Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan

Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan
Harus memilih


__ADS_3

Saat ini Reza ada pertemuan dengan salah satu klien terbesar di perusahaannya, termasuk salah satu investor terbesar juga yang menyokong jalannya perusahaan mereka.


Pertemuan ini akan membahas tentang memperbaharui kontrak kerja mereka dan meminta lebih banyak investasi agar perusahaan dan proyek yang sedang di jalankan berjalan dengan lancar.


Reza melihat jam di tangannya, dia sudah 30 menit menunggu lebih lama dari waktu yang telah mereka sepakati. Jika bukan orang penting pasti Reza tak akan mau menunggu dan dia sangat tidak suka dengan orang yang suka telat.


Secangkir kopi telah dia habiskan dan sekarang dia kembali memesan secangkir lagi, ketika itu orang yang Reza tunggu akhirnya datang juga.


* Percakapan dalam bahasa Inggris*


" Maaf, kami terlambat, tadi ada kendala sebentar hingga memakan waktu dan molor dari waktu yang kita janjikan." Seorang pria berumur datang bersama seorang wanita muda yang sangat cantik.


" Tidak apa-apa, silahkan duduk." Walaupun hatinya kesal namun Reza tetap berlaku sopan guna hubungan bisnis mereka.


Mereka bertiga pun duduk lalu Reza melihat gadis di samping pria itu yang ternyata dia kenal.


" Anda Reza kan, yang mewakili perusahaan Delta Company? Perkenalkan, nama saya Duke CEO perusahaan YOUNG Group. Dan orang yang di samping saya namanya Tiffany, bagaimana cantik, kan?"


" Oh iya, Saya Reza. Saya yeng menangani proyek ini mewakili papa saya." Reza tak menjawab pertanyaan mr. Duke.


" Oh iya, yang saya tahu Tiffany dan anda itu satu kelas saat SMA. Pasti kalian saling kenal."


" Iya, saya tahu dengan putri mr. Duke."


" Kami satu kelas, aku juga sangat kenal dengan Reza karena dia murid baru di kelasku. Bahkan kami sering mengobrol dan kamu juga ak-----" Omongan Tiffany terhenti ketika Reza memotong pembicaraan sehingga membuat Tiffany merasa kesal.


" Kalau begitu kita langsung ke intinya saja, apa mr. Duke sudah membawa berkas dokumennya? Biar saya periksa."


Mereka berlanjut membahas pembicaraan dengan serius, Reza hanya fokus dengan diskusinya walaupun Tiffany terkadang mencoba mencari perhatiannya.


Tak ada respon sama sekali dari Reza sampai pembicaraan bisnis selesai membuat Tiffany kesal sendiri.


" Semuanya saya setuju dan saya akan berinvestasi lebih besar namun ada 1 syarat. Saya minta anda dan putri saya untuk saling dekat, bisa juga di artikan kalian untuk bertunangan. Karena putri saya sangat menyukai anda." Perkataan mr. Duke membuat Reza sangat terkejut, Tiffany tersenyum licik karena rencananya bisa terealisasi.


" Baiklah kalau begitu saya akan membatalkan kontrak kita." Ujar Reza tegas lalu berdiri hendak meninggalkan tempat duduknya.


" Apa itu memang keputusan anda? Apa anda tahu berapa besar nilai kontrak bisnis kita? Perusahaan ayah anda pasti akan gulung tikar jika perusahaan saya mencabut kontraknya. Apa anda yakin dengan keputusan anda?" Perkataan itu membuat Reza terdiam, lalu ia kembali duduk.


" Saya tidak suka masalah pribadi di sangkut pautkan dengan bisnis dan anda tahu jika saya sudah menikah!" Reza terlihat menahan amarahnya.


" Iya, saya sudah mendengarnya dari ayah anda tapi hubungan kan bisa di akhiri. Anda tinggal menceraikan istri anda dan menjalin pertunangan dengan putri saya." Ujar Mr. Duke meremehkan pernikahan.


" Jaga bicara anda, sampai kapanpun saya tak akan pernah meninggalkan istri saya karena saya sangat mencintainya. Soal kontrak kita saat ini, saya akan mempertimbangkan kembali." Reza segera pergi meninggalkan mereka berdua.


Tiffany terlihat kesal dan hendak mengejar Reza namun di tahan oleh ayahnya, itu membuat Tiffany menjadi tambah marah.


" Kamu sabar, pasti Reza akan menerima persyaratan dari kita, dia tidak ada pilihan lain soalnya kita termasuk investor terbesar perusahaannya. Jika dia kehilangan kontrak dengan kita pasti perusahaannya akan krisis keuangan." Mr. Duke sangat percaya diri.


" Tapi Dady harus janji bisa mengabulkan keinginanku ini, aku sangat suka Reza dari dulu, aku harus menikah dengan dia." Rengek Tiffany bak anak kecil.


Sementara Reza terlihat sangat kesal dengan apa yang terjadi, ia tak habis pikir kenapa Tiffany tiba-tiba muncul dan mencoba merusak perusahaan serta pernikahannya. Dia tak akan tinggal diam, dia akan menyerahkan kembali perusahaan itu sepenuhnya kepada Adrian.


Sesampainya di rumah dia langsung masuk kamar dan mengambil koper serta mengambil baju-bajunya dari lemari lalu memasukkannya ke dalam koper tersebut.


Cilla yang melihat tindakan suaminya hanya menatapnya bingung lalu ia mencoba menghentikan suaminya untuk tahu alasan kenapa tiba-tiba ia ingin pulang dan langsung berbenah.


" Za... Stop Za... Za... Sebenarnya kamu kenapa sih? Za... Bilang dong sama aku, kamu kenapa?" Cilla berusaha menghentikan Reza, setelah lengannya di genggam Cilla akhirnya dia pun berhenti.


" Tenang Za, coba ceritakan padaku. Kenapa kamu ingin cepat pulang?" Cilla menenangkan Reza dan memintanya untuk bercerita padanya.

__ADS_1


" Aku tak mau kehilangan kamu, aku sangat mencintaimu, sampai kapanpun aku tak akan pernah meninggalkanmu." Reza tiba-tiba memeluk Cilla dengan mata yang berkaca-kaca.


" Sebenarnya ada apa? Sampai kamu seperti ini." Cilla membalas pelukan Reza.


" Investor besar perusahaan Delta Company meminta aku untuk bertunangan dengan anaknya." Ujar Reza.


" APA?" Cilla sangat terkejut hingga melepaskan pelukannya.


" Iya, jika aku tidak menerima persyaratan mereka maka mereka akan menarik investasinya di perusahaan papa. Aku gak mau jadi kita pulang." Reza kembali berdiri lalu merapikan pakaiannya dalam kopernya.


" Terus, apa yang terjadi jika investasi itu di tarik?" Cilla terlihat dingin.


" Kemungkinan besar akan gulung tikar. Makanya kita harus pulang saja jangan hiraukan itu." Reza menggenggam tangan Cilla yang gemetar menahan rasa yang campur aduk di hatinya.


" Kenapa harus kamu? Kan masih ada Adrian. Apa mereka tahu jika kamu sudah menikah?" Cilla melontarkan pertanyaan dengan nada tinggi.


" Itu karena gadis yang akan di pertunangan dengan aku itu adalah teman sekolahku saat di sini." Reza menahan tangan Cilla yang semakin gemetar.


" Terus apa kamu rela jika perusahaan papa kamu bangkrut? Apa kamu rela semua impian papamu lenyap? Air mata Cilla mengalir di pipinya, Reza hanya diam tak bisa menjawab.


Suasana jadi hening, tak ada suara di kamar tersebut, Cilla dan Reza saling diam namun air mata Cilla terus mengalir begitu saja tanpa ia sadari.


" ...... Kamu terima saja pertunangan ini?"


" APA?"


" Iya, kamu terima saja pertunangan ini. Aku tak ingin perusahaan papa yang telah di rintis lama bangkrut begitu saja karena hal sepele."


" APA KAMU GILA? HAL SEPELE MAKSUDMU? Ini hal yang sangat serius, ini menyangkut pernikahan kita. Kamu bilang hal sepele!! .... Apa... Jangan-jangan kamu masih menganggap pernikahan ini sebuah kesalahan?" Reza terlihat emosi setelah mendengar perkataan dari istrinya.


" Tidak ... Bukan itu maksud aku. Aku sangat menghormati pernikahan kita dan aku juga tak ingin berpisah denganmu tapi... Tapi bagaimana dengan perusahaan papamu? Apa hancur begitu saja?" Tangisan Cilla pun pecah, ia tak bisa berpikir jernih dengan keadaan ini.


" Gak bisa seperti itu, kita harus mencari jalan keluar yang lain." Reza menarik Cilla yang menangis ke dalam pelukannya.


" Tapi jika kita mendapatkan investor yang berinvestasi lebih besar mungkin masalah perusahaan akan selesai." Reza merasa itu pilihan yang tepat tapi siapa yang akan berinvestasi pada perusahaan kecil yang hampir gulung tikar.


" Oh iya... Bagaimana kalau aku meminta tolong pada Ayah? Pasti dia mengerti dan bisa membantu perusahan Papa." Cilla melepas pelukan Reza.


" Apa Ayahmu akan setuju?" Reza terlihat ragu.


" Pasti dia akan bantu, apalagi jika aku bilang masalahnya." Cilla terlihat sangat optimis.


" Baiklah, kamu bisa mencoba berbicara pada Ayahmu, biar nanti aku siapkan berkas dokumennya." Ujar Reza yang kembali semangat.


" .... Apa dia cantik?" Ucap Cilla dengan ragu.


" Siapa?"


" Wanita yang ditawarkan untuk jadi tunanganmu."


" Cantik." Jawaban Reza membuat Cilla cemberut.


" Dia cantik, tapi kamu lebih cantik di mataku." Pernyataan Reza membuat pipi Cilla bersemu merah, hatinya senang mendengar kata itu dari mulut suaminya.


" Baiklah, aku besok harus pulang ke Indonesia dan membicarakan hal itu pada ayah, kamu tetaplah bertahan di sini agar perusahaan kalian tak terjadi apa-apa."


" Apa? Kenapa kamu harus pulang? Bisa bicarakan lewat telpon saja."


" Gak bisa Za, ini masalah penting dan menyangkut uang banyak jadi harus di diskusikan secara langsung."

__ADS_1


" Ok kalau begitu." Dengan berat hati Reza pun mengijinkannya.


Keesokan harinya Cilla sedang mengepak pakaiannya kedalam koper dan Reza membantunya. Tak banyak, hanya 1 koper yang dia bawa pas pertama dan tak bertambah, kebetulan juga sudah seminggu mereka berada di Australia.


Cilla harus membahas rencananya kepada ayahnya yang mungkin bisa membantu, namun Cilla yakin ayahnya akan berinvestasi jika tahu taruhan dari bisnis ini adalah pernikahan putrinya sendiri.


" Kamu beneran mau pulang hari ini?"


" Iya, biar urusannya cepat selesai." Cilla menutup kopernya yang sudah rapi.


" Kayaknya aku bakalan kangen berat jika jauh sama kamu."


" Jangan sok manja deh, aku akan selesaikan semuanya dengan cepat biar kamu juga bisa pulang ke Indonesia."


" Kamu tahu kan, selama kita disini, kita tak bisa menghabiskan waktu berdua lebih lama karena aku sibuk. Apa lagi kita tak melakukan 'Itu' karena terlalu capek." Keluh Reza yang tak rela harus berpisah dengan Cilla walaupun hanya beberapa hari saja.


" Otak kamu itu pikirannya ke sana terus, makanya otak di cuci jangan di biarkan kotor kayak gitu." Cilla mengambil air mineral lalu meneguknya hingga habis.


" Gak apa-apa kali, kan sama istri sendiri, wajar kan! Tuh lihat kamu cuma segini aja udah keringatan." Reza mengambil tisu lalu mengelap keringat di bagian wajah Cilla.


Cilla hanya diam saja dengan apa yang Reza lalukan, lalu mereka beradu pandang sehingga ada suatu dorongan dalam diri mereka masing-masing.


Jantung mereka semakin berdebar lebih cepat ketika wajah mereka lama kelamaan semakin mendekat dan akhirnya bibir mereka menyatu. Ciuman yang hangat antara keduanya, mata mereka terpejam menghayati apa yang sedang mereka lakukan.


Cukup lama mereka berciuman lalu kemudian mereka pun saling melepaskan karena waktu berangkat telah tiba, jika tidak Cilla akan terlambat menyadari Airport.


" Hehehe lihat lipstik kamu jadi belepotan." Reza menyeka lipstik dan bibir Cilla yang sedikit basah dengan tisu.


Lalu Cilla merapikan kembali riasannya dan mengoleskan kembali lipstik pada bibirnya yang tipis.


Reza mengantarkan Cilla sampai ke Airport, dia pun menunggu Cilla sampai jam keberangkatan tiba. Reza tak hentinya merangkul pundak Cilla ketika mereka duduk menunggu. Walaupun pandangan orang tertuju pada mereka berdua namun Reza tak bergeming. Ia tak ingin berjauhan dengan istrinya, sebenarnya dia tak rela untuk melepaskan Cilla kembali ke Indonesia.


Setelah beberapa saat menunggu, informasi keberangkatan sudah di umumkan dan Cilla pun mulai bersiap-siap untuk menuju ke dalam pesawat.


" Kalau sudah sampai, kamu harus telpon aku yah! Dan jangan lupa jaga kesehatan dan setiap hari kita harus saling komunikasi, jangan sampai ponsel kamu mati terus charge secara berkala....." Ocehan Reza tak hentinya sampai membuat Cilla terkekeh.


" Kenapa?" Ketika Reza melihat Cilla tertawa ringan.


" Kamu tuh kayak cewek yang gak mau LDRan, aku saja biasa saja hehehe. Aku janji akan menghubungimu setiap hari." Ujar Cilla masih tak tahan dengan tingkah suaminya.


" Iya, aku juga akan menghubungimu bukan tiap hari lagi melainkan setiap waktu luang aku pasti akan menghubungimu." Tegas Reza meyakinkan.


Sebelum pergi, Reza memeluk istrinya erat seperti tak mau di lepaskan, namun tetap saja Cilla harus segera pergi agar tak ketinggalan pesawat. Lambaian tangan mereka sebagai tanda perpisahan namun senyuman mengembang di bibir keduanya.


Setelah Cilla hilang dari pandangan Reza, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda pesan chat masuk, lalu Reza pun membaca pesan tersebut.


Dengan helaan nafas seperti tak berkenan, Reza terpaksa membalas pesan tersebut yang mengajaknya untuk makan malam, siapa lagi kalau bukan Tiffany yang sedang mencoba mendekatinya.


Kenapa sih nih orang gak tahu diri? Masih aja ngejar suami orang padahal udah gak aku respon. Kalaupun aku harus bertahan ini karena aku tak mau perusahaan papa hancur begitu saja, mana sudi aku ketemu dengan dia.


Gerutu Reza dalam hatinya yang enggan untuk bertemu, apalagi harus pergi untuk makan malam yang pasti akan menghabiskan waktu lebih lama.


Reza harus segera kembali ke rumahnya dan ingin mendiskusikan tentang Syarat dari perusahaan YOUNG Group, sebuah syarat yang tidak masuk akal tersebut.


Dalam perjalanan Reza berpikir, apakah ada cara lebih mudah untuk menghindari Tiffany yang terobsesi padanya selain meminta investasi pada ayah mertuanya? Sebenarnya dalam hati Reza tak ingin merepotkan mertuanya dalam bisnisnya tapi jika tak ada jalan keluar lainnya.


Di sisi lain, Tiffany merasa sangat bahagia karena pesan yang ia kirimkan kepada Reza langsung di balas. Ia merasa jika dirinya mendapatkan respon dan itu sebagai bukti jika dirinya masih punya harapan kepada Reza.


Lihat saja nanti, pasti kamu akan bertekuk lutut di hadapanku dan akan jatuh cinta kepadaku seperti aku mencintaimu. Batin Tiffany.

__ADS_1


Bersambung....


Lanjut kah?


__ADS_2