
Hardi mendapatkan undangan pesta dari rekan bisnisnya, pesta ulang tahun pernikahan anaknya yang pertama, mereka juga mengundang Cilla untuk ikut hadir di pesta tersebut. Hardi memberitahu Cilla dan Reza untuk datang bersama ke pesta tersebut, mereka harus mengenakan pakaian hitam atau putih karena itu termasuk tema di pesta tersebut. Sebenarnya Cilla tak menyukai pesta dan malas untuk pergi namun untuk menghargai Ayahnya juga menjaga hubungan baik dengan rekan kerjanya, akhirnya dia setuju pergi bersama Reza. Suite dan gaun sudah di persiapkan untuk pesta tersebut melalui designer langganan keluarga Hardi yang sudah sangat tahu seperti apa dan ukuran yang mereka inginkan.
Hardi dan Reza memakai suite berwarna hitam dengan hiasan dasi kupu-kupu, Sarah mengenakan gaun berwarna putih yang tertutup namun elegan sementara Cilla menghubungkan gaun sebatas lutut tanpa lengan dengan belahan bagian dada sedikit rendah khas gaun anak muda jaman sekarang, di padukan dengan sepatu high heels dan tas dengan warna senada menambah sempurna penampilannya. Mereka berangkat bersama namun dengan mobil terpisah, dengan di kendarai oleh supir masing-masing.
Sampailah di lokasi pesta diadakan, Hardi dan Sarah berjalan dengan Sarah memegang lengan suaminya. Sementara Cilla seperti cuek saja pada suaminya lalu Sarah memberikan isyarat agar Cilla bersikap layaknya suami istri dan akhirnya Cilla pun menggenggam lengan Reza sampai ke ruangan pesta.
Hardi menemui tuan rumah, begitupun yang lainnya mengikuti Hardi.
" Selamat malam Pak Marwan." Sapa Hardi.
" Oh... Pak Hardi, selamat malam. Saya bersyukur anda bisa hadir di pesta kami, oh iya saya perkenalkan anak dan menantu saya. Ini Jacklyn putri saya dan Dirga menantu saya." ujar Pak Marwan.
" Salam kenal, ini Sarah istri saya. Putri saya Cilla dan suaminya Reza." balas Hardi dan semuanya pun saling berjabat tangan.
" Saya dengar anak dan menantu anda masih kuliah? Dimana?"
" Iya, mereka melanjutkan ke S2 di kampus yang sama."
" Kalau anak saya sudah selesai S1 di New York, menantu saya juga menyelesaikan studinya di Jerman terlebih dahulu setelah itu mereka baru menikah. Dan sekarang putri saya dan menantu saya bekerja di perusahaan saya untuk meneruskan perusahaan saya nantinya." ujar Pak Marwan bangga.
" Oh bagus sekali..." balas Hardi dingin.
Mereka pun berbincang cukup lama, keluarga Hardi tak nyaman dengan pembicaraan pak Marwan yang selalu menyombongkan anak menantunya dan perusahaannya yang katanya ia rintis dari awal. Bahkan seperti mulutnya akan berbusa karena terus saja mengoceh tanpa memberikan lawan bicaranya untuk membalas.
" Bagus, memang selain perusahaan pak Marwan sekarang, apa masih ada pengembangan? Maksud saya, mengelola aspek lain agar perusahaan berkembang tak hanya di satu bidang saja." tanya Hardi.
" Emmm.... Saya hanya memiliki perusahaan saja yang saya kelola tapi kan cukup besar." balas Pak Marwan.
" Iya saya tahu itu, perusahaan bapak cukup besar maka dari itu kita menjalin bisnis. Anda tahu hotel ini? Ini adalah hotel milik MK Company dan saya selaku pemiliknya, Hotel ini hanyalah cabangnya di kota ini dan tersebar di pulau Jawa ini dan Saya juga membuka beberapa mall yang tersebar hampir di seluruh Indonesia." ujar Hardi menyebutkan semuanya karena cukup kesal dengan apa yang di bicarakan pak Marwan yang terus sombong di hadapannya.
" Oh... Itu...." pak Marwan tak bisa menjawab lagi.
Pak Marwan adalah rekan bisnis yang baru 2 bulan ini bekerja sama dengan MK Company, mungkin mereka sepertinya tak menelusuri latar belakang MK Company sehingga Pak Marwan tidak tahu seberapa besar perusahaan MK Company itu sehingga dia terus saja menyombongkan diri.
Masalah pendidikan putrinya, Hardi tak mengharuskan untuk pergi ke luar negeri, Hardi membolehkan anaknya untuk memilih di mana ia ingin menempuh pendidikan. Toh masih banyak universitas di Indonesia yang mencetak orang-orang pintar dan orang-orang yang berpengaruh di dunia.
Hardi dan Sarah berkeliling menyapa rekan-rekan bisnisnya yang kebetulan banyak yang datang sehingga Hardi sibuk mengobrol dengan mereka.
Sementara Reza dan Cilla seperti bosan berada di pesta tersebut. Untuk menghilangkan rasa bosan, mereka mengambil makanan yang telah tersedia. Layaknya pesta orang kaya, semua tamu hanya berdiri tak di sediakan kursi untuk duduk. Tanpa Reza ketahui, Cilla mengambil segelas minuman berwarna merah yang pelayan bawa untuk di bagikan ke siapa saja yang mau, Cilla meminumnya dengan sekali tegukkan. Ketika Reza hendak berbicara kepada Cilla tiba-tiba Cilla terhuyung lalu Reza pun segera menangkapnya.
" Kamu kenapa?" tanya Reza yang menopang tubuh Cilla.
" Aku gak tahu tapi kepalaku pusing sekali." balas Cilla yang tak bisa menyeimbangkan dirinya dan terus memegangi kepalanya.
__ADS_1
" Kamu sakit?" tanya Reza khawatir.
" Setelah aku meminum minuman yang di bawa pelayan itu yang berwarna merah, yang rasanya pahit itu dan kepalaku langsung pusing." ucap Cilla yang berada di dekapan Reza.
Reza melihat-lihat minuman apa yang Cilla minum, lalu Reza memanggil pelayan dan menanyakan minuman merah itu apa? ternyata itu adalah Wine, minuman beralkohol. Berarti sekarang Cilla tengah mabuk, karena Cilla tak pernah sekalipun meminum minuman beralkohol. Reza menghampiri mertuanya dengan memapah Cilla yang sudah kehilangan keseimbangan.
Melihat itu Sarah khawatir dan langsung bertanya kepada Reza, " Za, Cilla kenapa?"
" Sepertinya Cilla mabuk, dia meminum minuman yang ternyata mengandung Alkohol." balas Reza yang terus menahan tubuh Cilla.
" Yasudah, kalian pulang terlebih dahulu, biar Cilla bisa istirahat." ujar Hardi kepada Reza.
Selama di dalam mobil, Cilla terus bersandar di pundak Reza, sesekali dia tertawa dan sesekali dia menangis. Reza hanya mendiamkan saja, dia hanya menahan tubuh Cilla agar tidak terjatuh. Sesampainya di rumah, Reza menggendong Cilla dengan kedua tangannya, Cilla melingkarkan tangannya di leher suaminya. Ketika di dalam kamar, Reza langsung membaringkan tubuh Cilla di atas tempat tidur, Cilla masih saja tak sadarkan diri kadang dia meracau tidak jelas. Ketika Reza hendak beranjak mengambil sesuatu, Cilla langsung menarik Reza hingga duduk kembali. Seketika kedua tangan Cilla mencengkeram pipi Reza sampai bibir Reza menjadi manyun, tiba-tiba Cilla langsung menciumnya membuat Reza terbelalak, namun dia tak menolaknya malah ikut mengimbangi ciuman Cilla. Tangan Cilla sekarang melingkar di leher Reza tanpa melepaskan ciumannya untuk beberapa lama. Reza membuka jasnya beserta dasi kupu-kupunya lalu melemparnya sembarang, ciuman pun terhenti. Cilla menatap Reza lalu ia membuka kancing kemeja Reza satu persatu hingga habis. Reza yang tak bisa menahan gairahnya langsung merebahkan tubuh Cilla tanpa melepas Ciumannya, lalu ia membuka kemejanya yang kancingnya sudah Cilla lepas semuanya. Ciuman Reza turun ke samping leher Cilla dan Cilla pun mulai menggeliat karena merasakan geli oleh ulah Reza. Tangan Reza mulai menyentuh paha Cilla perlahan sampai rok gaun yang Cilla kenakan semakin ke atas sedikit demi sedikit. Reza pun kembali mencium bibir Cilla namun kali ini tak ada balasan dari Cilla, akhirnya Reza menghentikannya dan menatap wajah istrinya yang ternyata telah terlelap. Dengan wajah yang kecewa dan nafas yang cepat, Reza menjauhi Cilla lalu duduk di sofa. Reza memegang kepalanya dan menghela nafas panjang, senyuman frustasi menghias bibirnya.
" Cilla... Cilla... beraninya kamu menggodaku dan membangkitkan gairahku namun aku malah di tinggal tidur begitu saja. Tega sekali kamu." Gumam Reza yang terlihat frustasi.
Malam harinya Cilla terbangun, dengan susah payah ia pun terduduk di tepi tempat tidur. Ia memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing. Dia melihat jam menunjukan pukul 01.00 malam, sayup-sayup ia mendengar suara di kamar mandi lalu ia menatap sofa dimana Reza biasa tidur namun tak melihat siapapun. Cilla beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi, suara itu berasal dari sana. Cilla berpikiran pasti Reza sedang berada di kamar mandi, suaranya pelan namun seperti sebuah erangan kecil. Cilla hanya terdiam ketika melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, melihat Reza yang berdiri membelakangi pintu entah sedang melakukan apa namun suaranya terus terdengar hingga sedikit kencang dan akhirnya berhenti. Setelah itu Cilla sedikit berlari kembali ke tempat tidur lalu ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Cilla mendengar guyuran air dan tak lama mendengar langkah kaki beberapa kali, Cilla hanya diam sampai tak terdengar suara apapun lagi. Barulah Cilla membuka selimutnya dari atas kepalanya, lalu melirik ke arah belakangnya dan melihat Reza telah tidur.
' Apa yang Reza lakukan tengah malam begini tadi? Sampai bersuara seperti itu, aku sedikit merinding mendengarnya.' batin Cilla.
Setelah memastikan Reza sudah pulas, Cilla pun segera ke kamar mandi karena dari tadi dia sudah menahannya cukup lama, sekalian dia membawa baju tidur untuk mengganti pakaiannya yang masih dengan gaun pestanya yang belum di ganti.
___________
" Kamu tak ingat kejadian semalam?" tanya Reza yang melihat Cilla bersikap biasa saja.
" Memangnya kejadian apa? Kalau waktu di pesta, aku hanya ingat sampai saat kepalaku merasa pusing. Memangnya ada kejadian apa?" ucap Cilla bingung karena dia tidak mengingat apapun.
" Yasudahlah, tak usah di bahas." ujar Reza sedikit kesal. Cilla mencoba mengingatnya namun tak ada ingatan yang terlintas dalam pikirannya.
" Apa maksud kamu kejadian saat aku melihatmu di kamar mandi? Tapi kamu membelakangi pintu, apa kamu melihatku juga? Maaf soalnya pintu kamar mandinya sedikit terbuka, aku tak sengaja melihatmu dan mendengar suara anehmu." ucap Cilla dengan sangat polosnya.
" Apa? Kamu beneran lihat itu." teriak Reza yang sangat terkejut sampai membuat Cilla pun terkejut, Cilla hanya menjawab dengan anggukan.
" Itu semua salahmu." ucap Reza dengan nada suara yang kembali rendah.
" Kok salah aku sih? Memangnya apa yang aku lakukan." kesal Cilla.
" Kalau bukan karena kamu, semalam aku gak akan melakukan itu. Kamu seenaknya saja tidur begitu saja." ujar Reza.
" Memangnya aku salah kalau aku tidur? Terus apa hubungannya dengan kamu mengerang di dalam kamar mandi." ujar Cilla dengan nada tinggi karena kesal.
" Kamu beneran gak ingat? dan beneran gak tahu aku melakukan apa di kamar mandi." tanya Reza meyakinkan, Cilla kembali mengangguk.
__ADS_1
" Hahahahahahahaha." Reza tertawa terbahak-bahak.
" Kenapa kamu tertawa?" tanya Cilla bingung.
" Hei.. Umur kamu sudah hampir 23 tahun, kamu masih sepolos itu. Hahaha... Ingat semua kejadian semalam, pasti kamu akan tahu salahmu padaku itu apa!" ujar Reza yang kembali tertawa namun Cilla masih terlihat bingung dengan maksud Reza.
_____________
Seharian Cilla memikirkannya tak ada yang ia ingat tentang kejadian semalam, lalu ia memutuskan untuk pergi menemui temannya, Elya yang mengajak Cilla untuk nonton bareng film horor yang baru keluar.
" Hei Cil, sebelah sini?'l" Elya melambaikan tangannya dan Cilla pun segera berjalan menghampirinya.
" Kamu ini, weekend gini harusnya mengajak pacar atau gebetan bukan ngajak aku." ujar Cilla.
" Yah mau bagaimana lagi, gebetan aja gak punya apalagi pacar, kamu tahu sendiri kan! setiap cowok yang aku coba dekati malah udah pada punya pacar atau udah teman dekat, jadilah aku jomblo yang setia." ucap Elya yang terkesan pasrah dengan keadaan.
" Kamu udah pesan tiketnya?"
" Udah, ini!" Elya memperlihatkan 2 lembar tiket di tangannya.
" Aku beli popcorn dan cola dulu." Cilla pun pergi, tak berapa lama kembali dengan membawa 2 wadah popcorn dan 2 gelas cola lalu memberikan satu pada Elya.
Mereka pun duduk di barisan ke 3 dari depan agar dapat menonton dengan nyaman, film pun di mulai, Elya sudah terlihat kaget dan takut ketika film telah menayangkan adegan horornya namun terlihat Cilla hanya diam, menatap kosong tanpa memperhatikan tayangan di layar besar tersebut.
" Astaga." Cilla sedikit berteriak hingga membuat orang yang mendengarnya kaget dan menatap ke arah Cilla termasuk Elya, padahal adegan di layar bioskop bukan adegan yang bikin kaget, hanya orang yang sedang mengobrol biasa.
" Kamu kenapa? Filmnya kan gak menayangkan scene horor." tanya Elya bingung.
" Ah... Gak... Maaf!" ucap Cilla yang wajahnya bersemu merah di balik lampu bioskop yang temaram.
Cilla sangat terkejut dengan apa yang ia ingat, semua kejadian semalam sangat jelas terlihat di ingatannya, mulai dari dia salah mengambil minum hingga dia mabuk, meracau tak karuan di mobil, di gendong Reza karena sudah mulai tak sadarkan diri dan yang membuat Cilla tak percaya bahwa dia yang menarik Reza yang hendak pergi lalu menciumnya begitu saja sampai dia yang membuka kemeja suaminya, ia juga masih ingat dengan rasa yang di timbulkan saat itu sampai ia tak tahu kejadian selanjutnya bagaimana, karena saat dalam situasi yang memanas dia malah tertidur lelap.
' Ya ampun, ternyata semalam aku.... Kenapa aku seperti itu?... Apa yang aku lakukan?... Apa yang terjadi waktu itu?... Apa aku sudah melakukan itu dengan Reza?... Sisanya aku tidak ingat. Aku harus menanyakannya pada Reza, iya harus untuk memastikan kejadian semalam.' batin Cilla yang sangat terkejut terlihat dari ekspresi wajahnya.
Bersambung....
Bagaimana ceritanya? Apa suka sedikit dewasa atau datar saja?
Mohon kritik dan sarannya untuk episode selanjutnya
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.
Terimakasih ☺️
__ADS_1