
" Kamu sudah pulang?" Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 6 sore.
" Iya, pekerjaanku sudah selesai." Reza merebahkan tubuhnya di atas sofa.
" Kamu gak mandi dulu? Biar tubuhmu segar." Cilla merapikan jas dan sepatu Reza yang tergeletak begitu saja.
" Nanti saja, aku perlu istirahat sebentar, pinggang dan punggungku terasa kaku."
" Yasudah, aku mau ke toilet dulu, habis itu kamu harus mandi."
Reza hanya mengangguk, tangannya ia letakkan di belakang kepalanya seperti bantal tak lama ia memejamkan matanya, Cilla hanya tersenyum menatap suaminya lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
10 menit Cilla berada di dalam kamar mandi, lalu ia keluar untuk menghampiri suaminya.
" Aku sudah selesai, apa kamu mau mandi seka......." Cilla tak melanjutkan perkataannya, ia melihat Reza sudah tertidur nyenyak.
Cilla bersimpuh di samping suaminya, menatapnya lekat dan senyuman manis tersungging di bibir tipisnya, " Kalau di lihat lebih dekat seperti itu, kamu terlihat sangat tampan." Gumam Cilla.
Lalu Cilla hendak beranjak untuk mengambil bantal dan selimut namun belum selangkah ia berjalan, tiba-tiba tangannya di genggam oleh Reza membuat Cilla menghentikan langkahnya.
" Mau kemana?" Ucap Reza dengan mata yang masih tertutup.
" Eng... Aku mau mengambil bantal dan selimut untukmu."
" Gak perlu, toh aku juga sudah bangun." Reza bangkit untuk duduk tanpa melepaskan genggamannya pada tangan istrinya.
" Yasudah kalau begitu kamu mandi sana!" Cilla hendak melangkah kembali namun kali ini tangannya di tarik hingga Cilla tak mampu menyeimbangkan tubuhnya dan terduduk di pangkuan suaminya.
" Kamu kenapa sih?" Cilla menoleh ke arah Reza melotot kepada suaminya.
Cilla berada di pangkuan Reza dengan posisi duduk membelakangi Reza, lalu Reza memeluk istrinya dengan erat dan meletakkan dagunya di pundak istrinya tersebut.
" Aku kangen, biarkan seperti ini untuk sesaat." Ucap Reza lirih.
Cilla pun tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya diam tanpa bisa menolak. Namun tanpa Reza sadari, jantung Cilla berdetak lebih cepat dengan wajah yang bersemu merah dan hawa panas seakan menjalar ke seluruh tubuhnya.
" Kamu kenapa? Kelihatan gugup sekali." Reza menyadari sikap istrinya yang terlihat tegang.
" Eh... Gak.. Gak apa-apa." Ucap Cilla terbata-bata.
" Aku lelah, tolong pulihkan energi aku."
" Maksud kamu?"
Tanpa menjawab pertanyaan Cilla, Reza langsung menarik wajah Cilla hingga mereka saling berhadapan, segera Reza mencium bibir ranum istrinya. Cilla terbelalak menerima ciuman Reza yang tiba-tiba namun tak berapa lama matanya pun terpejam membalas ciuman suaminya yang semakin liar.
" Sampai di sini saja, aku takut nanti minta lebih." Ucap Reza menyudahi Ciumannya, Cilla yang sudah terhanyut pun menjadi sedikit kecewa namun ia sadar kenapa Reza bersikap seperti itu karena suaminya sangat menyayanginya.
" Iya, maafkan aku juga." Cilla menundukkan kepalanya menghindari tatapan suaminya.
" Saat ini kesehatan kamu yang terpenting. Yasudah aku mandi dulu." Reza segera beranjak menuju ke dalam kamar mandi.
Reza segera membuka pakaiannya, menyalakan shower lalu mengucurkan seluruh tubuhnya di bawah guyuran air yang hangat.
" Uh.. Hampir saja aku hilang kendali." Keluh Reza.
__ADS_1
Terlihat Cilla sudah terlelap ketika Reza sudah keluar dari kamar mandi, Reza mendekati istrinya lalu mencium keningnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya hingga menutupi sampai pundaknya.
Reza berganti pakaian ketika mendengar ponselnya berdering, sebuah panggilan telpon dari salah satu kliennya. Terlihat wajah Reza yang seolah mengeluh lalu menatap istrinya sambil tetap menjawab telponnya.
" Kenapa harus besok sih? Tanpa perencanaan dan diskusi terlebih dahulu, satu sisi aku tak ingin meninggalkan Cilla dan di sisi lain ini klien yang sangat penting, jika aku menolak bisa-bisa kami tak bisa melanjutkan kerjasama bisnis." Keluh Reza.
Esok Harinya.
Reza bangun terlebih dahulu dan sudah berpakaian rapi, dia kemudian mengemas beberapa pakaian kedalam koper. Reza sengaja untuk tak membangunkan Cilla karena pasti Cilla akan membantunya berkemas, Reza tak ingin membuat istrinya lelah.
Tak banyak yang Reza bawa, ia juga hanya pergi untuk seminggu namun bisa lebih cepat jika urusannya bisa selesai. Terdengar suara Cilla yang seperti terbangun, Reza menoleh dan ternyata memang benar Cilla telah bangun dan duduk di atas tempat tidur sambil menggosok matanya yang masih tertutup.
" Za, kamu mau kemana sudah rapi begitu?" Tanya Cilla ketika melihat Reza yang telah berpakaian rapi dan melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 6 pagi hari.
" Oh... Maaf sayang. Sebenarnya aku akan dinas keluar kota untuk beberapa hari, maaf baru bisa memberitahumu sekarang, soalnya kamu tidur sangat lelap hingga aku tak tega untuk membangunkan kamu." Jawab Reza sambil mendirikan kopernya karena sudah selesai mengemas pakaiannya.
" Kok mendadak sih, kenapa kamu tak memberitahuku dari awal?" Cilla terlihat mengerucutkan bibirnya karena merasa kecewa.
" Bukannya aku tak memberitahumu secepatnya namun aku juga baru mendapat kabar tadi malam sepulang kerja."
" Kamu tuh yah, aku kan istri kamu." Cilla cemberut merasa kesal.
" Sini sini, biar aku peluk dulu." Reza merentangkan kedua tangannya tak lama Cilla pun menghampiri suaminya dan mereka saling berpelukan.
" Yasudah, jangan ngambek kayak gitu dong. Jelek tahu..."
" Emang aku jelek? Kamu mau cari istri lain." Cilla ngambek.
" Bukan gitu hehe, kamu tetap cantik walau lagi ngambek. Aku janji, aku akan selesaikan pekerjaan aku secepatnya agar aku cepat pulang untuk bertemu lagi dengan istriku yang manja ini." Reza terlihat gemas dengan sikap manja istrinya.
" Ok, kamu janji, harus pulang secepatnya. Awas kalau bohong."
" Kamu naik kereta?" Cilla melepaskan pelukannya.
" Iya, jarang Sidney ke Melbourne kan cukup jauh, aku juga malas untuk mengemudi sendiri jadi lebih baik menggunakan kereta saja."
" Iya juga dan bisa lebih aman. Walaupun begitu kamu harus hati-hati yah, kalau sudah sampai cepat hubungi aku. Aku tunggu.."
" Siap, istriku tersayang."
Reza pun keluar di antar oleh Cilla, Reza telah memesan taxi untuk berangkat menuju stasiun kereta di daerah sana. Taxi telah menunggu di depan rumah Reza, lalu dia memasukan kopernya kedalam bagasi taxi lalu ia pun naik ke taxi tersebut.
" Ingat, kalau sudah sampai segera telpon aku." Cilla mengingatkan suaminya.
" Iya sayang." Balas Reza dengan senyuman.
" Dan hati-hati yah, I love you."
" I love you too."
Lalu taxi pun berlalu, Cilla melambangkan tangan kepada suaminya dan Reza pun membalas lambaian tangan istrinya. Setelah taxi yang di naiki Reza sudah tak terlihat lagi, barulah Cilla masuk ke dalam rumah.
" Kok perasaan aku tak enak yah, semoga tak terjadi apa-apa pada Reza. Udahlah, mungkin ini cuma perasaan aku aja." Gumam Cilla sambil memegang dadanya yang terasa tak nyaman.
____________
__ADS_1
Apartemen Elya
" Duduklah." Ucap Elya ketika Adrian berkunjung ke Apartemennya.
" Iya, kamu juga duduk sini." Adrian menepuk sofa di sampingnya dan Elya pun duduk di samping Adrian.
" Kamu kenapa? Kayaknya ada yang mau kamu bicarakan." Adrian bisa menebak dari mimik wajah Elya yang terlihat gelisah.
" Kita kan sudah berpacaran selama sebulan, sebelum hubungan kita tambah serius, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan kepada kamu."
" Sepertinya hal itu cukup penting sehingga kamu terlihat serius seperti ini."
" Sebenarnya begini... Tapi... Maksudku, setelah kamu mendengar hal yang aku katakan, aku akan terima keputusan kamu apapun itu."
" Memangnya masalah apa? Sampai seperti ini." Adrian tambah penasaran dengan apa yang akan Elya bicarakan.
" Sebenarnya keluargaku adalah keluarga yang biasa saja. Saat aku SMP, kami membangun sebuah restoran kecil dan secara bertahap menjadi restoran yang cukup terkenal. Keuntungannya membuat kami bisa membeli sebuah rumah yang lebih besar dari sebelumnya. Yah walaupun kami hanya tinggal berempat, aku, adik laki-lakiku, Ayah dan Ibuku. Namun rumah lama kami memang terlalu sempit. Namun ketika perekonomian kami membaik, Ayah mulai bertingkah. Ayah sangat senang bermain judi, sampai restoran di ambil alih oleh Ibu. Ayah hanya meminta uang kepada ibu untuk berjudi, sikapnya yang tadinya lembut berubah menjadi kasar bahkan kami sering sekali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Ibu lebih parah, sering sekaligus di pukuli sampai wajahnya memar bahkan bagian tubuh lainnya pun sama saja tak luput dari pukulan ayah. Sampai saat awal kuliah perlakuan kasar itu tetap ayah lakukan, sampai pikiranku menjadi labil. Aku menjadi salah bergaul dengan teman-teman yang malah menjerumuskan aku pada dunia gelap. Aku bahkan sering mabuk-mabukkan dan beruntungnya aku sama sekali menolak untuk mengkonsumsi obat terlarang, mungkin pikiranku masih waras untuk tak mencicipi barang haram tersebut. Sampai kuliahku saat itu berantakan, aku tak pernah masuk kuliah. Hidupku seakan hancur saat itu, sampai aku melihat pertengkaran hebat ayah dan ibu. Ibu di pukuli oleh ayah bahkan dengan benda tumpul hingga ibu tersungkur ke arah lemari kecil. Hingga ibu menemukan pisau, dengan kondisi yang cukup lemah dan kesakitan. Dengan susah payah Ibu mengumpulkan tenaga, hingga akhirnya menusuk ayah beberapa kali. Itu semua aku saksikan sementara aku menutup mata adik lelakiku untuk tak melihat kejadian naas itu..... "
Setelah menjelaskan panjang lebar, tangisan Elya pun pecah. Adrian memeluk Elya dengan penuh rasa iba.
" Sudah, jangan di ungkit lagi jika itu membuat luka lamamu terbuka lagi." Adrian tak tega dengan Elya yang terlihat sangat tertekan ketika menceritakan masa lalunya.
" Tidak, aku hanya ingin kamu tahu masa laluku, aku harus melanjutkannya." Ucap Elya sambil terisak, lalu Elya mulai kembali melanjutkan ceritanya dan meminta Adrian melepaskan pelukannya.
" Sa... Saat... itu... Ibu menelpon polisi dan mengakui perbuatannya, walaupun terbukti bahwa Ibu membunuh karena membela diri namun pengadilan tetap memutuskan untuk memenjarakan ibu selama 15 tahun. Setelah ibu masuk ke dalam penjara, aku memutuskan cuti kuliah untuk mencari kerja, aku harus bertahan hidup dan membiayai sekolah adik aku. Pekerjaan apapun aku lakukan, mulai dari bantu-bantu tetangga mencuci atau menyetrika, membantu di toko-toko dan mencoba menjadi pelayan cafe. Aku hanya mengira itu hanya sebuah cafe biasa namun ternyata di cafe tersebut menyediakan tempat karaoke dan minuman keras. Ketika seorang pendamping karoke tak bisa masuk, aku di perintahkan sebagai pengganti orang tersebut. Dari awal aku curiga ketika aku di suruh berganti pakaian dengan pakaian yang cukup terbuka. Aku merasa risih namun bosku meyakinkan jika aku hanya menemani saja tanpa melakukan hal yang aneh-aneh. Aku menemani seorang pria yang sekitar 40 tahunan, beberapa saat terasa normal-normal saja, namun pria itu sudah mulai nakal merangkul, memeluk bahkan hendak menyentuh yang tak seharusnya. Aku pun menolak dan menepis tangannya, namun pria itu malah jadi agresif padaku hingga dia menarik tanganku dan mendorong tubuhku hingga terjatuh di atas kursi disana. Dia mulai menyerangku hingga aku pun berusaha sekuat tenaga untuk lepas darinya, aku bahkan mencoba meraih apapun yang bisa aku raih yang mungkin bisa aku gunakan sebagai senjata namun semuanya sia-sia. Hingga ketika aku sudah mulai lelah karena tenagaku tak seimbang dengan tenaga pria itu. Aku pun kepikiran untuk menendang miliknya hingga dia tersungkur kesakitan dan aku bisa lepas darinya. Aku langsung berlari keluar dari ruangan tersebut dan keluar dari cafe tanpa berbicara sepatah katapun. Hanya air mata yang keluar begitu saja dari mataku, perasaanku campur aduk. Setelah hari itu aku tak kembali ke cafe tersebut dan kejadian itu berlalu begitu saja. Setahun kemudian aku mencoba kembali kuliah setelah sekitar 2 tahun berhenti kuliah dan adikku sudah masuk SMP. Aku mulai menata kembali hidupku setelah mendapat pekerjaan sambilan di sebuah perusahaan kecil namun bisa membuat aku kembali berkuliah dan menyekolahkan adikku. Hah..... Aku sudah menceritakan semuanya, akhirnya aku bisa lega."
Elya terlihat sudah tetang walaupun wajahnya masih penuh dengan air mata, Adrian memberikan tisu ke pada Elya dan membantu menyeka bekas air mata Elya. Adrian menggenggam tangan Elya, dia menatap Elya dengan penuh kasih, ternyata wanita yang terlihat tegar di matanya, wanita yang terlihat mandiri dan wanita yang terlihat percaya diri ini ternyata telah melewati hidup yang sangat berat. Ternyata hidupnya yang di rasa berat, bukan apa-apa jika di bandingkan dengan Elya. Adrian memeluk Elya dengan erat, Elya pun terkejut dengan perlakuan Adrian yang malah semakin memperdulikannya.
" Ian, apa kamu tak masalah dengan aku? Bahkan setelah mendengar kisahku?"
" Kenapa? Memangnya aku harus berbuat apa? Aku sayang kamu, aku cinta kamu, aku bertemu denganmu sekarang. Jadi untuk apa aku memikirkan masa lalumu?"
" Walaupun aku anak seorang pembunuh?"
" Apa? Kamu yah kamu, Ibumu juga bukan membunuh karena dia jahat. Siapa yang tak melawan jika terus di sakiti? Orang semut saja akan menggigit jika terasa terancam. Apapun masa lalumu, aku akan tetap berada di sisimu."
Reza melepaskan genggaman tangannya, dia berlutut di depan Elya yang duduk di atas sofa. Adrian mengeluarkan sebuah kotak cantik yang berwarna merah muda lalu Adrian membukanya, sebuah kalung dengan sebuah berlian di bagian tengahnya.
" Elya, maukah kamu menikah denganku?"
Mendengar pertanyaan Adrian, Elya terlihat sangat terkejut. Antara percaya dan tidak, dia malah di lamar oleh Adrian.
" Sebenarnya, aku ingin melamarmu di tempat yang berkesan namun melihat dari situasinya, inilah saat yang paling tepat untuk aku melamarmu. Tolong jawab saat ini juga, aku sudah tak bisa menahan perasaan aku lagi dan aku sudah pegal terus seperti ini. hehe"
Adrian seolah pegal karena dia terus berlutut dengan memegang kotak yang ia sodorkan ke arah Elya.
Mendengar itu Elya pun tersenyum dan akhirnya memeluk Adrian, tangis bahagia pun pecah.
" Kenapa nangis lagi? Sini aku pasangkan kalungnya."
Elya melepas pelukannya lalu Adrian berdiri untuk memakainya kalung yang sangat cantik itu.
" Terlihat cantik dan cocok untukmu."
" Terimakasih yah Adrian, I love you."
__ADS_1
" I love you too." Balas Adrian membalas pelukan kekasihnya.
Bersambung