
Elya mengirim chat kepada Cilla, mengajaknya keluar untuk sekedar mengisi waktu luang, namun Cilla menolaknya dengan halus.
Mendapatkan penolakan tak seperti biasanya akhirnya Elya pun menelpon Cilla untuk memastikan keadaannya.
Elya : Halo, Cilla!! Akhirnya kamu mengangkat telponnya, sudah 3 kali aku menghubungi kamu.
Cilla : Maaf, aku baru dari toilet tadi.
Elya : Cilla, kamu kenapa? Suara kamu terdengar lemas kayak gitu, kamu sakit?
Cilla : Iya, aku lagi kurang enak badan. Maaf yah aku menolak ajakkanmu.
Elya : Yah gak apa-apa Cilla, toh keadaan kamu sedang kurang baik. Memangnya kamu sakit apa?
Cilla : Ada kista di rahim aku, untung masih kecil hingga tak mengganggu kehamilan, namun tidak baik bagi janin. Sekarang aku menjalani pengobatan.
Elya : Ya ampun.... Kok bisa sih, semoga cepat sembuh. Aku berharap kalian segera mendapatkan anak, setelah kamu sembuh.
Cilla : Makasih yah Elya.
Elya : Yasudah, kamu istirahat, aku tutup yah telponnya.
Cilla menghela nafasnya, padahal ia sangat ingin keluar rumah, menerima ajakan Elya. Tapi apa boleh buat, keadaan yang tak memungkinkan. Ia hanya bisa berusaha dengan makan makanan yang dokter anjurkan dan rutin meminum obat, agar tak harus menunggu lebih lama untuk sembuh.
Ketika Cilla masih sibuk dengan pikirannya, terdengar pintu terbuka dan masuklah Reza ke kamarnya. Ternyata Reza sengaja pulang lebih awal untuk menemani istrinya lebih lama, bahkan Reza rela melayani apapun yang istrinya perlukan.
" Kamu kenapa? Kok terlihat suntuk begitu?" Reza duduk di samping Cilla yang masih menggenggam ponselnya.
" Aku bosan." Cilla menghela nafas dengan pelan.
" Apa kamu sudah baikan? Apa masih sakit?" Reza masih khawatir dengan keadaan istrinya.
" Gak, aku sudah merasa baikan. Hanya kadang-kadang saja aku merasa nyeri namun tak separah dulu."
" Kalau begitu, kita makan malam di luar sekalian cari udara segar. Aku akan mengajak kamu ke tempat yang belum kita kunjungi. Semoga kamu suka nantinya."
" Benarkah? Terimakasih Za, aku mau siap-siap dulu." Wajah Cilla berubah ceria dengan ajakan suaminya, Reza yang melihatnya pun ikut tersenyum senang melihat istrinya mulai kembali bersemangat.
30 menit pun berlalu, Reza tetap setia menunggu istrinya yang sedang memilah milih baju yang akan di kenakannya.
" Yang, ini atau yang ini." Cilla menunjukkan satu persatu pakaian yang pantas di kenakannya.
" Semuanya bagus dan cocok kamu kenakan."
" Ih ... kamu ini, aku kan udah lama gak keluar jadi ingin tampil cantik, ini buat kamu juga."
" Yasudah, kamu pilih baju merah."
" Kok merah sih, malam-malam kan gak cocok pakai baju merah."
" Kalau gitu, kamu pakai yang hitam, sepertinya cocok untuk kamu pakai."
" Hitam? Coba kamu bayangin, udah gelap malam-malam dan pakai baju warna hitam nanti aura aku gak kelihatan."
Reza serba salah, dia diam saja salah, lalu mengutarakan pendapatnya pun salah. Reza bingung dengan sifat istrinya namun itu yang malah membuat Reza gemas dan tambah menyukainya.
Sejam pun berlalu, Cilla akhirnya mengenakan baju berwarna cerah dengan blazer berwarna krem, celana berwarna coklat muda dengan memakai sepatu model boot berwarna hitam. Cilla terlihat cantik, pakaiannya sangat cocok dan pas di tubuhnya, tak lupa syal pun ia kenakan karena cuaca di luar memang cukup dingin.
__ADS_1
" Bagaimana?" Cilla menantikan penilaian dari Reza.
" Kamu cantik ... Semua yang kamu kenakan pasti akan terlihat cocok karena kamu memang memiliki tubuh yang sempurna."
Cilla terlihat bahagia dengan jawaban dari suaminya, dia lalu merangkul suaminya untuk jalan bersama menuju mobil mereka.
Tibalah mereka di sebuah hotel bintang 5 yang dimana terdapat sebuah restoran yang mengusung tema di sebuah atap hotel tersebut. Cilla dan Reza masuk kedalam lift menuju atap, tak butuh waktu lama untuk tiba di lantai paling atas dimana restoran itu berada. Waktu pertama kali tiba, Cilla langsung ternganga melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Restorannya pun sangat indah dengan dekorasi unik yang menambah keindahan isi restoran tersebut. Di sana sengaja lampu-lampu di konsep untuk tak terlalu terang, sehingga pemandangan di luar terlihat sangat indah. Sengaja Reza mengajak Cilla saat malam hari agar terlihat pemandangan malam yang indah di Sydney.
Pengunjung pun memenuhi setiap meja yang tersedia, untung saja Reza telah reservasi terlebih dahulu jika tidak mereka tak akan mendapatkan meja. Sengaja Reza memilih meja di samping agar terlihat jelas pemandangannya. Tak ada dinding di sana, seluruh bangunan terbuat dari kaca agar orang-orang leluasa menatap keluar.
Ketika keduanya sudah duduk, tak berapa lama pelayan pun datang membawa makanan untuk di sajikan di hadapan mereka. Dan terakhir mereka akan meletakkan Wine namun Reza tolak dengan alasan kalau malam ini mereka tak ingin minum, namun kenyataannya memang itu tidak di perbolehkan.
" Restorannya bagus dan pemandangannya juga indah, apa kamu sering ke sini?" Cilla masih mengedarkan pandangannya tak bosan melihat keunikan dan keindahan tempat itu.
" Ini, aku juga baru pertama kali kesini dan syukurlah, tempatnya tak mengecewakan."
" Apa? Terus kamu tahu tempat ini dari siapa?'
" Kebetulan waktu itu aku sedang berpikir mau mengajak kamu kemana agar kamu tak bosan di rumah terus, lalu teman aku memberi saran untuk mengajak kamu kesini. Dan untung saja, tempatnya memang memuaskan, kamu suka kan?"
" Suka sekali, suka banget. Makasih sayang." Cilla terlihat bahagia dan ia pun menggenggam tangan suaminya tanda terimakasihnya telah mengajak ke tempat yang menarik.
" Makanlah, Steak di sini katanya enak, coba deh. Aku juga sudah pesankan Cola untuk pengganti Alkohol."
" Iya, sayang."
Mereka pun mulai memakan hidangannya, Cilla sampai tak bisa berkata-kata setelah merasakan rasa Steak yang sangat luar biasa dan belum pernah ia rasakan. Bahkan sayuran pendampingnya pun terasa lebih enak di banding yang pernah ia makan.
Melihat Cilla yang makan dengan lahap membuat Reza tersenyum bahagia, usahanya untuk membawa Cilla ke sana tak sia-sia. Belakangan Cilla kurang makan hingga badannya terlihat lebih kurus di bandingkan sebelumnya.
Kebetulan besok tepat sebulan setelah pemeriksaan sebelumnya dan obatnya pun sudah mulai habis. Reza berharap semoga hasilnya bagus dan Cilla membaik, ia tak tega setiap kali Cilla merasakan sakit membuatnya sedih dan khawatir.
" Bagaimana rasanya?" Tanya Reza ketika melihat Cilla yang telah mencicipi desertnya.
" Enak, lembut dan rasanya tak terlalu manis, beda dengan tampilannya, aku suka." Cilla terus menikmatinya.
" Karena kita sudah berada di hotel, bagaimana kalau kita menginap saja sekalian."
Uhuk.. uhuk... uhuk... Cilla sampai tersedak mendengar perkataan Reza. Melihat itu Reza segera memberikan segelas air putih lalu Cilla segera meminumnya perlahan.
" Kenapa sampai tersedak begitu?"
" Gak apa-apa?"
" Oh iya, bagaimana menurut kamu dengan menginap di sini? Hitung-hitung kita menikmati waktu berdua di tempat berbeda agar tak bosan selain di rumah saja."
" Tapi kita tak bawa pakaian ganti."
" Kita juga tak butuh pakaian saat kita hanya berdua saja kan!" Goda Reza setengah berbisik.
Cilla hanya tersipu malu, tak bisa berkata apa-apa, dia menuruti apa kata Reza. Toh mereka suami dan istri, tak masalah menghabiskan waktu berdua. Namun ini pertama kalinya mereka menginap di hotel setelah terakhir kali saat bulan madu beberapa tahun lalu, mungkin ini kesempatan mereka bisa lebih menikmati waktu di bandingkan di rumah yang ada Adrian, sehingga sedikit canggung.
" Baiklah, aku mau." Ucap Cilla dengan malu-malu.
" Terimakasih sayang." Reza terlihat senang sambil menggenggam tangan istrinya lalu mengecup pipi Cilla.
" Apaan sih? Malu tahu di lihatin orang." Cilla melirik sekitaran dengan wajah yang merona.
__ADS_1
" Tenang saja, gak ada yang lihat. Mereka fokus dengan pasangan masing-masing." Senyum bahagia terus terpancar di bibir Reza.
______________
" Terimakasih sudah mengantarku pulang." Ucap Elya dengan tersenyum manis.
" Iya sama-sama." Balas Adrian tak beranjak dari tempatnya.
Keduanya sama-sama diam, namun mereka tetap berada di tempat semula, tak beranjak sama sekali. Elya pun bingung kenapa Adrian tetap diam tak beranjak untuk pulang.
" Kenapa? Apa ada sesuatu?" Elya bertanya untuk memastikan, agar mereka berdua tak saling diam.
" Itu... Apa boleh aku mampir sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan, hal penting yang hanya bisa aku sampaikan di tempat yang semestinya."
" Oh... Tentu, ma-mari kita masuk." Ajak Elya sedikit ragu, karena memang ini pertama kalinya ada seseorang yang berkunjung ke Apartemennya di Sydney.
Mereka naik ke sebuah lift menuju lantai 16 dimana Elya tinggal. Di sana pun suasana terlihat canggung, hanya sesekali mereka berbincang seperlunya dan lebih banyak diam.
Tak butuh waktu lama, lift pun berhenti dan pintunya pun terbuka. Mereka berdua pun keluar dengan Elya yang berjalan di depan sementara Adrian mengikutinya dari belakang.
Keduanya berhenti di sebuah unit nomor 2803 dimana Elya tinggal. Elya mengeluarkan kartu sebagai kunci apartemen tersebut dan Elya mempersilahkan Adrian masuk.
Terlihat ruang Apartemen yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil juga, cocok untuk di tinggali seorang diri. Interior yang sederhana namun terlihat elegan membuat enak di pandang, walaupun Elya orang yang sibuk namun tempat tinggalnya terlihat rapi tanpa debu sedikitpun.
" Apartemen kamu nyaman sekali dan sangat rapi, apa kamu menyewa orang untuk bersih-bersih?" Adrian duduk di sofa setelah Elya mempersilahkannya.
" Oh ... Aku yang membersihkan semuanya, saat hari libur jika tak ada janji ataupun kegiatan, aku selalu menyempatkan diri untuk berbenah karena aku orang yang tak suka jika melihat rumah tak bersih dan rapi." Balas Elya yang telah membuat minuman di dapur mini miliknya tak jauh dari tempat Adrian duduk.
Elya membawa 2 buah gelas yang telah berisikan kopi buatannya. Adrian menerima gelas yang Elya berikan lalau mencium aroma kopinya dan meminumnya perlahan.
" Kopinya enak, kamu pintar sekali buatnya." Adrian kembali menyeruput kopinya.
" Gak kok, ini hanya kopi instan biasa." Balas Elya santai dan Adrian pun tersedak.
" Oh.. Iya tapi kamu yang seduh jadi lebih enak." Adrian tetap mencoba memuji Elya untuk menarik perhatiannya.
" Apa yang ingin kamu bicarakan? Katanya penting!" Elya duduk sedikit jauh dari Adrian.
" Oh itu, begini..." Adrian meletakkan gelas kopinya lalu mulai bersikap serius.
" Begini, sebulan yang lalu aku kan pernah mengungkapkan perasaanku dan sampai saat ini aku belum mendengar jawaban dari kamu. Setiap waktu aku selalu harap-harap cemas menanti jawaban dari kamu namun kamu tak kunjung memberi jawaban. Maka, malam ini aku ingin memastikan apakah perasaan cintaku ini mendapatkan balasan atau hanya sekedar cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sekali lagi dan mungkin untuk terakhir kalinya, aku akan menyatakan perasaan aku kepadamu dan aku harap kamu bisa menjawabnya saat ini juga." Adrian berlutut di hadapan Elya yang tengah duduk di Sofa dengan menggenggam tangan Elya.
" Elya, Aku... Aku mulai menyukaimu saat kita saling berkirim pesan dan rasa suka itu semakin bertambah ketika kita berjumpa di sini. Rasa sukaku semakin dalam dan berubah jadi rasa cinta ketika kita sering bertemu satu sama lain. Maka dari itu, aku akan menyatakan perasaan aku sekali lagi. Elya, maukah kamu jadi pacar aku? Ah... Maksudku, maukah kamu jadi pendamping hidupku baik dalam suka ataupun saat aku terpuruk? Maukah kamu berada di sampingku untuk selamanya?" Ucap Adrian panjang lebar, sebenarnya ini bukan kata-kata untuk menyatakan cinta namun ini malah terdengar seperti sebuah lamaran bagi Elya sehingga Elya hanya diam untuk memikirkan apakah dia akan menerima Adrian atau tidak.
Beberapa saat hanya keheningan, yang terdengar hanya suara detik jam dinding dan air yang menetes, Adrian yang menatap Elya dengan penuh harap dan menanti jawaban dari Elya semakin gelisah karena Elya hanya diam saja.
Setelah beberapa saat berlalu akhirnya Elya mulai berbicara kepada Adrian yang terlihat masih harap-harap cemas menunggu jawaban.
" Awalnya aku ragu akan semua ini, termasuk tentang perasaan kamu terhadapku. Karena aku tahu kamu mungkin masih punya perasaan kepada Cilla. Namun seiring berjalannya waktu dan kita sering bertemu, aku sudah mulai berpikir dan melihatmu yang selalu baik terhadapku. Maka dari itu setelah aku berpikir dan melihat ketulusanmu, mulai saat ini aku akan mencoba menjalin hubungan denganmu, aku ingin mencoba menjalaninya terlebih dahulu bersamamu, jadi......" Elya terdiam sejenak.
" Jadi, kamu menerima aku?" Ucap Adrian yang tak sabar dengan perkataan Elya.
" Iya, aku menerimamu." Balas Elya yang tertunduk karena merasa malu. Namun Adrian tiba-tiba memeluk Elya dan itu membuat Elya semakin merona. Setelah sadar Adrian melepaskan pelukannya karena hari pertama malah langsung memeluk Elya. Adrian takut Elya salah paham dan menarik perkataannya kembali, sehingga ia sungkan namun terlihat jelas bahwa Adrian bahagia.
Adrian mengeluarkan kotak kecil di saku jasnya dan membukanya di hadapan Elya, sebuah cincin emas putih dengan berlian biru di tengahnya yang sangat indah. Adrian segera menyematkan cincin tersebut di jari manis Elya yang ternyata sangat pas di pakai. Sebenarnya Adrian pernah mengukur jari Elya tanpa sepengetahuan Elya, untuk memastikan ia bisa membeli cincin dengan ukuran yang pas.
Elya terlihat senang dengan cincin yang sekarang tersemat di jari manisnya. Karena terlalu senang, Elya memeluk Adrian yang membuat Adrian tercengang tak percaya namun akhirnya membalas pelukan dari orang yang di sayanginya.
__ADS_1
Bersambung...
Selamat Membaca ☺️