
Reza telah selesai merapikan barang-barang di kopernya, tak begitu banyak barang yang ia bawa sementara Cilla masih saja berusaha membereskan barang-barang di koper yang ke 3.
" Kamu masih belum selesai?" tanya Reza.
" Belum, ini masih pada numpuk." Cilla memasukan satu persatu barang yang akan dia bawa.
" Perasaan kemarin pas kita berangkat cuma ada 1 koper tapi sekarang ada 3 koper. Apa kamu terus belanja tanpa sepengetahuanku?"
" Iya, saat kamu tidur kayak kebo, aku pergi belanja di temani pak Tanaka san, padahal aku belanja cukup lama tapi aku pulang, kamu masih saja tidur."
" Yah... aku kurang tidur semalaman waktu itu jadi siangnya aku habiskan waktu untuk tidur."
" Memangnya kenapa kamu tak bisa tidur?"
" Oh... itu... kamu tak perlu tahu, ini masalah pria." balas Reza.
*Flashback
Cilla tidur terlebih dahulu setelah Chatting dengan sahabat-sahabatnya, apalagi tubuhnya terasa pegal-pegal padahal tak melakukan hal yang banyak, seharian hanya di hotel saja karena salju turun sangat lebat hari itu. Reza malah terus asyik dengan ponselnya, Reza sedang bermain games kesukaannya hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.35 malam. Reza meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal karena bermain games cukup lama. Reza beranjak dari sofa menuju ke arah kulkas untuk mengambil minum karena tenggorokannya terasa kering. Reza melewati tempat tidur dimana Cilla terlelap, tak seperti biasanya malam ini posisi tidur Cilla sangat berantakan, yang biasanya memakai selimut sekarang selimutnya hanya tergeletak begitu saja di bawah kakinya. Malam ini Cilla mau tak mau mengenakan pakaian tidur yang di siapkan oleh orangtuanya yang dimana cukup minim, karena kaos dan celana pendek yang biasa ia pakai untuk tidur sudah cukup sering di pakai hingga sudah berbau. Baju tidur yang cukup rendah belahan dadanya dan celana yang sangat pendek memperlihatkan pahanya dengan bahan tipis hingga lekuk tubuhnya pun terbentuk. Cilla tidur terlentang dengan tangan sebelah terangkat di samping kepalanya sedangkan sebelahnya berada di atas perutnya yang pakaiannya sedikit tersingkap hingga sebagian perutnya terlihat.
Reza yang melihatnya langsung muncul rasa yang biasa lelaki rasakan saat melihat sesuatu yang indah di hadapannya, seperti binatang buas yang ingin menerkam mangsanya. Namun Reza hanya menahan diri, ia tak ingin membuat Cilla terkejut jika dia langsung mendekatinya secara mendadak. Reza mengalihkan perhatiannya, kembali melanjutkan langkahnya menuju kulkas. Ia langsung membuka kulkas dan mengambil sekaleng minuman soda dan meneguknya hingga habis. ' Please... otakku Sadarlah, ini bukan saatnya. Please... Reda... reda... reda...' Reza kembali mengambil sekaleng minuman Soda lalu berjalan untuk kembali ke sofa dimana biasa dia tidur. Dia melihat Cilla yang masih tidur di posisi yang sama, Reza menghampirinya membenahi posisi tidur Cilla lalu menyelimutinya. ' Lain kali jangan membuat naluriku bangkit, bisa berbahaya jika aku tak bisa menahannya seperti sekarang, selamat tidur.' batin Reza.
Reza bersandar di sofa dengan meneguk sedikit demi sedikit minuman sodanya, namun ia masih merasa tubuhnya tak sejalan dengan pikirannya. ' Kalau begini terus mungkin dengan olahraga bisa reda, iya aku harus olahraga.' batin Reza.
Beberapa gerakan olahraga ia lakukan seperti push up, lari di tempat dan peregangan yang mungkin bisa meredakan nalurinya. Akhirnya dia pun kembali duduk karena sudah merasa cukup lelah dan keringat membasahi keningnya. ' Dulu aku tak pernah merasakan hal seperti ini, melihat perempuan yang berpakaian terbuka pun aku biasa saja, tak ada yang aneh tapi kenapa ketika melihat Cilla dengan pakaian terbuka membuat naluriku bangkit. Jujur aku tak mengerti dengan diriku sendiri.' batin Reza.
Sudah merasa biasa kembali Akhirnya Reza bisa memejamkan matanya walaupun sudah menjelang pagi baru ia bisa terlelap.
*Flashback End
Melihat Cilla yang terlihat kecapekan membereskan barang-barangnya, Reza pun mendekat untuk membantu Cilla. Reza membantu memasukan barang-barang istrinya ke dalam kopernya, hingga semuanya pun beres. Cilla duduk di sofa sementara Reza mengambil minuman dingin untuk mereka berdua.
" Kamu belanja sebanyak ini pakai uang siapa?"
" Yah... pakai kartu kredit yang ayah kasih melalui pak Tanaka San. Ayah sengaja membuat kartu ini untuk bisa digunakan saat kita honeymoon di jepang."
" Oh... Ok... tapi kedepannya aku yang akan membiayai hidupmu, karena aku suamimu. Aku akan bertanggungjawab atas hidupmu, mulai dari aku mengucapkan ijab qobul waktu itu. Jadi tolong nanti kamu kembalikan semua kartu kredit kepada ayahmu."
" Tapi Reza, kamu kan belum kerja dan kita juga belum wisuda, bagaimana kamu cari uangnya?"
" Habis Wisuda, aku akan berusaha mencari kerja untuk membiayai hidup kita, kamu tak perlu khawatirkan itu."
" Ok, setelah kamu dapat pekerjaan, aku akan mengembalikan semuanya pada ayah tapi untuk sekarang kita gunakan dulu kartu kredit ayah sebelum kamu dapat pekerjaan."
Waktu keberangkatan pesawat pun tiba, mereka segera masuk kedalam pesawat. Seperti biasanya dalam perjalanan Cilla selalu tidur sementara Reza asyik melihat-lihat foto-foto yang ia ambil saat di jepang. Banyak sekali foto-foto pemandangan dan tempat-tempat populer yang ia ambil, lalu ada beberapa foto Cilla yang Reza ambil secara diam-diam. ' Dia memang cantik, wanita cantik yang sekarang ini menjadi istriku.' senyuman manis menghiasi bibir Reza ketika ia terus melihat-lihat foto Cilla di layar laptopnya.
____________
Di suatu tempat terlihat Adrian sedang berdiri di pinggir kaca jendela yang sangat besar, ia menatap jauh ke depan banyak pohon pinus hijau dan salju putih yang kontras. Ia menatap kosong seolah ada yang ia pikirkan selama dia berdiri.
" Kamu masih saja seperti ini? Apa kamu menyesal telah merelakan kekasihmu pada adikmu." suara wanita membuat Adrian beralih pandang.
" Aku.... Aku sekarang tidak apa-apa, aku hanya masih merasakan rasa sakit pasca operasi sehingga aku tak bisa beraktivitas lebih banyak."
" Tapi selama ini kamu sering melamun dan hanya berdiam diri padahal dokter bilang itu hanya operasi kecil kan."
__ADS_1
" Kamu benar, ini hanya operasi kecil namun ini membuatku harus mengambil keputusan besar dan mengubah total jalan hidupku. Sialan... Kalau tak terjadi kecelakaan itu, aku tidak akan begini." ujar Reza kesal.
" Sudahlah, lupakan masa lalu dan sekarang kamu tak usah memikirkan hal lain, pikirkanlah aku. Aku siap menerimamu apa adanya." Ujar perempuan itu yang memeluk Adrian dari belakang.
" Kamu tahu jika aku sekarang tidak sempurna sebagai seorang pria." ujar Adrian dingin.
" Aku tahu, aku akan menerimamu apa adanya. Masalah keturunan, aku tak terlalu mempermasalahkannya." perempuan itu bermanja-manja dengan Adrian.
" Lepaskan aku, saat ini aku tak bisa menerima siapapun termasuk kamu. Dulu kita memang sepasang kekasih tapi sekarang hatiku masih untuk Cilla dan aku tak akan bisa memberikanmu anak, bahkan untuk prosesnya juga aku tak akan bisa melakukannya." Adrian merasa sangat frustasi dengan keadaannya.
" Dokter pun bilang jika itu hanya sementara, jika terus melakukan pengobatan mungkin akan kembali normal."
" Iya, aku tahu.... Tapi kapan? aku sudah melakukan pengobatan semenjak kecelakaan tapi tetap tidak ada perubahan." rasa pesimis terus muncul di benak Adrian.
" Pengobatan juga baru beberapa minggu, kamu jangan terlalu pesimis. Aku siap menunggu asalkan kamu menikahiku, untuk kehidupan pernikahan kita nanti tak mesti selalu berhubungan dengan fisik, kita bisa saling bahagia dengan kita saling memberikan perhatian dan kasih sayang dalam bentuk yang lainnya." ujar perempuan itu.
" Suzan, aku tahu kamu wanita yang baik, tapi aku tak ingin mengecewakanmu. Selalu ingin di cintai, saling berbagi itu pasti dan kamu tahu jika sifat naluriah manusia juga termasuk dalam hubungan fisik. Apa kamu sanggup jika aku tak bisa memberikanmu itu?" keluh Adrian.
" Aku mencintaimu dengan tulus Adrian, aku tak peduli dengan itu, kita bisa saling memuaskan dengan cara lain. Yang terpenting aku bisa bersamamu itu sudah cukup membuatku bahagia, jujur aku sama sekali tak ingin kehilanganmu lagi." ujar Suzan dengan yakin.
Adrian menarik Suzan kedalam pelukannya, " Terimakasih kamu sudah merawatku selama ini, tapi untuk sekarang aku belum bisa mengambil keputusan. Aku masih sangat mencintai Cilla, aku sama sekali belum bisa melupakannya. Kamu bisa menungguku lebih lama, agar aku bisa menata perasaanku terlebih dahulu."
" Tak perlu berterima kasih, aku melakukan ini karena aku tulus mencintaimu. Sampai kapanpun, aku janji aku akan selalu menunggumu. Jadi kamu harus terus melakukan pengobatan, kita harus berusaha jangan langsung menyerah." ujar Suzan semakin erat memeluk Adrian.
" Sekali lagi terimakasih." Adrian melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Suzan yang tersenyum ke arahnya.
______________
Reza dan Cilla sudah sampai di rumah, baru saja mereka turun Sarah sudah datang menyambutnya.
" Bagaimana Honeymoonnya? Menyenangkan?"
" Nanti aku cerita, kita masuk dulu yah Bun." Balas Cilla yang lunglai kecapekan karena perjalanan jauh.
Mereka pun masuk kedalam rumah dan sebelumnya memerintahkan asisten rumah tangganya untuk membawa barang-barang Reza dan Cilla ke kamar mereka. Cilla menjatuhkan tubuhnya di atas Sofa begitupun Reza ikut duduk di sampingnya. Sarah duduk berhadapan mereka berdua dengan tatapan penuh pertanyaan.
" Habis bulan madu kok lemes begitu? Kelihatannya kamu capek banget."
" Kan baru perjalanan jauh, Bun. Badanku capek dan pegal-pegal jadinya."
" Oh.... Tapi bunda lihat, Reza biasa saja tuh."
" Yah... Mana aku tahu." balas Cilla sekenanya.
" Pertanyaan Bunda tadi belum di jawab? Bagaimana perjalanan bulan madu kalian?"
" Menyenangkan, saya suka suasananya." balas Reza.
" Tapi aku bosan di kamar hotel terus, cuacanya dingin selalu turun salju, jadi aku tak puas untuk keliling disana." tambah Cilla.
" Kenapa bosan? Masih banyak yang bisa di lakukan pengantin baru kan, malah kebanyakan orang-orang malah malas keluar kamar, inginnya berduaan terus hehehe."
" Ih... Bunda, jangan samain aku sama orang lain, beda tahu."
Tak berapa lama Hardi pun datang, ia ikut duduk di samping Sarah.
__ADS_1
" Kamu tuh kepo banget sih sama urusan anak kita!" ujar Hardi.
" Yah gak apa-apa dong mas, aku juga kan penasaran ingin tahu saja apa mereka senang kita kasih hadiah pergi honeymoon kesana! Aku juga gak nanya yang aneh-aneh." balas Sarah.
" Apa kalian senang dengan hotel dan pelayanannya disana?" tanya Hardi.
" Aku suka banget Ayah, kamarnya bagus dan luas, pelayanannya juga memuaskan terutama ada Spa yang bisa menenangkan otot-otot yang kaku. Pijatannya sangat enak membuat badan segar, tapi ayah pesan yang couple yah!"
" Ayah sengaja, biar kalian bisa rileksasi bersama. Ayah memesan hotel dan pelayanan terbaik disana agar kalian nyaman dan bisa menikmati bulan madu kalian. Tapi ayah dapat pemberitahuan kartu kredit kalau penggunaannya sampai menghabiskan 50jt. Kalian belanjan apa saja?"
" Bukan saya sih Om, eh Ayah. Tapi Cilla yang belanja sampai nambah 2 koper." balas Reza.
" Iya pah, aku belanja barang-barang yang cantik-cantik soalnya kapan lagi aku bisa kesana. Aku juga beli beberapa oleh-oleh untuk Ayah, Bunda dan kedua adikku." jawab Cilla.
" Yasudah, kalian istirahat saja, kalian pasti capek setelah perjalanan jauh. Besok ada yang ingin ayah bicarakan dengan kalian berdua."
" Baik Ayah."
" Kalian tidur di kamar Cilla, kami sudah mengganti tempat tidurnya dan beberapa interiornya dan menambah tempat untuk menyimpan baju Reza." ujar Sarah.
" Iya, saya sangat berterimakasih."
" Udahlah, kamu kan sudah menjadi suami Cilla, jadi kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Kamu jangan sungkan seperti itu." ujar Sarah.
Cilla dan Reza pun akhirnya masuk ke kamar mereka, terlihat memang kamar Cilla menjadi berbeda dengan tempat tidur yang cukup besar dan Sofa yang lebih besar juga daripada yang dulu. Cilla membuka kamar tempat penyimpanan baju dan terlihat di bagi dua yang sebelah telah terisi oleh baju-baju dan aksesoris milik Cilla dan sebelah lagi masih kosong, mungkin untuk baju-baju Reza nanti. Cilla merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sedangkan Reza duduk di Sofa dan menyandarkan tubuhnya yang lumayan pegal.
" Ini kamar kamu?"
" Iya, memangnya kenapa?"
" Apa gak terlalu besar untuk dijadikan kamar? Kamu juga hanya sendiri."
" Gak kok, saat kecil aku pakai kamar yang agak kecil dari ini, saat masuk SMP sampai sekarang yah aku menempati kamar ini."
" Memang yah, kalau anak konglomerat mah beda, kalau orang biasa sih ini udah seperti 1 rumah."
" Yah memangnya salah, toh ini orangtuaku yang kasih, masa aku nolak." ucap Cilla sedikit sewot.
" Iya iya sorry, aku cuma gak nyangka saja kamar kamu sebagus dan seluas ini." balas Reza santai.
" Masalah tempat tidur, kamu gak apa-apa kan tidur di sofa?"
" Oh... Iya gak masalah, aku tidur dimana saja bisa kok. Tenang saja."
" Maaf yah aku belum terbiasa dengan kejadian ini, aku juga belum siap jika harus tidur satu ranjang."
" Iya, aku mengerti apa yang kamu rasakan, jadi santai saja." Balas Reza.
" Yasudah kita istirahat dulu saja sebelum waktu makan malam tiba, aku mau mandi dulu, kamu bisa bereskan bajumu di ruang pakaian sebelah sana." ujar Cilla.
Reza hanya mengangguk, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa yang cukup nyaman untuk menghilangkan kecapekan dan rasa pegal di tubuhnya.
Bersambung....
Selalu dukung Author dengan meninggalkan jejak setelah membaca...
__ADS_1
Terimakasih ☺️