
Elya dan Cilla telah selesai menonton filmnya lalu Elya mengajak untuk cuci mata di cafe Mall tersebut karena memang masih belum terlalu malam, namun Cilla menolaknya dengan halus, memberi alasan jika dia sudah memiliki janji dengan keluarganya untuk makan malam padahal itu hanya sekedar alasan agar Cilla bisa langsung pulang ke rumah.
Mereka pun berpisah di Mall tersebut karena Elya memutuskan untuk tetap ke Cafe walaupun tanpa Cilla. Cilla merasa menyesal menolak ajakan Elya dan merasa tidak enak namun Elya memakluminya karena jika sudah janji jangan pernah di batalkan, syaratnya lain waktu mereka harus jalan bareng lagi dan Cilla menyetujuinya.
Cilla segera naik ke mobilnya untuk segera pulang, ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi kemarin malam, karena ia tidak ingat lagi setelahnya. Ia tak ingin sesuatu yang berharga dalam dirinya hilang begitu saja saat dia benar-benar tidak mengingatkan, ia berharap momen itu harus di lakukan dengan sadar.
Setelah sampai di rumah dia langsung masuk ke dalam kamar, tanpa memperhatikan sekitarnya. Sarah yang tak jauh dari sana tadinya hendak menyapa Cilla namun sepertinya Cilla tak melihatnya karena terlihat sangat tergesa-gesa masuk kedalam kamarnya. Sarah terlihat bingung, sepertinya memang ada sesuatu namun Sarah tak ingin ikut campur dengan masalah anaknya.
" Reza, apa yang terjadi semalam setelah kita berciuman?" tanya Cilla yang baru masuk langsung bertanya hingga Reza sedikit terkejut.
" Oh... Jadi kamu sudah ingat! Semalam kita ngapain yah? hehehe." canda Reza yang merasa senang melihat ekspresi Cilla.
" Cepat ceritakan, aku benar-benar tidak tahu setelah kamu..... Cepat ceritakan." ujar Cilla.
" Ok... Ok... Setelah aku mulai panas, kamu malah tertidur. Makanya itu salahmu, sekarang kamu paham?" ujar Reza to the point.
" Jadi semalam kita tak melakukan apapun selain ciuman?" tanya Cilla untuk memastikan dan Reza hanya mengangguk.
Cilla berpikir sejenak, " Berarti... Saat kamu di kamar mandi.... Aku melihat kamu...." ujar Cilla tak percaya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Betul... Itu semua karena kamu. Kalau aku tak melakukan itu aku tak akan bisa tidur dan aku lebih baik melakukan itu dari pada melampiaskannya pada orang yang sedang tidur." balas Reza dengan senyuman nakalnya.
Cilla benar-benar tak percaya dengan hal semalam, tak pernah ada pikiran untuk melakukan hal yang tak masuk akal bagi dirinya. Itu pertama kalinya dia meminum Alkohol karena memang tidak sengaja, dalam hidupnya dia tak akan pernah meminumnya lagi. Bukan karena masalah aturan agama namun karena tak ingin melakukan kesalahan yang tidak ia ingat seperti kejadian itu.
" Maaf." ucap Cilla dengan wajah yang bersemu merah.
" It's ok, santai saja aku juga tak ingin melakukan itu dalam keadaan tidak sadar, tak enak nanti sensasinya hehehe."
" Udah gak usah bahas lagi, itu sungguh memalukan." ucap Cilla tak suka terus di goda Reza.
" Kita sudah suami istri, harusnya tak ada rasa malu jika hanya ada kita berdua di kamar."
" Yah itu bagi pasangan yang lain bukan kita."
" Memangnya kita kenapa? Kita juga bebas melakukan apapun yang kita mau, kita sudah halal." ujar Reza.
" Iya aku juga tahu, tapi aku hanya butuh waktu." balas Cilla.
" Iya... iya... aku juga tak akan memaksa. Yasudah menjauh sana, kalau kamu gak mau aku menerkammu." Reza menakuti Cilla sehingga Cilla segera beranjak dan menjauh dari Reza sedangkan Reza hanya tertawa melihat reaksi berlebihan dari istrinya tersebut.
Terdengar suara ponsel Cilla berdering, Cilla mengambilnya dan melihat di layar ponselnya nomor yang tidak ia kenal. Walau begitu Cilla pun menjawab panggilan tersebut, " Halo! Ini siapa ya? Halloooo.... Dengan siapa? Halo..." Karena tak ada jawaban, Cilla pun menutup telponnya begitu saja lalu melemparnya ke atas tempat tidur.
" Siapa yang menelpon jam segini?" tanya Reza ingin tahu.
" Gak tahu nih, pas aku angkat tak ada jawaban, paling orang iseng." balas Cilla, lalu menutup gordennya yang masih terbuka.
" Hati-hati saja takut orang yang akan berbuat jahat, kalau ada apa-apa kamu harus segera memberitahuku atau memanggilku."
" Iya deh." balas Cilla menarik selimutnya sampai ke batas lehernya.
___________
Adrian duduk sambil menatap ke arah luar jendela, terlihat dia menatap ponselnya dengan senyuman, ' Ternyata kamu tak mengganti nomor ponselmu, suara lembutmu masih sama seperti yang dulu.' batin Adrian.
" Baru nelpon siapa? Sampai tersenyum begitu?" tanya Suzan ketika memperhatikan Adrian yang tersenyum memandang ponsel di genggamannya.
" Oh... Kapan mulai terapinya?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraan.
" 10 menit lagi kita mulai, semoga kakimu dapat normal seperti semula dengan beberapa kali terapi lagi, karena semuanya sudah terlihat normal tak ada masalah lagi." ujar Suzan.
Adrian hanya tersenyum, ia sangat senang jika dapat berjalan normal kembali, sehingga ia nantinya dapat beraktivitas secara normal tanpa kesusahan lagi.
__ADS_1
Setelah melakukan terapi selama 1 jam, Adrian merasa capek dan pegal di kakinya, Suzan membawa wadah yang berisi air hangat dan selembar handuk untuk mengompres kaki Adrian.
" Kenapa kamu yang membawa itu? Bukankah tugas perawat untuk mengompres kaki pasien."
" Tak apa-apa, ini layanan khusus dari aku hanya untuk kamu, jangan sungkan kita kan teman dekat."
" Tapi aku seperti merepotkan kamu terus."
" Tak masalah, aku ikhlas melakukannya." balas Suzan tersenyum manis ke arah Adrian.
' Sebenarnya aku tahu perasaanmu kepadaku, sepertinya kamu masih menyukaiku namun aku sengaja mengabaikannya karena aku masih belum bisa menata hatiku untuk saat ini. Perasaanku terhadap Cilla masih sangat kuat di banding rasaku terhadapmu, kebaikanmu aku hargai namun perasaanmu masih belum bisa meluluhkan hati ini.' batin Adrian.
Adrian dan Suzan berjalan-jalan di taman rumah mah sakit, terlihat kaki Adrian udah lebih baik dari sebelumnya. Suzan meminta berjalan lebih cepat dan Adrian dengan mudah bisa melakukannya, Suzan merasa senang dengan perkembangan Adrian. Setelah itu Suzan meminta Adrian untuk berlari kecil, apa sudah bisa melakukannya? Adrian belum bisa jika harus berlari, sebelah kakinya masih terlihat sedikit di seret. Melihat itu Suzan meminta Adrian berjalan biasa kembali, ternyata kaki Adrian belum sepenuhnya normal kembali.
" Aku senang dengan semangatmu sekarang, hingga pemulihanmu cepat."
" Iya, aku jadi tambah semangat setelah melihat hasilnya dan semua ini berkat kerja kerasmu, Suzan. Aku sangat berterimakasih padamu, bahkan di saat aku terpuruk pun kau tetap berada di sisiku untuk memberiku semangat."
" Yah hanya itu yang bisa aku perbuat sebagai dokter dan sebagai teman dekatmu saat ini." ujar Suzan.
_____________
Reza membangunkan Cilla, mengajaknya untuk berolahraga joging di pagi hari yang biasa Reza lakukan setiap akhir pekan. Sekarang ia ingin mengajak istrinya biar di akhir pekan tidak hanya malas-malasan saja dan bangun sesuka hatinya.
" Cilla ayo bangun, kita joging mumpung cuacanya juga bangus." Reza mencoba membangunkan Cilla.
" Ah.... Malas ah..." Cilla masih memeluk gulingnya dengan erat.
" Ayo... Biar kamu sehat dan bisa menjaga penampilan." Reza menarik lengan Cilla agar dia bangun sampai akhirnya Cilla pun duduk dengan malas.
" Ada angin apa sih kamu? Biasanya juga joging sendiri." keluh Cilla yang hendak tidur lagi namun Reza tahan.
" Yah sekali-kali ingin joging dengan istri tak masalah kan, biar sama-sama sehat. Ayo cepat ganti baju, aku tunggu."
" Kalian mau kemana?" tanya Sarah yang kebetulan melihat mereka keluar kamar.
" Kami mau joging, mumpung weekend dan cuaca sedang cerah." balas Reza.
" Cilla tumben ikut! Biasanya juga paling malam di ajak olahraga." ujar Sarah.
" Iya, aku ikut karena Reza paksa." Keluh Cilla.
" Yasudah Bunda, kami berangkat dulu." Ujar Reza dan Sarah pun mengangguk.
Reza membawa Cilla ke taman kota, disana sangat ramai sekali orang-orang yang berolahraga. Cilla ikut berlari mengikuti suaminya, pandangannya melihat-lihat sekitaran banyak sekali gadis-gadis yang cantik dan memiliki tubuh yang bagus berolahraga disana. Membuat Cilla merasa minder dengan bentuk tubuhnya yang menurutnya biasa saja, mungkin dia harus lebih sering berolahraga biar tubuhnya menjadi terbentuk. ' Pantas saja tubuh Reza terlihat selalu bugar dan atletis ternyata dia sering berolahraga, hal kecil begitu saja aku sampai tidak tahu.' pikir Cilla.
Beberapa gadis-gadis menyapa Reza karena memang sudah biasa joging di sana, beberapa ibu-ibu dan orang-orang yang mengenal Reza pun menyapa Reza yang di balas oleh Reza dengan ramah. Aku mengikuti lari Reza namun hanya mengikuti dari belakang, tak sejajar dengannya tapi Reza memelankan larinya agar berada di sampingku untuk lari bersama-sama.
" Pantas kamu rajin olahraga di sini, banyak sekali gadis-gadis yang cantik-cantik dan badannya juga bagus, bahkan mereka kenal kamu." ujar Cilla sedikit tak suka.
" Kamu Cemburu?" tanya Reza yang tersenyum melihat wajah Cilla yang cemberut.
" Apa? Siapa yang cemburu." Sanggah Cilla.
" Aku tahu mereka cantik-cantik dan tubuh mereka bagus-bagus tapi di mataku kamu yang paling cantik dan paling indah, jadi jangan hiraukan orang lain." balas Reza sangat suka dengan reaksi Cilla.
" ....... Tapi kamu terlalu ramah membalas sapaan mereka, apalagi kamu dengan mudahnya mengumbar senyumanmu itu." ujar Cilla yang tak suka.
" Ya.... Terus aku harus diam saja dan tak membalasnya dengan ramah? Nanti orang-orang mengira aku sombong lagi. Sudah jangan cemburu, hatiku hanya untukmu." balas Reza mencolek pinggang istrinya.
" Siapa yang cemburu? Aku bilang aku gak cemburu." Cilla cemberut lalu mempercepat larinya, namun sepertinya Cilla tak memperhatikan jalan sehingga dia hampir saja tertabrak sepeda yang melintas namun Reza dengan sigap menarik Cilla kepelukannya.
__ADS_1
" Kalau jalan hati-hati, hampir saja tertabrak sepeda." Ujar Reza masih memeluk Cilla, wajah Cilla merah padam dalam pelukan Reza.
Jantung Cilla berdegup dengan kencang, wajahnya terasa panas dan tubuhnya hanya bisa diam pelukan Reza. ' Kenapa tubuhku tak bisa bergerak? Tubuh bidang yang memelukku dengan sedikit berkeringat dan aroma tubuhnya yang khas membuatku tak ingin lepas dari pelukannya. Terasa nyaman membuatku ketagihan aromanya.' batin Cilla, wajahnya bersemu merah.
Reza melepaskan pelukannya, " Kamu gak apa-apa kan?"
" Iya, aku gak apa-apa." balas Cilla yang merona dan merasa malu. Mereka kembali melanjutkan lari paginya, tanpa mereka sadari orang-orang di sekitar membicarakan mereka.
" Siapa perempuan yang bersama kak Reza itu? Kelihatannya mereka sangat dekat." ujar Gadis 1.
" Kamu tak sadar! Mereka sepertinya sedang pacaran, lihat saja kan tadi ekspresi wajah mereka." ujar Gadis 2.
" Ya.... Sepertinya kita tak ada kesempatan buat dapetin kak Reza! Aku lihat sepertinya kak Reza sangat menyukai perempuan itu." ujar Gadis 3.
" Sebenarnya apa yang di lihat kak Reza dari gadis itu sih? Tubuh dan wajahnya biasa saja, di banding kita beda level." ujar Gadis 4.
_____________
Reza mengajak Cilla di sebuah warung disana yang menyediakan es kelapa murni yang biasa Reza beli setelah berolahraga agar mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Reza memberikan segelas air kelapa kepada Cilla dan Cilla pun langsung menyeruputnya dengan cepat hingga dia pun terbatuk dan air kelapanya sedikit lumer di ujung bibir Cilla.
" Makanya kalau minum pelan-pelan, seperti anak kecil saja." ujar Reza mengelap air kelapa yang keluar dari bibir Cilla.
" ....... Makasih, aku bisa sendiri." Cilla mengambil tisu yang ada di tangan Reza lalu m lapnya sendiri.
" Kita olahraga tiap weekend ya! Aku senang berolahraga dengan kamu." ujar Reza dan Cilla pun mengangguk.
" Aku juga sudah bosan dengan tatapan dan ajakan dari para gadis-gadis, dengan adanya kamu jadi mereka tak berani mendekat." tambah Reza.
" Iya, aku juga tak rela melihat kamu di goda gadis-gadis itu." Gumam Cilla pelan.
" Apa? Kamu bilang apa tadi?" tanya Reza yang tak mendengar jelas apa yang Cilla katakan.
" Maksudku, aku akan joging lagi sama kamu setiap weekend." balas Cilla berkilah.
Mereka pun memutuskan untuk pulang karena matahari sudah mulai tinggi dan sudah mulai terasa panas, orang-orang di sekitar pun juga sudah mulai berkurang.
" Kamu capek?" tanya Reza ketika melihat Cilla yang berjalan lunglai.
" Sini aku gendong." tambah Reza lalu berjongkok di depan Cilla.
" Gak perlu, tubuhku berat, kamu juga pasti sama-sama capek." Tolak Cilla.
" Naiklah, aku sudah berbaik hati padamu jadi jangan kamu tolak." ucap Cilla sedikit memaksa dan akhirnya Cilla naik kepunggung Reza untuk Reza gendong.
Reza berjalan dengan menggendong Cilla di punggungnya, " Kamu kayaknya makan angin, sampai seringan ini." ejek Reza.
" Enak saja, kamu tahu kan kalau makan aku banyak." jawab Cilla.
" Iya sepertinya makan yang kamu makan menguap begitu saja tanpa sisa. Dengan tubuh sekecil ini apa sanggup menahan bobot tubuhku!"
" Apa maksudmu?"
" Ah... bukan apa-apa, suatu saat nanti kamu juga mengerti. Aku harap kamu harus lebih banyak makan agar kamu tak seringan ini."
" Aku kira tubuhku ideal, susah bagi perempuan untuk mendapatkan tubuh seperti aku." balas Cilla percaya diri.
" Iya, aku suka kamu apa adanya." lagi-lagi Reza mengungkapkan isi hatinya tanpa ragu.
Mereka pun sampai di rumah, Reza terus menggendongnya hingga sampai ke depan pintu kamar mereka baru Reza turunkan. Sarah melihat itu dari jauh merasa senang karena hubungan anak dan menantunya terlihat membaik di bandingkan sebelumnya, semoga ini pertanda pernikahan mereka akan baik-baik saja.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca dan beri Author dukungan agar tetap semangat untuk Up selanjutnya
Terimakasih ☺️