
Cilla terlihat gelisah sambil memegang ponselnya terus, mondar mandir di kamarnya.
" Duh, kok sampai sekarang Reza gak menghubungi aku sih. Seharusnya dia sudah sampai kan, tadi berangkat pagi hari. Tapi kenapa masih tak ada kabar?" Gumam Cilla yang sesekali menatap layar ponselnya.
Lalu Mama mertuanya lewat di kamar Cilla dan melihat Cilla yang sangat gelisah.
" Kamu belum tidur? Apa Reza masih belum memberi kabar?"
" Iya Ma, seharusnya dia sudah sampai. Tapi sampai sekarang belum menghubungi aku."
" Udah coba kamu hubungi?"
" Udah, tapi ponselnya tak aktif."
" Mungkin ponselnya lowbat dan dia kecapekan hingga lupa menghubungi kamu. Kamu tidur saja, bisa jadi nanti pagi Reza menghubungi kamu."
Cilla pun mengangguk, setelah mertuanya pergi Cilla menutup pintu kamarnya. Ia naik ke atas tempat tidur lalu bersandar di ujungnya. Cilla masih saja cemas hingga dia sulit untuk menutup matanya.
Setelah menunggu dan terus menunggu tanpa sadar Cilla pun tertidur dengan ponsel masih dalam genggamannya.
Cilla berada di padang rumput yang luas, wajahnya terlihat panik dan khawatir. Ia terus berjalan menyusuri rumput alang-alang yang tinggi sambil terus meneriakkan nama suaminya. " Za, Reza, kamu dimana? Reza, jangan buat aku khawatir, Reza, Za." Cilla terus saja mencari.
Tak ada balasan dari siapapun, hanya suara angin yang terus berhembus membuat seluruh bunga rumput alang-alang bergerak mengikuti hembusan angin. Cilla terus mencari dan mencari tanpa henti, terlihat raut wajah yang semakin gelisah dan mulai putus asa. Air mata pun mengalir membasahi kedua pipinya yang ranum.
Akhirnya dia pun terhenti tatkala melihat Reza yang berdiri di ujung jalan setelah Cilla berhasil keluar dari hamparan rumput alang-alang. Cilla pun tersenyum dan kembali memanggil nama suaminya. Cilla mendekat dan terus mendekat sambil terus memanggil nama suaminya, Reza yang berdiri membelakanginya menoleh ke arah Cilla lalu tersenyum namun Reza tak menghampiri Cilla. Dia malah langsung berlari menyusuri jalan beraspal yang luas, Cilla pun terkejut lalu ia langsung berlari mengejar Reza dan terus memanggil nama Reza agar berhenti.
" Za... Reza... Berhenti... Reza... Aku mohon berhentilah, kenapa kamu terus pergi menjauh? Reza ... Za... Reza...." Cilla berteriak sekuat tenaga sambil terus berlari.
" Za... Reza... Jangan pergi Za, Reza...." Cilla pun terbangun dari tidurnya dengan wajah yang penuh keringat dan nafas yang tersengal-sengal.
" Hush... hush... hush.... Ternyata hanya mimpi." Gumamnya, Cilla memeriksa ponsel yang masih ada di dalam genggamannya, tak ada panggilan suara atau pesan sama sekali.
Cilla melihat ke arah jendela cahaya matahari sudah mengintip di sela gorden kamarnya. Dia turun dari kasur lalu berjalan menuju jendela, ia membuka gorden kamarnya dan masuklah cahaya matahari yang cukup menyilaukan mata.
Musim semi pun tiba, seminggu sudah Reza tak memberikan kabar semenjak kepergiannya waktu itu. Cilla sudah meminta bantuan dari ayahnya dan ayahnya pun sudah mempersiapkan anak buahnya untuk mencari Reza. Termasuk meminta pertolongan kepolisian untuk mengusut kasus kehilangan Reza.
Menurut hasil dari rekaman CCTV, terakhir kali Reza terlihat masuk ke dalam toilet stasiun kereta namun beberapa lama tak terlihat Reza keluar dari toilet tersebut. Entah apa yang terjadi setelah itu? Beberapa CCTV sudah di periksa, memang terlihat dia menunggu di kursi sebelum ia pergi ke toilet tersebut.
Setelah menghilangnya Reza, di temukan koper yang terletak di kursi dimana Reza menunggu sebelumnya. Polisi memberikannya kepada Cilla untuk meyakinkan jika tak ada sesuatu yang hilang, Cilla membukanya dan memeriksa seluruh isinya dan benar saja semuanya utuh tanpa berkurang sedikitpun.
Bunda Sarah dan Ayah Hardi sampai datang ke Sydney untuk menemani Cilla dan memantau perkembangan kasus hilangnya Reza. Untuk sementara Bunda Sarah meminta izin pada orangtua Reza untuk membawa Cilla ke sebuah mension yang mereka sewa selama mereka berada di sana. Bagaimanapun dengan keadaan Cilla yang kurang stabil dan terlihat terpuruk, lebih bagus bersama orangtuanya agar lebih terpantau. Ibu mertuanya pun memberikan ijin, mungkin Cilla akan lebih baik bila bersama orangtuanya.
__ADS_1
Hardi berada di ruang kantor petinggi kepolisian di sana bersama dengan Rio sekertaris pribadinya, membahas semua hal yang berkaitan dengan Reza.
*Percakapan dalam bahasa Inggris
" Bagaimana, apa sudah ada perkembangan?" Tanya Hardi.
" Sejauh ini belum ada hasil yang memuaskan, namun kami akan berusaha terus menginvestigasi kasus ini. Namun ada sedikit titik terang, kami melihat di pintu luar stasiun ada 3 orang pria yang sangat mencurigakan. Mereka menggunakan mantel hitam dan topi serta masker dengan warna senada, yang kami curigai. Kedua pria seperti sedang memapah di kanan kiri seorang pria yang berjalan sedikit terhuyung dan mereka menaiki sebuah mobi Van berwarna hitam. Dan kami berusaha mencari mobil tersebut dari plat nomor mobil tersebut, namun mobil dengan flat nomor tersebut terdaftar telah di rusakkan di tempat rongsokan mobil sekitar 2 bulan lalu. Berarti flat nomor yang terpasang pada mobil tersebut itu palsu. Dari beberapa CCTV masih terlihat mobil melaju ke arah Melbourne namun mereka berhasil memasuki jalanan yang minim CCTV hingga kami kembali sulit untuk melacaknya. Namun kami akan terus berusaha sampai semuanya terungkap." Jelas petinggi kepolisian.
" Tolong secepatnya kasus ini di selesaikan, saya tidak ingin terjadi sesuatu pada menantu saya. Saya sudah tak sanggup melihat anak saya yang semakin hari terlihat semakin terpuruk."
" Baik pak, kami akan berusaha melakukan yang terbaik."
" Terimakasih banyak, kalau begitu saya pamit dan beritahu saya jika ada perkembangan selanjutnya."
Hardi dan Rio meninggalkan ruangan tersebut, di luar beberapa anak buah Hardi pun mengikuti mereka.
________
Cilla duduk di balkon sambil memandang kosong ke depan, Bunda Sarah menghampirinya sambil membawa sepiring buah apel yang telah di kupas serta segelas jus orange di tangannya. Diletakkannya di atas meja di depan kursi yang Cilla duduki.
" Sayang makanlah, jangan biarkan perut kamu kosong." Bunda Sarah menyodorkan buah apel tersebut pada Cilla dengan menggunakan sendok garpu.
" Aku tidak lapar." Cilla terlihat sangat kusut, tampangnya sudah terlihat seperti orang terpuruk. Dengan mata sembab dan tampang lusuh tidak bersemangat seperti sebelumnya.
" Apa Bunda bisa bersemangat jika Ayah menghilang? Bunda tahu selama seminggu ini tak ada kabar dari Reza, aku tak tahu dia dimana. Apakah dia sehat? Apakah dia tidur dengan baik? Apakah dia makan dengan baik? Aku bahkan tak tahu keadaannya saat ini, jadi.... bagaimana aku bisa bahagia?"
" Yasudah kamu istirahat dulu, jangan terlalu banyak di pikirkan. Ayah kamu sedang berusaha yang terbaik, semoga Reza tak kenapa-kenapa, kita berdoa saja."
Cilla hanya diam, dia duduk di sofa tanpa berkata apapun lagi. Lalu Bunda meninggalkan Cilla, pasti ini sangat berat bagi Cilla hingga separuh hidupnya terasa menghilang.
__________
Adrian pun berusaha untuk mencari tahu keberadaan Reza, termasuk menghubungi Mr. Duke, papa dari Tiffany.
Di sebuah Restoran, Adrian menunggu kedatangan Mr. Duke dengan gelisah. Sekitar 10 menit dia menunggu akhirnya Mr. Duke datang dengan sekertarisnya.
( Percakapan dalam bahasa Inggris )
" Maaf, saya datang terlambat, pasti anda menunggu cukup lama." Mr. Duke langsung duduk di hadapan Adrian namun menyuruh sekertarisnya duduk di tempat yang agak jauh dari mereka berdua.
" Iya, tak apa-apa. Saya tak akan membuang wakt, soal adik saya. Apakah anda tahu keberadaan adik saya? Maaf bukannya saya menuduh, namun saya tahu bagaimana terobsesinya putri anda terhadap adik saya. Mungkin saja adik saya bersama putri anda saat ini." Adrian tak mau berbasa-basi lagi demi segera menemukan adiknya.
__ADS_1
" Maksud anda, putri saya membawa adik anda? Hehe... Itu tidak mungkin, saya sangat tahu watak anak saya. Walaupun dia terobsesi dengan sesuatu, dia tak pernah melakukan hal buruk untuk mendapatkannya." Tegas Mr. Duke.
Apa mungkin Tiffany melakukan itu? Apa perkataannya waktu itu untuk mendapatkan Reza, dengan menculiknya? Memang, seminggu ini aku tak melihat Tiffany bahkan aku sama sekali tak tahu kabarnya dan keberadaannya saat ini. Ah ... Tak mungkin Tiffany melakukan itu. Aku yakin telah memberikan segalanya bahkan semua fasilitas sudah aku berikan. Masa dengan hanya seorang pria dia melakukan hal buruk seperti itu.
Perkataan dan pikiran Mr. Duke sangat bertolak belakang, namun dia mencoba tenang di hadapan Adrian agar tak membuatnya lebih curiga.
" Mr. Duke, sekali lagi. Apa anda benar-benar tak tahu tentang adik saya?" Adrian masih berusaha menggali informasi, setelah dia bertambah curiga ketika Mr. Duke berpikir sejenak di tengah obrolan mereka.
" Saya benar-benar tidak tahu, namun saya akan berusaha mencari informasi tentang adik anda karena adik anda adalah kolega saya."
" Baiklah kalau begitu, saya tunggu kabar dari anda. Namun jika kehilangan adik saya ada hubungannya dengan putri anda, saya tidak akan tinggal diam dan akan memutus kontrak kerja kita walaupun saya harus menanggung kerugian dalam hal ini." Tegas Adrian yang masih curiga hilangnya Reza ada hubungannya dengan Tiffany.
" Baiklah, tak ada lagi yang perlu anda katakan, kan? Saya masih ada urusan, saya akan mencari informasi sesuai janji saya. Kalau begitu saya permisi." Mr. Duke beranjak dari duduknya meninggalkan Adrian yang masih duduk menatapnya.
" Baik, silahkan." Adrian menatap terus ke Arah Mr. Duke yang berjalan di ikuti sekertarisnya.
Aku yakin, menghilangnya Reza itu ada hubungannya dengan Tiffany. Ingat, jika itu benar terjadi, aku akan tepati janjiku untuk menghentikan kerjasama perusahaan kami. Batin Adrian.
Lalu terdengar ponselnya berdering, Adrian segera merogoh saku jasnya dan melihat jika Elya yang menelponnya.
Elya : Halo!!! Iya, kamu gak apa-apa?
Adrian : Iya, aku baik-baik saja. ( Sambil menghela nafas ).
Elya : Jangan bohong! Aku tahu jelas kalau kamu tak baik-baik saja. Cerita saja padaku, semoga itu bisa sedikit mengurangi bebanmu.
Adrian : Maaf, aku sudah membuatmu ikut khawatir. Tadi aku bertemu dengan ayah dari gadis yang menyukai Reza, aku sedikit curiga dengan putrinya karena memang di amat sangat terobsesi dengan Reza. Aku curiga dia yang menculik Reza .
Elya : Terus dia bilang apa? Apa benar ada wanita yang seperti itu? Berani membawa pria yang telah beristri.
Adrian : Entahlah? Dia bilangnya tak tahu sama sekali, namun aku tetap curiga dengan tingkahnya yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Elya : Semoga Reza segera ketemu, aku juga khawatir dengan Cilla. Dia sangat mencintai Reza, dia pasti sangat terpuruk belakangan ini.
Adrian : Iya, hiburlah dia. Mungkin bisa menenangkan beban pikiranya.
Elya : Iya, aku sebenarnya ragu untuk mendatangi Cilla karena takut malah menambah beban, namun perkataan kamu benar, aku sebagai sahabatnya harus berusaha memberi dukungan dan semangat agar sedikit mengurangi kekhawatirannya terhadap Reza.
Adrian : Yasudah, aku masih ada hal yang harus aku kerjakan. Kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatan.
Elya : Iya sayang, kamu juga harus tetap sehat dan makan dengan teratur. I love you.
__ADS_1
Adrian : Love you too.
Adrian memasukan kembali ponselnya setelah sambungan telpon mereka terputus. Adrian masih tetap tak beranjak dari duduknya hanya diam termenung memikirkan cara apalagi yang akan dia lakukan untuk segera menemukan adiknya. Adrian juga masih tidak tega melihat keterpurukan Cilla yang sangat jauh berbeda dengan sikap aslinya yang selalu ceria.