
Malam pun tiba, Reza sudah berbaring di atas tempat tidur sementara Cilla masih membersihkan wajahnya dan memakai skincare malam untuk wajahnya. Cilla sudah selesai namun hatinya ragu untuk ke tempat tidur karena disana sudah ada Reza, ini pertama kalinya mereka akan tidur satu ranjang.
" Kenapa masih di sana? Kamu gak tidur?" tanya Reza yang melihat Cilla hanya diam saja.
" Iya, aku sudah selesai." Cilla berjalan lalu naik ke atas tempat tidur.
Tiba-tiba Cilla dapat ide agar tak terjadi apa-apa nantinya, dia menumpuk bantal dan guling sebagai pembatas agar mereka tak saling dekat.
" Beres... Ingat yah jangan melewati batas, jika tidak aku akan teriak." ujar Cilla memperingatkan.
" Kamu segitu banget, aku juga tak akan macam-macam jika kamu tak menginginkannya, memangnya aku lelaki apaan." balas Reza.
" Bagus deh kalau gitu, aku mau tidur." Cilla menarik selimutnya sampai ke pundaknya lalu membelakangi Reza.
Sedangkan Reza hanya senyum-senyum melihat tingkah Cilla yang berlebihan, Reza pun berbalik membelakangi Cilla lalu memejamkan matanya. Beberapa menit berlalu, semuanya hening namun Cilla belum bisa tertidur, matanya masih terjaga. Selama itu hati Cilla selalu berdebar-debar hingga membuatnya tak bisa tidur, ia mencoba memejamkan matanya namun itu tak membantunya untuk terlelap.
Cilla lalu bangun, melirik ke arah Reza yang sepertinya sudah tidur, untuk memastikannya Cilla mendekati Reza melambaikan tangannya di atas wajah Reza dan tak ada respon apapun, lalu ia mencoba menyentuh hidung mancung Reza dengan ujung jarinya tetap tak ada reaksi, ' Ternyata dia bisa tidur di situasi seperti ini, Dasar kebo!' gumam Cilla, lalu Cilla hendak menjauh namun tiba-tiba tangan Cilla di tarik Reza hingga membuat tubuh Cilla tersentak mendekat ke arah Reza. Cilla terkejut sampai membelalakan matanya namun Reza hanya tersenyum menyeringai ke arah Cilla.
" Bagaimana aku bisa tidur kalau yang di sampingku bergerak-gerak gelisah seperti itu, apalagi kamu malah mengganggu aku hingga membuat aku tak tahan lagi untuk bangun. Apa kamu menggodaku?" ujar Reza yang menahan sesuatu.
" Apa maksudmu? Aku hanya sulit tidur." sanggah Cilla lalu mendorong Reza untuk melepaskan dirinya namun Reza kembali menarik tangan Cilla kembali yang membuat Cilla kembali mendekati dirinya.
" Aku peringatkan, jangan pernah melewati batas dan jangan pernah menggodaku lagi jika kamu tidak mau mendapatkan masalah. Kedepannya, aku tidak akan menahan diri lagi." ujar Reza dengan senyuman yang menyeringai.
Melihat itu Cilla bergidik lalu mendorong kembali tubuh Reza lalu dia segera menjauh dan kembali berbaring membelakangi Reza. ' Apaan sih? Seenaknya tarik-tarik tangan orang, malah ngasih peringatan pula. Menggoda? Cih... siapa yang mau menggoda dia? Kepedean.' Batin Cilla.
Reza pun senyum-senyum melihat tingkah Cilla dan reaksinya yang sampai seterkejut itu ketika dia goda. ' Cilla... Cilla... baru aku kerjain segitu saja sudah kalang kabut, apalagi kalau aku beneran goda kamu, apa reaksinya nanti yah?' batin Reza, membuatnya senang telah mengerjai istrinya.
____________
Terlihat Adrian sedang membereskan pakaiannya, ia berencana akan kembali ke Indonesia dengan harapan bisa lebih baik lagi. Kakinya sekarang sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat walupun masih sedikit pincang namun sudah cukup untuknya mudah dalam bergerak.
" Kamu serius akan kembali ke Indonesia?" tanya mamanya.
" Iya Ma, aku ingin kembali bekerja, aku sudah bosan hanya berdiam diri disini." balas Reza yang terus mengepak pakaiannya.
" Tapi kamu juga bisa bekerja di sini, di perusahaan Papa, walaupun kecil tapi cukup untuk menghidupi keluarga kita."
" Ok, aku akan bekerja di perusahaan Papa, tapi aku ingin mengelola yang berkaitan dengan Indonesia."
" Baiklah, nanti malam kita bicarakan itu bersama Papamu."
Adrian telah selesai mengepak sekoper kecil pakaiannya karena memang di apartemennya yang ada di Indonesia barang-barangnya tak ia bawa ke Australia, memang niatnya hanya sebentar di Australia tapi kejadian yang tak di inginkan malah terjadi.
" Bagaimana dengan Suzan?"
" Suzan! dia tak ada hubungannya denganku, dia hanya seorang Dokter yang merawat Pasiennya saja."
" Kamu apa tak pamit dulu padanya? Yah walaupun kalian hanya sekedar Dokter dan Pasien tapi tak enak juga kalau pergi begitu saja."
" Iya Ma, nanti aku akan menelponnya."
Belum juga Adrian mengambil ponselnya, bell rumah berbunyi dan ternyata Suzan datang tepat pada waktunya. Suzan duduk di kursi setelah di persilahkan masuk oleh mamanya Adrian dan Mamanya pun memanggil Adrian jika Suzan datang menjenguk.
__ADS_1
" Kata mamamu, kamu akan kembali ke Indonesia. Kenapa?" tanya Suzan.
" Iya, aku sudah cukup lama beranda di sini, aku juga sudah sembuh dan pekerjaanku di sana juga terabaikan 4 bulan ini."
" Apa bos kamu mau menerima kamu lagi? Bahkan kamu sampai tak bekerja selama ini."
" Iya dia tahu dan dia mengijinkan aku untuk bekerja."
" Benarkah? bukankah bos kamu itu adalah calon mertuamu dulu!"
"...... Benar, dia tahu alasan kenapa aku tak jadi menikahi putrinya."
" Apa lebih baik kalau kamu bekerja saja di perusahaan Papamu saja? Agar kamu tetap di sini." suara rendah Suzan mengisyaratkan sesuatu.
" Aku akan pikirkan ulang, makanya aku akan berdiskusi dulu dengan Papa nanti malam." balas Adrian.
" Benarkah? Bagus kalau begitu, aku masih ada harapan." ucap Suzan dengan wajah berbinar.
" Maksudnya?"
" Ah, bukan apa-apa." kilah Suzan.
Dalam hatinya Suzan berharap jika Adrian tetap berada di Australia, dengan begitu dia bisa terus berada di sisi orang yang disukainya.
" Oh iya... Hasil pemeriksaan aku hasilnya bagaimana? Apa sudah keluar hasilnya?"
" Iya, aku datang kesini karena hal itu, hasil pemeriksaan sudah keluar dan hasilnya kamu akan kesulitan memiliki anak melalui cara alami, kemungkinannya hanya 30% karena ****** kamu terlalu lemah untuk membuahi sel telur secara langsung. Tapi jika melalui bayi tabung hasilnya bisa lebih tinggi bisa mencapai 50% - 60%." jelas Suzan.
" Pasti ada, hasil pemeriksaan juga tak sepenuhnya kamu mandul masih ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, jika tidak juga sekarang jaman sudah canggih bisa melalui prosedur medis kan. Jangan pesimis seperti itu, semangat dong." Ujar Suzan memberi semangat untuk Adrian.
' Ada perempuan yang sangat menyukaimu walaupun tahu tentang kondisimu, perempuan itu ada di hadapanmu Adrian yaitu aku, kapan kamu menyadarinya Adrian?' batin Suzan yang penuh harap.
___________
2 malam pun berlalu, Reza kembali tidur di sofa seperti biasanya, pinggangnya sudah baikan namun bukan hanya karena itu. Reza merasa tidak nyaman dan tak bisa tidur bila seranjang dengan Cilla. Hatinya selalu berdebar-debar sulit untuk di kendalikan, dia tak tahan jika terus di samping Cilla, selalu ada keinginan untuk mencurahkan kasih sayang seperti memeluk dan menciumnya. Itu semua tak mungkin terjadi karena Cilla tidak menginginkannya, Reza tak ingin memaksakan kehendak yang malah akan membuat istrinya menjauh nantinya.
Reza sedang menyaksikan pertandingan bola di televisi ruang keluarga, ia sengaja menonton disana karena takut mengganggu Cilla yang sedang tidur karena waktu memang sudah menunjukkan pukul 00.35 WIB. Ketika dia tengah fokus menonton bola, tiba-tiba Hardi datang dan duduk di sampingnya.
" Za, ada pertandingan apa kayaknya kamu seru sekali?" ujar Hardi yang membuat Reza sedikit terkejut karena dari tadi dia fokus menonton pertandingan bola di televisi.
" Eh ayah, ini A lawan B, lagi seru sudah babak akhir."
" Kamu dukung yang mana?"
" Saya mendukung tim B, dari dulu favorit banget dengan permainannya."
" Oh, Ayah sih tak terlalu suka bola, soalnya tak ada waktu untuk menonton, terlalu banyak bekerja."
" Coba Ayah nonton, pasti seru deh." Reza sudah semakin akrab dengan Hardi.
" Kamu disini apa tak apa-apa Cilla di tinggal sendiri?"
" Malah saya pindah kesini untuk nonton karena takut membangunkan Cilla, saya jika menonton bola selalu berisik." balas Reza.
__ADS_1
" Oh iya, ayah lihat hubungan kalian sudah mulai membaik semenjak kamu sakit pinggang, bagaimana hubungan kalian selama ini?"
" Saya dan Cilla baik-baik saja, kami terkadang berbeda pendapat namun bisa terselesaikan dengan baik."
" Tapi Ayah masih melihat kalian seperti saling menjaga jarak, tak seperti pasangan pengantin baru."
" Oh, i... itu......." Reza sulit menjawab pertanyaan dari Ayah mertuanya.
" Ayah mengerti, kamu tak perlu menjawab. Kamu harus berusaha dengan giat agar Cilla mencintaimu, Ayah pernah merasakannya dulu dengan Bunda kalian, tapi setelah cinta, kita akan mendapatkan yang lebih dari mereka. Apa kalian sudah......" Hardi memperagakan tangannya yang di tumpuk dua mengisyaratkan sesuatu.
" Itu... Belum." ujar Reza sambil menggelengkan kepalanya.
" Hehehe sabar yah, nanti juga kamu akan merasakannya, tahan saja dulu." ujar Hardi terkekeh sambil menepuk pundak menantunya lalu kembali ke kamarnya.
Reza pun merona karena merasa malu, kenapa hal seperti itu selalu di pertanyakan? padahal hal pribadi sesama pasangan. Yah Reza tak ada pilihan lain selain sabar, walaupun tak mudah untuk di jalani namun ini sudah menjadi resiko yang harus dia hadapi dengan pernikahan tanpa cinta ini. Acara pertandingan sepak bola sudah selesai, Reza menguap tanda dia sudah sangat mengantuk, padahal sebelum bangun tengah malam untuk menonton sepak bola, dia sudah tidur terlebih dahulu namun tetap saja ia merasa sangat mengantuk. Ia segera masuk ke dalam kamar lalu melihat Cilla yang tertidur dengan selimut yang terbuka, Reza menghampiri Cilla lalu menarik selimut itu sampai ke pundak Cilla. Reza memberanikan diri mengecup sekilas kening Cilla, " Goodnight" ucap Reza lembut, tubuh Cilla sedikit bergerak membuat Reza cemas jika istrinya terbangun namun Cilla kembali diam dan masih tertidur. Reza merasa lega karena Cilla tak bangun lalu ia kembali ke sofa dimana biasanya dia tidur, tak berapa lama Reza sudah terlelap.
____________
Setelah pembicaraan yang panjang dengan Papanya, Adrian memutuskan untuk tetap tinggal di Australia bersama keluarganya dan sesekali akan berkunjung ke Indonesia jika ada urusan pekerjaan disana, banyak sekali investor dan Klien asal Indonesia yang bekerjasama dengan perusahaan keluarganya.
Mamanya Adrian memberitahukan hal tersebut kepada Suzan dan itu membuat Suzan sangat bahagia, ia tak perlu berjauhan dengan Adrian selama Adrian masih bekerja untuk perusahaan Papanya. " Syukurlah, Adrian memutuskan untuk tetap disini, masih ada kesempatan untuk aku mendapatkan hatinya. Semoga tak lama lagi Adrian menyadari perhatianku ini pertanda rasa sukaku padanya." gumam Suzan yang terus mengembangkan senyumnya.
Adrian memberitahukan perusahaan dimana ia bekerja jika dia tak akan kembali lagi ke MK Company di karenakan ingin mengelola perusahaan keluarganya sendiri. Rio yang menerima kabar tersebut langsung memberitahukan semuanya kepada Hardi dan Hardi pun tak masalah dengan keputusan Adrian.
Dari awal Adrian berencana kembali ke Indonesia bukan hanya masalah pekerjaan namun ia berharap dapat kembali bertemu dengan Cilla walaupun hanya melihatnya dari kejauhan. Adrian sebenarnya bisa saja menghubungi Reza, adiknya untuk menanyakan kabar Cilla namun sekarang Cilla sudah menjadi istri Reza dan otomatis telah menjadi adik iparnya, tidak etis jika dia menanyakan kabar dari istri adiknya sendiri.
Adrian kembali membereskan pakaiannya yang tadinya telah di masukan ke dalam koper kembali ke lemarinya, ada pertimbangan yang pasti yang membuat Adrian memutuskan menjalankan perusahaan Papanya. Pertama, usia Papanya sudah tak muda lagi, fisiknya sudah tak sekuat dulu dalam melakukan banyak kegiatan. Kedua, perusahaan masih dalam tahap pemulihan setelah sebelumnya mendapati masalah sampai hampir gulung tikar. Ketiga, Adrian merasa tidak enak harus kembali bekerja di perusahaan milik Hardi dimana dia malah menyakiti putrinya dengan batal menikahinya.
Terlihat Adrian sedang duduk di mejanya, beberapa dokumen sudah menumpuk di hadapannya. Semua ia kerjakan dengan serius, beberapa yang sangat ia pahami sehingga Papanya melimpahkannya kepada Adrian.
" Ini dokumen yang di kerjakan Reza dulu, ternyata dia cukup handal padahal waktu itu dia masih seorang mahasiswa. Salut sama dia, nanti aku harus menyuruhnya ikut masuk perusahaan, bisa jadi perusahaan ini akan semakin berkembang jika kami kelola bersama." gumam Adrian melihat hasil kerja Reza dulu.
____________
Cilla sedang berjalan bersama Elya di lorong kampus, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Reza tang akan mengisi kelas menggantikan dosen inti. Mereka hanya berlalu begitu saja tanpa saling sapa seperti orang yang tak mengenal satu sama lain.
" Eh... Cil, tahu kan mahasiswa barusan yang lewat, yang sekaligus jadi asisten dosen itu. Banyak banget loh yang membicarakannya, bukan hanya ganteng tapi juga pintar, langka sekali ada pria seperti dia. Rumornya juga sih dia belum punya pasangan, mungkin karena sikapnya yang cool begitu kali yah." ujar Elya yang terkagum-kagum.
" Menurut aku sih biasa saja, memang aku akui dia sangat pintar tapi kalau masalah tampang itu kan relatif." balas Cilla cuek.
" Haduh emangnya tipe cowok kamu seperti apa sih? Bahkan selevel Reza saja masih gak suka, sepertinya level kamu tinggi sekali." ujar Elya tak percaya dengan apa yang Cilla bicarakan.
" Iya, levelnya lebih tinggi daripada dia, kamu jangan kaget." ujar Cilla datar.
Elya tambah penasaran seperti apa nanti pria yang akan mendapatkan hati Cilla jika sekelas Reza yang menurut para mahasiswi sudah sangat sempurna masih di bilang biasa di mata Cilla. Padahal Elya tidak tahu saja kalau mereka pasangan suami istri, Cilla juga sengaja tak memberitahu hubungannya dengan Reza walaupun Elya adalah sahabatnya.
Bersambung....
Bagaimana ceritanya? Apa masih pada penasaran?
Nantikan Up Author selanjutnya dan jangan lupa beri dukungannya yah.
Terimakasih ☺️
__ADS_1