
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, tak lama Reza dan Cilla pun datang.
" Selamat malam, maaf kami terlambat." ucap Reza.
" Selamat malam, ayah, bunda dan kedua adikku." ujar Cilla. Mereka berdua pun duduk bersebelahan.
Makan malam pun di mulai, Reza masih terlihat malu-malu berada di tengah keluarga Cilla. Selama ini Reza sama sekali belum pernah akrab dengan mereka, awalnya memang Reza tak ada hubungan apa-apa dengan Cilla. Pertama kali Reza bertemu dengan keluarga Cilla saat acara lamaran Adrian kepada Cilla. Itu pun Reza hanya ikut duduk tanpa mengikuti perbicangan saat itu.
" Oh iya, ayah memutuskan kalian tetap tinggal di rumah ini, lagi pula rumah ini cukup besar untuk di tinggali jadi kalian tak perlu mencari rumah atau pindah dari sini."
" Tapi Om, apa tak membiarkan kami mandiri saja!" ujar Reza.
" Kamu itu masih belum bekerja, apa kamu mampu membeli rumah sekarang? Mungkin untuk nafkah juga kamu belum bisa. Ayah hanya ingin kalian bahagia, apa ayah salah?"
" Memang sekarang saya belum bisa menafkahi Cilla, tapi saya akan bertanggung jawab dan akan berusaha untuk selalu membahagiakan Cilla."
" Ayah tahu, tapi untuk sekarang kalian tinggal saja disini, Kamu jangan terlalu merasa terbebani. Setelah kamu sanggup menafkahi Cilla, kamu bisa membawanya bersamamu hidup mandiri nanti."
" Udahlah Reza, kita tinggal disini dulu yah." rengek Cilla, Reza pun hanya mengangguk tanda setuju karena perkataan ayah mertuanya juga benar.
" Reza, ayah akan tempatkan kamu di perusahaan ayah sebagai manager, bagaimana?"
" Saya tersanjung ayah memberikan pekerjaan untuk saya, tapi saya ingin mencoba melamar pekerjaan dengan kemampuan saya sendiri. Tidak apa-apa kan?"
" Ok kalau begitu, jika sulit kamu bisa bergabung dengan perusahaan kita."
" Iya, terimakasih."
_____________
Sarah hendak ke dapur ketika melihat Reza sedang bersandar di pintu kamarnya, Sarah segera menghampiri menantunya tersebut.
" Kamu sedang apa?" tanya Sarah mengejutkan Reza.
" Oh... itu... Cilla sedang ganti pakaian." balas Reza gugup.
" Terus kenapa kamu di luar? Kamu masuk saja. Kalian kan sudah suami istri, sana masuk." Sarah menyuruh Reza masuk namun Reza hanya diam saja.
" Kenapa masih belum masuk?"
" Iya, Bunda. Saya masuk." Reza pun masuk kedalam kamar saat Cilla baru saja memakai piyamanya namun belum sempat di kancing.
" Eh... kamu kenapa masuk? Aku belum selesai tahu." Cilla segera berbalik badan membelakangi Reza dan langsung mengancingkan Piyaman.
" Maaf, maaf... Tadi di depan ada bunda dan menyuruhku untuk masuk jadi aku terpaksa masuk deh. Kalau setiap kita ganti baju salah satu harus keluar kamar nanti ayah dan bunda akan curiga."
" Iya juga yah....... emmm... Ok kalau begitu kita ganti baju di kamar mandi saja."
" Aku mau tidur cepat, kamu jangan ganggu yah."
Cilla mematikan lampu di kamarnya walaupun Reza masih terjaga. Reza duduk di sofa membuka laptopnya, Reza fokus searching lowongan pekerjaan. Ia ingin cepat dapat pekerjaan agar dia bisa membiayai hidupnya dan Cilla, ia tak ingin membebani keluarga Cilla dan juga ia tak ingin di cap sebagai suami yang tak bertanggung jawab.
Sebenarnya orangtua Reza cukup berada, orangtuanya di tugaskan di Australia. Papahnya adalah seorang direktur di sebuah perusahaan besar namun ia memutuskan untuk resign karena sistemnya tidak sesuai dengan keinginannya. Sehingga memutuskan untuk membuat perusahaan kecil di bidang properti dan hasilnya memuaskan sampai sebulan yang lalu perusahaan mendapatkan masalah yang membuat Adrian harus membantu orangtuanya di saat-saat dia harus menikah dengan Cilla. Reza sebenarnya sudah memiliki 1 unit apartemen namun ia menjualnya untuk membantu orangtuanya, walaupun sekarang perusahaan orangtuanya sudah mulai stabil karena bantuan investasi dari Hardi, Reza tak ingin membebani orangtuanya untuk memberikannya rumah. Jadi Reza sekarang ingin meniti karirnya terlebih dahulu tanpa bantuan siapapun untuk membuktikan dia mampu bangkit sendiri tanpa membebani orangtuanya ataupun orangtua Cilla.
___________
*Flashback
Hari pertama Adrian datang ke Australia, ia buru-buru untuk menemui orangtuanya, selain perusahaan orangtuanya yang sedang bermasalah dan sekarang ayahnya mengalami serangan jantung hingga hatinya sangat gelisah. Adrian naik ke dalam taxi dan meminta untuk melaju dengan cepat namun tiba-tiba di depan mendadak ada mobil yang oleng sehingga membuat kecelakaan beruntun termasuk mobil taxi yang di tumpangi oleh Adrian sampai mobil taxi tersebut hancur bagian depan dan belakang yang tertabrak mobil lain. Semuanya terlihat kacau, lebih dari 10 mobil yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Supir taxi yang Adrian tumpangi terlihat tak sadarkan diri dengan kepala yang berlumuran darah sementara Adrian di kursi belakang terlihat kesakitan, dia berteriak kesakitan karena bagian pinggang dan kakinya terjepit kursi depan taxi tersebut. Situasi yang begitu kacau membuat pertolongan sedikit terlambat, karena rasa sakit yang tak bisa di tahan lagi membuat Adrian tak sadarkan diri.
Adrian membuka matanya, samar melihat langit-langit lalu ia menolehkan kepalanya dan melihat sekitaran bahwa dia berada di ruangan ICU sebuah rumah sakit. Seorang perawat yang melihat Adrian tersadar segera memanggil dokter dan dokter pun memeriksa Adrian dengan seksama.
" Pak.. Apa bapak bisa mendengar dan melihat saya?" tanya dokter dan Adrian hanya bisa menjawab dengan anggukan, tubuhnya masih terasa lemah sehingga untuk berbicara saja dia tak mampu.
__ADS_1
" Baiklah, semuanya sudah sangat stabil sehingga sudah bisa di bawa ke ruangan inap saja. Perawat tolong antarkan pak Adrian ke ruang inap." ujar Dokter.
" Baik Dokter."
2 orang perawat memindahkan Adrian ke ruang inap di ikuti oleh Reza dan mamanya yang terlihat sedih. Setelah sampai, mamanya langsung mendekati Adrian dengan wajah yang penuh air mata.
" Kenapa mama menangis?" tanya Adrian lemah lalu dengan pelan mengangkat tangannya mengusap air mata di wajah mamanya.
" Bagaimana keadaanmu sekarang nak?" tanya Mamanya sambil memegang tangan Adrian di pipinya.
Adrian mencoba menggerakkan tubuhnya namun ia tidak bisa menggerakkan kakinya dan bagian pinggang sampai kaki terasa sangat sakit bila ia mencoba untuk bergerak.
" Aawww....." teriak Adrian.
" Kamu gak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanya Mamanya panik.
" Pinggangku sakit sekali dan kakiku susah di gerakkan, ada apa dengan aku ma?" ujar Adrian yang menahan rasa sakit.
" Bang, tenang bang... Abang baru saja menjalani operasi jadi Abang harus tenang, kata dokter untuk sementara Abang akan merasa sakit atau semacamnya namun itu hanya sementara saja. Dengan melakukan terapi dan pengobatan, Abang pasti sembuh dan bisa berjalan lagi. Jadi Abang sabar yah."
" Tapi Za, kalau aku gak bisa jalan lagi bagaimana, seminggu lagi aku akan menikah, kalau keadaanku seperti ini apa mungkin untuk menikah." ujar Adrian yang meraung sakit dan menangis.
" Biar mama beritahu keluarga Cilla untuk menunda terlebih dahulu pernikahan kalian."
" Jangan ma, semuanya telah di persiapkan dan aku juga belum pasti kapan bisa sembuh lagi. Jika Cilla melihatku dalam keadaan seperti ini akankah Cilla menerimaku. Aku gak mau jika aku harus kecewa saat Cilla menolakku nanti tau Cilla malah mengasihaniku, aku tak sanggup."
" Kamu jangan pesimis begini, mama yakin Cilla akan menerimamu apa adanya jadi kamu jangan terlalu khawatir."
" Beri waktu aku 3 hari untuk memutuskannya, aku butuh berpikir apa keputusanku nanti."
" Baiklah, sekarang kamu istirahat dulu, jangan banyak pikiran biar cepat pulih."
Adrian pun terdiam menatap langit-langit, di kedua sudut matanya mengalir air mata.
3 hari berlalu
Loe udah memutuskan untuk mengabulkan permintaan Abang, kan Za?"
" Abang gila yah! Kenapa Abang gak jujur aja sama Cilla? Kenapa aku yang harus menggantikan Abang untuk menikahinya?" ujar Reza dengan meninggikan suaranya.
" Loe tahu kan keadaan Abang bagaimana sekarang? Abang gak mau Cilla kecewa nantinya. Abang hanya ingin Cilla bahagia, Abang juga tak ingin mempermalukan keluarga Cilla untuk tak jadi menikah sementara undangan telah tersebar."
" Pernikahan Loe tinggal 5 hari lagi bang, waktu segitu masih cukup untuk loe berpikir logis. Jangan gila kayak gini. Aku bisa menggantikan loe jadi suaminya namun aku belum tentu bisa menggantikan loe dalam hatinya." Reza masih tak percaya dengan keputusan Abangnya.
" Abang sudah memutuskan yang terbaik untuk Cilla, jadi Loe harus menjadi suaminya. Loe harus menjaga dan melindungi Cilla, Abang tahu kalau loe masih sayang sama Cilla. Makanya Abang memutuskan memilih loe buat menggantikan Abang. Loe tahu sendiri kondisi abang, memang abang sudah mulai bisa berjalan walaupun terkadang masih sakit sekali, yang paling fatal dalam kecelakaan ini.... abang sudah tak bisa menjadi lelaki seutuhnya padahal dalam suatu pernikahan pasti perlu memiliki keturunan, namun abang tak bisa memberikan itu."
Setelah berpikir sejenak Akhirnya Reza menyetujui usul Adrian, " ........Ok, gue terima... Namun ini bukan karena gue masih sayang sama Cilla, tapi... gue lakuin ini karena permintaan loe, Bang. Gue janji... akan lakukan apa yang loe suruh."
" Thanks, Za. Kalau bukan loe, siapa lagi yang bisa bahagiain Cilla." Adrian menepuk pundak Reza yang masih tak percaya dengan keputusannya.
" Cepatlah sembuh bang, gue pengen denger lagi candaan loe." senyum Reza menyemangati Adrian.
" Pasti, gue gak akan menyerah, gue pasti sembuh seperti semula." balas Adrian.
*Flashback End
_____________
Adrian berjalan menggunakan tongkat dan duduk di halaman belakang rumahnya, Suzan berjalan mendekati Adrian sambil membawa minuman dan obat di atas nampan. Suzan duduk di samping Adrian dengan sebelumnya telah meletakkan nampan yang di bawanya.
" Minumlah." Suzan menyodorkan obat dan segelas air pada Adrian.
" Terimakasih." Adrian mengambil obat dan meminumnya.
__ADS_1
" Aku lihat, kamu masih sering merasakan sakit ketika berjalan." tanya Suzan sering melihat Adrian meringis.
" Sedikit, masih terasa nyeri jika belum meminum obatnya."
" Minumlah yang teratur jangan hanya aku saja yang menyuruh, ketika aku tak ada pun kamu harus rutin meminumnya."
" Kenapa?.... Kenapa kamu masih saja disini merawatku? Kenapa kamu masih berharap pada orang cacat sepertiku?"
"..... Kenapa kamu berkata seperti itu?... Aku hanya ingin merawatmu saja, sebagai bukti maafku karena meninggalkanmu dulu."
" Kamu tahu kan kalau rasa cintaku padamu sudah tak ada semenjak kamu pergi begitu saja dengan pria sialan itu."
" Iya.... Aku salah.... Aku pergi sampai ke sini dengan pria itu, aku juga tak menyangka bisa bertemu kembali denganmu disini. Mungkin ini takdir kita untuk bertemu kembali."
*Flashback
Sebuah kecelakaan beruntun yang terjadi menewaskan beberapa orang dan membuat yang lainnya terluka baik berat ataupun ringan. Termasuk Adrian yang tengah mengalami luka yang sangat berat. Sebuah rumah sakit yang paling dekat menjadi tempat para korban di larikan. Adrian langsung di bawa ke IGD dan mendapatkan penanganan khusus, setelahnya langsung di bawa ke ruang operasi karena tulang ekor yang retak dan bergeser serta menghimpit saraf di bagian depannya.
Ternyata Suzan adalah salah satu dokter pendamping yang menangani operasi Adrian, dokter yang menangani Adrian ada 3 orang, 1 dokter spesialis dan 2 dokter pendamping. Suzan yang melihat pasien di depannya adalah Adrian sedikit terkejut hingga dia berusaha semaksimal mungkin membantu dokter utama agar Adrian bisa selamat. Memang ini bukan operasi yang besar seperti operasi jantung tapi resikonya bisa fatal jika salah sedikit saja bisa membuat pasien lumpuh untuk selamanya.
3 jam berlalu dan akhirnya operasi Adrian berjalan dengan lancar, Suzan merasa lega dengan hasil operasinya. Setelah itu langsung di bawa ke ruang inap dan menunggu Adrian untuk segera siuman. Suzan datang mengunjungi Adrian dan bertemu dengan mamanya Adrian juga Reza.
" Selamat siang tante, apa tante masih ingat saya?" sapa Suzan.
" .... eemmm.... Apa kamu Suzan mantan pacarnya Adrian?" ingat mamanya Adrian.
" Oh... Iya tante, syukurlah tante masih ingat. Saat pacaran dulu sesekali kita saling bertemu, tak terasa sudah 2 tahun berlalu. Bagaimana Adrian sudah siuman? Saya termasuk dokter yang menangani Adrian saat operasi semalam."
" Adrian masih belum sadarkan diri, tante khawatir dengan keadaannya."
" Baiklah, permisi saya periksa Adrian terlebih dahulu." Suzan mendekati Adrian, dia memeriksa detak jantung dan yang lainnya. Ketika itu Adrian mulai menggerakkan jarinya dan mulai membuka matanya perlahan. Reza dan mamanya segera menghampiri Adrian, mamanya menangis menggenggam tangan Adrian dengan erat.
" Syukurlah nak, kamu sudah bangun." ujar mamanya Adrian sambil menangis.
" Bang, loe lihat aku bang?" ujar Reza dan Adrian pun mengangguk.
Semenjak itu Suzan mengajukan diri untuk merawat Adrian, sebagai dokter Suzan bisa terus mengecek kondisi kesehatan Adrian sekaligus bisa berdekatan dengan Adrian.
*Flashback End
______________
Pagi hari tak ada yang spesial, Cilla keluar dari kamar mandi dengan menggunakan tank top dan celana pendek, Reza yang melihatnya langsung terus menatap lekat-lekat ke arah Cilla. Menyadari tatapan Reza akhirnya Cilla merasa risih, hingga dia menegur Reza yang menatapnya.
" Kenapa kamu lihat-lihat?" tegur Cilla menyadarkan Reza.
" .... Eh... Gak kok.... Lagian apa yang mau di lihat dengan tubuh datar seperti itu." Reza mengalihkan pandangannya namun wajah Reza memerah.
Baru sadar baju yang dikenakannya terlalu minim akhirnya Cilla mengganti pakaiannya dengan yang lebih normal. Sekarang di kamarnya ada Reza yang mungkin akan bersikap lain jika dia berpakaian minim seperti ini.
" Kanapa diganti?" tanya Reza melihat Cilla yang berganti pakaian.
" Pengen aja soalnya ada predator yang sedang mengincar mangsa."
" Yah itu tahu, makanya jangan mancing-mancing."
" Yeh... enak aja, itu pakaian aku kalau di kamar sendirian. Tapi sekarang kayaknya harus aku musiumkan."
" Terserah kamu saja."
Cilla pun keluar kamar untuk pergi sarapan di susul oleh Reza yang tersenyum, berhasil menggoda istrinya sampai kesal.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, untuk mendukung Author agar semangat untuk Update.
Terimakasih