Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan

Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan
Penyesalan


__ADS_3

Hari ini Cilla berkumpul dengan kedua temannya di kampus, begitu pun Reza yang merupakan ketua BEM di kampus datang untuk rapat dengan anggota lainnya serta beberapa dosen.


Cilla dan kedua temannya duduk di kursi taman kampus hanya untuk saling melepas rindu karena sudah lebih dari 2 minggu ini mereka tak pernah bertemu. Memang sudah tak ada lagi kelas, mereka hanya tinggal menunggu waktu wisuda tiba yang akan di laksanakan 1 bulan lagi. Terlihat di depan mereka, tepatnya di koridor kampus terlihat Reza yang berjalan dengan map di tangannya, walaupun jaraknya cukup jauh dari tempat mereka duduk namun cukup terlihat bahwa Reza sangat sibuk, tidak hanya sekali sampai berkali-kali karena memang ruangan rapat dan ruangan dosen hampir bersebelahan, mungkin ada sesuatu yang harus di lakukan sampai harus bolak-balik.


" Cill, lihat tuh suami loe kayaknya sibuk banget dari tadi bolak balik terus." ujar Dona namun Cilla hanya cuek saja menikmati sekotak minuman yang ada di tangannya.


" Yaelah... Kenapa loe diem aja sih."


" Terus gue harus ngapain? biarin aja mungkin tugas BEM dia lagi banyak." ujar Cilla datar.


" Loe tuh gitu amat sama suami, lihat aja kayak ogah-ogahan gitu. Awas loh nanti di ambil orang..." ujar Citra.


" Biarin aja... Loe mau?... Ambil aja sana."


" Hadeuh nih anak parah banget, ntar kalau di embat beneran sama orang, nangis kejer lagi." ucap Dona.


" Gak apa cuek di luar tapi kalau udah di kamar pasti lain ceritanya tuh, pasti saling kelonan hehehe." ejek Citra.


" Enak aja, orang kita tidur aja misah." tanpa sadar Cilla keceplosan berbicara.


" Apa? Apa gue gak salah denger? Terus bulan madu kalian ngapain aja? Udah 2 minggu ini kalian ngapain aja? main congklak hah.... parah loe Cill." ucap Dona yang di setujui oleh Citra.


" Apa? emang gue barusan bilang apa! sampai banyak banget pertanyaan loe pada." Cilla sok tak mengerti dengan apa yang di ucapkan temannya.


" Bolot atau loe pura-pura bolot sih, 2 minggu loh kalian nikah dan kalian tidur terpisah, apa loe gak merasa dosa sama suami loe?."


" Yah... Terus gue harus berbuat apa? Kalian tahu kan kalau gue dan Reza nikah karena terpaksa, niat gue kan nikah sama kakaknya bukan sama dia."


" Tapi kan....."


" Udah lah gak udah banyak omong, ini urusan gue, selama gue belum punya rasa, gue gak akan melakukan hal itu. Gue akan melayani dia hanya sebatas wajar saja gak lebih."


" Iya sorry, gue ngerti kok. Emang kita juga mana mau tidur bareng orang yang gak kita cinta. Loe sabar yah, semoga semakin lama semakin ada rasa antara kalian berdua." ujar Dona terlihat menyesal.


" Gue gak habis pikir sama si Adrian, tampangnya aja baik dan sok alim tapi malah ninggalin tanpa sebab dan penjelasan sama loe." Kritik Citra.


" Udah jangan di bahas lagi, gue ingin lupain cowok itu dan jangan ucapin nama dia di hadapan gue, dengernya aja bikin telinga gue sakit." pinta Cilla yang hatinya masih terasa sakit di tinggal begitu saja sama Adrian.


" Beneran nih si Reza boleh di ambil? Apa gue coba rayu yah biar dia suka sama gue hehehe. Lagian loe kan anggurin dia, pasti dia butuh kasih sayang hehehe." ucap Dona iseng.


Cilla hanya diam saja namun wajahnya memperlihatkan tanda tidak suka, melihat itu Dona dan Citra jadi cengengesan. Mereka tahu mungkin dalam hati kecil Cilla ada rasa sedikit walaupun belum sepenuhnya ia sadari.


Sementara Reza yang dari tadi bolak-balik sebenarnya melihat Cilla yang duduk bersama kedua temannya, namun dia hanya bisa menatapnya dalam diam. Sebesar rasa sayangnya dia memiliki harapan suatu saat nanti bisa memanggil nama Cilla dengan lembut dan mengucapkan kata cinta didekat telinganya, namun semua itu masih angan-angan belaka. Cilla tak pernah memperhatikannya, Cilla tidak pernah membalas cintanya yang ada hanya rasa terpaksa yang tersirat di wajahnya.


' Ketika temanmu memperhatikanku, aku juga melihatmu namun kamu sama sekali tak melirikku walaupun hanya sedetik. Sebenci itukah kamu padaku? Namun aku tak akan menyerah untuk merebut hatimu.' Batin Reza ketika menatap Cilla dari jauh yang tengah asik bercanda gurau dengan kedua sahabatnya.


_____________


Cilla bermain dengan ponselnya, duduk bersandar di tepi tempat tidur, melihat jam menunjukan pukul 18.30 Wib. Walaupun terlihat Cilla bermain dengan ponselnya namun ia seperti menunggu seseorang. Tak lama pintu kamarnya pun terbuka terlihat Reza masuk dengan wajah yang sangat lelah.


" Kamu baru pulang?" tanya Cilla.

__ADS_1


" Iya, banyak yang harus aku urus."


" Oh.... Mandi sana biar segar, terus istirahat." ujar Cilla dan Reza hanya tersenyum.


' Sedikit perhatian darimu sudah membuat aku bahagia.' batin Reza.


Seperti biasanya, malam berlalu begitu saja dengan Reza yang tetap berbaring di sofa dan Cilla di kasurnya yang cukup besar. Keseharian terus berlanjut sampai 3 bulan pun berlalu.


Cilla memutuskan melanjutkan kuliahnya ke S2 begitupun dengan Reza, dia sudah memutuskan untuk menjadi Dosen daripada melamar di sebuah perusahaan karena sebelumnya dia mendapatkan tawaran dari dosen pembimbingnya dan sekarang dia menjadi asisten dosen tersebut. Reza termasuk populer di kampusnya apalagi dengan mahasiswa tahun pertama bahkan sering kali di sapa oleh mahasiswi-mahasiswi disana dan Reza menjawabnya dengan ramah.


Di kampus tak ada satu orangpun yang tahu tentang pernikahan Reza dan Cilla, hanya kedua teman Cilla namun mereka tak melanjutkan kuliahnya hanya sampai wisuda S1 saja. Perkuliahan S2 tak sepadat sebelumnya, dalam seminggu jam pertemuan perkuliahan hanya di adakan 3 kali saja. Sementara Reza hampir tiap hari berada di kampus untuk kuliah dan asisten dosen sekaligus.


Hari ini Reza akan mengajar untuk menggantikan dosennya yang sedang sakit untuk waktu 2 minggu ini. Kebetulan Cilla pun ada kelas pada hari itu, Cilla berangkat menggunakan mobilnya hadiah pernikahan dari orangtuanya sementara Reza selalu memakai motor sport miliknya. Mereka tak berangkat bersama agar tak ada rumor yang aneh-aneh, mereka hanya ingin fokus untuk pendidikan sehingga mereka memutuskan untuk menutupi pernikahannya.


Reza memasuki ruang kelas untuk pertama kalinya sebagai pengajar, baru saja berjalan beberapa langkah suara riuh terdengar terutama suara mahasiswi-mahasiswi yang berada dalam kelas tersebut. Reza berdiri di depan lalu memperkenalkan dirinya.


" Selamat pagi... Berhubung pak Agung tak bisa hadir untuk beberapa hari jadi saya akan menggantikannya untuk sementara. Tak kenal maka tak sayang hehehe, sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri, nama saya Reza Anggara...." belum Reza selesai, ada mahasiswi yang bertanya.


" Pak, umurnya berapa?" teriak satu mahasiswi dan semuanya riuh.


" Sudah punya pacar belum, pak?" celetuk mahasiswi lain yang membuat kelas tambah riuh.


Reza pun hanya tersenyum dengan pertanyaan yang di lontarkan.


" Ok... Tenang, tolong tenang semuanya. Baik, Saya baru berusia 24 tahun jadi gak enak juga kalau di panggil bapak, kalian bisa panggil saya Kak Reza saja karena umur kita gak beda jauh. Dan.... Saya tidak memiliki pacar." ujar Reza dengan tersenyum ramah, jawaban Reza membuat kelas kembali riuh.


' Iya, aku memang tak punya pacar tapi aku punya seorang istri.' batin Reza.


" Ok, semuanya bisa tenang, kita mulai pembelajarannya."


" Kalau semua mata kuliah dosennya seperti ini, aku bakalan semangat belajar pastinya." bisik M1.


" Iya bener, cari ilmu sambil cuci mata hehehe." bisik M2.


" Apalagi dia bilang gak punya pacar, kan! Bisa di jadikan gebetan boleh dong hehehe.' bisik M3.


Pengajaran pun berlangsung selama 1 jam dan akhirnya selesai juga. Reza keluar setelah seluruh mahasiswa keluar hingga kelas menjadi kosong, tak lama Cilla masuk ke kelas di saat Reza sedang membereskan alat tulis dan bukunya ke dalam tasnya.


" Eh... Cilla, ada apa?" tanya Reza ketika melihat Cilla menghampirinya.


" Begini.. Za, aku di ajak teman-teman untuk nongkrong, boleh kan? Begini-begini juga aku tahu harus memberitahu kamu dulu sebelum kemana-mana." ucap Cilla.


" Boleh, aku tak akan mengekang kamu tapi jangan pulang malam, aku harap sore sudah pulang."


" Tapi ini sudah jam 3 sore, aku pulang jam 7 gak apa-apa kan?"


" Emmm.... Boleh, tapi harus tepat yah." Reza mengizinkan istrinya.


" Ok Za, makasih. Aku pergi dulu."


Reza hanya tersenyum, ia tak menyangka jika Cilla masih menghormatinya sebagai suami dengan meminta izin kepadanya sebelum pergi, hal kecil seperti itu sudah cukup membuat Reza senang.

__ADS_1


___________


Cilla memarkirkan mobilnya ke dalam garasi rumahnya, ia baru sampai rumah pukul 19.15 WIB. Ketika memasuki rumah, Cilla berpapasan dengan Orangtuanya di ruang keluarga.


" Cilla, kamu baru pulang jam segini?" tanya Hardi sambil melihat jam di tangannya.


" Iya Yah, aku habis main sama teman-teman." balas Cilla.


" Suamimu sudah pulang dari sore tapi kamu malah keluyuran sama teman-teman, kamu itu sudah menikah, tak baik masih senang-senang di luar sementara suamimu menunggu di rumah." Hardi meninggikan nada suaranya.


" Tapi Yah, aku sudah izin pada Reza dan Reza pun mengizinkannya."


" Iya, itu sudah bagus tapi kamu harus tahu posisi kamu sekarang, bukan seperti teman-temanmu yang masih lajang, kamu harus mengubah kebiasaanmu itu." Bentak Hardi.


" Sudahlah mas, Cilla baru pulang jangan di marahi seperti itu." lerai Sarah.


" Tapi tak begini juga, dia harus tahu jika sekarang dia itu seorang istri bukan perempuan lajang lagi." tambah Hardi.


Cilla pun hanya menangis lalu berlari menuju ke kamarnya, Cilla membuka pintu kamarnya dengan wajah yang penuh air mata dan terisak-isak, tangannya terus mengusap air matanya yang terus mengalir di pipinya. Reza yang melihat itu langsung menghampiri Cilla dan mencoba menenangkan serta menanyakan apa yang terjadi padanya sampai ia menangis seperti itu.


" Cilla, kenapa kamu menangis? Ada masalah apa? Coba ceritakan padaku." tanya Reza yang terlihat khawatir.


" Itu... Ba..baru saja.. A.. aku pulang, ayah lang...langsung mengomeliku... Aku gak salah kan... Aku sudah meminta ijin padamu." Cilla terus saja menangis tersedu-sedu.


" Iya, kamu gak salah jadi... sudah jangan menangis lagi..." Reza memeluk Cilla untuk membuatnya tenang. Cilla hanya bisa menahan tangisannya walaupun masih saja terisak-isak.


Reza terus memeluknya dan mengelus kepalanya agar Cilla merasa tenang, lalu Sarah mengetuk pintu dan meminta ijin masuk ke dalam kamar mereka. Sarah melihat Cilla dan Reza berpelukan, juga melihat Cilla yang terisak-isak.


" Maaf bunda masuk begitu saja, Bunda hanya ingin menenangkan Cilla karena tadi Cilla masuk kamar dengan menangis."


" Iya, Bun. Tidak apa-apa, saya juga mencoba menenangkan Cilla." Reza pun melepaskan pelukannya pada Cilla.


" Iya, tadi Ayah memarahi Cilla karena Cilla pulang malam sementara suami sudah di rumah. Sebenarnya perkataan Ayah memang ada benarnya namun cara penyampaiannya saja yang salah. Bunda minta, kamu harus turuti apa kata ayah demi kebaikan kalian berdua dan juga Reza harus bisa lebih tegas kepada istri agar tak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan."


" Iya Bunda." Balas Reza, Cilla hanya terdiam duduk di tepi tempat tidur.


" Yasudah, bunda permisi dulu." Sarah pun keluar dari kamar mereka.


Cilla langsung membaringkan tubuhnya menyamping membelakangi Reza, lalu menutup seluruh tubuhnya dari kepala sampai kakinya dengan selimut. Reza menghampiri Cilla dan hendak meraih pundaknya untuk sekedar menenangkan namun niatnya terhenti dengan perkataan Cilla.


" Jangan ganggu aku, aku butuh waktu sendiri, ini semua salah kamu, kenapa aku harus menikah denganmu... " Teriak Cilla dan suara tangisan kembali terdengar, Reza hanya bisa menatap Cilla yang terisak lalu ia menjauhi Cilla untuk duduk di sofa di mana biasanya ia tidur.


' Maafkan aku, Cilla. Mungkin memang pernikahan ini adalah sebuah kesalahan, aku tak akan mengganggumu jika kamu merasa tidak nyaman.' batin Reza. Ia menarik selimutnya mencoba untuk tertidur.


Cilla di balik selimut terus saja terisak, ' Maafkan aku Reza, telah menyalahkanmu tapi pernikahan ini bukanlah pernikahan yang aku inginkan dan aku impikan, aku belum menerimanya dengan ikhlas.' batin Cilla.


Tengah malam Reza pun terbangun, dia keluar kamar menuju ke arah dapur. Dia mengambil kopi instan di lemari dapur lalu menyeduhnya. Kemudian dia duduk di meja makan sambil menikmati kopi tersebut, ia tak bisa tidur dengan banyaknya pikiran dalam hatinya.


' Jika akhirnya seperti ini, aku tak akan menyetujui pernikahan ini walaupun aku sangat mencintai Cilla. Aku malah seperti merebut kebahagiaan Cilla, andai saja kecelakaan tak terjadi pada bang Adrian! Andai aku tak menerima permintaan Adrian! Mungkin hal ini tak akan terjadi. Cilla, aku akan merelakanmu seandainya ada pria lain yang bisa membahagiakanmu nanti, aku tak akan memaksakan kehendakku asal kamu bahagia walau tak bersamaku.' batin Reza yang tak rela melihat Cilla merasa tak nyaman dengan pernikahan mereka ini.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon bagi para pembaca selalu dukung Author dengan memberikan jejak setelah membaca.


Terimakasih ☺️


__ADS_2