
Ponsel Reza berdering, lalu Reza segera mengangkat panggilannya yang ternyata dari Adrian, kakaknya.
Adrian : " Apa kabar bro? Yang pengantin baru, jadi gak pernah nelpon Abangnya sendiri."
Reza : " Alhamdulillah sehat, aku udah nikah 5 bulan bang, bukan pengantin baru lagi. Bagaimana keadaan Abang disana?
Adrian : " Aku sudah baikan dan sudah normal lagi berjalan walaupun masih butuh terapi beberapa kali lagi. Bagaimana hubungan kalian? Baik-baik saja kan?"
Reza : " ..... Awalnya sih berat, kami sering debat namun sekarang sudah mulai ada kemajuan, dia sedikit lunak padaku."
Adrian : " Syukurlah, semoga kalian tetap harmonis dan langgeng."
Reza : " Abang..... baik-baik saja, kan?"
Adrian : " Maksud kamu apa? hahaha"
Reza : " Gak.... gak apa-apa. Yasudah bang, aku mau berangkat ke kampus, salam untuk mama dan papa." Telpon pun di tutup.
Terlihat Adrian merasa sedih, kedua air matanya berkaca-kaca, rasanya seperti benda tajam menusuk jantungnya. ' Bagaimana aku baik-baik saja, sementara orang yang aku cintai menikah dengan adik sendiri. Memang itu semua permintaanku tapi kenapa hatiku sesakit ini.' gumam Adrian dan akhirnya air matanya berlinang begitu saja.
Sementara Reza pun menyadari, dari suara Adrian yang dia dengar, dari tawanya yang terdengar di paksakan, Reza tahu bahwa kakaknya itu memiliki luka hati terhadap hubungan dirinya dan Cilla.
" Kenapa Za?" tanya Cilla ketika melihat Reza berdiri melamun di depan jendela kamarnya.
" Oh... gak ada apa-apa, kamu habis dari mana?" tanya Reza mengalihkan pembicaraan.
" Aku baru saja dari taman belakang, aku mendapat undangan 7 bulanan Amel sore ini. Kamu bisa datang denganku kan? Soalnya teman-teman menyuruh aku mengajakmu juga."
" Boleh, iya kita pergi bersama. Lagi pula teman-teman kamu sudah tahu kalau kita sudah menikah."
" Iya, Amel hanya mengundang kerabat, keluarga dan teman dekat saja. Pastikan kamu pakai baju resmi yah."
" Siap, tuan putri." balas Reza dengan senyuman.
Sore harinya Reza dan Cilla menggunakan pakaian muslim dengan warna senada, mereka terlihat sangat serasi satu sama lain. Mereka pamit kepada Sarah sedangkan Hardi masih belum pulang dari kantor. Mereka pun berangkat menggunakan mobilnya Cilla dan Reza yang menyetirnya, tak butuh waktu lama karena rumah Amel tak begitu jauh dari rumahnya.
Mereka pun masuk ke rumah Amel, disana sudah banyak yang datang termasuk Dona dan Citra. Mereka menghampiri Cilla dan Reza yang terlihat akur di banding sebelumnya.
" Hai... Akhirnya pengantin baru kita datang juga." ujar Dona.
" Iya nih, kalian serasi banget." ujar Citra.
" Syukur deh, kalau di bilang serasi, padahal tahu sendiri kan kalian bagaimana sikap Cilla kepadaku." ujar Reza pelan dengan sedikit bercanda.
Cilla memukul Reza, " Dasar, jangan ngomong kayak gitu depan orang-orang." ujar Cilla sebel.
" Tapi benar kan kamu suka curhat sama kita-kita." ujar Dona.
" Iya iya, tapi aku coba memperbaiki diri sekarang." balas Cilla.
" Udah udah gak usah bahas lebih lanjut, sekarang kita samperin tuan rumah dulu." ujar Reza mengajak Cilla.
Cilla dan Reza menghampiri Amel dan suaminya, Amel senang sekali dengan kedatangan Cilla karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Cilla menyapa Amel lalu memeluknya, Amel pun membalasnya dengan senang hati.
" Wah Cilla, akhirnya kamu datang, aku kangen banget sama kamu."
" Iya aku juga kangen kamu, duh ibu hamil bagaimana rasanya nih?"
" Rasanya menakjubkan, mengingat ada bayi yang bergerak dan hidup dalam perutku, tak bisa di bayangkan sangat luar biasa. Kapan kamu nyusul, kalian sudah menikah sekitar 5 bulan kan!" ujar Amel yang terlihat bahagia.
" Iya, minta doanya saja biar cepat nyusul." balas Cilla sekenanya, Reza hanya tersenyum melirik ke arah Cilla.
" Pak Ramon, selamat yah pak, sebentar lagi akan menjadi ayah." ujar Reza.
" Iya makasih Za, semoga kamu juga secepatnya bisa menjadi ayah, boleh saya berikan saran! Kalau ingin cepat hamil, lebih bagus dilakukan di pagi hari, biasanya persentase keberhasilannya lebih besar. hehehe." Ujar pak Ramon lalu sedikit berbisik di telinga Reza.
" Terimakasih pak sarannya, saya akan coba." balas Reza juga sedikit berbisik.
__ADS_1
" Ada apa mas, kok berbisik-bisik gitu?" tanya Amel pada suaminya.
" Gak, hanya pembicaraan antar lelaki." balas Pak Ramon.
" Apaan sih Za?" tanya Cilla penasaran.
" Ada aja, mau tahu aja." balas Reza dengan senyuman yang malah tambah membuat Cilla penasaran.
Acara pun di mulai dengan pengajian, ceramah dan doa bersama sampai 1 jam pun berlalu. Di akhiri dengan makan-makan, semuanya terlihat bahagia dan berdoa yang terbaik untuk ibu beserta bayi yang di kandungnya. Setelah 2 jam berada di acara akhirnya acara pun selesai, semua yang datang pun pulang satu persatu termasuk Reza dan Cilla, mereka pamit kepada Amel dan suaminya.
Setelah sampai di rumah, mereka cukup lelah, Cilla membersihkan riasannya sementara Reza mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman.
" Sebenarnya aku masih penasaran dengan yang pak Ramon bisikan padamu!" ujar Cilla.
" Kan aku sudah bilang kalau itu masalah lelaki, perempuan tak boleh tahu."
" Tapi aku kepo banget jadinya."
" Nanti saja kalau kamu sudah menerima aku dengan tulus. Yasudahlah aku mau tidur, capek banget." ujar Reza.
" Aku juga sama, badan pegal semua." Cilla membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menarik selimutnya sampai ke pinggang.
Ketika keduanya baru saja memejamkan mata tiba-tiba pintu kamarnya di buka, mereka pun terkejut dan langsung terbangun. Mereka baru mengingat jika pintu kamarnya belum sempat di kunci seperti biasanya. Beberapa saat mereka berdua duduk di sofa bersebelahan sementara di depannya ada orangtua Cilla yang terlihat sedikit kesal.
" Jadi selama ini kalian tidur terpisah?" geram Hardi, keduanya hanya mengangguk.
" Siapa yang memiliki ide seperti itu? Suami istri tidur terpisah." Tanya Hardi tegas.
" Saya hanya tak ingin memaksa Cilla untuk tidur di ranjang yang sama? Padahal dia tak menginginkannya." balas Reza gugup.
" Oh.... Jadi kamu, yang menyuruh Reza tidur di sofa! Ingat kalian sudah menikah 5 bulan dan selama itu Reza tidur di sofa. Ada apa sih? Harusnya kamu memperlakukan suamimu dengan baik, jangan seperti ini. Apa karena kamu masih mengharapkan Adrian? Lupakan dia, sekarang suami kamu itu Reza jadi kamu harus memperlakukan Reza selayaknya suami kamu. Bukan malah tidur terpisah seperti ini." ujar Hardi dengan nada tingginya.
" Tapi Ayah.... Aku... "
" Mulai detik ini jika Ayah masih melihat kalian tidur terpisah, Ayah akan menarik semua fasilitas Ayah yang kamu pakai." ujar Hardi lalu keluar dari kamar Cilla.
" Sudahlah, kalian lakukan apa yang Ayah perintahkan, Cilla juga jangan membuat suamimu bingung, benar kata Ayah kalian harus tidur satu ranjang bagaimana pun keadaannya kalian sudah suami istri. Cilla harus memperlakukan Reza layaknya suamimu dan Reza harus tegas dalam membimbing istrimu. Yasudah, kalian pikirkan baik-baik, Bunda permisi." Sarah pun meninggalkan kamar mereka.
" Iya, aku juga tak tahu akan seperti ini." balas Reza.
" Kamu!... Kamu jangan berharap ya bisa tidur bareng sama aku." ujar Cilla tegas.
" Iya, aku sih dari dulu juga tak masalah tidur di sofa tapi kalau orangtuamu melihat kita tidur terpisah lagi, emangnya kamu mau fasilitas yang Ayah berikan di tarik?"
" ........ Ya, tapi kan......." Cilla tak mau fasilitas yang selama ini ia dapatkan akan di ambil oleh Ayahnya tapi dia juga belum siap untuk tidur satu ranjang dengan Reza karena takut sesuatu akan terjadi padanya.
" Yasudah kalau kamu belum siap." Reza kembali membaringkan dirinya di Sofa.
Beberapa detik kemudian, " Eemm.... Za.... Re, Reza...."
" Iya, ada apa?" Reza beranjak duduk.
" Eeemmn.... Yasudah, mulai hari ini kita tidur satu ranjang..... Tapi ingat ya, kamu jangan macam-macam, jangan sampai kamu menyentuhku." Cilla merasa takut sendiri.
" Iya.. Iya.. Aku janji, aku tak akan menyentuhmu. Walaupun dulu kan kita sudah pernah saling menyentuh dan bahkan berciuman beberapa kali.hehehehe" ujar Reza tersenyum nakal.
" I, Itu kan tak sengaja. I, Ingat... Jangan menyentuh atau berniat macam-macam." ujar Cilla dan Reza pun hanya tersenyum.
' Duh istriku imut sekali, membuat aku gemas ingin langsung memakannya.' batin Reza.
Cilla menyuruh Reza untuk tidur satu ranjang dan Reza pun menghampirinya dengan senang hati, Reza terus tersenyum ke arah Cilla yang membuat Cilla Risih. Cilla menaruh guling di tengah sebagai penghalang, padahal jika ingin berniat macam-macam guling itu tak bisa menghalanginya sama sekali. Namun Reza sudah cukup senang bisa seranjang dengan istrinya pertama kali selain waktu dia sakit pinggang dulu lain ceritanya. Sekarang dia baik-baik saja bisa melakukan apa yang dia mau tapi dia tak ada pikiran untuk memaksakannya pada Cilla. Biarlah ini menjadi awal kedekatan mereka, semoga kedepannya mereka bisa lebih baik lagi layaknya pasangan suami-istri yang sesungguhnya.
___________
Pagi harinya semuanya sudah berkumpul di meja makan kecuali Arka dan Arsa, mereka pergi untuk caping bersama teman-temannya dalam rangka mempererat hubungan antar anggota dari club basketnya.
Hidangan sudah tersedia, menu sarapan pagu yang biasanya mereka makan, semuanya memulai sarapan tanpa membicarakan apapun. Cilla terlihat ragu seperti ingin mengatakan sesuatu namun ia tahan tapi dia harus mengatakannya hari ini juga.
__ADS_1
" Ayah, semalam aku sudah tidur bareng Reza jadi ayah jangan tarik fasilitas ayah untukku." ucap Cilla dengan polosnya.
Reza dengan spontan langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Cilla, Sarah juga terkejut sampai tersenyum-senyum mendengarnya sedangkan Hardi mencoba tegas dengan mencoba menahan tawanya.
Cilla berkata demikian memang dengan maksud kalau dirinya itu sudah tidur satu ranjang namun bisa di bilang perkataan Cilla juga ambigu dimana orang bisa berpikir lain ke arah hubungan suami istri.
" Kenapa? Oh... Itu... Aku bilang tidur bareng karena tidur satu ranjang, kalian jangan salah mengartikannya begitu." Jelas Cilla setelah menyadari ucapannya, dia malah malu sendiri.
" Iya, bagus kalau begitu, Itu sudah suatu kemajuan. Perlakukanlah suamimu dengan baik, Ayah tak akan menarik fasilitas darimu. Dan kamu Reza, harus membimbing istrimu jika dia berbuat salah kamu berhak menasehatinya atau memberi arahan agar tak berbuat kesalahan lagi."
" Iya Ayah."
Selesai sarapan Reza dan Cilla berangkat ke kampus dengan kendaraan masing-masing, jika masalah mereka berangkat terpisah karena mereka tak ingin orang-orang tahu tentang hubungan mereka.
Ketika Reza turun dari motornya seorang mahasiswi bernama Clara menghampirinya, dengan sok akrab dia menyapa Reza.
" Hai Za, kita ke kelas bareng yuk." Ajak Clara.
" Kamu duluan saja, aku ke kelas sendiri." tolak Reza.
" Ah kamu ini, lebih baik bareng kan daripada sendiri-sendiri, lagian gak akan ada yang marah kalau kita jalan berdua." Clara langsung menarik lengan Reza untuk jalan bersama menuju kelasnya. Cilla yang melihatnya dari kejauhan merasa kesal dengan Reza yang pergi dengan perempuan lain.
' Siapa sih perempuan itu? Seenaknya saja merangkul suami orang, kalau gak di kampus udah aku jambak-jambak tuh orang.' kesal Cilla dalam hatinya.
" Hei Cil, kenapa kamu diam aja? Aku panggil-panggil juga." ujar Elya setelah menghampirinya.
" Eh Sory, gue tadi gak fokus." ucap Cilla tersadar.
" Emangnya kamu lihatin apa sih?" Elya mengikuti arah pandang Cilla yang terlihat tidak ada siapa-siapa.
" Ah... Gak .... Ayo kita masuk, sebentar lagi kelas di mulai." Ajak Cilla dengan merangkul lengan Elya.
" Oh iya, aku mau tanya. Kamu kenal gak sama cewek yang centil, rambutnya merah dengan pakaian branded modis? Tapi aku akui sih dia cantik." ucap Cilla penasaran.
" Oh yang suka dekat-dekat sama si Reza yang jurusan teknik itu, kan! Dia namanya Clara, dia anak konglomerat dan kayaknya dia suka sama Reza deh, habisnya dia ngejar-ngejar Reza terus." jelas Elya.
' Dasar cewek ular.' gumam Cilla.
" Kamu kok kelihatan kesal banget? Kamu suka ya... sama Reza."
" Gak... Aku gak marah, ngapain juga aku suka Reza? Kenal juga gak." sanggah Cilla.
" Yasudah, ayo cepetan nanti telat bisa di omelin pak Bambang, udah tahu kan killernya kayak gimana." Elya merangkulkan lengannya pada pundak Cilla dan mereka pun mempercepat langkahnya.
Cilla tidak fokus memperhatikan pelajaran, dia terus saja kepikiran dengan wanita yang terus mengejar Reza. Dan kenapa Reza hanya diam saja? tak penolak ajakan atau apapun yang perempuan itu lakukan kepadanya.
Jam mata kuliah pun selesai, Elya dan Cilla pergi ke kantin kampus, dia duduk di bagian tengah diamana mereka biasa duduk namun apa yang Cilla lihat sekarang, Reza telah duduk dengan Clara walaupun mereka duduk dengan 3 orang teman lainnya. Terlihat Cilla sangat kesal ketika perempuan itu memaksa Reza memakan makanan yang ia suapkan padanya, Reza terlihat enggan namun lama kelamaan menerima suapan itu dengan sorakan ketiga temannya.
" Ayo pergi." ajak Cilla pada Elya.
" Tapi kita baru saja mesan makanan." ucap Elya bingung dengan sikap Cilla dan pergi begitu saja. Elya pun akhirnya mengejar Cilla dengan sebelumnya sudah membatalkan pesanannya terlebih dahulu.
Elya melihat Cilla duduk di bangku taman, dia melihat Cilla mengusap airmata di pipinya.
" Cilla... kamu kenapa? Kok nangis." tanya Elya lalu merangkul sahabatnya tersebut.
" Gak ada apa-apa, aku hanya kepikiran sesuatu." balas Cilla yang tak ingin menceritakan hal sebenarnya kepada Elya.
" Yasudah, aku juga tak akan memaksa kamu untuk cerita tapi kamu jangan menangis lagi." Elya memeluk Cilla yang tak bisa menghentikan tangisannya.
Lalu seorang pria dengan memakai pakaian resmi berwarna krem yang terlihat tampan, mendekatinya.
" Cilla kenapa?" tanya pria itu, Elya hanya bingung menatap pria tersebut sedangkan Cilla masih menangis dalam pelukan Elya. Lalu Elya melepaskan pelukannya, Cilla pun menatap pria di hadapannya.
" Adrian?" Cilla sangat terkejut dengan orang yang di hadapannya ternyata adalah Adrian, orang sangat ingin dia lupakan.
Bersambung....
__ADS_1
Selalu dukung Author yah...
Terimakasih ☺️