Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan

Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan
Akhirnya


__ADS_3

Hardi bersama beberapa pengawalnya serta beberapa orang polisi mengintai tak jauh dari tempat dimana Reza beserta 2 orang lainnya sedang duduk. Hardi memastikan jika orang yang berada di hadapannya itu adalah benar menantunya.


" Baik, kita hampiri mereka." Ucap Hardi setelah yakin orang yang di hadapannya itu adalah Reza.


Beberapa polisi berjalan perlahan, bersiap-siap dengan memegang senjata pistol mereka.


" Angkat tangan." Teriak komandan polisi.


Mereka yang berada di tempat tersebut pun pada terkejut, apalagi ketiga orang yang menjadi target kepolisian yang terlihat sangat terkejut sambil mengangkat kedua tangan mereka.


Lalu Hardi berjalan mendekat dan menampakan diri kepada ketiga orang tersebut.


" Ayah!" Gumam Reza sambil membelalakkan matanya.


" Reza! Untunglah akhirnya saya menemukanmu. Kemarilah." Hardi meminta Reza untuk menghampirinya. Dengan sedikit takut dia pun menghampiri ayah mertuanya.


" Kalian berdua, ayo ikut kami. Dan jelaskan semuanya di kantor kepolisian." Ucap komandan dan memerintahkan salah dua orang polisi untuk memborgol keduanya.


" Saya akan membawa menantu saya ke rumah terlebih dahulu, untuk laporan dan interogasinya saya minta besok saja. Apakah bisa?" Tanya Hardi.


" Baiklah, besok datanglah ke kantor kepolisian."


Kedua orang yang bersama Reza segera di giring untuk di bawa ke kantor polisi sementara Reza langsung Hardi bawa ke Mension mereka.


Selama di perjalanan, Hardi tak banyak bicara walaupun banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada menantunya itu. Namun melihat keadaan Reza yang seperti tertekan dengan tampang yang berbeda dari waktu dulu sehingga Hardi menahannya. Hardi yakin ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Reza seperti orang yang depresi dengan penampilan yang berbeda jauh dari biasanya.


Sesampainya di Mension, Hardi dan Reza berjalan masuk bersama beberapa pengawalnya. Waktu pintu terbuka, Reza melihat Cilla yang sedang duduk di sofa menanti kedatangannya. Reza menghentikan langkahnya, matanya menatap jauh ke arah istrinya. Tiba-tiba bibirnya bergetar, matanya memerah dan mulai berkaca-kaca, tak lama air matanya mengalir di pipinya.


Cilla yang menyadari ada yang datang langsung menoleh dan hanya diam dengan ekspresi tak percaya, matanya pun memerah dan mulai mengeluarkan air matanya.


Ia berdiri lalu setengah berlari menghampiri suaminya yang berdiri mematung dengan wajah penuh air mata. Cilla langsung memeluk suaminya, air matanya pun pecah, tangis haru memecahkan suasana hening. Reza memeluk istrinya dengan erat begitupun Cilla yang sangat erat memeluk suaminya yang lama ia nantikan.


Orang tua mereka pun ikut terhanyut suasana, mereka juga tak bisa menahan air mata mereka. Tak ada satupun yang mengucapkan kata, hanya suara isak tangis yang terdengar mengisi ruangan tersebut.


Hingga Cilla pun mengucapkan kata pertamanya kepada suaminya yang hampir 3 bulan terpisah darinya.


" Reza, kamu gak apa-apa? Kamu sehat kan? Kamu terlihat kurus, apa yang terjadi selama ini? Kamu seperti tertekan !! Kamu... Kamu... baik-baik saja kan !....." Cilla memeriksa seluruh tubuhnya Reza dengan sangat khawatir.


Tak menjawab seluruh pertanyaan Cilla, Reza kembali menarik istrinya lalu memeluknya dengan erat dan air matanya terus mengalir tak bisa tertahankan.


Bunda Sarah menghampiri mereka, " Sekarang kalian istirahat, pasti Reza lelah. Tak usah pikirkan yang terjadi dahulu, tenangkan diri kalian saja dahulu. Nanti setelah semuanya tenang, kita bisa membahasnya." Bunda Sarah, pun terlihat sendu dan haru atas pertemuan Cilla dan Reza.


Reza pun memeluk Bunda Sarah dan mengucapkan terimakasih. Reza memeluk Adrian yang juga berada di sana karena sebelumnya Hardi juga telah menghubungi keluarga Reza.


" Selamat datang Bro, terimakasih sudah bertahan. Benar kata Bu Sarah, loe istirahat dulu." Adrian memeluk erat adiknya dengan penuh rasa haru.


" Makasih bang, gue kangen loe, bang." Reza menangis di pelukan kakaknya.


Reza kemudian beralih ke Ibunya yang dari tadi menunggunya dengan penuh air mata.


" Mama....." Reza langsung memeluk ibunya dengan sangat Erat. Ibunya pun memeluk Reza erat dengan penuh air mata, mengusap kepala anaknya tanpa berkata-kata. Hanya suara isak tangis yang terus terdengar.


" Mama... Reza... Re.. Reza.. Kangen banget."


" Sayang, kamu baik-baik saja kan nak?" Ibunya melepaskan pelukannya dan memegang wajah anaknya serta menghapus air mata Reza yang terus mengalir tiada henti di pipinya.


" Iya... Aku baik-baik saja mah. Lihat, sekarang aku bisa berkumpul lagi di sini kan." Senyum Reza untuk menenangkan ibunya, namun tak bisa menutupi air matanya.


Memang semua orang menangis namun itu bukanlah tangis kesedihan namun tangis kebahagian yang tak terkira.

__ADS_1


Reza dan Cilla masuk ke dalam kamar, Reza pub membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Ia melihat Cilla yang duduk menunggu di samping tempat tidur.


" Sayang, seperti kamu tidak begitu baik. Lihat tubuhmu sekarang, terlihat lebih kurus." Ucap Cilla setelah Reza duduk di sampingnya.


" Kenapa kau malah mengkhawatirkan aku ?, Aku yang harusnya lebih mengkhawatirkan kamu, lihat sekarang kamu lebih banyak kehilangan berat badan. Apa kamu tak makan selama aku tak ada?"


" Bagaimana aku bisa makan jika kamu hilang begitu saja? Aku tak bisa tidur dan hanya memikirkan kamu. Aku sangat merasa kehilangan kamu, aku frustasi dan hingga depresi karena takut kamu menghilang selamanya, aku... aku... " Air mata mengalir di pipi Cilla, Reza yang melihatnya langsung memeluknya.


" Maafkan aku, aku janji, mulai hari ini dan selamanya, aku akan selalu berada di sampingmu." Reza menenangkan istrinya.


" Kenapa kamu harus minta maaf ? Kamu tak salah, kamu itu korban. Jadi jangan minta maaf." Ucap Cilla sambil terisak.


" Iya.. Iya... Sudah dong, kamu jangan menangis terus. Tuh lihat, kamu jadi jelek." Reza mencoba mencairkan suasana.


" Ih. . kamu ini, aku ini khawatir dan kangen banget sama kamu."


" Iya aku juga kangen, jadi sudah yah, jangan nangis terus." Mereka pun mulai tersenyum tanpa melepaskan pelukan mereka.


Terdengar suara pintu di ketuk, mereka mempersilahkan orang yang di luar untuk masuk. Seseorang masuk membawa makanan yang ia dorong menggunakan troli khusus makanan.


Beberapa menu di siapkan untuk mereka santap di sore hari ini.


" Silahkan dinikmati makanannya."


" Iya, terimakasih."


Pengantar makanan pun keluar setelah selesai menata makanannya di atas meja.


" Sayang, makanlah sekarang. Agar kamu terlihat sehat kembali. Aku lihat, kamu sangat lemah, aku tak ingin kamu sakit."


" Aku gak lapar, Za. Aku hanya ingin memelukmu. Kamu saja yang makan, biar badanmu seperti dulu."


" Kamu harus makan, kalau tidak aku ngambek nih. Pelukannya bisa nanti lagi kan. Sekarang kita harus mengisi perut dulu."


" Udah mulai keluar nih manjanya."


" Gak apa-apa kan, cuma sama kamu."


" Yasudah, sekarang buka mulutmu... aaaa." Reza menyuapi istrinya, dan akhirnya Cilla mau makan. Ini makanan pertamanya hari ini, karena selama Reza hilang, Cilla jarang sekali makan, bahkan makanan yang ia sempat makan pun seakan tak bisa di cerna dengan baik hingga ia pun mual dan mulai memuntahkannya.


Namun beda untuk hari ini, walaupun Reza baru datang beberapa jam yang lalu tapi Cilla sudah bisa memperlihatkan kembali senyumannya dan mulai bisa menelan makanannya dengan baik.


Cilla pun menyuapi suaminya dan dia terlihat bahagia karena suaminya telah bersamanya kembali. Rasa bahagianya saat ini tak bisa di ukur dengan apapun, senyum tak pernah lepas dari bibir keduanya.


Lalu Cilla tak sengaja memukul pelan dada suaminya yang tak tahan akan candaan yang mulai di lontarkan suaminya.


" Aduh... " Reza meringis kesakitan oleh pukulan pelan istrinya.


" Kamu kenapa? Kamu sakit?" Cilla terlihat sangat khawatir.


" Gak, aku gak apa-apa." Reza mencoba tersenyum tapi masih menahan rasa sakitnya.


Cilla yang melihat ada yang tak beres pada suaminya pun memaksa suaminya untuk membuka kemeja tidurnya. Dengan sedikit di paksa akhirnya Cilla berhasil membuka kancing depannya dan betapa terkejutnya Cilla setelah melihat apa yang terjadi pada tubuh suaminya.


Cilla segera menelepon ayahnya untuk segera datang kedalam kamarnya, tak butuh waktu lama. Ayah Hardi dan Bunda Sarah datang dan masuk ke kamar putri mereka dengan cemas.


" Kenapa? Ada apa?" Tanya Ayah Hardi.


" Ayah, lihat saja sendiri."

__ADS_1


Reza membuka bajunya dan terlihat banyak sekali luka lebam di sekujur tubuhnya bahkan ada beberapa sayatan kecil di bagian perut serta punggung Reza, ada pula luka bakar akibat sulutan rokok.


Melihat itu, tanpa pikir panjang, Hardi menyuruh mereka untuk berganti pakaian untuk secepatnya pergi ke rumah sakit guna pemeriksaan lebih lanjut pada Reza, walaupun hari terlihat mulai gelap.


Di dalam Mobil


" Harusnya kamu bilang Za, kamu terluka begini masih saja diam saja, aku takut terjadi apa-apa sama kamu." Cilla marah kepada suaminya bukan karena emosi namun rasa khawatirnya yang teramat besar.


" Benar Za, kenapa kamu gak bilang kalau kamu juga menjadi korban kekerasan?" Ujar Ayah Hardi.


" Ayah akan urus semuanya, biar tersangkanya bisa di hukum dengan hukuman yang setimpal." Tambah Ayah Hardi.


" Benar, aku juga gak nyangka. Tiffany akan melakukan hal seperti ini."


" Nanti kamu harus menceritakan semuanya di kantor polisi, namun tidak untuk saat ini. Ayah meminta waktu beberapa hari kepada kepolisian sebelum kamu di interogasi sebagai saksi korban."


" Terimakasih, Yah. Saya sangat berterima kasih."


" Kenapa kaku banget kamu ! Ayah akan lakukan apapun demi kebahagiaan putri ayah, termasuk kamu yang sudah ayah anggap putra sendiri, bukan hanya sekedar menantu."


" Sekali lagi terimakasih, Ayah."


Sebulan pun berlalu


Kini mereka telah kembali ke Indonesia, setelah menyelesaikan sidang yang cukup cepat karena bukti dan saksi sangatlah kuat sehingga keputusan persidangan cepat di cetuskan. Tiffany dan rekannya mendapatkan hukuman yang setimpal, Tiffany di hukum sekitar 20 penjara dan rekannya sekitar 10 tahun penjara. Walaupun tak sesuai dengan keinginan keluarga Reza namun itu sudah bisa membuat mereka jera.


Keadaan Reza dan Cilla sudah mulai membaik, Reza yang telah sembuh dari luka-lukanya yah walaupun sebagian bekasnya masih terlihat. Sedangkan Cilla mulai sehat lagi, makan pun sudah teratur seperti sebelumnya. Walaupun masih di kontrol oleh ahli gizi karena bobot badannya belum begitu bertambah sesuai standar kesehatan.


Reza dan Cilla kini berada di kamarnya, di rumah orangtuanya Cilla.


" Akhirnya aku bisa kembali pulang, dan itu pun pulang bersama kamu." Cilla menghela nafas dan tersenyum karena hatinya merasa lega.


" Iya, aku kira hidupku akan berakhir ketika mengalami kejadian buruk itu, namun aku bahagia karena semua itu telah berlalu." Reza memeluk Cilla dari belakang.


" Apa kamu sudah benar-benar baikan?" Cilla membalikan tubuhnya, menatap wajah suaminya.


" Tentu saja, apalagi ada kamu di sisiku, aku cepat baikan." Reza mengecup kening Cilla lalu memeluknya.


Cilla membalas pelukannya, lalu mereka saling menatap, tak lama bibir mereka pun bertemu. Di udara malam yang cukup hangat, mereka berciuman dengan cukup mesra hingga rasa hangat bertambah mereka rasakan.


Terdengar pintu kamar mereka di ketuk, hingga ciuman mereka pun berhenti.


" Cilla, Reza, kita makan malam dulu." Suara Bunda Sarah terdengar memanggil.


" Baik Bunda." Balas Cilla.


" Beneran udahan nih?" Ujar Reza.


" Ya Iyalah, kita kan memang belum makan."


" Beneran? Apa gak nanggung? Padahal..." Perkataan Reza terhenti ketika suara perutnya terdengar cukup keras.


" Tuh kan, perut kamu sudah keroncongan. Masih aja ngeles."


" Hehehe " Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mereka pun akhirnya bergabung ke meja makan bersama keluarganya. Terlihat hubungan yang begitu dekat satu sama lain, suasana di meja makan terlihat penuh rasa kekeluargaan. Terlihat aura kebahagiaan menyelimuti keluarga ini, keakraban, suara tertawa terdengar jelas membuat suasana terasa sangat nyaman. Mungkin ini bukanlah akhir dari cobaan mereka, pasti masih banyak rintangan selama masih menjalani hidup di dunia. Namun jangan lupa, setiap kesusahan pasti ada kemudahan dan sebaliknya, harus di hadapi bersama untuk lebih terasa mudah untuk menjalaninya.


Tamat...

__ADS_1


Terimakasih, untuk para pembaca setia yang telah membaca sampai akhir. Maaf jika banyak kesalahan atau kekurangan dalam novel ini, karena saya masih belajar.


Sampai jumpa di karya saya selanjutnya.... Bye bye ☺️


__ADS_2