Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan

Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan
Aku sakit!


__ADS_3

" Ini minum dulu obatnya." Reza memberikan obat dan segelas air yang ia bawa pada Cilla yang sedang duduk di tepi tempat tidur dengan terus memegang perutnya yang tidak nyaman, Cilla langsung meminum obatnya.


" Sebenarnya kamu kenapa sih bisa sakit kayak gini?" Reza mengoleskan minyak kayu putih ke punggung hingga lehernya.


" Kayaknya aku salah makan deh, soalnya kemarin kan aku makan bakso pedas sampai 2 mangkuk." Cilla mengoleskan minyak kayu putih pada perutnya.


" Apa kita ke dokter saja, untuk memastikan penyebabnya? Apa kita tunda juga keberangkatan kita ke Australia?" Reza terlihat khawatir dengan istrinya.


" Gak perlu Za, kita berangkat sekarang saja. Lagi pula nanti aku bisa istirahat di pesawat."


" Yasudah kalau begitu, sejam lagi kita berangkat." Reza memijat pundak Cilla yang mungkin bisa meringankan rasa pusing dan mualnya.


Ttookkk.... Ttookkk... Tookkk... Terdengar suara ketukan pintu kamar mereka. Reza pun segera membukanya dan ternyata bundanya yang terlihat khawatir.


" Boleh bunda masuk?"


" Iya silahkan bunda, Cilla juga sedang berbaring."


" Kamu sebenarnya kenapa bisa sakit kayak gini?" Bunda Sarah duduk di samping Cilla.


" Kayaknya aku salah makan deh." Cilla pun bangun dan duduk bersandar di tepi tempat tidur.


" Apa kamu sudah yakin kalau salah makan? Mungkin penyebabnya bukan karena itu. Apa kamu sudah datang bulan?"


" Eemm... Harusnya sih tangga 10 biasanya aku datang bulan tapi kayaknya sedikit telat, sampai sekarang belum juga datang padahal sudah mau akhir bulan."


" Tuh kan, bisa jadi karena kalian..."


" Maksud bunda aku bisa saja hamil?" Ucap Cilla tak percaya dengan kemungkinan itu.


" Kenapa tidak? Kalian... Sudah melakukan... 'itu' kan!"


" Apaan sih, bunda?" Cilla terlihat malu.


" Yah kalau kalian sudah melakukan 'itu', kemungkinan Cilla hamil bisa saja terjadi. Coba kalian cek pakai testpack atau langsung ke dokter, untuk memastikan saja. Kalau Cilla hamil, bunda senang banget akan dapat cucu." Bunda Sarah seperti sedang berharap karena terlihat senang.


" Iya Bunda, biar nanti Reza ajak Cilla ke dokter." Reza juga terlihat senang dengan kemungkinan yang terjadi.


" Kamu tuh, aku jelas gak hamil. Aku bisa merasakannya kok." Yakin Cilla dengan apa yang ia rasakan pada tubuhnya.


" Yah coba saja periksa, siapa tahu beneran hamil, aku berharap kita bisa punya jagoan." Ucap Reza dengan penuh harap, Cilla tersenyum kecut karena dia belum siap jika harus hamil saat ini.


" Apa kalian tetap akan berangkat sekarang?" Tanya Bunda Sarah.


" Iya, Cilla bilang dia bisa istirahat di pesawat, jadi kami tetap berangkat malam ini."


" Yasudah, kalian hati-hati dan jangan lupa periksa. Bunda permisi dulu." Bunda Sarah pun meninggalkan kamar Reza dan Cilla.


Waktu keberangkatan tiba, mereka langsung menuju ke bandara walaupun Cilla terlihat lemas namun dia tetap memaksakan diri untuk ikut. Setelah masuk ke dalam pesawat, Cilla langsung beristirahat, dia mencoba untuk tidur walaupun penciumannya menjadi sensitif dan cepat mual.


_____________


Tiffany sedang melempar-lemparkan barang yang berada di dekatnya, guci, gelas sampai pot bunga sudah berserakan di atas lantai. Di wajahnya terlihat bahwa ia sangat marah akan sesuatu atau hal, sampai tak bisa menahan emosinya.


Ruang kerja ayahnya menjadi sangat berantakan karena ulahnya, ayahnya hanya diam dengan tindakan putrinya yang sudah keterlaluan.


Tiffany merupakan anak tunggal yang sangat dimanja oleh orangtuanya terutama ayahnya, sampai apapun keinginannya pasti di turuti.


Karena sekarang keinginannya untuk mendapatkan Reza tak terlaksana hingga kemarahannya pun memuncak dan tak bisa lagi mengendalikan emosinya.


*Percakapan dalam bahasa Inggris


" SEBENARNYA APA YANG DADY LAKUKAN HINGGA REZA TAK INGIN BERSAMAKU? APA ANCAMAN DARI DADY UNTUK TAK MEMBERINYA TAMBAHAN INVESTASI ITU TAK MEMPAN? DADY HARUS MEMBUAT REZA BERADA DI SISIKU, APAPUN CARANYA. WALAUPUN HARUS MELENYAPKAN WANITA ITU." Teriak Tiffany dengan penuh emosi.


" Dady tak bisa berbuat apa-apa, ada yang telah memberikan investasi besar pada perusahaannya. Jadi dia menolak tawaran kita, dia memang tak mencintamu." Ayahnya mencoba menenangkan Tiffany.


" DADY HARUS BUAT DIA MENCINTAIKU, APAPUN CARANYA. AKU CINTA SAMA DIA, AKU HARUS MEMILIKINYA." Teriakan Tiffany menggema dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


" Dady harus melakukan apa? Semua tentang perasaan, akan sulit untuk di paksakan."


" ANCAM SAJA JIKA DADY AKAN MENARIK INVESTASI DARI PERUSAHAANNYA, DENGAN CARA SEPERTI ITU PASTI DIA AKAN SETUJU BERTUNANGAN DENGANKU."


Plllaaakkk.... Suara tamparan dan teriakan kesakitan terdengar di ruangan tersebut, " JANGAN BODOH KAMU? DADY MELAKUKAN SYARAT KONYOL HANYA UNTUK MENGABULKAN OBSESIMU PADA REZA, TAPI DADY JUGA TAK AKAN MENARIK BEGITU SAJA INVESTASINYA. INI MENYANGKUT BISNIS, BUKAN LELUCON." Mr. Duke terlihat ikut emosi.


" ...... BERIKAN AKU UANG, AKU AKAN MELAKUKANNYA SENDIRI UNTUK MENDAPATKAN REZA, sekarang aku tak akan meminta bantuan dari Dady." Nada suara Tiffany sudah merendah, dia memegang pipinya yang memerah karena tamparan ayahnya.


" Untuk apa? Kamu jangan bertindak bodoh, yang akan merusak citra Dady dan bisnis Dady."


" Dady gak perlu tahu, berikan saja aku uang 2 milyar. Aku janji tak akan marah lagi, tenang saja aku akan menjaga harga diri keluarga dan perusahaan." Tiffany menyeringai seperti ada rencana yang akan dia lakukan.


Mr. Duke dengan berat hati dan masih curiga kepada Tiffany, memberikan black card miliknya. Tiffany merasa senang karena mendapatkan apa yang dia inginkan.


*Lihatlah kamu Reza, aku akan mendapatkan kamu dan memiliki kamu seutuhnya tapi jika tidak aku dapatkan, aku juga tak akan membiarkan orang bahagia bersamamu. Dengan uang ini, akan aku jadikan kamu menjadi milikku, lihat saja nanti. (Batin Tiffany)


__________


Di dalam pesawat*


" Kamu mau kemana?" Tanya Reza ketika melihat Cilla hendak pergi dengan menutup mulutnya.


Cilla berlari kecil ke arah toilet, hingga Reza oun mengikutinya karena rasa khawatirnya. Reza melihat Cilla memasuki toilet pesawat dan terdengar suara seperti orang muntah. Reza menunggu dengan setia di luar pintu sementara Cilla terus saja mengeluarkan suara seperti orang muntah.


Cukup lama Cilla di toilet dan akhirnya pun keluar dengan wajah pucat dan seperti lemas. Reza kemudian memapah istrinya untuk kembali ke kursi mereka.


Tak lama pramugari membawakan obat dan air putih yang Reza pesan. Makanan ringan pun di berikan untuk sekedar mengisi perut saat perjalanan, sebuah roti sandwich dan segelas minuman hangat.


Reza menyuruh Cilla untuk makan sedikit lalu meminum obatnya, Reza dengan telaten menyuapi Cilla sedikit demi sedikit.


" Makan yah sayang, nanti kalau sudah sampai kita ke dokter buat tahu penyebab sakitnya kamu." Reza terlihat cemas dengan keadaan Cilla yang malah semakin terlihat lemas.


Reza menyelimuti Cilla yang telah tertidur lelap, Reza menatapnya lekat wajah istrinya yang terlihat tenang.


Apa benar kamu hamil sayang? Aku tak bisa berpikir jika itu menjadi kenyataan. Memiliki seorang anak dan menjadi seorang ayah, sesuatu yang sangat asing untukku. Namun entah kenapa, membayangkannya saja membuat jantungku berdetak lebih cepat. Sesuatu yang belum pernah aku rasakan, perasaan yang sulit untuk di jabarkan. (Batin Reza).


______________


Disebuah Restoran.


" Terimakasih kamu sudah mau aku ajak untuk makan malam." Adrian terlihat bahagia makan bersama Elya.


" Aku hanya merasa tak ada teman sesama orang Indonesia, makanya aku suka-suka saja ada yang mengajak aku untuk makan malam. Apa kamu sering ke sini? Sepertinya pelayan yang ada di sini sudah mengenalmu." Elya melahap steak yang terlihat sangat enak.


" Oh.. Gak terlalu sering juga sih, namun setiap meeting dengan klien, aku selalu memilih restoran ini karena rasanya sudah melekat di lidahku." Adrian memberikan sedikit potongan steaknya kepada Elya.


Elya terlihat bingung dengan apa yang di lakukan Adrian, dengan tatapan yang penuh tanya saja Adrian mengerti maksud Elya.


" Cobalah, ini lebih enak dari milikmu." Ucap Adrian kembali memotong steak di piringnya, Elya pun mencoba memakannya. Perlahan ia merasakan daging yang lembut saat di gigit, rasa pedas, manis dan sedikit ada rasa asam membuatnya terbuai dengan rasanya. Memang sangat berbeda dengan steak miliknya yang memiliki cita rasa yang biasa, namun yang Adrian pesan baru pertama kali ia cicipi.


" Bagaimana? Apa kamu suka?" Tanya Reza yang melihat ekspresi Elya yang menikmatinya.


" Emm ... Enak, enak banget. Aku baru merasakan makan steak dengan rasa spesial seperti ini."


" Baguslah, apa kamu mau pesan lagi steak yang seperti aku pesan?"


" Tidak, terimakasih. Lain kali kita kesini lagi saja." Elya tak memperhatikan perkataannya.


" Lain kali? Berarti aku masih bisa mengajak kamu untuk makan bersama lagi dong." Adrian sangat senang karena ini merupakan lampu hijau baginya untuk lebih dekat kembali dengan Elya.


" Maaf, apa boleh aku menanyakan sesuatu yang lebih personal? ... Eh... Maaf kalau aku lancang."


" Tak apa-apa? Kalau aku bisa jawab, aku pasti akan menjawabnya. Kamu tak perlu merasa tidak nyaman seperti itu."


" Begini! Berapa lama kalian pacaran? Maksud aku, kamu dan Cilla."


" Emmm... Kalau tidak salah serikat 4 atau 5 tahun."

__ADS_1


" Wah lama sekali, pasti sudah saling melengkapi."


" Yaahh ... Begitulah. Tapi itu masa lalu, aku sudah melupakannya."


" Kamu hebat, bisa move on dari Cilla."


" Aku malah susah move on sampai beberapa bulan ke depan, namun aku menyadari itu juga kesalahan aku yang malah meninggalkannya. Jadi aku sadari diri dan ikut bahagia ketika melihat dia bahagia, apalagi dengan adikku sendiri."


" Oh... Iya, aku masih salut sama sikap kamu yang dewasa."


" Aku kan memang sudah dewasa hehee."


" Aku tahu, tapi umur tak menjamin seseorang bersikap dewasa.


" Aku cantik." Gumam Adrian sambil menatap Elya yang sedang bicara kepadanya.


" ... Maaf, kamu bilang apa tadi?"


" Oh, itu... Gak, cuma asal aja."


Makanan yang ada di piring sudah habis tak bersisa, namun obrolan mereka sangat asik hingga mereka semakin akrab. Malam sudah semakin larut dan udara pun semakin dingin, Elya dan Reza keluar dari Restoran dan berjalan kaki sebentar untuk menurunkan makanan dan tercerna dengan baik.


Angin malam begitu dingin menusuk kulit, walaupun mantel yang Elya kenakan cukup tebal namun rasa dingin masih terasa. Adrian menyadari hal itu, kemudian ia membuka syal rajut yang di kenakannya dan memasangkannya kepada Elya.


" Kenapa ini kamu berikan padaku?" Elya terlihat bingung dengan perlakuan Adrian.


" Pakailah, udara malam ini cukup dingin, aku tak mau kamu terkena flu."


" Tapi kamu...."


" Gak apa-apa, aku sudah biasa dengan cuaca di sini, karena sudah cukup lama tinggal di sini sementara kamu baru jadi pasti masih butuh menyesuaikan diri dengan suhu di negara ini."


Elya hanya tersenyum sebagai jawaban, mereka terus berjalan namun dengan pelan menikmati malam menyusuri jalanan yang sepi.


Setelah beberapa saat mereka sampai di sebuah jembatan yang memperlihatkan keindahan sungai dan gemerlapnya kota. Di sana suasana berubah ramai, banyak sekali orang-orang yang menikmati malam. Banyak muda mudi terutama padangan yang menghabiskan waktu di tempat itu.


Lalu Elya menyaksikan apa yang tak akan pernah terlihat di negara Indonesia, pasangan muda tak malu menunjukan kasih sayang mereka di depan umum, baik itu pelukan bahkan sampai ciuman.


Namun orang-orang tak peduli seolah itu hanya hal biasa yang sering terlihat di negara ini. Namun berbeda dengan Elya, ia merasa terkejut dan malu sendiri dengan hal tabu tersebut, wajahnya memerah namun tertutup dengan lampu yang temaram.


" Aku suka disini, pemandangan malamnya sangat cantik. Benar kan?" Elya menatap jauh ke depan, lampu-lampu yang terpantul di atas air menambah keindahannya.


" Iya Cantik, Cantik sekali." Adrian berkata sambil menatap ke arah Elya.


Sesaat Adrian memberanikan diri untuk memegang tangan Elya, dengan ragu dan jantung yang berdebar, Adrian pun memegang tangan Elya. Hingga membuat Elya sedikit terkejut menatap Adrian dan wajahnya merona, Adrian tersenyum manis kepada Elya.


Melihat respon Elya yang tak menolaknya, Adrian jadi semakin berani mendekati Elya. Dia mulai mendekatkan wajahnya kepada Elya, namun Elya langsung menghindar memalingkan wajahnya sebagai bentuk penolakan, hingga ia pun menarik tangannya untuk terlepas dari genggaman Adrian.


" Eh... Itu... Sudah malam, aku harus pulang, karena besok harus bekerja." Elya mulai tak nyaman dan ingin menyudahi kebersamaan malam ini.


" Oh... Baiklah, aku antar kamu pulang. Aku minta maaf soal tadi." Adrian merasa tak enak hati pada Elya, tak mungkin ada perempuan baik-baik yang mau lebih dekat di kencan pertama mereka, semua butuh waktu dan proses lebih lama.


____________


Cilla dan Reza sudah sampai di bandara internasional Australia, terlihat Cilla masih lemas sambil memegang perutnya yang masih tak enak.


" Apa kita mau langsung ke rumah sakit?" Reza tak tega melihat Cilla dalam keadaan seperti itu.


" Aku capek, aku mau istirahat saja." Reza memapah Cilla hingga masuk ke dalam taxi, Cilla pun duduk bersandar kepada Reza di kursi belakang.


" Aku tak tega lihat kamu sepertinya lemas banget, kita ke rumah sakit yah!"


" Kita pulang saja." Balas Cilla lemas.


Akhirnya Reza melakukan apa yang Cilla inginkan, mereka langsung menuju ke rumah. Reza memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang, berharap pelukannya bisa memberikan kenyamanan untuk istrinya.


Bersambung....

__ADS_1


Terimakasih kepada pembaca setia, jangan lupa selalu dukung Author ☺️


__ADS_2