
Reza dan Cilla sampai di rumah, Reza memapah Cilla yang masih lemas masuk ke dalam rumah sampai ke kamar dan membaringkan Cilla di atas tempat tidur.
" Kamu istirahat yah, aku ambilkan teh hangat dulu." Cilla mengangguk lalu Reza keluar kamar untuk membuat teh untuk istrinya.
Tak berapa lama Reza membawa segelas teh hangat dan memberikannya kepada Cilla. Cilla bangun lalu bersandar di ujung tempat tidur, lalu meminumnya secara perlahan.
" Apa masih sakit?"
" Sudah mendingan, hanya lemas saja."
" Apa kita ke dokter saja sekarang?"
" Gak perlu. Apa ada apotek di sini?"
" Kenapa? Kamu mau aku belikan obat?"
" Bukan, belikan aku testpack saja."
" Apa? Memangnya kamu beneran hamil."
" Belum tahu, makanya aku minta belikan testpack biar tahu apa aku hamil atau gak."
" Ok kalau gitu aku pergi ke apotek dulu, paling sebentar soalnya gak jauh, kamu istirahat saja."
Reza mengambil kunci mobil lalu mencium kening Cilla, ia pun keluar untuk membeli testpack. Wajah Reza terlihat sumringah, membayangkan jika dirinya akan menjadi seorang ayah.
Cilla memakai cardigan panjang miliknya lalu berjalan perlahan ke arah pintu menuju balkon, ia melihat suasana malam yang sangat indah. Angin yang berhembus terkadang terasa dingin namun dia merasa nyaman karena rasa mualnya sudah berkurang dengan udara yang sangat segar.
" Kenapa kamu di sini? Udaranya cukup dingin, nanti kamu malah demam lagi." Reza membawa selimut dan menyelimuti istrinya sambil memeluknya dari belakang.
" Kamu sudah pulang? Aku tak merasa dingin malah aku cukup merasa nyaman berada di sini." Cilla tersenyum ke pada suaminya.
" Kalau kamu beneran hamil, aku pasti sangat bahagia karena akan hadir keluarga baru di kehidupan kita."
" Iya, aku juga akan sangat bahagia jika aku benar hamil, bagaimana rasanya yah? Sulit untuk di bayangkan."
" Ayo sekarang kamu pakai testpacknya, aku sudah beli 3 untuk memastikan biar lebih yakin." Reza tak sabaran untuk tahu yang sebenarnya.
" Jangan sekarang, besok pagi lebih bagus dan lebih akurat, itu yang aku tahu karena baca di internet."
" Yasudah kita masuk, kita tidur yah. Aku tak sabar menunggu hari esok." Reza menggendong Cilla hingga membaringkannya di atas tempat tidur, dan ia pun ikut berbaring di sebelah istrinya.
" Goodnight." Reza mengecup bibir Cilla sekilas, mereka pun memejamkan mata mereka hingga terlelap.
____________
Elya menatap langit-langit kamarnya, ia membayangkan sesuatu yang telah terjadi bersama Adrian. Ia mengingat kembali saat Adrian mendekatinya untuk menciumnya dan dia malah menghindar. Bukan tanpa alasan, itu adalah kencan pertamanya dengan Adrian, Elya ingin tahu pasti tentang perasaannya kepada Adrian. Dia tak ingin begitu saja terhanyut dalam buaian perasaan yang belum pasti, dia bukan perempuan gampangan yang memberikan apapun begitu saja pada seorang pria, walaupun hanya sekedar ciuman.
Apa tak masalah jika aku dekat dengan Adrian? Aku tadinya hanya menganggapnya teman tapi aku lihat Adrian gencar mendekatiku, aku harus meyakinkan perasaanku jika untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Apa aku harus telpon Cilla untuk meminta saran? Apa Cilla sudah sampai di sini yah? Jangan sekarang deh, ini sudah larut pasti Cilla sudah tidur. (Batin Elya)
Pagi pun menjelang, Elya sedang memegangi ponselnya, dia ragu apakah harus menghubungi Cilla atau tidak? Apakah tidak apa-apa jika dia meminta saran tentang mantan pacar Cilla?
Akhirnya dia memberanikan diri menelpon Cilla.
Cilla : Halo! Elya, apa kabar?
Elya : Aku sehat, bagaimana dengan kamu? Seminggu kita tak komunikasi apalagi bertemu. Syukurlah kamu sudah sampai di sini lagi, tadinya aku ragu mau nelpon kamu apa gak.
Cilla : Aku lagi kurang sehat, sudah 2 hari mual, pusing dan perutku sering keram.
Elya : Ya ampun, kamu gak apa-apa? Suara kamu kedengaran sangat lemas.
Cilla : Gak apa-apa sih, aku juga baru bangun. Hari ini juga akan pergi ke dokter.
Elya : Yasudah, kamu istirahat saja, maaf aku sudah ganggu. Nanti kabari aku yah! Harus, soalnya aku gak mau sahabatku satu-satunya sakit.
Cilla : Iya, siap ... Pasti aku kasih kabar.
__ADS_1
Cilla meletakkan ponselnya di tempat tidur lalu dia beranjak dari duduknya menuju Reza yang berteriak memanggilnya untuk segera melakukan test. Reza tak sabar menanti hasilnya, apakah benar dia akan menjadi seorang ayah?
Cilla mengambil testpack yang di pegang oleh Reza lalu masuk ke kamar mandi. Reza yang berada di depan pintu kamar mandi, bolak balik menanti Cilla keluar.
" Bagaimana hasilnya?" Reza terlihat antusias dan tak sabaran dengan hasilnya.
Cilla memberikan 3 buah testpack yang ia pakai semuanya, yang menunjukan semuanya bergaris dua, jika di baca dari petunjuk berarti itu pertanda positif hamil.
" Ini, garis 2 , kamu hamil? Benar kan, kamu hamil? Cilla... Terimakasih, aku akan jadi seorang ayah." Reza tersenyum bahagia, ia memeluk istrinya sambil sedikit mengangkatnya dan berputar-putar karena sangat bahagia.
" Aku juga senang Za, akhirnya kita akan dapat keluarga baru." Wajah Cilla berbinar, senyum tak lepas dari bibir tipisnya.
" Ayo, sekarang kamu siap-siap, kita ke dokter untuk tahu usia kehamilan kamu dan agar dokter memberi kamu obat. Aku tak mau kamu sakit dan lemas seperti ini, kamu harus sehat biar anak kita juga sehat." Reza tak bisa membendung rasa bahagianya.
______________
Cilla berbaring di ranjang pemeriksaan, dokter berada di sampingnya untuk memulai pemeriksaan. Sementara Reza duduk tak jauh dari sana menyaksikan dalam layar monitor gambar USG perut Cilla.
" Sepertinya tak ada tanda-tanda hamil, rahimnya masih biasa tak ada perubahan seperti membentuk sebuah ruangan. Sebentar aya periksa kembali....... Benar, bu Cilla tidak hamil, hanya saja... Nanti saya jelaskan, sekarang kita duduk."
Reza dan Cilla terlihat bingung, mereka pun duduk di hadapan dokter kandungan tersebut.
" Maaf dok, kata dokter istri saya tidak hamil, padahal pas kami test menggunakan testpack, hasilnya positif dan ciri-ciri seperti haid terlambat, mual, muntah dan pusing juga istri saya alami. Tapi kenapa tidak hamil?"
" Iya, dari hasil USG tak ada janin di dalam perut bu Cilla. Namun ada sebuah kista yang untungnya masih kecil dan itu bisa menghambat kehamilan. Gejala bisa sama persis dengan tanda-tanda kehamilan, namun tak ada pembuahan dalam rahim."
Bagaimana di sambar petir, Cilla sangat terkejut dengan apa yang dokter katakan, ia tak percaya bahwa dirinya tidak hamil dan dia semakin tak percaya saat dokter mengatakan bahwa ada kista dalam rahimnya.
" Terus bagaimana dok? Apa bisa di obati." Reza terlihat sangat cemas.
" Pak Reza dan Bu Cilla tak perlu khawatir, untungnya kistanya masih kecil hingga bisa di hilangkan menggunakan obat hingga tak perlu melakukan biopsi." Terang dokter yang membuat Reza sedikit lega.
" Terus apa kami masih bisa memiliki anak?" Cilla ingin jawaban pasti dari dokter, dengan penuh harap dia bisa mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya.
" Tentu saja, kalian masih bisa memiliki anak. Bisa anda lihat, kistanya berukuran kecil dan tak mengganggu jika terjadi pembuahan namun tetap harus di obati, jika tambah besar baru bisa mengganggu proses kehamilan dan bisa mengalami keguguran. Maka harus segera di lakukan penanganan dengan pengobatan, selama pengobatan di harapkan jangan dulu hamil, sampai pengobatan selesai." Jelas dokter.
" Kira-kira berapa lama waktu pengobatannya? Apa kontrasepsi terbaik saat ini?"
" Kontrasepsi alami? Maksud dokter?" Reza terlihat bingung.
Dokter pun menjelaskan secara detail kepada Reza hingga Reza pun mengerti apa yang dokter jelasnya, memang benar harus dengan persetujuan pasangan. Cilla yang ikut mendengarnya malah tersipu malu karena baru kali ini mereka berkonsultasi masalah pribadi dengan seorang dokter.
" Ini resep obat untuk 1 bulan ke depan, semoga bulan depan hasilnya sudah bagus dan cepat sembuh. Untuk beberapa waktu mungkin ibu Cilla akan merasakan sakit dan tak bisa di prediksi sakitnya kapan, saya sudah meresepkan juga obat anti nyeri. Tolong obat-obatannya di minum teratur, agar hasilnya bisa terlihat."
" Baik dokter, terimakasih, kalau begitu kami permisi."
Setelah keluar dari ruangan dokter, wajah Reza dan Cilla terlihat sangat kecewa, sampai mereka seperti tak bersemangat walaupun hanya untuk berjalan menuju ke mobil mereka.
Padahal mereka telah membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang tua, menjadi ayah dan ibu. Membayangkan wajah anak mereka yang akan lebih mirip ayah atau ibunya, semua itu pudar. Untuk beberapa saat mereka harus sabar menunggu ke hadiran buah hati mereka yang telah di nantikan.
__________
Di rumah
" Aku minta maaf." Cilla menundukkan kepalanya terlihat matanya berkaca-kaca.
" Kamu tak perlu meminta maaf, sekarang kita fokus saja dengan pengobatan kamu. Yang penting kamu sembuh, sehat kembali sehingga kita bisa melakukan program memiliki momongan." Reza merangkul Cilla.
" Iya, tapi harapan kita memiliki anak dalam waktu dekat harus tertunda." Keluh Cilla.
" Iya kita sekarang harus bersabar, tetap berdoa agar kamu sembuh lebih cepat." Reza menenangkan istrinya yang menangis terisak.
Ternyata impian tak seperti kenyataan, manusia hanya bisa berharap tapi tuhan yang menentukan. Mungkin ini bentuk ujian dari tuhan agar kita tetap sabar dan istiqamah pada-Nya.
" Kenapa sih harus seperti ini?" Tangisan Cilla pun akhirnya pecah, Reza memeluknya mencoba untuk menenangkannya.
" Udah jangan di pikirkan, anak adalah rezeki. Lagi pula hanya sebentar saja kan, kita nikmati saja waktu berdua. Apa kita perlu second honeymoon? Soalnya honeymoon pertama kan gagal, kita gak ngapa-ngapain. Kita mau kemana? ke bali, raja ampat atau ke derawan island?"
__ADS_1
" Kok cuma di dalam negeri aja?"
" Memangnya kenapa? Wisata dalam negeri juga indah-indah kok, kenapa harus keluar."
" Iya, nanti aku pikirkan lagi." Senyum Cilla tersungging di bibirnya.
" Nah, gitu dong. Kan kalau senyum, cantik."
" Terus, kalau aku gak senyum, berarti aku jelek dong?"
" Yah, gak gitu juga sayang. Kamu itu di mataku tetap cantik dalam ke adaan apapun." Perkataan Reza membuat Cilla tersipu hingga pipinya memerah. Reza tak melepas pelukannya saking gemasnya kepada istrinya yang selalu bersikap kekanak-kanakan.
Lalu terdengar ponsel Cilla berdering dan ternyata Bunda menelponnya.
Cilla : Halo!
Bunda : Hai sayang, bagaimana kalian sampai dengan selamat kan? Bunda tak bisa tenang melihat kamu yang berangkat dalam keadaan sakit. Apa kamu sudah periksa ke dokter?
Cilla : Aku dan Reza kemarin sampai dengan selamat, semuanya aman. Aku juga sudah periksa ke dokter kok, Alhamdulillah gak ada apa-apa.
Bunda : Syukurlah... Bagaimana hasilnya? Apa kamu beneran hamil?
Cilla : ...........
Bunda : Cilla? Kok kamu diam?
Cilla : Ah... Gak.... Aku gak hamil, hanya sakit lambung karena salah makan aja. ( Cilla tak menceritakan hal sebenarnya kepada bundanya.)
Bunda : Padahal bunda pikir kamu hamil! Tapi sekarang kamu gak apa-apa kan?
Cilla : Iya, aku sudah mendingan setelah minum obat tadi.
Bunda : Tetap semangat, kalian masih muda jadi tak perlu cemas. Bunda sudah selipkan obat penyubur di dalam koper kamu, semoga bisa secepatnya dapat kabar baik.
Cilla : Iya, nanti Cilla lihat, soalnya Cilla belum membongkar koper. ( Sepertinya belum dalam waktu dekat ini bunda).
Bunda : Yasudah, kamu istirahat dan makan makanan yang bergizi biar gak gampang sakit. Apalagi cuaca di sana yang dingin, jaga kesehatan saja.
Cilla : Iya bunda, makasih yah.
Cilla meletakkan ponselnya di atas meja setelah selesai menelpon.
Reza melihat Cilla yang kembali murung lalu berinisiatif mengajaknya pergi keluar rumah namun mendapatkan penolakan dari Cilla. Dia ingin istirahat saja di rumah karena kondisinya masih kurang sehat, dia ingin tidur saja untuk hari ini. Reza memaklumi istrinya yang mungkin tertekan dengan keadaan, dia tak bisa melakukan apa-apa selain memberinya dukungan dan menghiburnya dengan cara apapun.
" Kenapa kamu tadi gak jujur dengan Bunda?"
" Gak, biar saja... Kita jangan memberitahu mereka, termasuk orangtua kamu." Cilla menarik selimut hingga menutupi pundaknya.
" Ok, yasudah kamu istirahat. Jangan banyak pikiran, tidurlah dengan nyenyak."
_________
Tengah malam Reza merasakan ada pergerakan di tempat tidurnya dan suara rintihan yang tertahan. Awalnya ia anggap itu mimpi karena antara sadar dan tidak saat dia masih dalam keadaan tidur. Namun lama-kelamaan suara rintihan itu semakin kencang hingga Reza pun terbangun, ia segera melihat ke arah Cilla yang ternyata sedang kesakitan sambil memegang perutnya.
" Sayang, kamu sakit? Kenapa gak bangunkan aku? Apa sesakit itu?" Reza panik melihat Cilla yang terus kesakitan.
Dengan tergesa-gesa ia mencari obat anti nyeri yang dokter resepkan untuk Cilla, lalu ia mengambil botol kecil air mineral yang sengaja ia siapkan di atas meja lalu menyerahkannya kepada Cilla.
" Minumlah ini sayang, biar rasa sakitnya hilang." Reza membantu Cilla bangun untuk duduk agar bisa meminum obatnya.
Dengan susah payah dan atas bantuan Reza akhirnya Cilla duduk lalu meminum obat yang Reza berikan, lalu dia kembali berbaring. Tak berapa lama, efek obat pun bekerja hingga Cilla sudah bisa kembali tenang dan bisa memejamkan matanya.
" Lain kali, kamu harus cepat bangunkan aku jika kamu merasakan sakit. Aku tak ingin kamu menderita, aku harap kamu bisa mengandalkan aku dalam segala hal, karena aku ini suamimu." Reza mengelus rambut Cilla.
" Iya, aku akan mengandalkan kamu, terimakasih."
" Yasudah, kamu tidur lagi. Biar aku menjaga kamu malam ini." Tak lama akhirnya Cilla tertidur dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
Bersambung.....
Maaf lama update, ada kendala... Terimakasih bagi yang masih setia membaca Kisah Cilla ☺️