
Reza sebenarnya merasa bersalah belum bisa memberikan penjelasan tentang Adrian, Reza ingin pernikahannya dengan Cilla berjalan dengan lancar untuk waktu yang lama hingga Reza berani menyimpan rahasia tentang Adrian. Mungkin setelah ia mendapatkan sedikit hati Cilla, Reza bisa memberitahukan hal yang sebenarnya tentang mengapa Adrian tak melanjutkan pernikahannya.
" Kamu pasti tahu kan, kenapa Adrian melakukan ini? Aku tahu Adrian sangat menyukaiku, tapi kenapa dia malah menyuruhmu untuk menggantikannya?" tanya Cilla dengan mata berkaca-kaca.
" Aku tahu, tapi..... Aku tak bisa memberitahumu sekarang, Adrian pun pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku." ucap Reza tak enak hati.
" Kamu pun sama, kamu hanya lelaki bodoh yang mau saja di suruh menggantikan kakakmu... Bodoh." Cilla kesal hingga airmatanya mengalir di pipinya.
" Sudah jangan menangis, aku pasti akan menjelaskan semuanya tapi bukan sekarang." Reza hendak memeluk Cilla namun Cilla mendorong tubuh Reza menjauh.
" Ingat.... Sampai detik ini aku tak sudi di sentuh olehmu, jauhi aku." kesal Cilla dan tangis pun pecah, Reza menatap kelu Cilla yang terus saja menangis tak jauh darinya namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
' Maaf Cilla, maaf karena aku egois, tolong tunggu sebentar lagi, aku mohon tunggu saja sebentar lagi.' batin Reza yang ikut bersedih.
" Sudah, sudah, kita keluar yuk. Lihat pantai di musim dingin pasti menyenangkan." ajak Reza namun Cilla hanya diam saja menatap kosong ke arah jendela.
" Ayolah...." Reza membawa jaket tebal dan memberikannya ke arah Cilla, tanpa berkata apapun Cilla meraih jaket tersebut lalu berjalan keluar hotel dan Reza pun mengikuti Cilla dengan tersenyum tipis.
Cilla terus menyusuri pantai yang berpasir putih di tambah salju yang perlahan turun, Reza hanya mengikuti dari belakang karena tak ingin mengganggu Cilla. Air mata yang lagi-lagi menetes ke pipi manis Cilla membuatnya semakin teringat akan kenangannya bersama Adrian. Sampai Cilla kembali ke kamar hotel, Reza hanya mengikutinya tanpa saling berbincang ataupun hanya sekedar melontarkan pertanyaan. Cilla melempar jaketnya begitu saja lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menarik selimutnya dan tak ada suara ataupun gerakan setelahnya. Reza hanya duduk di sofa menatap lekat Cilla sambil memegang jaket yang tadi Cilla lemparkan.
______________
Tengah malam Reza terbangun mendengar suara seperti menggigil, ia beranjak menghampiri Cilla dan duduk di sampingnya. Terlihat wajah Cilla di penuhi oleh keringat dan Reza memegang kening Cilla dengan punggung tangannya yang ternyata sangat panas. Reza panik, ia segera beranjak ke kulkas menyiapkan beberapa es dan ia masukkan ke dalam mangkuk di tambahkan air, ia lalu mencari-cari saputangan dan langsung kembali mendekati Cilla. Reza segera memasukan saputangan kedalam air es lalu memerasnya, ia mengompres Cilla dengan itu. Reza sangat cemas, lalu ia mencari obat yang biasanya ia bawa sebagai jaga-jaga di dalam tas ranselnya. Reza memberikan obat itu untuk Cilla minum, semoga besok pagi panasnya cepat reda. Reza terus saja di samping Cilla sepanjang malam, mengompresnya dan sesekali memberikan Cilla minum agar tak dehidrasi.
Pagi pun menjelang, Cilla pertama kali membuka matanya, ia merasakan tubuhnya sudah merasa baikan. Ketika hendak duduk, ia melihat Reza yang tertidur duduk di sampingnya dengan tangannya menggenggam tangan kiri Cilla. Reza merasakan pergerakan akhirnya pun ikut terbangun.
" Kamu sudah bangun! Bagaimana keadaanmu sekarang?" Reza memeriksa keningnya Cilla dengan punggung tangannya.
" Syukurlah demamnya sudah turun." Reza tersenyum lega.
" Itu... terimakasih sudah merawatku... Maaf sudah membuatmu khawatir..." ujar Cilla, lalu hendak turun dari tempat tidur.
" Kamu mau kemana? Kenapa tak tidur lagi?" ujar Reza.
" Anu... aku mau ke toilet." balas Cilla.
" Biar aku bantu, sepertinya kamu masih belum pulih."
" Tak perlu, aku bisa sendiri." Cilla turun dari tempat tidur dan jalan perlahan namun ia malah terhuyung hendak jatuh untung saja Reza sigap menangkap tubuh Cilla.
" Kamu gak apa-apa? Biar aku bantu." Reza memapah Cilla sampai pintu kamar mandi.
" Terimakasih, tadi aku masih agak pusing, tapi sekarang sudah lumayan mendingan. Kamu boleh pergi."
" Gak, aku tunggu di depan pintu sampai kamu selesai, aku gak mau kamu jatuh atau terjadi apa-apa lagi."
Cilla tak bisa berbuat apa-apa, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi pelan-pelan. Cilla membasuh wajahnya yang terlihat pucat serta merapikan rambutnya yang berantakan, Cilla menggosok giginya sambil menatap cermin besar di hadapannya. ' Kenapa aku sakit disaat seperti ini? Kenapa juga aku harus menunjukkan penampilan jelekku di hadapannya? Aku sangat berantakan sekali sekarang. Tapi dia sangat perhatian sekali sampai rela bergadang untuk merawatku.' Cilla Akhirnya selesai membersihkan dirinya. Ia segera keluar kamar mandi dan melihat Reza yang masih menunggu di sana.
" Kamu sudah selesai? Biar aku bantu." Reza kembali memapah Cilla yang masih terlihat lemas ke atas tempat tidur. Cilla duduk bersandar di tempat tidur dengan setengah badannya di tutupi selimut. Reza mengambil semangkuk bubur yang telah ia pesan sebelumnya dan mencoba menyuapi Cilla dengan tangannya.
" Aaaa.... makanlah, biar kondisimu cepat pulih." Reza menyodorkan sendok yang berisi bubur pada Cilla.
" Aku bisa makan sendiri. Sini biar aku saja." Cilla hendak mengambil sendok si tangan Reza namun Reza tak membiarkannya, dia menyodorkan kembali sendoknya pada Cilla untuk Cilla makan buburnya. Mau tidak mau akhirnya Cilla menerima suapan dari Reza dan Reza pun tersenyum senang. Beberapa suap bubur telah Cilla makan, tak banyak namun cukup untuk mengganjal perutnya yang kosong. Reza memberikan obat dan vitamin untuk Cilla minum, setelahnya Reza menyuruh Cilla untuk kembali beristirahat. Karena pengaruh obat yang diminumnya, tak berapa lama Cilla pun tidur kembali. Reza yang di sampingnya mengusap lembut kepala Cilla dengan penuh kasih sayang. " Selamat istirahat istriku, semoga cepat sembuh." gumamnya menatap lekat wajah Cilla yang terlelap.
Terdengar suara ponsel berbunyi, Reza mencari arah suara tersebut yang ternyata berasal dari ponsel milik Cilla. Terlihat di layar ' Bunda ' yang menelpon, Reza pun langsung mengangkat panggilannya.
Sarah : Halo sayang! Bagaimana bulan madunya?
__ADS_1
Reza : Maaf bunda, ini Reza. Cillanya sedang tidur.
Sarah : Oh maaf, Reza! Bunda ganggu yah?
Reza : Gak apa-apa bunda, Cilla tidur sehabis minum obat.
Sarah : Memangnya Cilla kenapa? Sakit apa?
Reza : Cilla demam Bun, mungkin karena cuaca disini sangat dingin dan kemarin kami malah berkeliling di pantai.
Sarah : Yasudah, sampaikan pada Cilla jika bunda telpon.
Reza : Baik Bunda.
_________________
Di kediaman Hardi
" Kenapa? aku dengar Cilla sakit." tanya Hardi
" Iya, Cilla demam katanya tapi sekarang sudah mendingan."
" Jangan-jangan salah si Reza, awas aja kalau sudah sampai rumah."
" Tenang saja mas, mungkin memang cuaca di sana yang dingin hingga buat Cilla sulit beradaptasi."
" Ok, nanti kita lihat keadaan Cilla ketika mereka pulang. Yasudah, aku berangkat kerja dulu yah sayang. Sepertinya aku akan pulang telat karena ada meeting penting nanti malam." Hardi pun pergi dengan sebelumnya mengecup kening Sarah terlebih dahulu.
_____________
Reza berada di balkon kamar hotelnya sambil menikmati kopi Americano kesukaannya. Menatap keluar yang sedang turun salju, keadaan dimana tak bisa di nikmati jika berada di Indonesia.
" Za.. Reza." panggil Cilla, Reza pun segera masuk kedalam kamar dan menghampiri Cilla.
" Kenapa? Ada yang kamu perlukan?" Tanya Reza duduk di samping Cilla.
Cilla tiba-tiba memeluknya, " Terimakasih yah, kamu sudah menjadi suami yang baik." Cilla pun melepaskan pelukannya.
" Iya, sama-sama. Itu sudah kewajibanku merawatmu." Wajah Reza merona dengan pelukkan tiba-tiba dari Cilla.
" Kamu sudah makan siang? Aku lapar sekali." ucap Cilla sambil memegang perutnya.
" Belum? Aku sengaja menunggu kamu. Kamu mau makan apa? Biar nanti aku pesankan."
" Aku makan apa saja yang penting enak dimakan."
" Ok aku pesankan Pizza gimana?"
" Iya, boleh juga."
" Baik, sebentar yah, aku telpon restoran hotel dulu."
Tak berapa lama, makanan pun datang. Reza membeli beberapa pizza dengan beraneka rasa. Cilla dan Reza pun melahapnya namun semua pizzanya tidak habis karena Reza terlalu banyak memesannya.
" Oh iya, tadi pagi Bunda telpon tapi kamu lagi tidur, aku gak tega bangunin kamu."
" Ok, aku telpon bunda nanti, paling dia ingin menanyakan kabar kita saja. Aku mau mandi, badanku sudah gerah seharian tiduran terus."
__ADS_1
Cilla hendak berjalan namun tiba-tiba dia malah menginjak air bekas minuman yang tumpah hingga dia terhuyung, reza yang menyadari langsung bergeser duduknya hingga Cilla jatuh di pangkuan Reza. Karena saling terkejut, keduanya pun terdiam, saling pandang begitu lama. Tanpa disadari wajah mereka semakin dekat dan semakin dekat hingga bibir mereka menyatu, mereka pun saling berciuman sangat mesra. Reza membaringkan tubuh Cilla lalu kembali berciuman, wajah Cilla tak luput dari sentuhan bibir Reza dan menjalar hingga ke lehernya Cilla. Lalu tangan Reza hendak menarik kaus Cilla namun tiba-tiba Cilla menghentikannya. Mereka pun akhirnya berhenti dan kembali duduk, terlihat mereka sangat canggung akan kejadian tersebut.
" Maaf..." ucap Cilla merasa tak enak hati.
" Gak apa-apa.. Maaf juga karena aku tadi tak bisa menahannya." Balas Reza.
" Sekali lagi aku minta maaf.... aku... ke kamar mandi..." ucap Cilla masih canggung lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan Reza yang terdiam.
Cilla menutup pintu kamar mandi lalu dia bersandar di sana, ' Apa yang aku lakukan? Pasti dia kecewa. Namun aku tak bisa melakukannya, aku tak ingin melakukannya tanpa cinta. Maaf Reza, aku tak bermaksud mengecewakanmu.' batin Cilla.
Reza berada di balkon, dia bersandar di pagar menatap jauh entah kemana. ' Hampir saja aku mendapatkannya, aku kira dia sudah terima. Mengapa dia menolakku seperti itu? Bagaimana caraku untuk mendapatkan hatinya? memang benar untuk mendapatkannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Cilla, tunggu saja, aku akan melunakkan hatimu sehingga kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu.' batin Reza.
___________
Hardi memanggil Rio untuk mengetahui kabar tentang bulan madu putrinya, Hardi memerintahkan Rio untuk menyuruh orang mengawasi bulan madu putrinya.
" Bagaimana dengan kabar dari putriku?"
" 2 hari lalu putri anda seharian berjalan-jalan di tepi pantai walau cuaca sedang dingin dan salju turun di ikuti oleh suaminya, setelah itu esok paginya orang yang saya suruh melihat menantu anda terlihat panik keluar dari hotel dan kembali membawa obat, mungkin nona Cilla sedang sakit. Untuk hari ini, seharian mereka tak keluar kamar, hanya ada pihak hotel mengantarkan beberapa kotak pizza ke kamar mereka." jelas Rio.
" Ok bagus, laporkan jika ada kejadian yang tak di inginkan dan terus awasi aku tak ingin terjadi apa-apa pada putriku."
" Baik, pak." Rio pun pergi meninggalkan ruangan Hardi.
' Aku akui memang aku ayah yang posesif, namun aku melakukan ini untuk menjaga putriku, aku menerima pernikahan ini karena memang sudah terlanjur di persiapkan semuanya juga alasan keluarga Adrian yang mengganti calon suami Cilla dengan adiknya. Yang aku tahu alasan kuat yang membuat Adrian merelakan Cilla untuk dinikahi oleh adiknya serta Reza adalah teman SMA Cilla yang mungkin Cilla sudah mengenalnya sebelumnya. Namun aku masih kurang percaya dengan Reza karena aku belum tahu semuanya. Makanya aku meminta Rio menyuruh orang agar aku tahu apa yang terjadi di sana.' batin Hardi.
_____________
Cilla menghubungi Bundanya di malam hari, ia tak mau membuat bundanya dan keluarganya khawatir dengan dirinya.
Sarah : Halo sayang!
Cilla : Bunda, Cilla kangen.
Sarah : Iya bunda juga kangen, makanya tadi siang Bunda telpon kamu tapi suami kamu yang angkat, katanya kamu sedang tidur karena sakit.
Cilla : Iya aku sedikit kurang enak badan tapi sekarang aku sudah enakkan.
Sarah : Syukurlah, bunda khawatir pas dengar kamu sakit, kamu baik-baik saja kan dengan suamimu?
Cilla : Aku baik-baik saja Bunda, Reza juga perhatian sama aku, tapi........
Sarah : Iya bunda mengerti, yang penting kalian baik-baik saja. Bunda yakin, suamimu juga pasti mengerti, apalagi pernikahan mendadak seperti ini.
Cilla : Iya, untunglah Reza tak menuntut lebih padaku.
Sarah : Bagus, Bunda yakin Reza itu pria yang baik, Bunda berharap suatu saat kamu bisa menjadi istri yang lebih baik. Dan menjalankan kehidupan pernikahan seperti pernikahan pada umumnya. Bunda juga sudah gak sabar ingin punya cucu hehehe
Cilla : Apaan sih bunda? Belum juga ngapa-ngapain.
Sarah : Yasudah, kalian baik-baik saja yah. Bunda tunggu kalian pulang, goodnight.
Cilla : Goodnight juga Bunda.
' Benar juga kata Bunda, aku harus menjadi istri yang baik, yang melakukan kewajibanku pada suami. Aku bisa menjalankannya namun untuk yang satu itu aku masih butuh waktu, semoga aku bisa punya rasa kembali pada Reza seperti dulu.' batin Cilla.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca untuk mendukung Author agar lebih semangat lagi.
Terimakasih