
Nenek mengirim pesan kepada Cilla, apakah jamu yang ia kirimkan sudah diminum oleh Cilla? Cilla menjawab dengan jujur bahwa dia belum perlu dengan jamu tersebut, ia ingin semuanya berjalan alami dahulu. Namun Cilla meyakinkan neneknya agar tak khawatir karena dia tak akan lagi menundanya hingga mungkin secepatnya neneknya akan melihat cucu buyutnya lahir.
Reza menghampiri Cilla, dia selalu bermanja-manja setelah pengakuan waktu itu, Reza tak segan lagi merangkul bahkan mencium Cilla. Dia akan menjadikan itu sebagai kebiasaan dalam mencurahkan kasih sayangnya.
Awalnya Cilla merasa risih dan malu namun seiring berjalannya waktu dan rasa cintanya semakin besar, ia hanya membiarkan ulah suaminya tersebut.
" Ini apa Za?" Tanya Cilla ketika melihat segelas seduhan minuman di taruh di atas meja pinggir tempat tidurnya.
" Oh ... itu jamu dari nenek." Reza santai sambil mengancingkan baju piyamanya.
" Apa kamu sudah tak mampu lagi sampai butuh bantuan jamu?" Ledek Cilla membuat Reza salah tingkah.
" Enak aja, aku masih kuat walau tanpa jamu tapi mubazir kalau gak di minum, buat tempur biar kamu kewalahan malam ini." Reza berkata dengan percaya diri.
" Tapi kayaknya kita gak bisa melakukan itu drh, tamu bulanan aku baru saja datang tadi sore." Cilla tak enak hati tapi apa boleh buat wanita pasti ada jeda setiap bulannya.
" Yaaa ... Untung saja aku belum minum, kalau tidak bisa gawat." Reza terlihat kecewa namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah rutinitas.
Reza mengambil gelas itu dan membawanya ke wastafel lalu membuangnya. Cilla hanya terkikik melihat wajah suaminya yang lesu karena tak mendapatkan haknya malam ini dan seminggu kedapan.
Untung saja tamu bulanannya datang lebih awal, sebenarnya dia ingin beristirahat dari aktifitas malam yang hampir tiap malam mereka lakukan. Bukan hanya sekali semalam namun dalam semalam bisa lebih dari 2 kali.
Padahal Cilla ingin sekali menolaknya barang sekali namun ia ingat jika menolak keinginan suami untuk berhubungan makan murka-Nya akan mengalir sepanjang malam hingga pagi menjelang.
" Kamu boleh kok mencium dan memelukku." Cilla berbaring dan mendekat kepada suaminya.
" Gak perlu, kalau seperti itu aku pasti akan sulit menahannya." Reza menolak saran Cilla dan ia hanya memeluk gulingnya.
Terdengar suara ponsel berbunyi lalu Reza terbangun dari tidurnya, waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Reza melihat nama yang tertera yaitu mamanya, ia segera mengangkatnya dan mengobrol dengan suara rendah agar tak membangunkan Cilla. Setelah selesai dia pun meletakkan kembali ponsel itu dei lemari kecil dekat tempat tidur di sampingnya.
Pembicaraan yang mamanya dan dirinya bahas adalah soal ayahnya yang saat ini kembali masuk ke rumah sakit. Perusahaan hanya di jalankan oleh Adrian sendiri membuatnya keteteran karena begitu banyaknya pekerjaan yang harus di handle.
Mamanya meminta Reza untuk datang membantu dalam seminggu ini setelah ayahnya pulih nanti dia boleh kembali ke Indonesia.
Reza bingung apakah dia harus ke sana atau tidak? Dia akan bicara terlebih dahulu kepada Cilla dan meminta pendapat istrinya tersebut.
Reza kembali memejamkan matanya dan akan berbicara dengan Cilla jika pagi menjelang.
__________
Esok harinya.
" Ada yang ingin aku bicarakan?" Reza menepuk sofa di sampingnya agar Cilla duduk di sana.
" Kenapa?" Cilla dengan memakai baju handuk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil lalu duduk di samping Reza.
" Aku harus ke Australia, katanya papa sedang di rumah sakit."
" Apa? Kamu harus segera kesana kalau gitu." Cilla merasa khawatir akan ayah mertuanya.
" Iya, makanya aku bicara padamu. Sekarang aku akan pesan tiket untuk bisa berangkat esok."
" Apa ... kamu tak akan mengajakku?" Cilla memasang wajah masam.
" Bukannya seperti itu, tapi apa kamu mau ke sana dengan aku?" Ucap Reza ragu.
" Ya tentu saja, kamu itu suamiku dan aku adalah istrimu dan wajar jika seorang istri mengikuti suaminya."
" Benar sih tapi pekerjaanmu bagaimana?"
" Tenang saja, aku kan bekerja di perusahaan ayah, sekali-kali aku gunakan hari cutiku dan meminta tambahan pada ayah hehehe."
" Aku mencintaimu." Reza memeluk Cilla di sampingnya.
" Kamu tak pakai_" Cilla segera menutup mulut suaminya dengan jari telunjuknya.
" Aku mau ganti baju dulu dengan baju santai, masa harus pakai baju handuk terus." Cilla beranjak dari duduknya, hendak melangkah namun langkahnya terhenti ketika Reza memegang jemari lentik milik Cilla.
__ADS_1
" Aku suka kamu pakai ini, lebih suka lagi jika kamu buka semuanya." Reza memainkan jari lentik Cilla dengan tangannya.
" Jangan harap ya, aku baru selesai mandi dan malas untuk mandi lagi." Cilla melepaskan genggaman Reza dan berlalu untuk mengganti pakaiannya.
Sore harinya Cilla dan Reza meminta izin kepada Hardi dan Sarah jika mereka akan berangkat ke Australia esok hari. Setelah itu mereka packing pakaian secukupnya untuk di pakai mereka selama seminggu berada di sana.
Setelah sampai Airport xxx, tak butuh waktu lama mereka pun lepas landas menuju ke Australia.
________
Di Australia
Adrian sudah menunggu di depan bandara dengan berada di balik kemudi, dia menatap sesekali jam di tangannya karena cukup lama dia menunggu namun belum ada juga.
Karena bosan dia pun meng-scroll layar ponselnya, membuka kontak yang ada di ponselnya dan memilah milih siapa saja nomor yang sudah tak aktif ataupun yang sudah tak ada kepentingan dengannya lagi akan dia hapus.
Lalu matanya tertuju pada nama Elya yang tertera di layar ponsel, iya Elya teman atau sahabat Cilla. Ia mendapatkan nomor itu ketika dia berharap Cilla akan kembali padanya dengan cara membuat Elya memberikan informasi kepadanya tentang Cilla.
Dia coba menekan tombol memanggil, cukup lama menunggu hingga telpon pun di angkat dan dia segera mematikannya setelah mengetahui Elya mengangkatnya.
Ternyata dia tak mengganti nomor ponselnya, pikir Adrian.
Setelah itu terdengar suara ketukan di jendela mobilnya dan terlihat Reza menatap ke dalam mobilnya dan Adrian pun segera menurunkan kaca mobilnya. Membuka kunci pintu belakang mobilnya juga.
" Ternyata kamu yang ****** kami, Bang. Aku kira supir kantor yang ******." Reza masuk kedalam mobil dan duduk di depan bersama Adrian sedangkan Cilla duduk di belakang.
Terlihat kecanggungan antara Adrian dan Cilla, mobil pun melaju ke rumah orangtua mereka. Dalam perjalanan sesekali Adrian melihat Cilla dari kaca mobil yang terlihat hanya duduk menatap ke luar jendela mobilnya.
Syukurlah ternyata kamu baik-baik saja, aku jadi tak merasa menyesal membiarkan kamu bersama Reza. Batin Adrian.
Tak lebih dari 1 jam mereka pun sampai di rumah orangtua Reza, terlihat rumah yang dominan dengan warna putih, cukup luas dan cukup mewah, terdapat taman yang tak begitu luas namun terlihat indah dan hijau serta ada air mancur kecil yang menambah keindahannya.
Ketiganya pun masuk kedalam rumah, Cilla langsung terpesona dengan isi rumahnya. Memang tak banyak barang namun banyak sekali koleksi-koleksi keramik mulai dari guci, patung, piring dan lain sebagainya.
" Orangtuamu hobi sekali koleksi keramik?" Cilla melihat sebuah piring yang terukir hiasan yang membuatnya terpesona.
" Iya, tepatnya sih papa yang suka kalau mama hanya mengikuti papa saja." jelas Reza menghampiri Cilla.
" Iya, makanya gue mau pergi ke rumah sakit menggantikan mama. Nanti mama pulang setelah aku sampai, kalian istirahat dulu saja mungkin kalian capek setelah perjalanan jauh. Yasudah kalau begitu, gue pergi dulu." Adrian pergi meninggalkan Reza dan Cilla, Adrian masih merasakan ada sesuatu di hatinya, apalagi melihat Reza dan Cilla saling tersenyum.
Reza mengajak Cilla ke kamarnya yang berada di lantai 2, mereka pun masuk kedalam kamarnya. Cilla melihat kamarnya Reza cukup luas, terdapat banyak koleksi yang berkaitan dengan basket, mulai dari bola yang sudah di tandatangani pemain favoritnya, poster-poster pemain idolanya dan masih banyak yang lainnya termasuk beberapa piala yang tersusun rapi di lemari kaca di kamar tersebut.
Lalu mata Cilla tertuju pada sebuah foto yang familiar, lalu dia mendekatinya dan benar saja jika foto itu adalah foto dirinya saat SMA dulu. Yang sedang duduk di bangku sambil membaca yang mungkin Reza ambil secara diam-diam.
Melihat Cilla yang telah melihat foto itu, Reza segera mengambilnya dan mendekapnya untuk menutupinya. Terlihat wajah Reza memerah karena malu karena selama ini dia menyimpan foto Cilla tanpa sepengetahuan Cilla.
" Jadi kamu memotret aku diam-diam? Itu kan fotoku saat SMA dulu."
" Iya, memang, sudah jangan di bahas lagi."
" Oh... jadi beneran selama di SMA kamu sudah menyimpan hati untukku, sikapmu bertolak belakang dengan hatimu ternyata." Cilla terkekeh melihat Reza yang salah tingkah.
" Iya, aku suka sama kamu jadi aku mendekatimu dengan cara menjahilimu, itulah caraku untuk berada di dekatmu. Lihat saja walau tanpa makeup dan di ambil diam-diam kamu tetap terlihat cantik." Reza menunjukan foto yang di pegangnya kepada Cilla.
" Kamu ... Sesuka itu padaku!" Cilla merona mendengar perkataan Reza.
" Aku ... baik dulu ataupun sekarang, masih mencintaimu." Reza memeluk istrinya dan mengecup pucuk kepala istrinya.
" Iya aku percaya." Cilla membalas pelukan suaminya.
Tanpa mereka sadari ada yang berdiri di depan pintu kamar mereka yang masih terbuka dan itu adalah mamanya Reza yang telah pulang dsri rumah sakit.
" Hhhmmmmm...." Suara mamanya membuat Reza dan Cilla terkejut lalu melepas pelukan mereka.
" Eh mama, sejak kapan mama di sana?" Reza terlihat salah tingkah, begitupun Cilla yang sangat malu di lihat mertuanya.
" Maaf, mama tak bermaksud melihat kemesraan kalian, soalnya pintunya terbuka begitu saja. Lain kali kalau mau bermesraan jangan lupa tutup dan kunci pintunya dulu." Mama menahan senyumnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
" Kamu sih, main peluk-peluk segala." Cilla memukul dada bidang Reza.
" Gak apa-apa, toh kita sudah menjadi suami istri, mama juga pasti maklum." Reza menahan tangan Cilla.
" Tapi kan ... aku malu." Cilla menundukkan kepalanya menyembunyikan pipinya yang merona.
Reza hanya tersenyum melihat tingkah Cilla yang sangat imut di matanya, dia bahagia ketika harus ke Australia dan ketika itu pula mereka sudah saling mencintai hingga bisa pergi bersama.
_________
Malam harinya terlihat Reza turun dan melihat mamanya berada di dapur sedang menyiapkan makan malam.
" Eh Reza, ajak istrimu turun untuk makan malam, mama sebentar lagi selesai masaknya." ucap Mama ketika melihat Reza sudah duduk di meja makan.
" Cilla sedang tidur, mungkin dia lelah setelah perjalanan jauh." Reza mencicipi makanan yang telah terhidang.
" Mama lihat hubungan kalian sudah membaik, mama jadi ikut bahagia melihatnya." Mama meletakkan masakan terakhir di atas meja laku ikut duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Reza.
" Iya, berkat kegigihan aku bisa meraih hati Cilla." ucap Reza tersipu malu.
" Bagus dong, jadi kalian sudah bisa ngasih mama cucu. Kalian kan sudah mau 2 tahun tapi belum ada kabar." perkataan Mama membuat Reza yang sedang minum menjadi tersedak.
" Kenapa? Apa kalian memakai kontrasepsi?"
" Tidak."
" Apa kalian tak melakukan hubungan suami istri?"
" Ya... gak gitu juga ma."
" Iya itu tak mungkin sih, melihat kalian mesra begitu pasti kalian lakukan."
" MAMA.... Apaan sih?" Reza mulai risih dengan pertanyaan mamanya.
" Atau kalian terlalu membara? Katanya sih kalau terlalu sering melakukannya biasanya sulit untuk memiliki anak hehehe." Mamanya malah sengaja menggoda Reza yang sudah terlihat salah tingkah.
" Udah Ma, hentikan. Yang jelas kami tak memakai kontrasepsi atau apapun itu, mungkin belum waktunya saja. Aku ke kamar dulu, makan malamnya nanti saja setelah Cilla bangun." Reza beranjak dari duduknya lalu pergi begitu saja dengan perasaan kesal.
" JANGAN LUPA KALAU KALIAN HARUS MENGATUR WAKTU KALIAN BERSAMA, MAMA HARAP MENDAPAT KABAR BAIK." Teriak mama yang tak henti menggoda Reza.
Reza menutup pintunya cukup keras membuat Cilla yang tertidur menjadi terkejut dan akhirnya dia pun terbangun.
" Kenapa? Sampai menutup pintu sekencang itu?" Cilla duduk sambil merapikan rambut dan mencoba memfokuskan pandangannya.
" Gak apa-apa, hanya saja mama bicara yang aneh-aneh. Katanya ingin cepat dapat cucu dan bertanya kenapa masih belum punya anak. Tak berhubungan lah, pakai kontrasepsi lah, terlalu membara lah. Bikin aku jengkel." cerocos Reza.
" Bukankah itu benar?"
" Maksud kamu?"
" Karena kita tak memakai kontrasepsi dan masih melakukan hubungan suami istri mungkin alasan ke tiga itu benar, kamu terlalu membara dan kita terlalu sering melakukannya hingga aku sulit hamil."
" Memangnya kenapa kalau sering? Bukankah itu malah lebih bagus!"
" Entahlah, yang aku tahu sih itu bisa menjadi salah satu sebabnya. Kalau mau pasti, kita bisa tanyakan ke dokter, saat kita pulang nanti."
" Memangnya beneran kamu mau punya anak?" tanya Reza untuk meyakinkan.
" Emm... Kalau punya anak pasti lucu, entah itu mirip aku atau mirip kamu, tapi aku juga masih membayangkan bagaimana hamil dan melahirkan nanti."
" Apa kita tak perlu ke dokter dan biarkan berjalan secara alami?"
" Ok deh kalau itu mau kamu, tapi satu hal yang aku ingin minta dari kamu. Tolong berikan waktu untuk aku istirahat."
" Kalau itu aku gak janji, habisnya kamu menggemaskan." Reza mencubit gemas hidung Cilla dan Cilla pun merengut dengan Reza yang menolak keinginannya.
Bersambung....
__ADS_1
Masih tetap lanjut?
Selalu dukung Author dengan meninggalkan jejak setelah membaca.. Terimakasih ☺️