Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan

Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan
Long distance


__ADS_3

Di sebuah restoran, Tiffany menunggu dengan gelisah karena Reza belum datang juga setelah lewat janji waktu pertemuan mereka. Dia sudah memesankan makanan untuk mereka berdua dan sebotol Wine mahal yang terletak di tengah meja.


Tak lama Reza pun datang dengan pakaian yang sangat rapi, Tiffany yang melihatnya langsung mengembangkan senyumnya namun tak mendapatkan balasan dari Reza yang malah memasang wajah dingin.


Reza langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Tiffany sedangkan Tiffany tak hentinya memandang wajah tampan Reza dengan penuh nanar.


* Percakapan dalam bahasa Inggris *


" Selamat datang, akhirnya kamu datang juga. Aku kira kamu tak akan datang, syukurlah walaupun terlambat tapi kamu mau datang." Rona bahagia terpancar di wajah Tiffany.


Tubuhnya yang tinggi, bentuk tubuhnya yang indah dan rambut panjang berwarna coklat terang akan membuat pria manapun terpincut namun berbeda dengan Reza, ia sangat tak tertarik dengan Tiffany.


Di mata Reza hanya Cilla yang terlihat cantik dan sempurna yang bisa meluluhkan hatinya. Reza tak akan pernah membandingkan istrinya karena menurutnya Cilla tak ada bandingannya di dunia.


" Aku datang karena kau bilang ada hal penting yang ingin kau bicarakan! Apa itu? Katakan saja sekarang." Reza terdengar ketus pada Tiffany.


" Santai saja dulu, kita makan dan menikmati malam ini." Tiffany memotong daging steak nya lalu melahapnya.


Reza hanya diam saja lalu meneguk segelas air putih yang ada di sampingnya. Karena ia datang secara terpaksa untuk bertemu Tiffany hingga membuatnya tak nyaman berada di sana.


Tiffany menggoyangkan gelas yang berisi Wine lalu mengendus aromanya kemudian dia meminumnya sedikit. Dia terlihat suka dengan aroma dan rasa dari Wine yang ia minum.


" Ini benar-benar Wine dengan kualitas terbaik, aroma dan rasanya membuatku tenang dan ingin menikmatinya. Kenapa kamu hanya diam saja? Coba minum seteguk saja, pasti kamu akan suka." Tiffany meneguk kembali Winenya sampai habis.


" Tidak, saya tidak minum alkohol. Silahkan nikmati sendiri." Reza memakan sedikit steak di hadapannya.


" Minuman seenak dan semahal ini kamu tolak, itu hal terbodoh yang orang lakukan." Tiffany terlihat meremehkan.


" Terserah orang bilang apa, itu prinsip saya dan agama saya melarang meminum alkohol, jadi urus saja urusan anda, nikmati saja dan jangan hiraukan saya. Sebenarnya hal penting apa yang ingin anda katakan? Kalau tidak ada dan hanya untuk berbasa-basi hal gak penting kayak gini, saya akan pergi." Reza pun berdiri dari tempatnya dan hendak pergi namun Tiffany menahannya.


" Tunggu-tunggu, kita habiskan makanan kita dulu baru setelah itu aku bicarakan hal tersebut." Pinta Tiffany.


" Cepatlah saya tak ada waktu untuk basa-basi." Reza terlihat tidak suka dengan semua ini namun Tiffany tersenyum licik tanpa Reza ketahui.


" Aadduuhhhh... Mataku sakit, aduh sakit banget." Teriak Tiffany yang tiba-tiba namun Reza hanya cuek saja menatap sekilas lalu memalingkan pandang ke lain arah.


" Za, tolong aku dong. Mataku perih banget, gak bisa di buka, please tolong aku." Tiffany terlihat meringis dan mengipas matanya dengan tangannya.


Akhirnya dengan berat hati Reza menghampiri Tiffany lalu memeriksa matanya yang katanya perih dan Reza pun membantu meniup matanya yang mungkin bisa menghilangkan rasa perihnya.


" Udah, sekarang sudah enakan. Terimakasih banyak." Ucap Tiffany dan Reza kembali ke tempat duduknya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


30 menit pun berlalu namun tak ada pembicaraan panting yang Tiffany ucapkan, hanya omongan tang tak penting dan basa-basi saja. Karena muak, akhirnya Reza pergi begitu saja meninggalkan Tiffany yang terus memanggil namanya untuk kembali namun Reza tak menghiraukannya. Reza terus melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi ke belakang.


Sialan, aku di kerjain. Dasar cewek tak tahu malu, katanya ada hal penting soal pekerjaan namun hanya omong kosong yang dia bicarakan. Untuk kedepannya jika dia menghubungi aku tak akan mengubrisnya lagi. Gumam Reza dengan sangat kesal.


________


Cilla menghubungi Reza sehari setelah dia sampai di Indonesia, bukan karena lupa tapi setelah sampai rumah. Cilla langsung melompat ke tempat tidur, tanpa sadar matanya langsung terlelap karena perjalanan yang cukup melelahkan.


Cilla menelpon Reza beberapa kali namun tak mendapatkan jawaban, begitu pula dengan pesan chatnya yang tak di balas oleh suaminya. Cilla sedikit kesal namun ia berfikir positif jika suaminya sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Apa dia sesibuk itu sampai tak bisa mengangkat telponku walaupun hanya sebentar?


Cilla menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya, menutup matanya sejenak untuk menghilangkan pikiran negatif tentang suaminya.


Terdengar suara mobil m masuki garasi rumahnya, Cilla sudah bisa mengira bahwa itu adalah ayahnya. Cilla segera keluar dari kamarnya, berlari kecil ke depan pintu utama yang telah di buka oleh salah satu asisten rumah tangganya, ternyata perkiraan Cilla memang benar, itu adalah ayahnya.


Ayahnya baru saja pulang dinas dari luar kota sehingga waktu Cilla pulang, mereka belum bertemu hingga Cilla belum memberitahu ayahnya soal kerja sama bisnis.


" Cilla, kamu udah pulang?"

__ADS_1


Cilla berada di depan pintu menyambut kedatangan ayahnya, lalu mencium punggung tangan ayahnya.


" Iya, aku baru kemarin sampai di rumah, pasti ayah capek."


Cilla mengambil tas dan jas ayahnya yang biasanya asistennya yang mengambilnya.


" Tumben nih, kalau anak ayah sudah bersikap manis seperti ini pasti ada sesuatu."


Hardi sudah bisa menebak hanya dengan melihat sikap Cilla, sedangkan Cilla hanya tersenyum penuh arti kepada ayahnya.


" Ayah istirahat saja dulu, nanti aku ingin bicara sama ayah, hal yang sangat penting." Cilla memberikan tas dan jas Hardi pada asisten rumah tangganya.


" Reza dimana?" Hardi tak melihat Reza dari pertama masuk rumah.


" Oh... Reza tak ikut pulang, ia masih ada urusan di sana hingga kepulangannya di tunda. Makanya itu salah satu yang ingin aku bicarakan dengan ayah. Sekarang ayah masuk kamar saja dan istirahat, bunda juga ada di dalam kamar." Cilla mendorong punggung ayahnya hingga ke dekat pintu kamarnya.


" Ok, ayah masuk, kamu mau kemana sudah rapi gitu?" Tanya Hardi ketika melihat Cilla sudah memakai pakaian kerja.


" Aku mau ke kantor sebentar, ada yang ingin aku kerjakan yang kemarin tertunda, aku berangkat yah."


Cilla pamit dan pergi mengendarai mobilnya menuju ke kantornya yang tak terlalu jauh dari rumahnya.


__________


Rumah kediaman keluarga Reza


Elya sudah berdiri di depan pintu lalu dia menekan bell pintu tersebut beberapa kali. Cukup lama ia menunggu hingga kakinya yang menggunakan high heels terasa pegal, ia pun hendak pergi karena terlalu lama menunggu namun akhirnya terdengar pintu di buka dan ia pun kembali membalikkan badannya.


" Maaf, apa ini kediamannya Reza dan istrinya Cilla?" Tanya Cilla ketika pintu di buka dan seseorang keluar dari sana.


" Elya? Anda, Elya kan?"


" Siapa ya?" Elya terlihat bingung dengan orang yang di depannya yang ternyata mengenalnya.


Adrian mempersilahkan Elya untuk duduk terlebih dahulu lalu ia permisi ke dapur untuk membuatkannya coklat panas. Elya melihat sekeliling yang ternyata banyak guci, patung, piring serta benda lain yang terbuat dari keramik, sama seperti saat Cilla masuk ke rumah tersebut. Elya pun sangat kagum dengan semua barang atau bisa di sebut karya seni dari bahan keramik.


Adrian datang membawa 2 gelas coklat manas, satu untuk Elya dan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri.


" Silahkan." Adrian duduk di hadapan Elya.


" Terimakasih." Elya menerima gelas yang Adrian sodorkan.


" Eh... Aku lihat kamu memperhatikan sekeliling! Reaksimu sama persis dengan Cilla saat pertama masuk rumah ini." Adrian menyeruput coklat panasnya.


" Benarkah? Semuanya unik dan sepertinya dari seniman ternama." Elya hanya memegang gelasnya dengan kedua tangannya agar terasa hangat.


" Iya, papaku senang sekali mengoleksi barang-barang keramik seperti ini. Sebagian dari seniman terkenal dan sebagian lagi hanya karena suka dari pasar biasa pun pasti di beli." Adrian meletakkan gelasnya di atas meja.


" Oh...." Elya mengangguk dengan apa yang Adrian katakan.


" Pertanyaan saya saat awal belum anda jawab? Sebenarnya kamu siapa? Maaf jika saya kurang sopan." Elya masih penasaran siapa orang yang ada di hadapannya.


" Oh iya aku sampai lupa hehehe... Kamu pasti tidak ingat yah, padahal 2 tahun yang lalu kita pernah bertemu. Perkenalkan, aku Adrian, mantan pacarnya Cilla dan juga kakaknya Reza suami Cilla otomatis jadi kakak iparnya Cilla."


Jelas Adrian yang membuat Elya bingung dengan apa yang Adrian katakan. Sebenarnya Elya bingung karena ia merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar, hubungan ketiganya yang sulit untuk di percaya.


" Hehehe pasti kamu bingung, kan? Biar aku jelaskan. Awalnya, Cilla dan aku menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, lalu kami pun bahkan berencana menikah setelah Cilla lulus kuliah. Namun seminggu sebelum hari pernikahan, aku harus ke Australia karena papaku sakit dan butuh orang untuk menjalankan perusahaan. Hingga aku terpaksa berangkat meninggalkan Cilla, sampai suatu kejadian terjadi yaitu kecelakaan yang membuat aku lumpuh. Karena frustasi, aku akhirnya menyuruh Reza, adikku untuk menggantikanku menjadi mempelai pria di pesta pernikahan nanti, bahkan saat itu Cilla tidak tahu apapun. Aku merelakan Cilla demi kebahagiaannya, namun aku sendiri tak bisa merelakannya. Sampai 6 bulan berlalu dan aku bisa berjalan dengan normal, aku ke Indonesia untuk menjelaskan semuanya hingga waktu itu aku datang ke kampusnya dan kita bertemu waktu itu. Aku memberimu kartu nama kan! Agar kamu menghubungi aku, saat itu aku berhasil menjelaskan semuanya pada Cilla namun aku terlambat. Cilla hanya bereaksi seadanya, hanya simpati dan empati yang ia tunjukan bukan rasa sayangnya. Di sana aku yakin jika Cilla sudah tak memiliki hati lagi untuk aku. Akhirnya aku menyerah untuk memiliki Cilla dan seiring berjalannya waktu, perasaanku juga berubah sudah menganggap Cilla adikku sendiri."


Jelas Adrian dengan panjang lebar, Elya hanya mendengarkannya dengan seksama hingga dia pun mengerti apa yang terjadi waktu itu.


Namun tetap saja Elya tak bisa percaya bahwa kejadian seperti itu bisa terjadi di dunia nyata bukan sekedar seperti di novel-novel yang dia baca. Namun Elya sangat salut dengan mereka bertiga yang bisa melupakan masa lalu dan menjalani masa depan seperti orang biasa.

__ADS_1


" Ngomong-ngomong, Cillanya ada? Saya kesini untuk bertemu dengan Cilla." Elya baru menyadari tujuan utamanya datang ke sana untuk bertemu dengan Cilla.


" Oh iya maaf, Cilla 2 hari yang lalu pulang dulu ke Indonesia, dia bilang ada urusan yang harus dia selesaikan terlebih dahulu. Mungkin setelah urusannya kelar, dia akan secepatnya kembali ke sini."


" Oh kalau begitu, saya permisi dulu, tadinya kan saya ingin bertemu dengan Cilla tapi malah berbincang dengan anda. Saya minta maaf jika telah menyita waktu anda." Elya membawa kembali tas kecilnya di bahunya lalu berdiri hendak pulang.


" Eh sebentar? Apa kamu masih lama di negara ini?" Adrian berharap dia bisa bertemu lagi dengan Elya.


" Sesuai jadwal tugas saya, sekitar 2 atau 3 bulan tergantung penyelesaiannya." Balas Elya dengan sopan.


" Baiklah. Boleh aku minta kartu nama kamu?" Adrian memberanikan diri untuk meminta nomor ponsel Elya agar dia bisa menghubunginya.


Elya pun memberikan kartu namanya lalu permisi untuk pulang, Adrian terlihat senang telah bertemu dengan Elya secara kebetulan seperti ini, Adrian berharap jika itu adalah jalan takdirnya untuk mendapatkan Elya.


_________


Reza memeriksa ponselnya yang selama ini ia letakkan di dalam mobilnya dalam keadaan mati, ia sengaja agar tak mendengar chat ataupun telpon dari Tiffany yang terus saja menghubunginya.


Benar saja ketika di buka, banyak sekali chat yang masuk dan beberapa miss call dari orang yang berbeda namun Tiffany sampai 10 kali miss call. Namun wajah Reza berubah berseri ketika ada sebuah chat dan miss call dari istrinya, Reza membaca isi chat nya lalu segera menelepon istrinya.


Cilla : Halo!!!


Reza : Maaf, aku tak menghubungimu karena 2 hari ini ponsel aku matikan.


Cilla : Iya gak apa-apa, tapi kenapa sampai di matikan?


Reza : Aku hanya tak ingin di ganggu oleh orang yang terus menghubungiku, orang yang tak aku sukai.


Cilla : Memangnya sampai separah itu rasa benci kamu padanya?


Reza : Ya... Begitulah. Aku kangen kamu, ingin sekali memeluk dan mencium kamu.


Cilla : Aku juga kangen.


Reza : Bisa cepat ke sini, kayaknya aku tak tahan jika terlalu lama jauh darimu.


Cilla : Gombal banget ih, iya semoga secepatnya aku bisa membujuk ayah.


Reza : Maaf yah sudah merepotkan, jika bukan karena mendesak, aku tak mau merepotkan orangtuamu. Aku tak mau kehilangan kamu.


Cilla : Kita berusaha semoga bisa menyelesaikan masalah ini, aku akan bicara malam ini pada ayah.


Reza : Terimakasih Cilla, agar aku tak harus bertunangan dengan gadis lain.


Cilla : Itu tak akan terjadi, aku tak rela jika kamu dia ambil.


Reza : Beneran? Segitunya kamu padaku, aku jadi tambah yakin kamu beneran cinta aku.


Cilla : Yah jelas, aku sudah memberimu segalanya, aku tak akan memberikan semuanya jika aku tak suka.


Reza : Iya, aku mengerti. Yasudah, aku masih banyak pekerjaan, kamu juga pasti sama kan! I love you Cilla.


Cilla : Aku juga mencintaimu.


Cilla sangat bahagia setelah mendapat telpon dari suaminya, ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya dan tersenyum menatap langit-langit ruang kerjanya.


Ternyata jatuh Cinta dengan suami sendiri itu lebih menyenangkan dan bisa mencurahkan sepenuhnya tanpa harus menahan diri.


Bersambung.....


Masih lanjut?

__ADS_1


Selalu tinggalkan jejak untuk mendukung Author agar semangat up setiap 2 hari sekali.


__ADS_2