
Sebenarnya Cilla merasa tidak nyaman harus berjauhan dengan suaminya, karena sudah menjadi kebiasaan selama 2 bulan terakhir mereka mulai tidur bersama. Terkadang ketika dia bangun di pagi hari, dia selalu mencari suaminya yang biasa berada di sampingnya.
Sudah seminggu berlalu mereka tak saling bertemu, hingga Cilla merasa sangat rindu. Komunikasi mereka berdua pun tak begitu sering, mungkin karena kesibukan keduanya yang sulit menyesuaikan waktu satu sama lain.
Pembicaraan dengan ayahnya tentang investasi pada perusahaan keluarga Reza pun berjalan lancar, namun dari jumlah 30 milyar, ayah hanya memberikan 20 milyar saja. Dalam bisnis, ada banyak hal yang harus di pertimbangkan, walaupun dengan keluarga namun kelancaran bisnis juga jadi poin yang harus di perhitungkan.
Cilla berharap semoga dengan dana yang ayah berikan bisa membuat perusahaan keluarga Reza berjalan dengan lancar. Bisa saja ayah membeli sebagian besar saham perusahaan itu, namun ia tak ingin membuat hasil kerja keras keluarga Reza menjadi sia-sia.
Hari ini Cilla memutuskan untuk berolah raga, pergi lapangan tenis sendirian saja. Untuk menjernihkan pikiran dan untuk mengisi waktu luang setelah seharian mengurus pekerjaan.
Dia mengenakan pakaian yang sering di pakai saat bermain tenis sebelumnya, yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sempurna. Cilla sangat mahir di bidang ini, ia serius mempelajari olahraga ini bukan hanya untuk dijadikan hobi namun untuk membakar lemak dalam beberapa bulan ini.
Ia merasa berat badannya mulai naik saat 6 bulan yang lalu akhirnya dia memutuskan untuk menekuni olah raga tenis ini.
" Hai, lama tak bertemu." Suara seorang pria menyapa Cilla.
" Ah... Hai, Dito. Kenapa kamu disini?" Tanya Cilla yang terlihat sudah kenal dengan pria tersebut.
" Aku anggota di sini, tapi baru seminggu ini sih aku ikutan latihan. Oh iya, aku baru tahu kamu juga disini, kenapa kemarin-kemarin kita tak bertemu?" Dito meletakkan raketnya di kursi lalu duduk di samping Cilla.
" Itu, iya aku juga baru kembali dari Australia dan baru sempat ke sini lagi, lemak sudah terlihat menumpuk baru sadar untuk oleh raga hehehe."
" Jangan bercanda... Tubuh sekecil ini lemaknya di mana? Badanmu sudah bagus kok, paling tinggal menambah otot saja." Dito memperhatikan tubuh Cilla yang memang sudah bagus.
" Kamu kayak persoalan trainer saja hehehe."
" Kamu benar, kalau kamu mau Gym untuk membentuk otot aku bisa bantu." Senyuman manis terlihat merekah di wajah Dito yang di tumbuhi bulu tipis.
" Benarkah? Aku tak percaya, dulu kamu kan..." Cilla memperagakan jika dulu tubuh Dito gemuk.
Pantas saja tubuhnya sekarang sangat bagus, sampai tercetak di balik kaosnya yang ketat. Aku perkirakan, ototnya lebih bagus terbentuk di banding Reza.... Eh... Stop, jangan bandingkan suamimu dengan pria lain, ingat pernikahanmu.
Batin Cilla dan tanpa sadar dia menggelengkan kepalanya tanpa sebab.
" Udah jangan di bahas, aku malu jika membahas masa lalu. Tapi aku masih mengingat kebaikanmu ketika gadis-gadis lain malah menjauhiku."
" Yah... Memangnya kenapa? Semua gak perlu memandang dari fisik kan! Kamu itu orangnya baik, makanya kita bisa berteman."
Apalagi sekarang pasti banyak gadis yang terpikat olehmu.
" Terimakasih, dari dulu kamu tak pernah berubah, mau tanding denganku?" Dito mengangkat raketnya menantang Cilla untuk bermain tenis, Cilla menerimanya dengan senang hati.
Pertandingan keduanya sangat menarik, keduanya sama kuat ternyata keduanya sangat mahir bermain tenis. Cilla yang terlihat senang mendapatkan lawan yang seimbang membuatnya menghilangkan sejenak masalahnya.
Satu jam berlalu, terlihat keduanya sudah letih, Dito memberikan handuk kecil dan sebotol air mineral kepada Cilla. Segera Cilla meminum airnya hingga habis dan menyeka wajah hingga lehernya yang basah karena keringat.
Dito terus memandangi Cilla tanpa Cilla sadari, Dito tersenyum karena terpesona dengan kecantikan alami Cilla yang tak berubah dari dulu hingga sekarang.
Dito dan Cilla adalah teman masa kecil, mereka terakhir bertemu saat mereka lulus SMP. Keluarga Dito dan keluarga Cilla berteman dekat hingga mereka pun jadi sahabat, Cilla sering membela Dito ketika dia di ejek teman-temannya karena berbadan gemuk. Dulu saat SMP Dito sampai di jauhi oleh anak gadis sekolah, mereka merasa ilfil dan tak nyaman saat berdekatan dengan Dito. Pada saat itu Cilla yang termasuk salah satu gadis populer di sana, malah melindunginya. Cilla tak malu memiliki sahabat seperti dia, namun semuanya harus berpisah ketika Dito bersama keluarganya pindah ke luar negeri karena tugas. Saat itu Cilla merasa sedih karena berpisah dengan teman masa kecilnya.
" Mau makan bareng?" Ajak Dito ketika hendak pulang.
" Kayaknya gak bisa deh, aku mau cepat pulang, aku lelah banget." Tolak Cilla secara halus.
" Yasudah kalau begitu, aku duluan.... Lain kali kita makan bareng." Dito pun pergi meninggalkan Cilla.
Maaf, Dito. Aku sudah menikah jadi aku punya batasan dalam hubungan pertemanan.
_________
Cilla sampai di rumah pukul 3 sore, segera dia mandi dan berpakaian dengan nyaman. Kaos putih dan celana pendek yang biasa ia kenakan jika sedang berada di rumah.
Saat itu Cilla sedang membuka media sosialnya, duduk di kursi depan rumah sambil sesekali meminum jusnya.
__ADS_1
Terlihat sebuah mobil memasuki gerbang rumahnya, semakin dekat hingga berhenti di depan teras dimana Cilla berada.
Cilla sibuk dengan ponselnya tanpa menyadari seseorang mendekatinya. Sebuah ciuman mendarat di pipinya, sontak itu membuat Cilla terkejut.
" Reza!" Ujar Cilla tak percaya ketika melihat ada suaminya di dekatnya.
" Hai Sayang!" Senyum manis terpancar dari wajah Reza.
" Kapan kamu pulang?" Cilla terlihat sangat senang.
" Baru saja aku sampai dan aku lihat kamu sedang sibuk dengan ponselmu hingga tak menyadari jika aku sudah datang." Reza menaruh kedua tangannya di bahu Cilla lalu melingkarkannya di leher istrinya.
" Kenapa? Kamu kangen." Tambah Reza lalu mengecup pipi istrinya untuk yang kedua kalinya.
" Aku kangen, kangen banget."
Reza berdiri lalu menggendong Cilla.
" Apa yang kamu lakukan?
" Memangnya kenapa? Aku kangen kamu." Reza berjalan masuk kedalam rumah untuk segera masuk kedalam kamarnya.
" Turunkan aku, aku malu." Wajah Cilla terlihat seperti udang rebus.
Dalam perjalanan masuk, Reza dan Cilla melewati beberapa pelayan dan orangtua Cilla pun melihat Cilla yang di gendong oleh suaminya.
Para pelayan tersenyum lalu berbisik satu sama lain dengan tingkah majikannya. Begitu pula dengan orangtua Cilla yang bisa memaklumi putri dan menantunya baru bertemu namun mereka juga merasa senang dengan keromantisan anaknya.
" Tuh anak gak tahu malu yah, main gendong-gendong segala. Kan orang yang melihatnya pasti tahu apa yang akan mereka lakukan di kamar."
" Biarin saja ayah, orang mereka baru bertemu pasti ingin melepas kangen, kayak gak pernah muda aja."
Cilla membuka pintu kamarnya, Reza tak bisa karena tengah menggendong Cilla dan tak lupa untuk menutupnya bahkan menguncinya.
" Kenapa?" Reza melihat Cilla yang hanya diam namun wajahnya sangat merah.
" Aku malu, kenapa kamu melakukan itu? Tadi kamu lihat kan bagaimana ekspresi para pelayan dan orangtuaku." Cilla masih merasa malu dengan apa yang terjadi.
" Gak tuh, aku tadi hanya fokus padamu jadi tak lihat sekitaran." Reza terkesan cuek saja.
" Ih... Jangan pegang di situ, geli tahu." Cilla merasa risih dengan yang Reza perbuat.
" Memangnya kenapa? Aku suamimu jadi hak aku menyentuh di mana saja."
" Kamu seenaknya saja, iihhh... Aku bilang jangan di situ." Namun Reza tak peduli dia tetap melakukan apa yang ia inginkan.
Lalu Reza mencium Cilla dengan lembut dan sangat romantis walaupun terkadang tangannya bergerilya di tubuh Cilla.
Cilla mendorong Reza hingga mereka terlepas, dengan mencoba mengatur nafasnya dia berkata kepada Reza, " Za, maaf. Aku capek, tadi baru pulang main Tenis."
" Aku juga baru pulang dan perjalananku lumayan jauh tapi setelah melihatmu, rasa lelahku hilang." Reza pun hendak kembali mendekati Cilla.
" Besok saja yah, aku beneran lelah banget."
" Yasudah kalau begitu, aku juga harus mandi dan istirahat, maaf yah. Aku juga tak akan memaksamu jika kamu lelah." Reza mencium kening Cilla lalu beranjak ke kamar mandi.
Cilla mengelus dadanya karena merasa lega, dia tak bisa menahan rasa geli karena sentuhan tangan suaminya namun tubuhnya memang lelah, bukan sekedar alasan kosong hanya untuk menolak suaminya.
Cilla dan Reza naik ke atas tempat tidur, Reza berjanji tak akan melakukan apa-apa selain mencium dan memeluknya. Dan janji itu benar di tepati Reza sampai pagi menjelang, mereka hanya tidur sambil berpelukan.
____________
Reza sedang duduk di sofa, dia sedang mengerjakan pekerjaannya yang bisa dia kirimkan melalui email kepada Adrian. Cilla datang membawakan segelas kopi dan memberikannya kepada Reza, dengan senang hati Reza menerima kopi buatan istrinya tersebut.
__ADS_1
" Sekarang kopi buatan kamu sudah lumayan enak, gak seperti dulu." Reza menyeruput kopi buatan Cilla.
Flashback***
6 bulan yang lalu
Reza sedang mengerjakan tugas kuliahnya, untuk pertama kalinya Reza meminta Cilla membuatkannya kopi. Reza ingin merasakan kopi buatan istrinya sendiri, walaupun Reza tahu jika Cilla sama sekali tak bisa memasak namun untuk sekedar di buatkan kopi, masa Cilla tidak bisa.
Reza tidak menyukai kopi instan hingga mau tak mau Cilla harus membuatkan kopinya sesuai takaran. Cilla pergi ke dapur, mengambil kopi dan gulanya, lalu ia takar seadanya dan memasukannya ke dalam mesin kopi otomatis yang bisa menyaring ampasnya.
Setelah itu, Cilla memasukan beberapa sendok gula ke cangkir yang telah berisi kopi. Setelah selesai, dia pun membawa kopi itu ke kamarnya.
" Ini, aku yang bikin sendiri, cobain dulu." Cilla memberikannya kepada Reza dan Reza pun segera meminumnya, ekspresinya berubah namun sulit di tebak apa itu suka atau tidak.
" Bagaimana?" Cilla penasaran dengan pendapat Reza.
" Emm... Enak. Tapi aku gak mau jadi diabetes karena kopi kamu, maaf lain kali gulanya satu sendok teh saja cukup." Ujar Reza namun dia kembali meneguknya.
" Yasudah, sini biar aku buang saja." Cilla hendak mengambil gelas di tangan Reza namun Reza tak memberikannya.
" Tak usah, ini kopi pertama buatan istri jadi aku akan menghabiskannya."
Reza meneguk semua kopinya hingga habis dan memberikan gelas kosongnya kepada Cilla. Cilla pun tersenyum manis kepada suaminya yang masih menghargai buatannya walaupun kopi itu terlalu kemanisan untuknya.
Flashback End***
" Bagaimana soal kerjaan di sana? Apa investasi yang ayah berikan sudah bisa menutupi kekurangannya?" Cilla duduk di dekat suaminya.
" Terimakasih, itu sudah lebih dari setengahnya, jadi aku tak perlu tambahan dari investor yang memberiku syarat konyol itu." Reza merasa lega karena sudah terbebas dari jerat investor itu namun memang mereka tak memutuskan kontrak.
" Baguslah, kamu akan disini terus kan? Aku kangen kamu." Cilla merangkul pundak suaminya.
" Maaf sayang, aku akan kembali ke sana, untuk menyelesaikan pekerjaanku dulu. Aku paling lusa sudah kembali lagi ke sana, sekitar 1 atau 2 minggu aja."
" Sebentar di sininya? Dan lama banget lagi di sana, terus kerjaan kamu sebagai dosen di sini gimana?" Cilla mulai merajuk.
" Iya, biar semuanya sudah selesai dan aku cepat pulang. Kalau masalah kerjaanku sebagai dosen, aku minta cuti dulu 5 minggu, untungnya dapat ijin. Udah dong jangan cemberut begitu." Reza mencolek bibir Cilla yang sedikit manyun.
Cilla pun pergi meninggalkan Reza yang malah tersenyum gemas melihat istrinya yang merajuk. Cilla keluar menuju ruang keluarga lalu duduk di sofa dan menyalakan televisi dengan wajah yang masih merengut.
Bundanya melihat Cilla yang sedang duduk namun wajahnya terlihat cemberut, padahal televisi menayangkan acara komedi siang.
" Kamu kenapa? Suamimu kan sudah pulang tapi cemberut gitu. Bunda kira kalian sedang melepas rasa rindu soalnya sampai siang belum keluar kamar. hehehe."
" Gak tuh, kami hanya ngobrol saja. Aku kesal karena Reza akan kembali ke Australia, lusa nanti. Padahal kita udah lama gak ketemu, tapi secepat itu dia pergi." Gerutu Cilla.
" Mungkin dia masih banyak yang perlu di urus di sana, kamu harusnya mendukung dong. Jangan ngambek kayak anak kecil gini, support suamimu biar pekerjaan di sana cepat selesai dan dia bisa cepat pulang." Bundanya menasehati Cilla.
" Tapi aku masih kangen." Rengek Cilla seperti anak kecil.
" Yasudah, kamu balik lagi ke kamar sana, temani suamimu. Jangan ngambek terus ah, jadi jelek tuh mukanya."
" Iya iya... Yasudah, Cilla balik ke kamar." Cilla pun melakukan apa yang bundanya katakan walaupun ia masih saja kesal karena harus berjauhan lagi.
Sebelumnya Cilla membawa banyak cemilan ke kamarnya, makanan ringan dan minuman bersoda. Dia masuk ke kamar lalu duduk di sofa dan menyalakan televisi, dia sama sekali tak berbicara pada Reza. Cilla membuka cemilannya dan dia makan sendiri tanpa menawari Reza.
Reza pun hanya tersenyum dengan tingkah kekanak-kanakan Cilla yang sudah biasa dia lihat. Reza pun membiarkannya saja, tak akan lama juga dia akan biasa kembali.
Sudah 4 bungkus cemilan dan 2 kaleng soda Cilla habiskan, acara televisi pun sudah berganti tayangan. Kebetulan sedang menayangkan acara masak memasak, Cilla memperhatikan dengan serius.
Kalau aku bisa masak seperti itu pasti Reza senang, apalagi kalau enak pasti Reza akan suka!
Bersambung.....
__ADS_1
Setelah baca jangan lupa tinggalkan jejak... Terimakasih