Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan

Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan
Salah Faham


__ADS_3

Reza sedang menyiapkan materi untuk besok ia mengajar, tak begitu banyak sehingga dia merangkumnya di bagian-bagian yang paling penting saja. Sementara terdengar suara air di dalam kamar mandi dimana Cilla sedang membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah pulang dari acara reuni tadi. Lalu Cilla keluar dengan sudah mengenakan pakaian tidurnya, ketika hendak berjalan keluar tiba-tiba tubuhnya terhuyung menginjak lantai yang licin, Cilla berteriak karena akan terjatuh namun Reza dengan sigap mencoba menangkap tubuh Cilla tapi Reza juga malah tak bisa menyeimbangkan tubuhnya ketika berhasil menangkap tubuh Cilla sehingga keduanya pun terjatuh secara bersamaan namun dengan posisi Reza berada di bawah sementara Cilla berada di atas tubuh Reza.


Mereka awalnya meringis kesakitan terutama Reza namun keduanya tertegun ketika menyadari tubuh mereka dan wajah mereka yang cukup dekat, kedua lengan Cilla bertumpu pada dada bidang Reza. Dengan segera keduanya pun bangun dan Cilla melepaskan dirinya menjauh dari Reza. Mereka terlihat canggung satu sama lain sehingga mereka pun sedikit salah tingkah.


" Te... Terimakasih Za, kalau gak ada kamu mungkin aku akan lebih kesakitan karena jatuh." ucap Cilla gugup.


" I...iya.. gak apa-apa, yang penting kamu juga gak apa-apa." balas Reza sambil memegang pinggangnya yang sedikit nyeri.


" Kamu gak apa-apa? Kelihatannya pinggangmu sakit!" Tanya Cilla ketika Reza terus memegangi pinggangnya.


" Iya gak apa-apa." Reza berjalan pelan dan merentangkan tubuhnya di atas sofa.


" Bentar, kayaknya aku punya koyo deh, bentar aku cari dulu." Cilla segera menuju laci yang biasa dia menyimpan kotak P3K. Tak lama Cilla membawa sekotak koyo kehadapan Reza, Cilla menyuruh Reza duduk dan membelakanginya, mengangkat setengah kaosnya lalu Cilla menempelkan koyo itu beberapa di bagian pinggangnya.


" Makasih, Cill."


" Yasudah, kamu istirahat saja, besok kamu ke kampus kan dan makasih lagi untuk tadi karena kamu udah menolong aku." Cilla menjauh dari Reza dan dia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur karena malam sudah semakin larut.


Reza yang melihat Cilla berjalan sedikit pincang lalu menghampiri Cilla yang sudah berbaring di tempat tidur. Reza duduk di samping Cilla lalu menarik selimut yang menutupi kaki Cilla, terlihat memar di mata kaki Cilla yang lumayan besar.


" Kamu gak bilang kalau kakimu juga sakit!"


" Hanya sedikit, besok juga bisa sembuh."


" Gak bisa, ini lumayan parah, biar aku kasih salep biar besok gak bengkak dan memarnya cepat sembuh." Reza mengambil salep dan mengoleskannya pada Cilla, Reza sedikit menggerakkan kaki Cilla takut terkilir, untungnya kaki Cilla baik-baik saja selain hanya memar mungkin karena terbentur lantai.


" Kalau ada apa-apa, besok kita ke dokter." ujar Reza khawatir.


" Ok sekalian sama kamu juga, mungkin kamu yang agak lebih parah dari aku, kamu cepat tiduran lagi biar enakan besoknya." ujar Cilla, Reza kembali ke sofa untuk merebahkan dirinya secara perlahan.


' Untung saja Reza menolongku kalau tidak aku pasti akan jatuh terbentur ke lantai dan apa yang aku pegang tadi ternyata dadanya cukup bidang untuk pria seusianya, pasti dia rajin olahraga. Ih.... apaan sih kok malah mikirin itu sih?" batin Cilla yang merona lalu menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.


' Baru kali ini aku sedekat itu dengan Cilla, walaupun di momen yang tidak tepat, namun tubuhnya di atas tubuhnya membuat sesuatu dalam diriku ikut bangkit, kalau aku tak bisa menahannya ataupun kalau pinggangku tak sakit pasti aku sudah menerkamnya." batin Reza sambil senyum-senyum memikirkannya.


__________


Cilla berjalan ke arah meja makan dengan kaki yang sedikit pincang, memar yang semalam masih terasa nyeri walau tak terlalu parah. Sarah dan Hardi yang tengah sarapan pun memperhatikan Cilla yang berjalan tak seperti biasanya.


" Pagi Ayah, Bunda!" Cilla pun duduk di hadapan mereka lalu mengambil roti yang ia oles dengan selai kacang kesukaannya.


" Pagi sayang... Tadi Reza berangkat pagi sekali sampai tak sarapan, terus pinggangnya kayaknya sakit karena terus ia pegangi, sekarang Bunda lihat kamu jalannya juga begitu." ujar Sarah yang terlihat ingin tahu sebabnya.


" Oh itu.... Semalam aku sama Reza jatuh, soalnya lantainya licin banget." balas Cilla santai sambil melahap rotinya.


" Ayah kira kalian habis main kuda-kudaan hehehe" ujar Hardi yang cengengesan.


" Iya, semalam Ayah sama Bunda dengar teriakan kamu, sampai Bunda dan Ayah menghampiri kamar kamu cuma berhenti di depan pintu, soalnya teriakan kamu tak terdengar lagi. Tadinya mau ketuk pintunya tapi takut ganggu, kan kami gak tahu di dalam lagi apa hehehe." tambah Sarah.


" Padahal tinggal ketuk aja kali, kami juga gak melakukan apa-apa." ujar Cilla risih dengan tatapan kedua orangtuanya.


" Kami juga tahu kan, kalau pengantin baru itu jangan di ganggu, Ayah juga pernah merasakan dulu kok hehehe." ucap Hardi.

__ADS_1


" Beneran gak ada apa-apa." tegas Cilla.


" Oh iya, itu pinggang suami kamu gak apa-apa? Bunda takut pinggangnya terkilir, apa panggil dulu tukang urut siapa tahu bisa baikan. Terus kaki kamu juga harus di urut."


" Aku gak apa-apa bunda, tinggal di oles krim hangat bisa sembuh kok soalnya hanya memar gak terkilir, tapi aku belum tahu kalau Reza soalnya dia menangkap aku saat jatuh hingga tubuhnya tertindih tubuhku." ujar Cilla.


" Yasudah nanti Bunda panggilkan tukang urut setelah suamimu pulang."


" Iya Bunda, makasih."


Sebenarnya hari ini Cilla ada kelas namun ia ijin tidak masuk, ia ingin beristirahat agar kakinya cepat baikan.


Di kamar ia merasa bosan tak ada yang bisa ia lakukan kecuali hanya rebahan di atas tempat tidur. Sesekali dia membuka laptopnya melihat-lihat foto-foto semasa kuliah dengan sahabatnya. Ia sangat rindu dengan momen itu karena sekarang kuliah tak asik dulu, sahabatnya di kampus hanya Elya sementara yang lainnya hanya sekedar teman biasa. Cilla tersenyum melihat fotonya masa lalu dan akhirnya dia terhenti pada foto pernikahannya bersama Reza. Ia sangat tak menyangka bahwa orang yang berada di sampingnya bukanlah Adrian namun Reza yang sekarang menemaninya.


Dengan tiba-tiba Reza masuk ke dalam kamarnya, tanpa berkata apapun dia langsung merebahkan dirinya di atas sofa sambil terus memegangi pinggangnya yang terasa nyeri. Cilla yang melihatnya segera menghampiri Reza yang meringis.


" Kamu kenapa Za, tambah sakit?" tanya Cilla cemas.


" Iya nih, nyeri banget. Kayaknya pinggang aku terkilir atau salah urat gitu." ujar Reza menahan nyeri.


" Yasudah, aku minta ke Bunda untuk menelpon tukang pijat khusus, kamu tahan sebentar yah sampai tukang pijatnya datang." Cilla segera menuju ke bundanya yang biasanya jam segini suka berada di belakang rumah bersantai di halaman belakang.


15 menit kemudian datanglah seorang bapak-bapak berpakaian kemeja kotak-kotak dan sarung yang akan memijit pinggang Reza yang sakit. Dia menyiapkan minyak gosok serta obat tradisional yang di oles setelah di urut, obat yang bereaksi hangat hingga meringankan rasa sakit. Pijatan dan urutan di pinggang Reza pun di mulai, sesekali Reza berteriak kesakitan saat bagian yang salah urat di urut oleh bapak tukang pijat.


" Makanya bang, kalau main yang biasa aja jangan yang aneh-aneh jadi salah urat kan!" cecar Tukang pijat Reza tak menjawab, dia hanya menahan sakit dan sesekali berteriak.


" Untung aja gak parah, ini saya pijat yang bagian salahnya, ada urat yang tegang juga, kayaknya ini tertekan sesuatu yang berat deh. Neng juga jangan terlalu aktif sampai membebani si abang, curahkan kasih sayang senormalnya saja ya Neng." tukang pijat terus saja nyerocos sesukanya.


" Iya, memang mulutnya tak bisa di jaga tapi kemampuan memijat dan ngurutnya sudah di jamin manjur, udahlah cuekin aja yang penting Reza cepat sembuh." balas Sarah juga berbisik.


30 menit pun berlalu dan Reza sudah terlihat tenang, tak berteriak lagi pertanda bahwa mungkin sudah enakan. Dan benar saja tukang pijat menghentikan pekerjaannya lalu ia membereskan perlengkapannya.


" Akhirnya sudah selesai, urat-uratnya sudah normal kembali, si abang juga pasti udah enakan tapi untuk 2 hari jangan main dulu yah bang dan oleskan obat tradisional ini. Untuk kedepannya jangan berlebihan, bisa-bisa bukan hanya salah urat malahan bisa patah tuh pinggang." cerocosnya tanpa henti.


Cilla segera memberikan upah pada tukang pijat tersebut agar segera pergi, dia sudah muak dengan omongan tanpa saringan yang di lontarkan tukang pijat tersebut. Setelah itu akhirnya tukang pijat tersebut pamit untuk pulang dan Cilla merasa lega dengan kepergian tukang pijat tersebut.


" Akhirnya... Pergi juga. Telinga aku udah panas banget mendengar mulutnya yang terus nyerocos." ujar Cilla lega.


" Hush... udah, yang penting suamimu sudah baikan, kan!" ujar Sarah.


" Gimana pinggangnya, Za?" tanya Cilla.


" Lumayan, sudah enakan dan gak nyeri lagi." Reza duduk dan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


" Syukurlah, ternyata walaupun mulutnya bocor tapi kemampuan memijatnya bagus juga." lega Cilla.


" Yasudah, Bunda keluar yah takut ganggu kalian, ingat tuh kata kata tukang pijat jangan main dulu 2 hari dan jangan terlalu aktif hehehe." canda Sarah.


" Ih... bunda..." Ujar Cilla dengan sebal.


Setelah Bundanya pergi Cilla duduk di samping Reza dan meminta maaf, karena dirinya dia sampai merasakan sakit namun Reza tak masalah selama Cilla tak apa-apa. Reza pun menanyakan memar di kaki Cilla dan Cilla bilang sudah lumayan membaik dan tak terlalu sakit juga memarnya mulai samar terlihat.

__ADS_1


" Za.. Emm... i...itu... Gimana kalau kamu tidur di ranjang dulu selama 2 malam ini, mungkin biar nyaman dan biar gak sakit lagi." pinta Cilla dengan gugup.


" Serius? kamu gak apa-apa?" tanya Reza tak percaya.


" Iya serius, tapi hanya untuk 2 malam dan jangan berbuat macam-macam." tegas Cilla.


" Iya, makasih yah Cilla, aku janji aku tak akan macam-macam sama kamu."


Reza pun di bantu Cilla berjalan ke arah tempat tidur lalu Reza segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. ' Nyamannya.' batin Reza.


Karena masih siang, Cilla pun pergi ke taman belakang dan ia hanya memandang keindahan taman rumahnya. Sarah selalu merawat bunga-bunga yang ada di sana secara langsung, terkadang Cilla pun ikut membantu bundanya dengan menyirami tanamannya dan sesekali membuang daun atau batang yang mati.


" Kok kamu diluar, suamimu bagaimana?" tanya Sarah yang sedang merawat bunganya.


" Dia tidur, mungkin sudah enakan setelah di urut." balas Cilla duduk di bangku taman.


" Bawa makan siang untuk suamimu, dia kan belum makan siang."


" Iya nanti kalau sudah bangun aku siapkan makanannya."


" Oh iya, yang Cilla tahu, Bunda menikah sama ayah tanpa rasa cinta tapi akhirnya bisa saling mencintai sampai sekarang itu bagaimana ceritanya?" tambah Cilla penasaran.


" Itu karena perlakuan Ayah yang baik dan perhatian pada Bunda, dulu bahkan bunda benci sekali pada ayahmu tapi dia tetap sabar walau memang kadang sikapnya dingin dan arogan, berbeda dengan suamimu yang lembut. Bahkan bunda tak melakukan kewajiban sampai lebih dari 6 bulan pernikahan, tapi ayahmu tak memaksa. Semakin lama di perlakukan dengan baik terus yah jadinya Bunda berfikir untuk menjadi istri yang sesungguhnya, sampai lama kelamaan hati bunda semakin luluh dan mulai mencintai ayahmu secara perlahan hingga sampai saat ini." jelas Sarah tentang masa lalunya.


' Apakah aku bisa memiliki rasa untuk Reza nanti? Ah... aku tak tahu, semoga waktu bisa menjawabnya.' batin Cilla.


" Kok diem?"


" Ah.. Gak... ternyata kisah cinta bunda sama persis dengan kisah Cilla. Semoga kedepannya Cilla juga bisa mencintai Reza seperti Bunda mencintai ayah."


" Iya, semoga pernikahan kalian langgeng dan segera memiliki baby." harap Sarah.


" Ah Bunda bicaranya anak terus, kan masih jauh." keluh Cilla.


" Makanya, cepetan bikin biar rumah tambah rame." goda Sarah.


" Apaan sih!" Cilla pura-pura cemberut, lalu permisi masuk ke rumah karena tak ingin terus di ganggu oleh Bundanya, Sarah hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang masih seperti anak kecil.


Cilla masuk ke dalam kamar dan melihat Reza sudah bangun dan tengah duduk di tepi ranjang, lalu Cilla kembali keluar mengambil piring yang di isi nasi beserta lauk-pauknya dan membawanya kedalam kamar, memberikannya kepada Reza. Melihat itu Reza tak percaya jika Cilla merawatnya, tak seperti biasanya yang suka membangkang dan egois sekarang lebih perhatian.


" Kenapa diam? Ayo makan!" ujar Cilla karena hanya melihat Reza yang diam saja.


" Iya aku makan, terimakasih istriku." balas Reza dan Reza pun segera menyantap makanannya, Cilla tersipu dengan ucapan Reza.


' Coba dari dulu aku sakit pasti Cilla akan perhatian padaku! Tapi sakit gak enak juga sih, perhatiannya yang enak hehehe.' batin Reza yang merasa senang.


Reza menyelesaikan makannya sampai habis, Cilla dengan telaten melayani Reza dengan sangat baik, hati Reza semakin senang semoga dengan sikapnya sekarang ini Reza bisa lebih mudah meraih hati Cilla sehingga dia bisa mendapatkan perasaan cinta nantinya, itulah harapan Reza. Semoga sikap Cilla yang sekarang tak berubah, karena Reza sangat menyukainya tak seperti dulu yang egois dan kekanak-kanakan.


Bersambung....


Terimakasih untuk semuanya, selalu nantikan Up Author selanjutnya 😊

__ADS_1


__ADS_2