
" Apa kamu suka disini?" Reza dan Cilla duduk di kursi kecil yang berada di balkon kamarnya sambil menyeruput coklat panas.
" Aku suka, apalagi bisa melihat salju seperti ini." Cilla berjalan ke pagar balkon dan menatap salju yang berjatuhan.
" Iya sih, aku juga suka salju karena indah tapi aku benci karena suhunya jadi dingin." Reza berjalan ke arah Cilla.
" Suasana seperti ini tak akan kita jumpai di Indonesia makanya walaupun dingin aku tetap suka." Cilla mengulurkan tangannya berharap salju jatuh pada telapak tangannya.
" Iya, namun sekarang aku memilikimu, hingga saat dingin aku bisa memelukmu seperti ini." Reza memeluk Cilla dari belakang, Cilla pun senang saja.
" Apa Cintamu benar-benar tak pernah berubah?" Cilla membalikan badannya hingga berhadapan dengan Reza, kedua tangan Reza bertumpu pada pagar pembatas sehingga tubuh Cilla terhimpit di antara kedua tangannya.
" Aku menyukaimu saat pertama kali bertemu saat kita masih MOS, kamu gadis pertama yang membuat hatiku berdebar. Aku kira itu hanya cinta monyet namun saat aku pindah ke sini dan jauh darimu, itu membuatku merasa berat. Ternyata Cintaku ini adalah cinta yang sebenarnya, masih bertahan sampai saat ini dan akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
" Ah gombal." Cilla mendelik tak percaya.
" Serius, aku gak bohong." ucap Reza meyakinkan.
Cup.... sebuah kecupan mendarat di bibir Reza, " Iya aku percaya." Senyum manis terpancar di bibir merah Cilla.
" Kau berani menggodaku, maaf aku udah gak bisa menahannya lagi." Reza segera menggendong tubuh Cilla dan Cilla pun terkejut karena mendadak di angkat oleh suaminya.
Reza melemparkan Cilla lembut di atas kasur dan dia berada di atas tubuh Cilla.
" Apa yang kamu lakukan?"
" Jangan pura-pura, kamu pasti tahu maksudku." Reza mulai mengecup samping leher Cilla.
Cilla hanya diam saja dengan perlakuan suaminya, lama kelamaan dia juga mulai menikmatinya. Namun tiba-tiba ' Kkkrruuukkk.' suara perutnya berbunyi membuat Reza berhenti.
" Kamu lapar?" Tanya Reza dan Cilla pun mengangguk.
" Oh iya, aku lupa kalau ini sudah waktunya makan siang." Reza bangun dari posisinya melepaskan Cilla yang masih terlentang.
" Maaf..." Cilla merasa tak enak pada suaminya.
" Gak apa-apa, kamu mau makan apa?"
" Aku mau makan sandwich dengan cola, kayaknya enak." Cilla membayangkan rasa makanannya.
" Ok, aku tahu tempat yang enak, cepat pakai jaketnya yang tebal, kita langsung berangkat."
Mereka pun akhirnya berangkat ke tempat yang di tuju untuk makan siang bersama, hari ini Reza masih memiliki waktu luang untuk bersama istrinya karena besok dia harus membantu Adrian di perusahaan ayah mereka.
________
Adrian melihat Cilla sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi di suasana yang dingin. Karena Reza hari ini harus ke rumah sakit menggantikan Adrian yang akan mengurus perusahaannya. Dengan ragu Adrian mencoba berjalan menghampiri Cilla yang duduk sendirian.
" Cilla maaf, boleh kita bicara? Apa kamu tahu tentang proyek ini? Kamu tahu kan jika perusahaan ayahmu berinvestasi dalam proyek ini." Adrian menunjukkan berkas yang ia bawa pada Cilla.
" Biar aku lihat... Oh iya, aku yang menangani ini juga, biar aku baca semuanya."
Adrian dan Cilla sangat serius membahas pekerjaan dan sesekali senyum canggung terlihat di bibir mereka berdua. Ini pertama kalinya mereka bicara setelah sekian lama lost contact, walaupun hanya membahas pekerjaan namun lama kelamaan mereka bisa berbicara dengan nyaman.
Ketika itu Reza datang dan melihat keakraban antara Adrian dan Cilla, sebenarnya dia tak suka namun dia melanjutkan langkahnya menghampiri mereka berdua yang masih dengan pembahasan mereka. Sehingga Cilla dan Adrian tak memperhatikan kedatangan Reza.
" Kalian sedang membahas apa?" Suara Reza membuat Cilla dan Adrian menoleh ke arahnya.
" Reza... Kami sedang membahas pekerjaan, kebetulan proyek yang aku tangani ikut di tangani Cilla, hingga aku sekaligus menanyakan dan mendiskusikan semuanya. Yasudah, pembahasan kami juga sudah selesai, aku pergi ke kantor dulu." Adrian menutup berkasnya lalu meninggalkan Reza dan Cilla untuk bekerja.
" Kalian kelihatan akrab." Nada suara Reza berubah dingin.
" Apa? Gak, biasa saja. Kita hanya bahas pekerjaan, jika gak menyangkut itu aku juga tak akan bicara." Cilla berdiri dan menghampiri suaminya.
__ADS_1
" Aku tak masalah jika kalian mengobrol, tapi jangan terlihat terlalu akrab seperti itu." Reza tetap bersikap dingin.
" Kenapa? Kamu cemburu?" Cilla memegang kedua pipi Reza agar menatapnya, soalnya dari tadi Reza memalingkan pandangannya.
" Dengar, kami hanya bahas pekerjaan, hanya itu jadi kamu tak usah cemburu." Senyum manis terpancar dari bibir Cilla.
" Iya, aku percaya. Ayo masuk di luar dingin!" Ajak Reza yang tak bisa menahan pesonanya jika melihat Cilla tersenyum padanya, pasti hatinya akan selalu luluh bagaimana pun ia marah.
Reza pulang sebentar hanya untuk mengambil beberapa pakaian untuk papanya, Cilla ingin ikut ke rumah sakit bersama Reza. Mereka pun berangkat kembali menuju rumah sakit setelah barang yang di butuhkan sudah di masukan kedalam tas.
________
Adrian memutuskan untuk tak kembali kepada Suzan, walaupun dulu mereka berpisah baik-baik namun hatinya sudah tak bisa lagi memilih Suzan.
Bukan tidak tahu terimakasih karena Suzan selama ini selalu merawatnya dan menerima apa adanya namun hati tak bisa di bohongi, rasa sukanya hanya sebatas teman tak lebih dari itu.
Adrian merasa tertarik dengan teman Cilla yaitu Elya, semenjak pertama kali bertemu dan dirinya tak mungkin lagi bersama Cilla. Mulai dari itu Adrian melihat-lihat sosial media milik Elya dan mengintip keseharian Elya yang dia posting membuat Adrian sedikit tertarik.
Dia ingin mencoba menghubungi Elya namun dia ragu akankah dirinya mendapatkan respon positif atau sebaliknya. Ketika hendak mengirim pesan chat, dia kembali menghapusnya karena ragu-ragu.
Apakah aku pantas mendekati sahabat dari mantan pacarku?
Rasa ragunya semakin menjadi ketika ia mengirim pesan namun sama sekali tak di baca oleh Elya.
Sepertinya percuma aku mendekati sahabatnya Cilla? Aku bisa menebak jika responnya akan seperti ini.
Adrian meletakkan ponselnya dan kembali bekerja dengan laptopnya. Beberapa berkas juga menumpuk di atas mejanya pertanda pekerjaannya masih banyak meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore hari.
Sementara Reza dan Cilla telah sampai di rumah sakit, mamanya langsung mengambil tas yang Reza bawa. Cilla memeluk ibu mertuanya yang terlihat sangat sedih dengan keadaan ayah mertuanya yang masih di ICU dalam keadaan koma.
" Bagaimana perkembangan papa, ma?" Cilla terlihat khawatir dengan mertuanya.
" Ya... begitulah, tak ada perkembangan. Papa hanya tertidur seperti itu." Mama menatap papa yang sedang berbaring di balik kaca besar karena mereka hanya bisa melihat dari luar lewat kaca, tak bisa masuk ke dalam ruangan agar tak mengganggu pasien dan ruangan harus dalam keadaan steril.
" Mama sudah makan?" Reza mengkhawatirkan mamanya yang terlihat lesu.
" Nanti saja, mama belum lapar. Mama mau ganti baju dulu." Mama mengambil baju yang ada di tas yang Reza bawa lalu pergi menuju kamar mandi rumah sakit.
" Kamu bisa tunggu disini! Aku mau beli makan dulu untuk mama." Ujar Reza dan Cilla pun mengangguk.
Begitu Reza pergi, mamanya datang kembali setelah berganti pakaian. Ia bertanya kemana Reza pergi dan Cilla menjawabnya bahwa suaminya pergi untuk membeli makanan.
Mama duduk di samping Cilla lalu meletakkan tangannya di tangan Cilla.
" Kamu tahu kan keadaan papa! Apa kalian sudah merencanakan untuk memiliki anak? Papa mungkin ingin melihat cucu pertamanya."
" Itu... Kami tak menghalangi ataupun melakukan program kehamilan, kami hanya mengikuti takdir saja. Jika cepat hamil saya bersyukur dan jika tidak mungkin kami hanya harus berusaha dan berdoa." Balas Cilla.
" Iya, mama doakan semoga kalian bisa secepatnya dapat anak, agar papa juga ada penyemangat untuk menjalani hidupnya. Oh iya, mungkin papa tak bisa kembali bekerja, apa kamu bisa membujuk Reza untuk menjalankan perusahaan bersama Adrian disini?"
Cilla sedikit terkejut, jika Reza bekerja di perusahaan ayahnya pasti Reza harus tinggal di Australia. Dengan kata lain, Cilla sebagai istrinya pun harus mengikuti suaminya, namun ini sungguh mendadak. Cilla tak pernah sekalipun berpisah dengan orangtuanya dalam waktu yang sangat lama, belum lagi pekerjaannya di perusahaan ayahnya. Reza juga adalah seorang Dosen di kampus mereka dulu, semuanya masih harus di pikirkan dan didiskusikan terlebih dahulu sebelum m ngambil keputusan ini.
" Ah... Itu, biar nanti aku tanyakan dulu pada Reza, kami akan mendiskusikan terlebih dahulu sebelum memutuskan, apa bisa mengambil alih perusahaan disini?" Balas Cilla yang terlihat ragu.
Setengah jam berlalu dan selama itu pula Cilla mengobrol dengan mama mertuanya, banyak hal yang mereka bicarakan. Termasuk masa kecil Reza yang membuat Cilla sangat tertarik, salah satunya yaitu Reza selalu ngompol sampai kelas 3 SD. Membuat Cilla ada bahan candaan untuk mengejek suaminya nanti, dia ingin tahu bagaimana reaksi Reza nantinya.
" Kelihatannya kalian sedang asik mengobrol nih? Mengobrol tentang apa? Seru banget." Reza baru saja pulang membeli makanan dan melihat mamanya yang terlihat akrab dengan Cilla.
" Gak apa-apa, ini urusan perempuan." Cilla mengambil kantung yang berisi makanan dan membukanya.
" Ini ma, makan dulu biar mama tetap sehat." Cilla mengambil satu porsi makanan kepada mertuanya dengan sopan dan mertuanya menerimanya dengan senang hati.
Syukurlah, mama sudah bisa makan dan bisa tersenyum lagi berkat Cilla.
__ADS_1
Reza senang melihat mamanya tak murung lagi setelah beberapa hari selalu menunggu papa yang belum siuman. Sampai malam pun berlalu, Adrian datang membawa makan malam sekaligus untuk menggantikan Reza dan Cilla.
Mereka memesan 1 kamar rumah sakit untuk istirahat mamanya, karena mamanya tak ingin pulang ke rumah beberapa hari ini.
Adrian meminta izin kepada Reza untuk berbicara berdua dengan Cilla, awalnya Reza merasa keberatan namun dengan bujukan Cilla akhirnya Reza mengijinkan mereka untuk berbicara berdua saja.
" Ada apa? Cepat bicara, aku gak mau Reza salah faham kalau kita berbicara terlalu lama." Cilla terlihat ketus pada Adrian.
" Tenang saja, aku bukan bicara yang aneh-aneh. Aku hanya ingin menanyakan tentang sahabatmu Elya, apa sekarang dia masih sendiri."
" Kenapa? Kamu tertarik padanya?"
" Iya, sejak pertama bertemu dan kami suka Chatting walaupun itu masalah kamu dan aku tapi dia enak untuk di ajak bicara. Apa kamu tahu tentang dia sekarang?"
" Iya, aku masih bersahabat sama dia dan yang aku tahu dia baru saja putus dengan pacarnya yang baru 6 bulan mereka pacaran. Apa kamu mau mendekatinya?"
" Sepertinya begitu, aku ingin tahu lebih banyak tentang dia dan mencoba mendekatinya." Adrian terlihat sekali sudah tak ada rasa pada Cilla.
" Baiklah, nanti aku akan beritahu beberapa informasi yang penting, sisanya kamu cari tahu sendiri. Yasudah, aku mau kembali ke Adrian, semoga kamu berhasil dengan Elya." Cilla pergi meninggalkan Adrian, dia juga tersenyum karena Adrian sudah tak mengharapkannya.
_________
Cilla dan Reza sudah sampai di rumah, Reza segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur karena merasa lelah dan pegal setelah seharian di rumah sakit.
Reza pun menarik Cilla hingga ikut berbaring di sampingnya dan Reza langsung memeluknya.
" Kalau seperti ini jadi tambah nyaman." Reza semakin erat memeluk Cilla.
" Za, ada yang mau aku omongin."
" Iya, bicara saja."
" Tadi... Mama minta kamu untuk bekerja menggantikan papa di sini bersama Adrian."
" Apa? Kenapa mama bicara padamu bukan langsung ke aku?" Reza melepas pelukannya lalu duduk di tepi ranjang.
" Mungkin mama berharap aku bisa membujuk kamu." Cilla bangun lalu menyandarkan dagunya di pundak suaminya.
" Tapi kan aku seorang dosen, itu impianku dari dulu, namun melihat kondisi ayah, aku juga bingung jadinya."
"Jadi bagaimana keputusanmu?" Cilla ikut duduk di tepi ranjang.
" Entahlah, aku harus memikirkannya lagi, bukan hanya tentang pekerjaanku di sana tapi kamu juga harus tinggal bersamaku disini. Semuanya harus melalui perencanaan dengan matang. Apa kamu bisa tinggal di sini bersamaku?"
" Emm .... Aku sebagai istri pasti mengikuti suami tapi aku juga perlu bicara pada keluargaku dulu. Karena selama ini aku juga tak pernah berjauhan dengan mereka." Cilla terlihat ragu.
" Yasudah nanti kita bicarakan lagi, sekarang kita mandi dan istirahat." Reza menyuruh Cilla terlebih dahulu untuk mandi sementara dirinya kembali merebahkan tubuhnya yang lelah.
Padahal ada hal lain yang perlu Cilla bicarakan dengan Reza namun ia enggan karena masalah anak adalah rezeki dari Tuhan.
______
Seperti biasanya Cilla merasa bosan berada di rumah sendirian, memang terkadang ada pekerjaan yang harus dia kerjakan dan mengirimnya melalui email. Namun itu tak memakan waktu lama, mungkin hanya setengah hari dan sisanya hanya tiduran atau melihat pemandangan dari atas balkon kamarnya.
Ia tak bisa keluar karena ia tak tahu jalan di daerah tempat tinggal Reza, walaupun Cilla pasti dengan mudahnya bertanya pada orang sekitar karena dia fasih berbahasa Inggris. Namun Cilla takut tersesat dan malah merepotkan suami beserta keluarganya.
Tiba-tiba ada telpon dari nomor yang tak di kenal dan nomor tersebut berasal dari negara Australia. Cilla mengangkatnya dan ternyata itu adalah Elya, memang Elya katanya mendapatkan tugas ke Australia tapi dia tak memberitahu Cilla bahwa tugasnya dalam waktu dekat ini.
Cilla merasa senang karena rasa bosannya bisa berkurang dengan hadirnya Elya, maka Cilla memberikan alamat rumah mertuanya agar Elya bisa berkunjung.
Elya berjanji jika pekerjaannya sudah selesai, dia secepatnya akan berkunjung untuk bertemu Cilla.
Ini juga kesempatan aku untuk mempertemukan Elya dan Adrian, semoga mereka berdua cocok.
__ADS_1
Bersambung........