sengaja belum pulang sebelum Cilla pulang, Reza mengikuti mobil Cilla dari belakang agar tak ada hal yang tak di inginkan dan sampai tujuan dengan selamat.
Bersambung.....
Selalu dukung Author dengan cara meninggalkan jejak setelah membaca.
__ADS_1
Terimakasih ☺️