
Reza baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Cilla menatap suaminya dengan lekat dan Reza pun menyadari tatapan istrinya pada tubuhnya.
" Kenapa? Kamu terpesona dengan tubuhku." Reza sangat percaya diri.
" Eng... Itu, sepertinya otot-otot kamu sudah mulai kendor, mungkin kamu sudah jarang olahraga karena pekerjaan yang sangat sibuk."
" Masa sih? Apa aku separah itu? Iya sih aku memang udah gak berolah raga." Reza meraba dada dan perutnya yang ototnya sudah mulai menghilang.
" Oh iya, aku masuk club tenis, kebetulan besok jadwal latihan, apa kamu mau ikut? Masih ada waktu sehari kan untuk menghabiskan waktu bersama dengan bermanfaat." Ajak Cilla.
" Sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu seharian di kamar tapi benar juga sih aku perlu olahraga. Kalau begitu aku ikut kamu ke club tenis besok." Reza menyetujui ajakan istrinya.
" Kita ke meja makan untuk makan malam, ada yang ingin ayah bicarakan pada kita."
" Ok." Reza mengenakan pakaian santainya.
Mereka berdua keluar dari kamar menuju meja makan, mereka melihat makanan di meja sudah terhidang dan mereka berdua pun duduk di sana menunggu kedatangan orangtuanya dan adik-adiknya.
Sambil menunggu, mereka berdua saling berbincang dab Reza selalu bercanda dengan Cilla, hingga terkadang Cilla cemberut ataupun tertawa terbahak-bahak.
" Ehheemmm." Terdengar suara hingga mereka pun berhenti dan ternyata orangtuanya sudah datang.
" Kalian sudah menunggu lama?" Bunda Sarah duduk di kursinya, begitupun dengan ayah Hardi yang duduk di sampingnya.
" Gak kok Bun, baru saja kami juga duduk." Ujar Cilla yang menepis tangan Reza yang menyentuhnya di bawah meja.
" Kalian semakin hari semakin dekat dan semakin harmonis, Bunda senang kalian bahagia." Sarah menyendokan nasi untuk Hardi.
Melihat itu, Cilla pun melakukan hal yang sama untuk suaminya. Iya ingin mencoba mencontoh Bundanya yang bisa menjadi istri yang melayani suami dengan baik dalam setiap hal, bukan hanya masalah di atas tempat tidur.
" Tumben kamu kayak gini." Bisik Reza di telinga Cilla.
" Yah aku coba untuk jadi istri yang baik." Bisik Cilla.
" Aku tak mau merepotkan kamu, cukup layani aku di ranjang saja aku sudah senang." Bisik Reza dengan senyum di tahan.
Cilla merasa malu lalu dia mencubit perut Reza hingga Reza meringis kesakitan.
" Kenapa?" Tanya Bunda Sarah.
" Eh.. Gak apa-apa Bun, tadi ada semut nyubit ... Eh... Maksud aku gigit." Ujar Reza yang menggosok-gosok perutnya yang terasa sakit.
" Sudah, kalian jangan bercanda terus cepat makan." Ujar Hardi.
" Si Kembar kemana? Gak ikut makan?" Tanya Cilla melihat kedua adiknya tak ada di meja makan.
" Katanya sih belum lapar. Mereka sedang main games bersama di kamar, kalau lapar juga mereka makan." Balas Bunda Sarah.
" Za, bagaimana keadaan perusahaan orangtuamu di sana?" Hardi membuka pembicaraan yang serius.
" Saya ingin berterimakasih pada Ayah karena telah memberikan investasi yang sangat besar pada perusahaan kami. Berkat Ayah, perusahaan kami dapat berjalan lancar, hanya tinggal beberapa yang harus kami perbaiki dan kami kembangkan." Reza sangat berhutang budi kepada mertuanya.
" Bagaimana dengan perempuan itu? Apakah masih mengganggu kamu? Ayah melakukan ini demi hubungan kalian berdua. Ayah yak ingin Cilla di tinggalkan begitu saja hanya demi bisnis, jangan pernah menyakiti Cilla jika kau melakukannya, hidup kamu dan juga keluarga kamu bisa saja saya hancurkan."
Hardi terlihat serius dengan ucapannya jika menyangkut putri satu-satunya.
" Untuk saat ini dia masih mengganggu saya dengan Chat serta telpon, namun saya akan mencoba memberinya pelajaran untuk tak mengganggu saya lagi. Saya berjanji selamanya saya akan mencintai Cilla dan tak ada niatan hati untuk meninggalkannya. Percayalah pada saya, Cilla akan saya buat bahagia selama menjadi istri saya." Reza menjawab dengan keyakinannya.
" Baik, Ayah percaya. Semoga kalian selalu bahagia. Katanya kamu akan kembali ke Australia besok?"
" Iya, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu dan nantinya bisa menyerahkannya kepada Bang Adrian."
" Bagaimana keadaan papa kamu? Apa sudah baikan?"
" Entahlah, kata dokter, keadaannya turun naik. Maksud saya, terkadang stabil dan terkadang perlu penanganan khusus. Beliau juga masih belum sadar." Reza terlihat sedih menceritakan kesehatan Papanya.
" Kenapa kalian gak tinggal di sana saja? Kamu bisa mengurus perusahaan kamu dan sekaligus bisa memantau kondisi papamu."
" Memangnya boleh Yah?" Tanya Cilla.
" Kenapa tidak? Kalian sudah menikah, mau di bawa kemanapun jika dengan suami kamu, Ayah tak masalah."
__ADS_1
" Iya sih, sebenarnya saya dan Cilla memang ada rencana untuk tinggal sementara di sana. Tadinya kami juga ingin membicarakan hal ini dengan Ayah dan Bunda. Meminta ijin untuk pindah sementara, tapi jika Ayah sudah mengijinkan seperti ini. Saya akan persiapkan semuanya, namun untuk besok saya akan berangkat ke sana sendiri dulu. Terimakasih banyak." Reza terlihat senang sekaligus sungkan kepada kedua mertuanya.
Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing, terlihat Cilla cemberut dan gak mau bicara kepada Reza.
" Kamu kenapa lagi sih? Cemberut terus, nanti wajah cantiknya hilang." Reza mendekati Cilla dan memegang dagu Cilla agar Cilla menatapnya.
" Kenapa kamu gak mau mengajak aku?" Cilla terlihat sedih.
" Aku hanya sebentar, biar semuanya cepat kelar."
" Kayaknya kamu gak mau di ganggu untuk bertemu cewek itu." Cilla curiga kepada suaminya.
" Ya ampun sayang, aku itu cinta banget sama kamu, aku gak ada pikiran untuk selingkuh dari kamu."
" Makanya, aku mau ikut. Aku masih kangen kamu." Cilla memeluk suaminya.
" Kamu ini, udah dewasa tapi masih bersikap kekanak-kanakan. Itu yang buat aku jatuh cinta padamu." Reza mengecup kening Cilla.
" Ih... Kamu senang banget memegang itu." Cilla merasa geli dengan apa yang Reza perbuat.
" Habisnya aku suka." Reza mencium istrinya dengan penuh kasih sayang.
" Jadi... Aku boleh ikut kan." Cilla berharap Reza mengajaknya.
Reza pun mengangguk, ia lalu mengangkat tubuh Cilla, menggendongnya dan membawanya ke atas tempat tidur.
" Sudah lama kita tidak melakukan itu, kamu mau kan?" Reza mencium samping leher Cilla hingga membuat Cilla merasa geli.
Cilla mengangguk tanda ia setuju, mereka pun saling bercumbu mencurahkan rasa rindu mereka yang selama ini tertunda. Bagian atas pakaian Cilla sudah di lempar entah kemana lalu Reza pun hendak membuka kaosnya namun tiba-tiba terdengar pintu di ketuk membuat mereka pun terkejut, Reza tak jadi membuka kaosnya sementara Cilla menutupi tubuhnya dengan selimut lalu berpura-pura untuk tidur.
Reza membuka pintu dan terlihat Hardi di balik pintu kamar.
" Ayah, ada apa yah?" Reza mencoba mengatur nafasnya yang untuk normal kembali.
" Ini, ayah sudah belikan kalian tiket ke Australia dan akan berangkat besok malam. Ayah sengaja beli 2 tiket, karena pasti Cilla ingin ikut atau maksa pada kamu." Hardi menyerahkan 2 tiket kepada Reza.
" Cilla mana? Apa dia tidur? Biasanya dia suka ribut kalau dengar dia bakalan ikut sama kamu." Tambah Hardi.
" Yasudah, lanjutkan pekerjaanmu." Hardi pun pergi meninggalkan kamar Reza dan Cilla.
Reza pun menghela nafas lega, selalu saja ada gangguan ketika dia akan berbagi kasih sayang dengan Cilla. Reza menyadari jika bagian bawah celananya masih mengembang, semoga ayah mertuanya tadi tidak melihatnya seperti itu.
Reza melompat ke atas ranjang, menarik selimut yang Cilla kenakan, terlihat tubuh atas Cilla yang polos membelakanginya. Reza mencolek tubuh Cilla namun tak ada respon sama sekali, lalu dia melihat ke arah wajah Cilla yang ternyata matanya telah terpejam dengan nafas yang teratur, pertanda Cilla telah tidur lelap.
" Cilla... Cill... Kenapa tidur sih? Lanjutkan yang tadi yuk... Cilla... Kok kamu tega sih sama aku..." Namun tetap saja tak ada respon dari istrinya.
Yah... Baru saja mau dapat jatah, malah gak jadi. Sabar yah adik kecil, kita tidur saja.
Reza menghela nafas kecewa, namun dia tak akan membangunkan istrinya yang mungkin kelelahan hingga dia jatuh tertidur. Reza kembali menyelimuti tubuh istrinya, dia pun mencoba tidur dengan memeluk istrinya dari belakang.
________
Esok harinya mereka berdua telah mengenakan pakaian olahraga, Cilla terlihat mengenakan kaos putih dan celana training ketat berwarna hitam senada dengan Reza yang mengenakan kaos putih dengan celana pendek warna hitam.
Pagi ini mereka akan pergi ke klub tenis sesuai rencana sebelumnya. Mereka pun pamit kepada Bundanya lalu segera berangkat menuju tempat yang di tuju.
" Halo Cilla!" Suara laki-laki terdengar menyapa Cilla dari jauh, ketika Cilla dan Reza baru saja keluar dari mobil mereka.
" Hai juga! Kamu sudah datang? Tumben tepat waktu, biasanya juga telat." Cilla terlihat akrab dengan Dito.
" Yah... Sekali-kali, mumpung gak ada jadwal di tempat Gym."
Reza yang melihat mereka sangat akrab merasa tidak suka dengan adanya Dito. Mereka terus berbincang sampai tak menyadari ada Reza di samping Cilla, Reza yang merasa di abaikan langsung memegang tangan Cilla membuat Cilla baru sadar jika dia telah terlalu asik berbincang dengan Dito.
" Oh iya, aku sampai lupa... Perkenalkan, ini Reza, suami aku." Akhirnya Cilla memperkenalkan Reza.
" Saya Dito, temannya Cilla waktu SMP." Dito mengulurkan tangannya cukup lama namun Reza tak membalasnya hingga Dito kembali menarik tangannya dengan senyum canggung.
Melihat itu Cilla pun mencairkan suasana dengan mengajak mereka masuk ke dalam tempat latihan. Banyak sekali orang yang tengah memulai latihan, terlihat sangat seru melihat yang lain sedang bertanding sementara mereka siap-siap untuk latihan.
Dito menantang Cilla untuk bermain ganda, Cilla pun setuju walaupun Reza baru bergabung tapi Cilla menerima tantangan dari Dito.
__ADS_1
Reza yang merasa percaya diri bisa melakukannya pun merasa tim mereka akan menang melawan tim Dito.
Pertandingan pun di mulai, Cilla sangat hebat membalas pukulan dari lawan hingga pertandingan pun semakin sengit. Namun Cilla selalu mengambil bola yang mengarah ke Reza, karena Cilla tahu bahwa Reza hanyalah pemula. Sesekali Reza mendapatkan bola yang sengaja di pukul ke arahnya, yang ternyata Reza tak dapat memukul sekali pun.
Rasa percaya dirinya pun pudar, dia pun merasa malu dengan apa yang terjadi. Akhirnya waktu-waktu terakhir pun sebentar lagi hingga peluit di bunyikan dan yang menang adalah tim Dito. Reza tak menyangka jika dia harus kalah dengan sangat memalukan.
" Selamat yah Dito, tim kamu menang." Cilla memberi salam kepada Dito dan temannya.
Sementara Reza membuang muka dengan wajah sinis. Halah cuma menang lawan pemula, coba saja kalau aku terus latihan pasti aku bisa mengalahkanmu.
Melihat itu Cilla merasa tak enak hati kepada Dito, Reza sangat tak bersahabat dengan adanya Dito.
" Kamu kenapa sih? Dari tadi jutek terus?" Cilla merasa tak suka dengan sikap Dito.
" Apanya? Biasa saja tuh. Kamu saja yang sok akrab dengan cowok lain." Ucap Reza ketus.
" Oh... Aku tahu, kamu pasti cemburu kan? Jujur aja nih, kamu pasti cemburu." Cilla menggoda suaminya.
" Gak, aku gak cemburu, ngapain aku cemburu sama cowok kayak dia. Badannya saja yang berotot, kalau tanding berkelahi pasti KO." Sanggah Reza.
" Iya iya, aku percaya, suami aku serba bisa hehehe." Cilla seperti mengejek.
Akhirnya Cilla mengajarkan Reza cara-cara bermain tenis, beberapa kali Reza melakukan kesalahan hingga bolanya tak terpukul. Berkali-kali dia mencobanya namun selalu gagal, kemudian dia memantapkan hatinya, memfokuskan pandangannya ke arah bola dan mengayunkan raketnya sesuai arahan Cilla dan akhirnya Reza berhasil memukul bola dengan benar.
Melihat pukulannya berhasil, Reza pun sangat bahagia, dia berteriak dan langsung memeluk istrinya. Dia tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka berdua dengan rasa heran. Namun Reza tetap saja memeluk istrinya malah semakin erat.
Waktu semakin siang, mereka membereskan barang-barangnya untuk segera pulang dan istirahat.
" Mau makan siang dulu?"
" Iya, aku mau bakso, kayaknya seger di makan siang-siang." Cilla membayangkan rasanya.
" Tumben, biasanya kamu menghindar beli bakso agar tak menambah lemak."
" Gak tahu, aku hari ini ingin sekali makan, nanti kan kita berangkat ke Australia, disana mana ada yang jualan bakso, kan!"
" Iyalah aku ikuti apa maunya istriku." Mobil pun melaju menuju tempat yang di tuju.
Cilla terlihat sangat lahap memakan baksonya sampai dia nambah 1 porsi lagi. Reza yang melihatnya merasa Cilla seperti orang yang kelaparan namun dia tetap menatap istrinya karena terlihat gemas.
Orang yang biasa menjaga makanya dan sekarang aku melihatnya makan dengan lahap. Aku malah suka, dia menggemaskan.
__________
Semuanya sudah selesai di rapikan kedalam koper, tinggal berangkat ke Airport untuk terbang ke Australia. Reza sudah terlihat rapi dengan pakaian casualnya sementara Cilla masih berada di dalam kamar mandi, karena cukup lama Reza pun mengetuk pintu kamar mandi.
" Cilla, Sayang, buka pintunya." Tak lama Cilla pun membuka pintu kamar mandi dan Cilla terlihat pucat.
" Kamu kenapa?" Reza khawatir dengan istrinya.
" Gak tahu, kepala aku pusing dan perutku gak enak, apalagi.... Hueekk... Hueeekk hueekk..." Cilla berlari ke wastafel seperti ingin muntah namun tak ada apapun yang keluar.
" Kamu sakit? Tunggu sebentar, aku akan cari obat dan kayu putih." Reza pun berlari keluar mencari obat untuk Cilla.
Dia menuju lemari dapur dimana biasanya kotak obat di letakkan. Ketika Reza mencari-cari obat untuk Cilla namun tak menemukannya, Bunda melihat Reza yang panik pun akhirnya menghampiri menantunya tersebut.
" Kenapa? Cari obat apa?" Bunda melihat Reza membuka kotak P3K.
" Itu, Cilla. Sepertinya dia sakit, soalnya dia pusing dan mual-mual. Aku harus mengambil obat apa yah?" Reza terus mencari obat di kotak obat.
" Benarkah? Kalian juga kan akan berangkat sebentar lagi, apa gak masalah?"
" Makanya aku akan menyuruh Cilla minum obat dulu biar di pesawat dia baikan." Akhirnya Reza berhasil mengambil obat magg.
Reza pun permisi kepada Bunda Sarah untuk kembali ke kamarnya membawa obat dan minyak kayu putih. Setelah Reza pergi, Sarah berpikir tentang gejala yang Cilla alami, apa gejala tersebut sesuai dengan apa yang dia simpulkan. Untuk memastikannya akhirnya Sarah menuju kamar Cilla untuk menanyakannya secara langsung.
Bersambung.....
Jangan lupa yah, dukung Author dengan meninggalkan jejak setelah membaca.
Terimakasih
__ADS_1