Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan

Kisah Cilla : Cinta Dalam Pernikahan
Bukti kasih sayang


__ADS_3

Reza dan Cilla akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel tersebut, Reza Check-in terlebih dahulu dan mendapatkan kamar nomor 309 di lantai 9. Reza segera mengandeng tangan istrinya ke dalam lift menuju ke lantai 9, tak butuh waktu lama mereka pun sampai.


Reza mencari kamar nomor 309 dan akhirnya menemukannya, mereka pun segera masuk ke dalam kamar tersebut. Terlihat kamar yang sangat mewah dan di balik jendela terlihat pemandangan yang sangat indah, lampu-lampu malam terlihat jelas dan berkelap-kelip layaknya kunang-kunang.


" Sayang, setiap kali di tempat baru, kamu senang banget lihat ke arah jendela, sampai aku di anggurin." Reza mendekap Cilla dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak istrinya.


" Aku suka dengan pemandangan kota di malam hari, apalagi di ketinggian seperti ini. Lampu-lampu terlihat kecil menyala seperti kunang-kunang."


" Kalau itu bisa kamu lihat lagi nanti, sekarang kamu lihat aku saja. Sudah lama kita tak menghabiskan waktu berdua secara intim." Reza mulai menciumi bagian leher Cilla dan menyibakkan rambut panjang Cilla yang menghalanginya.


" Geli Za, selalu kamu seperti ini." Cilla merasa geli di bagian lehernya karena ulah suaminya.


" Aku tahu karena ini salah satu bagian sensitif di tubuhmu." Reza malah semakin menjadi dengan kegiatannya.


Merasa tak nyaman dengan posisi mereka sekarang, Reza menggendong Cilla lalu membaringkannya di atas tepat tidur. Cilla menatap syahdu ke arah Reza yang sedang berada di atas tubuhnya namun tak menghimpitnya karena kedua tangan Reza menopang tubuhnya. Mereka saling bertatapan dengan nafas yang mulai tak teratur, detak jantung yang semakin berdegup kencang dan wajah mereka yang semakin merah padam namun tak sepatah kata pun mereka ucapkan.


Reza tersenyum lalu Cilla pun ikut tersenyum, mata mereka seakan saling bicara untuk memulai apa yang mereka harapkan. Reza pun memulai aksinya, dia mencumbu Cilla dengan lembut mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Cilla hanya bisa mendesah dengan apa yang suaminya lakukan, berbagai rasa yang bercampur membuatnya semakin menikmati suasana.


20 menit berlalu dan terlihat Cilla pun sudah siap, melihat itu Reza memberi isyarat untuk ke arah yang lebih inti. Cilla hanya mengangguk, keadaan mereka yang tak sehelai benangpun menempel di tubuh mereka. Cahaya yang di atur redup dan udara malam yang mulai terasa dingin menambah keromantisan.


Reza pun mulai ke inti permainannya, Cilla hanya diam dengan apa yang di lakukan suaminya. Reza sangat tahu bagian paling sensitif di tubuh istrinya hingga Cilla tak bisa menahan suaranya. Keduanya terhanyut dalam suasana, beruntung kamar mereka kedap suara sehingga tak perlu khawatir suara mereka akan terdengar ke luar ataupun ke kamar yang berada di sebelah mereka.


Cukup lama hingga Reza hampir saja menyelesaikan permainannya.


" Za, berhenti, berhenti sebentar." Ucap Cilla lirih dengan nafas yang terengah-engah.


" Kenapa sayang? Kamu sakit? Maaf jika aku terlalu bersemangat."


Namun Cilla menggeleng, melihat itu Reza kembali memulainya namun tak berapa lama Cilla kembali menyuruh suaminya untuk berhenti.


" Za, Stop, berhenti..." Ucap Cilla sedikit berteriak, Reza pun segera menghentikannya.


Walaupun dengan cahaya yang redup namun terlihat wajah Cilla yang sedikit meringis menahan sakit.


" Kamu sakit? Beneran sakit. Kamu bawa obat kan? Apa kita harus ke rumah sakit saja?" Reza panik melihat istrinya lalu beranjak untuk mengambil obat di dalam tas istrinya.


" Ini minumlah." Reza memberi obat dan segelas air pada Cilla dan Cilla pun segera meminumnya.


" Beneran kamu tak perlu ke rumah sakit? Apa masih sakit?" Reza masih saja terlihat khawatir melihat Cilla yang berkeringat dingin.


" Gak apa-apa za, kalau minum obat pasti sakitnya sembuh."


" Tapi wajah kamu pucat dan keringat kamu sudah berlebihan, apa kita ke rumah sakit saja? Atau mungkin kamu kesakitan karena kita melakukan itu?"


" Aku gak apa-apa Za, kamu gak perlu khawatir. Kita ke rumah sakit besok saja, sekalian besok kan memang waktu pemeriksaan aku. Masalah itu mungkin karena berhubungan, aku juga gak tahu. Nanti kita tanyakan saja pada dokter." Ucap Cilla agar tak membuat suaminya terlalu khawatir.


" Yasudah, sekarang kamu pakai piyamanya dan istirahat." Reza membantu Cilla mengenakan piyama hotel.


" Terus kamu gimana? Kamu kan belum selesai." Cilla malah khawatir dengan suaminya.


" Aku gak apa-apa, selama kamu baik-baik saja." Reza pun mengenakan piyamanya.


" Sekarang aku sudah tak merasakan nyeri lagi, mungkin obatnya sudah bereaksi."


" Baguslah, sekarang kamu tidur." Reza menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Cilla.


" Za, aku mau tidur asal kamu peluk." Ucap Cilla dengan wajah memelas.


" Ih .... Dasar manja, sini sini istriku yang manis." Reza merentangkan sebelah tangannya dan Cilla pun bergeser mendekat hingga berada di pelukan suaminya.


" Maaf yah, malam ini kamu jadi tanggung, sekali lagi aku minta maaf, pasti kamu kecewa yah."


" Sayang, udah jangan bahas itu lagi dan kamu juga tak perlu terus-terusan minta maaf. Sekarang kita tidur, jangan berpikiran macam-macam, aku gak pernah kecewa sama kamu, ingat itu." Reza mempererat dekapannya.


Cilla merasa tenang dan nyaman jika berada dalam dekapan suaminya, apalagi terdengar detak jantung suaminya tepat di telinganya. Tak butuh waktu lama Cilla pun terlelap, melihat istrinya yang telah tidur, Reza mencoba meletakan kepala istrinya pada bantal karena Reza belum bisa tidur bahkan tak mengantuk sama sekali.


Reza tersenyum lalu mengecup kening istrinya, " Kamu selalu cantik, aku harap kamu segera sembuh dan kita bisa memiliki anak, aku tak sabar untuk memiliki anak yang cantiknya sama denganmu." Gumam Reza yang sangat bahagia telah memiliki Cilla.


Terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 23.30, Reza duduk di kursi yang berada di dekat jendela. Dengan menatap pemandangan malam di balik jendela kaca, ia menyalakan sebatang rokok untuk sekedar menemaninya sampai ngantuk menyerangnya nanti. Reza bukanlah perokok aktif namun sesekali dia suka menikmati sebatang saja walaupun terkadang tak sampai habis dia hisap.

__ADS_1


____________


Di apartemen Elya.


Kopi di gelas Adrian sudah habis dan Adrian bersiap-siap untuk pulang karena tak enak malam sudah sangat larut.


" Elya, sepertinya sudah terlalu malam, aku pamit pulang dulu."


" Oh iya, kita terlalu asik mengobrol yah hingga tak terasa sudah jam segini. Apa kamu tak masalah pulang larut malam di cuaca yang dingin seperti ini?"


" Yah aku kan bawa mobil, bisa menyalakan pemanas untuk perjalanan pulang, untungnya belum mengantuk karena mungkin pengaruh kafein dalam kopi ini."


" Apa... sebaiknya kamu... di sini.. saja?" Ucap Elya dengan ragu.


" Tak perlu Elya, lagi pula tak enak sama tetangga."


" Ini kan di Australia, orang-orang tidak peduli dengan kehidupan pribadi orang lain."


" Tapi kita orang timur, dalam budaya kita kan tak sepantasnya dua orang yang berbeda jenis kelamin, yang belum terikat hubungan yang syah bermalam bersama."


" Benar kata kamu, yasudah kamu hati-hati di jalan yah dan jangan lupa pemanasnya biar kamu tak kedinginan." Elya sudah mulai menunjukkan perhatiannya kepada Adrian.


" Iya, pasti. Thanks yah." Senyum Adrian merekah dengan perhatian yang Elya berikan.


Adrian pun pamit, Elya dengan malu-malu melambaikan tangannya ketika Adrian berjalan menuju lift. Saat memasuki lift, Adrian memberikan isyarat tangannya bahwa dia akan menelpon Elya saat dia sudah sampai rumah dan Elya hanya tersenyum sambil mengangguk ke arah Adrian sampai pintu lift pun tertutup.


Elya menutup pintu apartemennya, dia bersandar di pintu yang telah tertutup, " Mungkin keputusan ini sudah tepat, aku menerimanya sebagai pacarku. Di lihat dari sikapnya dan setelah aku pancing ternyata dia memang pria yang baik yang akan bisa melindungi aku. Aku yakin ini keputusan yang terbaik." Gumam Elya.


____________


Sementara itu di lain tempat Bunda Sarah terlihat gelisah, hatinya seperti merasakan sesuatu yang kurang enak.


" Kamu kenapa?" Tanya Ayah Hardi.


" Tak tahu mas, aku merasakan seperti ada hal buruk dan aku langsung teringat dengan Cilla."


" Jangan mas, gak perlu. Gak enak juga kan, di sana pasti masih tengah malam."


" Yasudah, nanti kita telpon Cilla, sekarang kita sarapan dulu."


Bunda Sarah terlihat tak terlalu ***** makan, pikirannya selalu kepada Cilla. Dia khawatir terjadi apa-apa pada putri satu-satunya dan berharap ini hanya sekedar perasaan saja.


" Mas, apa kita ke Australia saja? Aku kangen banget sama dia, sudah 2 bulan kan mereka di sana." Bunda Sarah menyantap makanan walaupun sedikit saja.


" Untuk waktu dekat mas masih belum bisa pergi, pekerjaan mas masih menumpuk kalau di tinggal kayaknya gak bisa. Bulan depan gimana? Sekarang kamu video call saja. Gak apa-apa kan?"


" Yasudah kalau begitu, apa boleh buat." Bunda Sarah merasa kecewa, namun apa daya karena perusahaan mereka juga harus di pentingkan, pekerjaan tak bisa di abaikan begitu saja karena menyangkut klien mereka.


___________


Cilla dan Reza memutuskan untuk pulang terlebih dahulu sebelum janji temu dengan dokter pada sore hari nanti. Sekarang baru pukul 10 pagi hingga mereka akan berganti pakaian dan istirahat di rumah terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah, Reza dan Cilla segera masuk dan hendak naik menuju kamarnya namun mereka berpapasan dengan mamanya Reza.


" Kalian baru pulang? Semalam kalian pergi kemana?" Tanya Mama yang menghampiri mereka berdua.


" Kami hanya pergi menghabiskan malam berdua, mama tahu lah kalau kami masih pasangan muda yang masih penuh semangat." Balas Reza sekenanya hingga membuat Cilla malu.


" Yasudah, kalau begitu kalian sarapan sana, masih ada banyak makanan di meja makan. Soalnya Adrian gak sarapan karena harus segera ke rumah sakit menemani papa."


" Kami mau langsung ke kamar saja, tadi pagi kami sudah sarapan di hotel." Reza langsung menarik tangan Cilla menuju kamar mereka meninggalkan Mama yang tersenyum senang karena hubungan Reza dan Cilla berjalan dengan baik.


Cilla duduk di sofa sementara Reza langsung berbaring di atas tempat tidurnya.


" Kamu itu jangan ngomong yang aneh-aneh dong sama mama, aku kan malu."


" Memangnya kenapa? Toh kita sudah jadi suami istri dan betul kan kalau kita masih muda jadi kita masih penuh gairah."


" Dasar... Terserah kamu deh." Cilla terlihat sebal.

__ADS_1


___________


Terdengar suara ponsel Elya berbunyi tanda pesan chat masuk, Elya yang sedang mengerjakan pekerjaannya pun beralih ke ponselnya yang ternyata dari Adrian yang bertuliskan " Boleh aku telpon?".


Tanpa membalas chat Adrian, Elya langsung menghubungi Adrian.


Elya : Halo! Kamu boleh kok nelpon aku kapanpun.


Adrian : Yaudah, kamu tutup dulu biar aku yang telpon kamu.


Elya : Bercanda kamu hehehe, siapa yang nelpon duluan gak masalah yang penting kita selalu komunikasi. Ada apa nih mau nelpon pagi-pagi?


Adrian : Gak ada apa-apa, cuma kangen aja pengen denger suara kamu.


Elya : Ah dasar gombal.


Adrian : Hehehe Siapa yang gombal, aku serius. Aku kangen sama pacar aku, emang salah!


Elya : Gak salah sih, sebenarnya aku juga kangen kamu.


Adrian : Pulang nanti aku jemput yah!


Elya : Boleh, tapi sepertinya aku pulang agak malam soalnya banyak berkas yang harus aku selesaikan.


Adrian : Ya Ampun ... Aku ganggu dong.


Elya : Gak apa-apa, jika sama kamu aku rela lembur.


Adrian : Gak boleh kayak gitu, sebagai pacar yang baik, aku juga harus tahu waktu. Yasudah, nanti kalau mau pulang, hubungi aku dulu. Nanti aku jemput, jam berapapun aku siap.


Elya : Makasih banyak ya Ian, Ok nanti aku hubungi.


Adrian : Yasudah, aku tutup yah! Love U.


Elya : Love U too.


Setelah telpon tertutup, Adrian terlihat bahagia, hatinya berbunga-bunga, akhirnya dia bisa menjalin hubungan dengan Elya. Wanita yang dia dekati begitu lama karena Elya adalah wanita yang sulit untuk di taklukan hatinya, salah satunya mungkin karena dia adalah sahabat mantan pacarnya, Cilla.


Namun sekarang semua perjuangannya tak sia-sia, ia berhasil meraih hatinya yang sekarang telah ia miliki. Adrian membuka kembali ponselnya, masuk ke galeri lalu melihat foto Elya yang dia ambil secara diam-diam.


Nanti aku harus meminta foto bareng Elya, yah walaupun di ambil secara diam-diam namun Elya terlihat cantik, pacarku... aku kangen banget.


Adrian menciumi ponselnya yang terdapat foto Elya, tanpa Adrian ketahui Reza telah memperhatikannya.


" Loe gila yah bang?"


" Eh Sejak kapan loe berdiri di sana?" Adrian terkejut dengan kedatangan Reza.


" Sejak loe senyum-senyum sendiri sambil ciumin Hp loe kayak orang gila."


" Terserah gue.... Loe tumben ke kamar gue, ada apa?" Adrian terlihat salah tingkah dan gugup karena malu telah terpergok oleh adiknya.


" Gue cuma mau ngambil berkas klien XXX, katanya loe sulit mendapatkan proyeknya."


" Oh iya... Bentar gue ambil dulu." Adrian beranjak ke meja kerjanya lalu mengambil map berwarna biru.


" Ini, gue udah pusing harus membuat proposal seperti apa? Coba loe kerjain, semoga mereka suka jika lie yang bikin."


" Ok, pasti gue dapetin klien itu. Oh iya Bang, gue harap loe masih waras, gak gila. wkkwkwk" Reza pun berlari begitu saja.


" Sialan loe..." Teriak Adrian karena ulah suaminya.


Sialan, kenapa sih si Reza melihat aku bertingkah absurd kayak tadi, pasti deh nanti jadi bahan ejekan dia buat ngejek aku. Awas aja kalau dia ngejek aku di depan mama, nanti aku balas.


Sebenarnya Adrian malu karena Reza jadi tahu kelemahannya, mereka selalu bertindak saling mengejek satu sama lain namun itu bukti kedekatan mereka berdua sebagai kakak beradik.


Bersambung....


Double Up untuk hari ini, selamat membaca 😘

__ADS_1


__ADS_2