
" Yasudah, kalau kamu terus seperti ini, aku akan pergi, anggap saja kita tidak pernah bertemu." Cilla pun mengambil tasnya dan hendak pergi namun Reza menahannya.
" Baiklah, aku minta maaf mengulur waktu terus, aku akan menjelaskan semuanya." ujar Adrian memegang tangan Cilla.
Tanpa mereka ketahui tak jauh dari mereka duduk, Reza melihat Cilla bersama Adrian. Dia tak mendengar apapun yang mereka katakan namun hatinya seperti merasakan panas ketika Adrian menggenggam tangan Cilla. Namun Reza tak bisa berbuat apa-apa atau menghampiri mereka karena dia sedang bersama beberapa teman kampusnya.
" Za, ada apa? Kok bengong." tanya salah satu temannya.
" Gak apa-apa, tadi gue kira melihat orang yang gue kenal tapi ternyata bukan." jawab Reza lalu duduk.
" Mau pesan apa?" tanya temannya.
" Apa aja yang penting loe yang traktir hehehe." ujar Reza.
" Enak aja, loe kan orang kayak masa minta di traktir kita-kita yang sekedar rakyat jelata."
" Iya iya gue traktir tapi jangan minta nambah ya hehe." Canda Reza, padahal selama ini ia berusaha untuk menghasilkan uang dari jerih payahnya sendiri untuk menghidupinya tanpa bergantung kepada mertuanya. Dia belum bisa menafkahi Cilla dengan layak, baik lahir maupun batin. Percuma uang sedikit ia berikan untuk istrinya sementara istrinya memegang kartu kredit no limit milik Ayahnya, uangnya yang hanya secuil tak akan menutupi biaya hidupnya. Yang terpenting ia tak menikmati uang mertuanya seenaknya, jika dia sukses nanti dia akan memberi nafkah layak untuk Cilla istrinya. Teman-temannya menyangka dia orang kaya, padahal ia sama saja seperti mereka yang apa adanya dan tak ingin merepotkan orang tua. Namun dengan uangnya yang tak seberapa, ia masih sanggup untuk mentraktir teman-temannya untuk saat ini.
"Kenapa dari tadi kamu tidak fokus saat kita bicara?"
Temannya bertanya karena Reza terus saja tak merespon ucapan mereka.
" Oh, maaf. Aku sedang ada pikiran, lanjutkan aja ceritanya."
Reza selalu menatap ke arah Cilla dan Adrian yang sedang berdua seperti membicarakan sesuatu.
_______
" Ok, aku akan duduk lagi. Sekarang kamu harus menceritakan semuanya jangan terus-terusan menghabiskan waktu dengan omongan melantur dari tadi."
Cilla duduk kembali dengan meletakkan kembali tasnya di atas meja.
" Ok sekarang aku akan bercerita. Saat aku ke Australia waktu itu, setelah tiba aku segera pergi menuju rumah sakit karena papah sedang kritis, hingga aku menyuruh supir taxi untuk melajukan mobilnya sedikit cepat. Hingga kecelakaan pun terjadi, taxi yang aku tumpangi tak bisa mengendalikan diri ketika kecelakaan beruntun terjadi. Taxi yang aku tumpangi rusak parah hingga aku terjepit di antara kursi belakang dan kursi depan hingga aku tak sadarkan diri. Aku terbangun ketika sudah berada di rumah sakit, aku sudah menjalani operasi pertama untuk memperbaiki saraf pinggul aku yang terjepit tepatnya di bagian pinggang hingga tulang ekor. Itu membuatku tak bisa berjalan, bisa dikatakan lumpuh. Aku berteriak frustasi dengan keadaan aku saat itu hingga aku hanya bisa diam saja meratapi keadaan itu. Saat itu di pikiran aku hanya ada kamu, aku harus menikah dengan kamu dan kamu harus menjadi istriku karena aku sangat mencintaimu. Namun hal lain menghancurkan harapanku, selain kakiku lumpuh, aku juga tak bisa menjadi lelaki yang sempurna. Karena milikku juga tak bisa berfungsi layaknya pria normal, apa aku layak menikah di saat hal penting itu tak bisa di gunakan? Apa kamu sanggup tak melakukan hubungan itu sementara kamu masih muda?. Dari situ aku berpikir memang pesta pernikahan tak akan bisa di batalkan karena tinggal beberapa hari lagi hingga aku memutuskan meminta Reza untuk menggantikanku sebagai calon suami saat itu. Tadinya Reza menolak bahkan menyebutku gila, tapi aku terus membujuknya hingga dia pun menerima permintaanku. Yang Aku tahu Reza masih sangat mencintaimu hingga membuat aku lega bisa melepasmu pada orang yang pasti akan menyayangimu dan menjagamu seutuhnya."
Adrian menjelaskan semuanya dan Cilla hanya bisa berdiam diri dengan mata yang berkaca-kaca.
"....... Sekarang kamu sudah bisa berjalan? Terus kenapa kamu tak memintaku menunggu? Kamu meragukan cintaku? Kamu malah menyuruhku menikah dengan Adikmu. Kamu itu jahat, kamu itu membuat aku muak, kenapa kamu tak memberitahuku dari awal? Cintaku dulu tak sedangkal itu hingga aku akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti itu."
Cilla meneteskan air matanya di depan Adrian hingga dia tak sanggup menatap wajah Adrian di hadapannya.
" Aku menjalani perawatan sampai seminggu terakhir ini aku bisa berjalan dengan normal. Aku tahu kamu tak akan meninggalkanku maka karena itulah aku ingin kamu bahagia dari pada menunggu aku yang sakit."
Adrian menggenggam tangan Cilla dan Cilla hanya terdiam sambil terus meneteskan air matanya.
" Padahal saat hari pernikahan aku sangat bahagia, namun ada yang mengusik pikiranku saat prosesi ijab qobul dilaksanakan, aku sama sekali tak boleh keluar kamar. Hanya suara yang tak jelas terdengar oleh telingaku, ketika semua bersorak menyebut kata 'syah' aku sangat bahagia, aku berharap kita bisa hidup menjadi pasangan suami istri yang kita idamkan dulu. Namun saat aku melihat siapa yang duduk di depan Ayah dan penghulu, aku sangat terkejut bahkan nyaris pingsan. Bukan kamu yang ada di sana tapi malah Reza, orang yang saat SMA memang aku menyukainya namun saat itu yang aku cintai hanya kamu."
Cilla tak hentinya mengekuarkan air matanya, wajahnya merah, Adrian memberikannya tisu untuk menghapus air matanya.
" Maafkan aku Cilla, saat itu otakku buntu, aku sangat frustasi. Aku hanya memikirkan kebahagiaanmu saja sehingga aku mengambil keputusan itu walau aku pun merasa berat untuk merelakanmu bersama pria lain."
Adrian terlihat menyesal dengan apa yang ia lakukan saat itu, namun penyesalan tak ada artinya karena waktu tak akan terulang kembali.
" Bagaimana keadaanmu saat ini?"
Cilla mencoba tenang dan hanya menatap sendu ke arah Adrian.
" Keadaan aku sudah pulih, namun milikku belum sepenuhnya normal kembali masih perlu bantuan obat untuk mengembalikannya seperti semula dan aku baru tahu 2 bulan belakangan ini mengetahui bahwa aku tak bisa memberikan keturunan dengan cara alami karena sel ****** aku tak mampu membuahi sel telur. Bisa di bantu dengan melakukan prosedur medis seperti bayi tabung, itupun hanya sekitar 60%. Aku tahu kamu suka sekali anak kecil maka aku jadi semakin yakin telah menyerahkanmu kepada Reza."
Jelas Adrian mencoba tenang dengan senyuman yang terkesan di paksakan.
" Kamu sudah selesai, kan. Sudah aku bilang dari awal jika apapun yang kamu jelaskan, tidak akan mengubah keadaan yang telah terjadi. Mulai hari ini kamu jangan pernah menghubungi aku lagi, sekarang aku adalah adik iparmu, bersikaplah sesuai tempatnya. Kalau begitu aku permisi."
__ADS_1
Cilla pergi meninggalkan Adrian yang menatapnya sendu sampai tak terlihat lagi lagi pandangannya.
Sedangkan Cilla terus berjalan menjauh dari cafe tersebut dengan menahan tangisnya, sesampainya di taman ia duduk disana, Cilla menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak menahan perasaan yang campur aduk, tangisnya pecah begitu saja.
' Kenapa kamu tak jujur saja dari awal Adrian?Jujur, sampai sekarang ini aku belum bisa melupakanmu walaupun perasaanku membuatku masih ragu apa rasa cintaku masih ada atau malah rasa benci yang terus bertambah. Namun mendengar penjelasanmu membuat hatiku goyah.'
Cilla terus meluapkan isi hatinya dengan tangisannya, rasa sesak di dadanya semakin berkurang setelah ia menangis seperti sekarang.
Cilla mengusap air matanya yang masih tersisa, ia pun sudah tak menangis lagi hanya isakan saja yang tersisa.
" Sudah selesai nangisnya?"
Suara yang sangat Cilla kenal, hingga dia menengadahkan wajahnya dan terlihat Reza berdiri di hadapannya.
Cilla segera merangkul pinggang suaminya dan memeluknya dengan erat, Reza membalas pelukan istrinya dan mengelus rambut indahnya.
" Apa kamu sudah memperhatikan aku dari tadi?"
Cilla melepaskan pelukannya dan menatap ke arah suaminya yang menjawab dengan anggukan.
" Berarti kamu melihatku bersama Adrian?"
Tanya Cilla dan sekali lagi Reza menjawabnya dengan anggukan.
" Aku melihat kalian sedang bicara, aku tak ingin mengganggu kalian berdua."
Reza tahu dengan posisinya yang belum tentu ada di hati Cilla, sampai melihat Cilla yang menangis seperti ini mungkin dalam hatinya masih memiliki rasa pada Adrian.
" Aku tak ingin tahu apa yang kalian bicarakan! Tapi aku harap kamu jangan menangis seperti ini."
Reza duduk di samping Cilla yang terlihat sudah sangat tenang seperti semula.
" Adrian sudah menjelaskan semuanya padaku! Kenapa kamu juga menutupinya? Aku berpikir seberapa menderitanya Adrian saat itu."
" Maaf, dulu aku sering bilang padamu, agar kamu tahu dari Adrian secara langsung."
Balas Reza menggenggam tangan Cilla yang terlihat masih bergetar.
" Walaupun aku masih memiliki rasa pada Adrian, walaupun aku iba dan merasa kasihan pada Adrian. Itu tak akan mengubah keadaan jika kita telah menikah, aku tak akan mengkhianati janji pernikahan yang suci dan sakral."
Cilla hanya bisa tertunduk dengan tubuh yang masih bergetar menahan isi hatinya.
" Terimakasih, aku senang karena kamu masih menginginkan pernikahan ini setelah mendengar semua penjelasan dari Adrian. Kita pulang, sudah hampir malam, tak enak berada di taman yang sudah sepi."
Reza berdiri mengulurkan tangannya ke arah Cilla dan Cilla pun meraihnya, mereka pergi berjalan menuju mobil Cilla untuk segera pulang.
" Motormu bagaimana?"
" Biar saja, toh aku simpan di parkiran kampus dan udah di kasih kunci ganda, aku juga menitipkannya pada pak security."
" Oh baguslah, semoga tidak hilang"
" Enak saja, itu motor ke sayanganku."
" Lebih sayang motor atau lebih sayang aku?"
" Maaf aku tak bisa pilih salah satu, soalnya kalian mengisi sebagian hatiku."
" Kamu tega sampai menyamaratakan sayangmu padaku dengan sayang pada benda mati."
" Aku selalu mengendarainya setiap waktu tapi kamu bahkan sekalipun aku belum pernah."
__ADS_1
Cilla memukul perut Reza sangat keras hingga Reza meringis kesakitan.
" Itu hukuman bagi pria yang sering berpikiran erotis terus."
Cilla merasa puas tengah memukul Reza yang selalu asal bicara padanya.
" Kamu tahu gak! Di pikiran pria yang telah menikah itu ada 3, pertama harus bekerja keras, kedua mendapatkan kepuasan dari pasangan dan yang terakhir membahagiakan keluarga."
" Tapi kan tak mesti di bicarakan terus juga." Cilla merasa malu harus menceritakan hal yang tabu menurutnya.
" Jika tak di bicarakan dulu dan aku langsung mempraktekkannya apa kamu tak akan kaget? Kalau begitu sudah dari dulu aku melakukannya." Reza mencoba memancing reaksi Cilla.
" Sudah cukup jangan lagi bahas itu."
Mereka naik kedalam mobil dan Reza yang mengendarainya. Reza sesekali menatap istrinya dengan wajah yang memerah, sangat gemas melihat istrinya hingga senyumannya mengembang di bibirnya.
_________
" Wajahku jelek, mataku bengkak, aku gak mau keluar kamar."
Cilla duduk di meja rias, memperhatikan wajahnya yang sembab dan matanya yang bengkak akibat menangis sore tadi.
" Mau aku bawakan makan malam?" Reza memulai memberikan perhatiannya.
" Iya... hehehe Tolong yah Za, aku laper." Cilla hanya cengengesan dengan wajah memelas.
" Ok aku bawakan, tapi kamu harus makan semua yang aku bawa." Reza pun keluar menuju ke arah meja makan dan melihat mertuanya serta adik ipar kembarnya sudah duduk di sana.
" Cilla mana?" tanya Sarah yang melihat Reza hanya datang sendiri.
" Cilla sepertinya sedang kurang enak badan, Bun. Saya dan Cilla akan makan di kamar jadi saya mau mengambil beberapa makanan."
Reza mengambil sebuah piring lalu mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya.
" Kenapa tak menyuruh asisten saja untuk mengantarkan makanan ke kamar kalian." ujar Hardi.
" Tak apa, biar saya saja yang membawanya ke kamar, kalau begitu saya permisi ke kamar lagi."
Reza membawa sepiring makanan yang cukup banyak, cocok untuk porsi dua orang.
" Mas ini tak tahu saja, mereka itu masih bisa di bilang pengantin baru jadi hal seperti itu bisa di bilang romantis. Masa Mas tak ingat sih, dulu mas lebih parah romantisnya dibanding Reza."
Sarah mengingatkan masa lalu suaminya yang sangat mencintainya sehingga dia sangat perhatian kepada dirinya.
" Kok kamu bawa makanan sebanyak itu? Aku pasti tak akan sanggup menghabiskan semuanya."
Keluh Cilla ketika melihat piring besar yang Reza bawa dengan hidangan yang penuh di dalamnya.
" Kamu tak perlu menghabiskan semuanya. Aku sengaja membawa banyak makanan agar kita bisa makan berdua. Biar aku suapi kamu lalu gantian aku yang akan makan nantinya."
Reza menyodorkan sendok yang berisi makanan untuk Cilla makan dan mau tak mau dia pun melahapnya. Semua di lakukan terus menerus, keduanya makan bersama di piring yang sama, sendok yang sama dan gelas yang sama hingga makanan di piring habis tak bersisa.
" Bagaimana enak? Kita secara tidak langsung sudah saling ciuman loh. hehe" tanya Reza yang membuat Cilla sedikit malu.
" Udah lah, aku mau lari di tempat dulu agar makanan tercerna dengan baik."
Cilla menggerakkan tubuhnya dengan jalan di tempat dan berbagai gerakan olah raga, sedangkan Reza hanya memperhatikan istrinya dan bibirnya terus tersenyum.
' Walaupun terkadang sifatmu menyebalkan tapi aku masih tetap sayang padamu, Cilla.' batin Reza, matanya tak mengalihkan pandangannya pada istrinya.
Bersambung.....
__ADS_1
Selalu dukung Author dengan cara memberi Vote, Like, Hadiah dan Komen yah...
Terimakasih ☺️